Malam itu hujan turun rintik-rintik, mengetuk kaca jendela kamar kami dengan irama yang konstan. Udara dingin menyusup dari celah ventilasi, membuatku menarik selimut lebih tinggi, menutupi bahuku. Di sebelahku, Arga bernapas dengan teratur. Dadanya naik turun dalam ritme yang tenang, menandakan ia sudah terlelap dalam mimpi yang dalam.
Aku menatap wajah suamiku dalam keremangan cahaya lampu tidur yang berwarna kuning keemasan. Tujuh tahun sudah kami mengarungi bahtera rumah tangga. Tujuh tahun yang tidak selalu mudah, namun selalu kuanggap sebagai perjalanan yang indah. Aku masih ingat masa-masa awal pernikahan kami, saat kami harus tinggal di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota. Saat itu, gaji kami berdua jika digabungkan pun hanya cukup untuk makan seadanya dan membayar sewa. Aku bahkan merelakan seluruh tabunganku, hasil keringatku bekerja dari pagi hingga malam sebagai staf administrasi, untuk membantu Arga merintis usahanya.
"Kita mulai dari nol ya, Ra. Aku janji, suatu hari nanti aku akan membahagiakan kamu. Aku akan buat semua pengorbananmu terbayar lunas," ucapnya kala itu, sambil menggenggam tanganku erat di atas piring berisi mi instan yang kami bagi berdua.
Janji itu selalu kupegang. Janji itu yang membuatku bertahan saat kami harus berhemat mati-matian, saat aku harus memakai sepatu yang solnya sudah menipis ke kantor agar Arga bisa membeli bensin untuk menemui klien. Dan kini, rasanya semua perjuangan itu mulai membuahkan hasil. Bisnis penyuplai bahan bangunan yang dirintis Arga mulai stabil. Kami sudah bisa mencicil rumah di kawasan yang lumayan bagus, memiliki mobil sendiri, dan hidup tanpa harus pusing memikirkan besok makan apa.
Aku tersenyum tipis mengingat itu semua. Tanganku terulur, merapikan selimut yang sedikit tersingkap dari dada Arga. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Bagiku, Arga adalah sosok suami yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan tempatku bersandar. Kami memang belum dikaruniai keturunan setelah tujuh tahun menikah, sebuah fakta yang kadang membuat hatiku mencelos perih, terutama saat ibu mertuaku, Ibu Ratna, mulai menyinggung soal cucu. Namun Arga selalu menenangkanku. Ia selalu berkata bahwa anak adalah rezeki dari Tuhan, dan kita hanya perlu bersabar.
Aku menghela napas pelan, berusaha mengusir bayangan wajah dingin Ibu Ratna dari pikiranku. Aku memutar tubuh, bersiap untuk kembali memejamkan mata. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang benderang menyilaukan mataku.
Cahaya itu berasal dari layar ponsel Arga yang tergeletak di atas nakas di sebelah tempat tidur. Ponsel itu bergetar pelan, hanya sekali, menandakan ada sebuah notifikasi yang masuk.
Biasanya, aku tidak pernah peduli dengan urusan ponsel Arga. Kami memiliki prinsip untuk saling percaya dan tidak saling memeriksa privasi satu sama lain. Arga tahu kata sandi ponselku, dan aku pun tahu kata sandi ponselnya, meski kami jarang sekali menggunakannya. Namun, entah kenapa, malam ini perasaanku sedikit tidak enak. Siapa yang mengirim pesan jam dua dini hari? Klien? Atau ada keadaan darurat dari keluarganya?
Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Arga, aku menyibakkan selimut dan duduk. Aku mencondongkan tubuhku ke arah nakas. Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan lock screen dengan foto kami berdua saat liburan ke Bali tahun lalu. Di tengah layar, ada sebuah kotak notifikasi dari aplikasi m-banking yang tidak disembunyikan isinya.
Mataku menyipit, berusaha membaca tulisan kecil di layar tersebut.
Dalam sekejap, darah di tubuhku seolah berhenti mengalir. Jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik, sebelum akhirnya bergemuruh dengan hebat hingga membuat dadaku sesak.
Aku mengucek mataku, berharap bahwa aku hanya setengah sadar dan salah membaca. Mungkin aku mengantuk. Mungkin ini hanya ilusi. Aku membungkuk lebih dekat, menatap layar itu lekat-lekat hingga mataku terasa perih.
Transfer Berhasil.
Rp 75.000.000,00
Ke: BCA - MAYA SAFIRA
Berita: -
Tujuh puluh lima juta rupiah.
Angka itu menari-nari di pelupuk mataku, seolah mengejek kewarasanku. Tanganku mulai gemetar. Aku meraih ponsel itu dengan perlahan, merasakan dinginnya lapisan logam di genggamanku. Notifikasi itu masih ada di sana. Nyata. Jelas. Tidak terbantahkan.
Siapa Maya Safira?
Nama itu sama sekali tidak asing bagiku. Aku mengenal hampir semua rekan bisnis Arga, keluarga besarnya, hingga teman-teman kuliahnya. Arga selalu menceritakan hari-harinya kepadaku. Namun nama Maya Safira... nama ini tidak pernah sekalipun terucap dari bibirnya.
Tujuh puluh lima juta bukanlah jumlah yang kecil. Uang itu sangat besar bagi kami. Baru bulan lalu kami berdiskusi untuk merenovasi dapur yang atapnya mulai bocor, dan Arga bilang bahwa arus kas usahanya sedang agak ketat sehingga kami harus menundanya beberapa bulan. Ia bahkan memintaku untuk mencairkan sedikit tabungan pribadiku untuk menutupi biaya perbaikan mobilnya. Lalu, dari mana uang 75 juta ini berasal? Dan untuk apa dikirimkan kepada seorang wanita di tengah malam buta?
Napasku mulai memburu. Pikiranku berkecamuk, menciptakan ratusan skenario buruk yang berusaha kutepis mati-matian. Jangan berprasangka buruk, Nara, batinku berteriak. Mungkin dia benar-benar rekan bisnis. Mungkin ini uang perusahaan. Mungkin Arga hanya lupa bercerita.
Namun, logika itu terasa begitu rapuh dibandingkan dengan rasa sesak yang kini merayap naik ke tenggorokanku. Transfer jam dua pagi? Siapa yang melakukan transaksi bisnis dengan nominal sebesar itu di saat semua orang sedang terlelap?
Dengan jari yang masih bergetar hebat, aku mencoba menggeser layar untuk membuka ponsel itu. Aku ingin membuka aplikasi m-banking tersebut. Aku harus melihat mutasi rekeningnya. Aku harus tahu apakah ini baru pertama kalinya atau sudah sering terjadi.
Layar meminta kata sandi. Aku memasukkan enam angka yang selalu menjadi kata sandinya sejak dulu: tanggal, bulan, dan tahun pernikahan kami.
Kata sandi salah.
Aku terpaku. Layar ponsel berkedip, menampilkan peringatan dengan huruf merah. Aku mencoba sekali lagi. Mungkin jariku terpeleset karena gemetar. Aku mengetikkan angka itu dengan lebih perlahan dan hati-hati.
Kata sandi salah. Silakan coba lagi.
Udara di kamar ini tiba-tiba terasa ditarik habis. Arga mengganti kata sandinya? Sejak kapan? Kenapa dia tidak memberitahuku? Selama tujuh tahun, kata sandi itu tidak pernah berubah. Mengapa tiba-tiba ia menggantinya, tepat di saat ada transfer mencurigakan sebesar puluhan juta rupiah kepada seorang wanita yang tidak kukenal?
Kepalaku mulai pusing. Ruangan ini terasa berputar. Berbagai memori selama beberapa bulan terakhir melintas di kepalaku seperti kaset kusut. Arga yang sering pulang larut malam dengan alasan lembur di gudang. Arga yang sering membawa ponselnya bahkan saat ke kamar mandi. Arga yang belakangan ini sering menghindar saat aku mencoba memeluknya dari belakang saat ia sedang fokus menatap layar ponsel.
Dulu, aku mengira itu semua hanya karena ia sedang stres dengan pekerjaannya. Aku, sebagai istri yang pengertian, selalu berusaha memberinya ruang. Aku selalu menyeduhkan teh hangat untuknya, memijat bahunya, dan tidak pernah banyak menuntut. Tapi kini... apakah semua "pengertian" itu telah dimanfaatkan?
Aku menatap suamiku yang masih terlelap. Wajahnya begitu damai, tanpa dosa. Bagaimana bisa seseorang tidur senyenyak itu setelah mentransfer uang sebesar itu kepada wanita lain? Rasa mual tiba-tiba mengocok perutku. Aku merasa seolah lantai tempatku berpijak tiba-tiba lenyap. Kepercayaan yang selama ini kubangun dengan susah payah, tembok rasa aman yang menyelimuti pernikahanku, tiba-tiba retak hanya karena sebuah notifikasi.
Aku ingin membangunkannya. Aku ingin menjerit di depan wajahnya, mengguncang tubuhnya, dan menuntut penjelasan detik ini juga. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, mengaburkan pandanganku.
Tanganku bergerak, bersiap untuk menyentuh bahunya. Namun, tepat saat ujung jariku hampir mengenai kulitnya, tubuh Arga tiba-tiba bergerak.
Ia mengerang pelan, mengubah posisi tidurnya menghadap ke arahku. Matanya perlahan terbuka, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya redup di kamar. Pandangannya yang awalnya sayu karena kantuk, perlahan menjadi fokus.
Dan saat itulah, matanya tertuju pada tanganku yang sedang menggenggam ponselnya yang layarnya masih menyala terang, menampilkan notifikasi yang belum sempat terhapus.
Sorot matanya berubah seketika. Kantuknya hilang, digantikan oleh sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya dalam tatapan suamiku. Panik.
"Nara..." suaranya terdengar serak, namun nadanya memiliki ketegangan yang membuat darahku berdesir dingin. "Apa yang kamu lakukan dengan hp-ku?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar