Waktu seolah berhenti berdetak. Udara di dalam kabin mobilku mendadak terasa hampa, seakan oksigen baru saja disedot habis ke luar angkasa. Mataku terpaku pada daun pintu kayu berukir mewah yang perlahan mengayun terbuka. Tanganku yang mencengkeram setir kemudi terasa sedingin es, sementara keringat dingin mulai merembes di pelipisku.
Dari balik pintu itu, melangkahlah seorang pria yang sangat kukenal. Pria yang selama tujuh tahun ini tidur di ranjang yang sama denganku, memakan masakan yang kubuat dengan tanganku sendiri, dan membagi keluh kesahnya tentang kerasnya dunia kepadaku.
Itu Arga. Suamiku.
Namun, penampilan Arga saat ini benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasanku. Tadi pagi, ia pamit kepadaku mengenakan kemeja seragam proyeknya yang berwarna biru navy, lengkap dengan celana bahan tebal dan sepatu safety. Ia beralasan akan seharian berada di lapangan, berpanas-panasan demi memastikan material bajanya aman.
Tetapi pria yang berdiri di teras rumah mewah itu kini mengenakan kemeja polo putih yang bersih dan celana chino pendek berwarna krem. Rambutnya disisir rapi dengan pomade, tidak ada sedikit pun jejak debu proyek atau keringat pekerja keras di wajahnya. Ia tampak begitu segar, santai, dan... bahagia.
Sebuah tawa renyah meluncur dari bibirnya, sebuah tawa lepas yang sudah berbulan-bulan tidak pernah kudengar di rumah kami. Di rumah kami, ia selalu memasang wajah lelah, mengeluh tentang klien yang cerewet, atau diam membisu dengan alasan sakit kepala.
Lalu, alasannya tertawa lepas pun muncul dari ambang pintu.
Seorang wanita melangkah keluar, menyusul Arga ke teras. Tubuhku menegang hebat hingga tulang punggungku terasa nyeri. Wanita itu... Maya. Kulitnya putih bersih, rambut lurusnya yang panjang dibiarkan tergerai menutupi sebagian bahunya. Ia mengenakan dress selutut berwarna peach yang terbuat dari bahan katun lembut, dipadukan dengan sandal jepit bermerek yang harganya setara dengan gaji bulananku. Ia terlihat sangat terawat, elegan, dan jauh dari kesan seorang "vendor material baja".
Namun, bukan kecantikan wanita itu yang membuat duniaku benar-benar runtuh. Bukan pula dress mahalnya atau tas branded yang ia tenteng di tangan kirinya.
Melainkan bentuk tubuhnya.
Di balik dress peach yang longgar itu, perut wanita bernama Maya itu terlihat membuncit dengan sangat jelas. Itu bukan buncit karena timbunan lemak. Sebagai seorang wanita yang bertahun-tahun merindukan garis dua pada test pack, aku sangat hafal dengan bentuk perut itu. Itu adalah perut seorang wanita yang sedang mengandung. Usia kandungannya mungkin sudah memasuki bulan kelima atau keenam.
“Makasih banyak cincinnya. Anak kita pasti bangga punya Papa sehebat kamu.”
Pesan WhatsApp itu kembali menggema di kepalaku, kali ini dengan volume yang memekakkan telinga.
Aku melihat Arga membalikkan badannya menghadap Maya. Ia tersenyum sangat manis—senyuman yang dulu ia berikan padaku saat kami pertama kali pindah ke rumah kontrakan kami. Tangan kanan Arga terulur, menyentuh perut buncit Maya dengan gerakan yang begitu lembut dan penuh kehati-hatian. Ia mengusapnya pelan, lalu menundukkan kepalanya dan mengecup kening wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Maya tertawa kecil, memukul dada Arga manja, lalu mengalungkan salah satu lengannya ke pinggang suamiku. Mereka tampak seperti sepasang suami istri bahagia yang sedang bersiap untuk menghabiskan akhir pekan bersama.
Rasa sakit yang menghantam dadaku saat ini tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Rasanya seperti ada ribuan beling kaca yang ditelankan paksa ke tenggorokanku, mengiris lambung dan jantungku secara bersamaan. Napasku mulai tersengal. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, membasahi pipiku yang kaku. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, berusaha menahan jeritan histeris yang meronta-ronta ingin keluar dari tenggorokanku. Bibirku sampai terasa kebas, dan aku bisa mengecap rasa amis darah di mulutku.
Tujuh tahun. Tujuh tahun aku mengabdi. Aku menelan hinaan dari ibunya karena rahimku belum juga berisi. Aku menahan lapar agar ia bisa makan enak. Aku memeras keringatku di kantor agar tagihan listrik kami tidak menunggak saat usahanya sedang sepi. Dan inilah balasan yang kudapat? Ia memberikan benihnya kepada wanita lain, membelikannya istana megah dengan uangku, dan memanjakannya layaknya seorang ratu?
Kemarahan yang liar dan gelap tiba-tiba menguasai otakku. Mataku menatap tajam ke arah pedal gas di bawah kakiku. Jarak mobilku dengan mereka hanya belasan meter. Tidak ada pagar yang menghalangi. Jika aku menginjak pedal gas ini dalam-dalam, aku bisa menabrak mereka berdua. Aku bisa mengakhiri senyum menjijikkan di wajah mereka detik ini juga.
Tubuhku bergetar hebat. Kakiku perlahan bergerak mendekati pedal gas. Pikiranku berkabut. Tabrak saja, Nara. Tabrak mereka. Biar mereka merasakan sakit yang kamu rasakan.
Namun, suara Tari tiba-tiba terngiang di telingaku. "Lo harus pintar, Ra! Kalau lo gegabah... dia bakal putar balik fakta dan bilang lo gila!"
Aku tersentak. Napasku memburu, dadaku naik turun dengan kasar. Aku menarik kakiku menjauh dari pedal gas. Tidak. Membunuh mereka hanya akan membuatku membusuk di penjara, sementara keluarga Arga akan melabeliku sebagai istri gila yang pantas diselingkuhi. Itu bukan pembalasan dendam. Itu bunuh diri.
Aku harus mendapatkan bukti. Aku harus menghancurkan Arga secara perlahan, sama seperti ia menghancurkanku selama berbulan-bulan tanpa kusadari.
Dengan tangan gemetar, aku merogoh tasku dan mengambil ponsel. Aku membuka kamera, mengatur zoom hingga maksimal, dan mulai merekam. Aku merekam bagaimana Arga membukakan pintu penumpang mobil SUV itu untuk Maya, bagaimana tangannya melindungi kepala wanita itu agar tidak terbentur pinggiran mobil, sebuah gestur kecil yang sudah lama tidak pernah ia lakukan padaku. Aku merekam semuanya. Setiap kemesraan palsu yang dibangun di atas penderitaanku.
Setelah Maya masuk, Arga berjalan memutar menuju kursi pengemudi. Tepat sebelum ia membuka pintu, sebuah ide gila melintas di kepalaku. Aku ingin mengujinya. Aku ingin melihat seberapa jauh pria ini bisa membohongiku tanpa berkedip.
Aku keluar dari aplikasi kamera dan menekan nomor kontak suamiku. Panggilanku terhubung.
Dari balik kaca mobilku, aku melihat langkah Arga terhenti. Ia merogoh saku celana chino-nya dan mengeluarkan ponselnya. Aku memperhatikannya dengan saksama. Saat ia melihat nama yang tertera di layar, senyum di wajahnya lenyap seketika. Bahunya sedikit menegang. Ia menoleh ke arah kaca mobil tempat Maya duduk, memberikan isyarat dengan tangannya agar Maya menunggu sebentar.
Lalu, ia berjalan menjauh beberapa langkah dari mobilnya, mengatur ekspresi wajahnya, dan mengangkat teleponku.
"Halo, Sayang?" sapa Arga dari seberang sambungan. Nada suaranya sedikit mendesah, seolah-olah ia sedang kelelahan. Suara baritonnya terdengar sedikit diwarnai deru angin, kebohongan yang diskenariokan dengan sempurna.
Aku menelan ludah, memaksakan suaraku agar terdengar normal dan tidak bergetar. "Halo, Mas. Mas lagi di mana? Kok suaranya berisik banget?"
"Ini, aku lagi di area bongkar muat, Yang," jawabnya lancar, tanpa ada sedikit pun keraguan dalam suaranya. Sambil mengatakan itu, aku melihatnya mengusap tengkuknya di bawah bayangan pohon palem hias di depan rumah mewah itu. "Gila, panas banget di sini. Debunya sampai bikin mata perih. Untung tadi aku pakai kemeja lengan panjang."
Bohong. Bohong. Keparat kau, Arga.
"Oh, gitu ya, Mas. Kasihan banget suamiku," ucapku, memaksakan nada iba yang membuat perutku semakin mual. "Udah makan siang belum? Jangan sampai telat makan lho, nanti maag-nya kambuh."
Aku melihat Arga tersenyum tipis di kejauhan. "Belum nih, Yang. Habis ini baru mau nyari warteg di depan proyek. Kamu sendiri udah makan? Jangan nungguin aku ya, aku kayaknya bakal sampai malam di sini. Besinya ada yang kurang, aku harus komplain ke supplier."
Supplier. Kata itu meluncur begitu mulus dari lidahnya. Mengacu pada wanita hamil yang sedang duduk manis di dalam mobil ber-AC miliknya.
"Iya, Mas. Aku udah makan kok," balasku pelan. "Mas hati-hati ya kerjanya. Semangat."
"Pasti, Sayang. Ini semua kan buat kamu, buat masa depan kita. Udah dulu ya, mandornya udah manggil nih. Love you."
"Hmm. Love you too."
Aku mematikan sambungan telepon. Air mataku kembali menetes, kali ini jatuh di atas layar ponsel yang gelap. "Buat masa depan kita," bisikku getir. Betapa mudahnya ia merangkai kata-kata manis itu sementara kakinya berpijak di teras rumah selingkuhannya.
Aku melihat Arga kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu masuk ke dalam mobil. Mesin SUV hitam itu menyala, lampu seinnya berkedip, lalu mobil itu bergerak perlahan meninggalkan pelataran rumah.
Tanpa berpikir panjang, aku menurunkan tuas rem tangan, memutar persneling, dan mulai membuntuti mobil itu dari jarak yang aman. Aku menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakangnya, membiarkan sebuah taksi dan mobil hatchback putih berada di antara kami. Beruntung jalanan tidak terlalu macet sehingga aku bisa mengikutinya dengan mudah tanpa takut kehilangan jejak.
Pikiranku berputar cepat. Ke mana mereka akan pergi? Ke mall untuk berbelanja barang branded lagi? Atau ke tempat makan mewah yang tagihannya akan dibayar menggunakan uang depositoku?
SUV hitam itu melaju membelah kawasan elit Jakarta Selatan, lalu berbelok ke arah sebuah jalan protokol yang cukup padat. Setelah sekitar dua puluh menit membuntuti mereka, mobil Arga menyalakan lampu sein kiri dan melambat.
Aku ikut melambatkan laju mobilku. Mataku memicing, melihat ke arah mana mereka berbelok.
Sebuah papan nama besar berwarna biru dan putih menyambut di pintu gerbang bangunan megah itu. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Permata Hati. Jantungku mencelos. RSIA elit ini terkenal sebagai tempat bersalin langganan para artis dan socialite ibukota. Biaya konsultasinya saja bisa menghabiskan separuh gajiku sebulan. Jadi ini "kontrol dokter" yang dimaksud Arga di pesan WhatsApp semalam?
Aku membelokkan mobilku menyusul mereka, mengambil tiket parkir dari mesin otomatis dengan tangan gemetar. Aku melihat mobil Arga turun ke area parkir basement. Aku mengikutinya perlahan, menunggunya menemukan tempat parkir, lalu aku mencari celah kosong yang jaraknya agak jauh agar ia tidak menyadari keberadaan mobilku.
Setelah memarkirkan mobil, aku menunggu sejenak. Aku melihat Arga turun, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Maya. Ia menggandeng tangan wanita itu dengan sangat hati-hati, menuntunnya berjalan menuju pintu lift basement.
Aku keluar dari mobil, menyelinap di antara pilar-pilar beton yang tebal. Napasku tertahan saat aku berjalan mengendap-endap menyusul mereka. Aku melihat angka digital di atas lift menunjukkan bahwa mereka naik ke lantai 3: Klinik Kandungan VVIP.
Aku berlari menuju lift di sebelahnya yang kebetulan sedang kosong dan menekan angka 3. Perjalanan singkat di dalam kotak besi itu terasa seperti berjam-jam. Otakku terus memutar bayangan kemesraan mereka, membandingkannya dengan rasa sepi yang kualami di rumah setiap malam.
Pintu lift terbuka dengan dentingan pelan. Aroma rumah sakit yang bersih dan wangi antiseptic langsung menyeruak ke indra penciumanku. Lantai 3 ini tidak seperti rumah sakit pada umumnya; interiornya didesain sangat mewah dengan sofa-sofa beludru empuk, karpet tebal, dan pencahayaan yang hangat.
Aku melangkah keluar dari lift dengan sangat hati-hati, bersembunyi di balik sebuah pilar marmer besar yang dihiasi tanaman hias tiruan. Dari posisiku, aku bisa melihat ruang tunggu poli kandungan yang cukup luas. Hanya ada beberapa pasien di sana, karena ini adalah area VVIP.
Mataku langsung menemukan sosok Arga dan Maya yang sedang berjalan menuju meja resepsionis. Maya menyerahkan sebuah buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) berwarna pink ke petugas, sementara Arga merangkul pinggangnya dengan protektif.
Aku mencengkeram tepi pilar marmer dengan kuat. Cukup, Nara. Cukup. Kamu sudah melihat semuanya. Kamu sudah tahu bahwa suamimu punya anak dari wanita lain. Sekarang saatnya pulang, hubungi pengacara, dan hancurkan dia di pengadilan.
Aku baru saja memutar tubuhku untuk kembali masuk ke lift, ketika sebuah suara dari arah lorong ruang tunggu menghentikan langkahku secara total. Darah di sekujur tubuhku seolah membeku. Jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik.
"Arga! Maya! Sini, Nak!"
Suara itu. Suara serak dan melengking yang sangat familier. Suara yang selama tujuh tahun ini selalu kudengar dengan rasa hormat bercampur takut.
Dengan gerakan patah-patah, aku menoleh kembali ke arah ruang tunggu.
Di sana, berjalan menghampiri Arga dan Maya dengan senyum semringah yang belum pernah kulihat sebelumnya, adalah seorang wanita paruh baya mengenakan kebaya sutra dan tas Chanel di lengannya.
Itu Ibu Ratna. Ibu mertuaku.
Pemandangan di depanku kini berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan. Maya tidak menunduk hormat seperti yang biasa kulakukan saat bertemu ibu mertuaku. Sebaliknya, ia merentangkan tangannya, dan Ibu Ratna langsung memeluk wanita itu dengan sangat erat, mencium kedua pipinya, lalu membungkuk sedikit untuk mengusap perut buncit Maya dengan tatapan penuh pemujaan.
Arga tertawa melihat interaksi kedua wanita itu, memeluk bahu ibunya dengan hangat. Mereka bertiga berdiri di sana, di tengah ruang tunggu elit itu, tampak seperti gambaran keluarga sempurna yang harmonis.
Sementara aku, istri sahnya, menantu yang selama tujuh tahun menguras tenaga dan harta untuk menghidupi keluarga itu, berdiri gemetar di balik pilar layaknya seorang pesakitan yang menonton kehidupannya dirampok tepat di depan mata.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar