"Dasi yang merah marun aja, Mas. Lebih masuk warnanya sama kemeja garis-garis itu."

Tanganku terulur, menarik perlahan ujung dasi sutra yang melingkar di kerah kemeja Rizky. Ia menunduk sedikit, menyesuaikan tinggi badannya denganku, membiarkan jemariku merapikan simpul dasinya. Bau parfum woody kesukaannya menguar, wangi yang selalu menempel di bantal kami setiap pagi.

Rizky menatapku dari pantulan cermin meja rias. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum teduh yang sudah delapan tahun ini menjadi pemandangan pertamaku di pagi hari.

"Kamu selalu tahu yang paling pas buat aku, Wi," suaranya berat, tenang, tanpa riak. Ia menyentuh punggung tanganku yang masih berada di dadanya. "Kalau nggak ada kamu, mungkin aku berangkat ke kantor pakai warna yang nabrak-nabrak."

Aku tertawa kecil, menepuk dadanya pelan setelah simpul itu sempurna. "Makanya, jangan sok tahu milih baju sendiri kalau lagi ngantuk. Nanti malam kamu jadi pulang telat?"

Rizky mengambil jam tangan dari atas meja, melingkarkannya ke pergelangan tangan kiri. Gerakannya santai. "Kayaknya iya. Ada klien dari Surabaya mendadak minta dinner bahas proyek yang di Sudirman. Nggak apa-apa kan aku absen makan malam di rumah?"

"Nggak apa-apa. Lagian nanti sore aku ada arisan di rumah Siska. Paling pulangnya juga bawa makanan sisa arisan buat Daffa." Aku mengambil jas kerjanya yang tersampir di punggung kursi, lalu membantunya mengenakan itu.

Rizky membalikkan badan, menatapku sepenuhnya. Matanya tidak berkedip menghindari tatapanku. Tidak ada gelisah. Tidak ada yang disembunyikan. Ia mencium keningku lama.

"Titip salam buat anak-anak arisan, ya. Jangan asyik ngegosip sampai lupa waktu," godanya sambil mencubit pipiku pelan.

"Sembarangan. Arisanku tuh isinya bahas bisnis catering sama parenting, ya," balasku bercanda.

"Iya, iya, percaya." Rizky tertawa renyah. Ia berjalan menuju pintu kamar, lalu menoleh sekali lagi. "Aku berangkat ya, Sayang. Hati-hati bawa mobilnya nanti."

Aku mengangguk, mengantarnya sampai ke teras, melihat sedan hitamnya perlahan keluar dari pagar rumah. Semuanya terasa begitu normal. Sangat biasa. Pernikahan kami bukan tipe yang penuh kejutan romantis ala drama televisi, tapi kami stabil. Kami punya rutinitas. Kami punya rasa saling percaya.

Atau setidaknya, itu yang aku yakini sampai jam tiga sore hari itu.

Lalu lintas menuju perumahan Siska sedikit tersendat karena jam pulang sekolah. Aku menyalakan lampu sein kiri, memutar kemudi memasuki gerbang klaster Siska. Di jok sebelah kiri, ada dua kotak puding puyo pesanan Maya yang sengaja aku beli di jalan.

Sambil menunggu mobil di depan maju, aku menekan tombol loudspeaker di ponsel dan memanggil nomor Maya. Panggilan tersambung pada dering ketiga.

"Halo, May? Lo udah di rumah Siska?" tanyaku sambil memajukan mobil perlahan.

"Eh... Wi." Suara Maya terdengar agak terkejut, diiringi suara riuh tawa perempuan di latar belakang. "Udah... udah nih. Lo di mana?"

"Gue di depan gerbang klaster Siska nih, bentar lagi parkir. Lo nggak nyemilin puding pesenan lo duluan kan?" candaku.

Hening sejenak di ujung sana. Tawa di latar belakang Maya entah kenapa mendadak mereda.

"...Enggaklah. Gue tungguin lo," jawab Maya. Nadanya terdengar agak kaku. "Lo cepetan masuk deh."

Klik. Sambungan diputus bahkan sebelum aku sempat membalas.

Aku menatap layar ponsel yang kembali ke menu utama dengan dahi berkerut. Tumben Maya mematikan telepon secepat itu. Biasanya dia akan cerewet menitip dibelikan minuman dingin di minimarket depan klaster, atau sekadar mengeluh soal cuaca panas. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Mungkin Siska sedang membagikan makanan.

Aku memarkirkan mobil tepat di belakang SUV putih milik Rina. Dari tempatku turun, aku sudah bisa mendengar suara riuh dari teras belakang rumah Siska. Mereka memang biasa mengadakan arisan di area taman belakang yang menyambung dengan ruang makan. Suara tawa melengking Rina sesekali terdengar mendominasi.

Sambil menenteng kotak puding dan tas, aku berjalan melewati pintu samping yang memang sengaja dibuka oleh Siska jika ada acara.

"Sumpah ya, kalau gue jadi istrinya, udah gue labrak habis-habisan di tempat itu juga!" Suara Siska terdengar menggebu-gebu.

"Iya, gila aja. Berani banget lagi terang-terangan begitu," timpal suara lain, sepertinya suara Nisa.

Aku tersenyum sendiri. Pasti mereka sedang membahas serial drama Korea terbaru yang perselingkuhannya sedang viral di Twitter. Maya selalu memaksaku ikut menonton, tapi aku selalu beralasan tidak punya waktu.

Aku melangkah masuk ke ruang makan, sepatu flats yang kukenakan mengetuk lantai marmer Siska.

"Assalamualaikum," sapaku dengan nada ceria, melongok ke arah taman belakang tempat enam orang temanku sedang duduk melingkar di sofa rotan.

Dan detik itu juga... segalanya berhenti.

Siska yang sedang memegang gelas es teh, membeku dengan mulut setengah terbuka. Tangan Rina yang sedang mencomot risol di atas meja, terhenti di udara. Maya, yang duduk paling ujung, langsung menunduk dan pura-pura sibuk membersihkan roknya.

Tidak ada yang menjawab salamku. Tidak ada satu pun.

Hanya ada suara gemercik air dari kolam ikan Siska dan kipas angin yang berputar di pojok ruangan. Udara di teras itu mendadak terasa sangat tebal, seolah ada dinding tak kasatmata yang menabrak wajahku.

Aku berdiri di ambang pintu geser, kotak puding di tanganku tiba-tiba terasa sangat berat. Senyum di wajahku perlahan memudar.

"Wa—waalaikumsalam..." Siska akhirnya bersuara. Nadanya bergetar sedikit. Ia meletakkan gelas es tehnya ke meja dengan canggung. Bunyi dentingan kaca bertemu kaca terdengar terlalu keras. "Eh, Dewi. Udah nyampe, Wi."

Aku melangkah maju perlahan. "Kalian... lagi ngomongin apa sih? Seru banget kedengarannya sampai depan. Begitu aku masuk kok mendadak pada cosplay jadi patung?" Aku mencoba tertawa, berharap seseorang akan ikut tertawa dan memecah kecanggungan ini.

Tapi tidak ada yang tertawa.

Tatapan Nisa bertemu denganku selama satu detik, sebelum ia buru-buru membuang muka ke arah kolam. Rina tiba-tiba berdeham keras, menarik tangannya dari meja dan melipatnya di dada.

"Nggak, ini... biasa, ngomongin gosip artis," jawab Siska cepat. Terlalu cepat. Matanya berkedip beberapa kali. Ia berdiri, menghampiriku dan mengambil kotak puding dari tanganku sedikit terlalu kasar. "Sini, Wi. Duduk, duduk. Mau minum apa? Es teh atau sirup?"

"Es teh aja, Sis," jawabku pelan.

Aku berjalan menuju kursi kosong di sebelah Maya. Saat aku menarik kursi, Maya menggeser duduknya sedikit menjauh. Gerakan itu sangat kecil, mungkin hanya beberapa sentimeter, tapi mataku menangkapnya.

"Tumben lo nggak pesen kopi, May?" tanyaku mencoba membuka percakapan, menatap Maya.

Maya tersentak kecil, seolah baru saja disadarkan dari lamunan. "Eh? Iya... lagi ngurangin kafein, Wi. Lambung gue agak perih dari kemarin." Matanya tidak menatap wajahku, melainkan menatap kerah bajuku.

"Oh, sakit? Udah minum obat?"

"Udah, udah." Maya buru-buru meraih ponselnya dan mulai menggulir layar dengan ibu jari yang bergerak terlalu cepat, jelas tidak sedang membaca apa-apa.

Aku duduk bersandar. Mataku menyapu sekeliling. Rina sedang memperhatikan kukunya dengan sangat saksama seolah itu adalah hal paling menarik di dunia. Nisa pura-pura mengaduk-aduk es tehnya yang es batunya bahkan sudah mencair sejak tadi.

Ada yang salah.

Pikiranku mulai berputar. Apakah aku salah pakai baju? Tidak, ini dress kasual biasa. Apakah ada lipstik yang menempel di gigiku? Aku merapatkan bibir, mengecapnya pelan. Tidak ada.

Siska kembali membawa segelas es teh dan meletakkannya di depanku. "Diminum, Wi."

"Makasih, Sis." Aku menyentuh permukaan gelas yang berembun. "Eh, kalian lanjutin aja ngobrolnya. Tadi ngomongin istri yang mau ngelabrak siapa? Artis mana yang ketahuan selingkuh?"

Hening kembali turun menyergap.

Siska dan Rina saling bertatapan sedetik. Sebuah tatapan yang cepat, panik, dan penuh arti. Aku melihatnya. Aku melihat bagaimana alis Siska sedikit terangkat, memberi isyarat tak terlihat kepada Rina.

"Itu... si aktor yang main film baru itu loh, Wi. Yang istrinya model," Rina akhirnya angkat bicara, suaranya sedikit dinaikkan, seolah sedang berakting. "Biasa lah, cinlok di lokasi syuting."

"Oh." Aku mengangguk perlahan. "Pantesan kalian emosi banget. Aku kira siapa."

"Iya, kan kasihan istrinya. Udah nemenin dari nol, eh malah ditinggal pas udah sukses," tambah Nisa, tapi begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, Maya menyenggol lengan Nisa dengan siku di bawah meja. Nisa langsung bungkam, wajahnya sedikit pucat.

Kenapa Maya menyenggol Nisa?

Jantungku mulai berdetak dengan ritme yang tidak nyaman. Perasaan tidak enak mulai merayap naik dari tengkuk, membuat bulu kudukku berdiri. Ada rahasia di meja ini. Rahasia yang semua orang tahu, tapi aku tidak.

"Aku ke toilet bentar ya, Sis," ujarku tiba-tiba. Aku butuh ruang. Aku butuh bernapas tanpa diawasi oleh lima pasang mata yang diam-diam mencuriku pandang saat aku tidak melihat.

"Oh, iya Wi. Pake yang di deket dapur aja, udah bersih kok," jawab Siska cepat. Terlalu lega.

Aku berdiri dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Ruang makan Siska terhubung langsung dengan dapur bersih, dipisahkan oleh sebuah partisi kayu estetik yang tinggi. Toilet berada tepat di balik dinding partisi itu.

Aku masuk ke toilet, menyalakan keran air di wastafel, lalu menatap wajahku di cermin. Mata yang terlihat sedikit lelah, rambut sebahu yang diikat rapi. Aku terlihat... biasa saja. Tidak ada yang aneh.

"Mungkin perasaan gue aja," gumamku pada bayanganku sendiri. Aku mengusap pipiku dengan tangan basah. Mungkin aku terlalu capek mengurus Daffa semalaman.

Aku mematikan keran, mengeringkan tangan dengan tisu, lalu membuka pintu toilet perlahan.

Langkahku baru satu pijakan keluar dari toilet, tubuhku mendadak membeku.

Dari balik partisi kayu, samar-samar aku mendengar suara Siska dan Rina. Mereka pasti masuk ke dapur untuk mengambil sesuatu, mengira aku masih di dalam toilet dengan suara keran menyala.

"...lo gila ya, Nis! Ngapain lo ngomong kayak gitu tadi pas ada orangnya?" Suara berbisik Siska terdengar tajam.

"Ya gue kan refleks, Sis! Gue bingung mau jawab apa pas dia nanya," bela Nisa dengan suara tertahan.

"Tapi lo hampir aja keceplosan. Jaga mulut lo dong. Lo mau dia tahu dari kita?" Rina menimpali, suaranya dipenuhi frustrasi.

"Lagian sampai kapan sih kita mau pura-pura nggak tahu?" keluh Maya. Suara langkah kakinya terdengar mondar-mandir di dapur. "Rizky tuh bener-bener sinting. Kemarin sepupu gue lihat dia di Senayan City, gandengan tangan! Terang-terangan banget, anjir."

"Ssst! Pelan-pelan suara lo, May. Dewi di kamar mandi," tegur Siska panik.

"Gue nggak tega, sumpah," suara Nisa terdengar bergetar, seperti orang yang hampir menangis.

Jeda sejenak. Aku berdiri kaku di balik partisi kayu. Dadaku sesak. Udara di sekitarku seolah disedot habis. Tanganku yang masih memegang kenop pintu toilet mulai gemetar.

Lalu, sayup-sayup, suara Siska kembali terdengar. Pelan, tapi menancap tepat di ulu hatiku.

"Kasihan banget dia... padahal dia sering banget muji-muji Rizky di depan kita."

Ponsel di saku celanaku terasa bergetar, tapi aku tidak bisa bergerak.

Mataku nanar menatap lantai kayu dapur. Rizky. Senayan City. Gandengan tangan.

Semua orang diam saat aku datang. Bukan karena ada lipstik di gigiku. Bukan karena penampilanku.

Mereka diam karena objek gosip yang sedang mereka bicarakan... adalah suamiku.