Suasana kamar yang sunyi tiba-tiba terasa begitu mencekam. Hujan di luar masih turun menderas, namun di dalam sini, aku hanya bisa mendengar suara detak jantungku sendiri yang bertalu-talu.
Aku menelan ludah yang terasa seperti bongkahan kerikil di tenggorokan. Mataku tidak beranjak dari wajah Arga yang kini setengah duduk, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada keterkejutan, sedikit kemarahan, dan... ketakutan?
"Nara? Aku tanya, ngapain kamu pegang hp-ku malam-malam begini?" tanyanya lagi. Kali ini suaranya lebih tegas, memecah kebisuan yang menyiksa.
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan tanganku yang masih gemetar memegang benda pipih di tanganku. Aku membalikkan layar ponsel itu ke arahnya.
"Tadi layarnya menyala terang," suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan. Bergetar dan rapuh. "Ada notifikasi masuk. Aku cuma mau ngecek, takutnya ada sesuatu yang penting. Tapi aku malah lihat... ini."
Mata Arga tertuju pada layar ponselnya. Aku memperhatikan setiap perubahan mikro di wajahnya. Ada jeda sekitar dua detik di mana ia membeku. Rahangnya mengeras, dan jakunnya bergerak naik turun saat ia menelan ludah. Itu adalah reaksi yang sangat singkat, namun bagi seorang wanita yang telah mengenalnya selama tujuh tahun, dua detik itu sudah cukup untuk memberitahuku bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Namun, dengan cepat ia menguasai dirinya. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu mengambil ponsel itu dari tanganku dengan gerakan yang cukup kasar, membuatku sedikit terkejut.
"Ya ampun, Ra. Kamu bikin aku jantungan. Aku kira ada apa," ucapnya sambil mendesah. Nada suaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat santai, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang paling wajar di dunia. Ia menggeser layar ponsel, mengetikkan kata sandi baru yang gerakannya sengaja ia sembunyikan dari pandanganku, dan menghapus notifikasi itu.
Aku menatapnya dengan dada bergemuruh. "Kamu nggak mau jelasin? 75 juta, Mas? Ke rekening perempuan bernama Maya Safira? Jam dua pagi?" cecarku. Rasa sakit hati yang sejak tadi kutahan perlahan mulai bercampur dengan kemarahan.
Arga menatapku, tatapannya melembut. Ia menggeser tubuhnya mendekat, mencoba meraih tanganku, namun aku menariknya mundur secara refleks. Ia tampak sedikit kecewa, tapi kembali memaksakan sebuah senyum.
"Sayang, dengarkan aku dulu," bujuknya dengan nada suara yang selalu ia gunakan untuk menenangkanku jika aku sedang stres dengan pekerjaanku. "Maya itu vendor material. Dia supplier besi baja dari Surabaya yang baru aja kerja sama sama perusahaan. Barang yang kita butuhkan untuk proyek besar bulan depan itu langka banget. Kalau nggak di-DP malam ini juga, besok pagi barangnya udah dilempar ke kontraktor lain. Tadi sore kami sudah sepakat, tapi m-banking-ku error terus. Makanya baru berhasil sekarang."
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari kebenaran di sana. Penjelasannya terdengar sangat logis. Bisnis material bahan bangunan memang keras dan seringkali berpacu dengan waktu. Tapi, ada terlalu banyak lubang dalam cerita itu yang membuat instingku menolak untuk percaya.
"Maya? Sejak kapan supplier material besar memakai rekening pribadi atas nama perempuan? Bukannya biasanya pakai rekening PT atau CV?" tanyaku, nada suaraku tajam, membelah alasan yang baru saja ia buat.
Arga tidak langsung menjawab. Ia menghela napas kasar, seolah merasa lelah dengan pertanyaanku. "Ra, ini bisnis. Kadang jalurnya nggak selalu lurus-lurus aja pakai PT. Kadang kita pakai jalur pribadi biar pajaknya nggak terlalu besar, atau biar prosesnya lebih cepat. Maya itu anak bosnya yang pegang kendali keuangan. Udah biasa kayak gini di lapangan. Kamu kan kerja di bagian admin, masa nggak ngerti celah-celah kayak gini?"
"Tapi 75 juta, Mas?" suaraku mulai meninggi, tidak peduli jika tetangga sebelah bisa mendengar. "Bulan lalu kamu bilang uang kas lagi seret sampai kita harus nunda perbaikan dapur! Kamu bahkan minta aku cairin tabunganku buat bengkel mobil! Terus sekarang tiba-tiba ada uang 75 juta untuk DP material? Dari mana uang itu?"
Ekspresi santai Arga perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah kesal. Ia membuang muka, menatap ke arah dinding kosong di depannya.
"Itu uang perputaran, Nara. Uang klien yang baru masuk sore tadi dan harus langsung diputar lagi. Kalau uang itu dipakai buat benerin dapur, proyek ini nggak jalan. Kalau proyek ini nggak jalan, kita mau makan apa bulan depan? Kamu pikir aku kerja keras banting tulang dari pagi sampai malam buat siapa? Buat kita, Ra!"
Ia meninggikan suaranya di akhir kalimat, membalikkan keadaan seolah-olah akulah yang egois, akulah yang tidak mengerti kesulitannya.
Air mataku akhirnya tumpah. Rasa sesak di dadaku semakin menjadi-jadi. "Lalu kenapa kamu ganti kata sandi hp kamu?" tanyaku lirih, dengan suara bergetar. "Selama tujuh tahun kita menikah, sandi itu selalu tanggal pernikahan kita. Kenapa tiba-tiba kamu ganti, dan kenapa kamu marah waktu lihat aku pegang hp-mu?"
Arga terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, tampak mencari-cari alasan di dalam kepalanya. "Hp-ku akhir-akhir ini sering error. Beberapa kali layarnya kepencet sendiri di saku dan nyaris ke-reset gara-gara salah masukin sandi yang gampang ditebak. Makanya aku ganti biar lebih aman. Lagian..." Ia menatapku dengan sorot mata yang menuduh. "Kenapa kamu jadi posesif begini sih, Ra? Sejak kapan kamu suka ngecek-ngecek hp orang? Kamu udah nggak percaya lagi sama suamimu sendiri?"
Kalimat itu meluncur dari bibirnya dan menghantamku tepat di ulu hati. Gaslighting. Ia sedang membalikkan situasi, membuatku merasa bersalah atas kecurigaanku sendiri.
"Aku nggak ngecek, Mas! Layarnya nyala sendiri!" sergahku sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.
"Ya udah. Toh sekarang kamu udah tahu jawabannya, kan?" tukasnya cepat. Ia membaringkan tubuhnya kembali dan menarik selimut, memunggungiku. "Aku capek, Ra. Besok pagi-pagi aku harus ke lapangan buat mastiin barangnya dikirim. Berhenti mikir yang aneh-aneh. Tidur."
Aku tetap duduk membeku di atas kasur. Hawa dingin dari luar terasa menusuk hingga ke tulang, namun rasanya tidak sedingin punggung suamiku yang kini berbalik menjauhiku. Aku menatap punggung lebar itu—punggung yang dulu selalu menjadi tempatku berlindung dari segala masalah dunia. Kini, punggung itu terasa seperti tembok tebal yang menyembunyikan ribuan kebohongan.
Malam itu, aku tidak tidur sedetik pun. Aku hanya duduk dalam diam, mendengarkan suara napas Arga yang kembali teratur. Apakah ia benar-benar bisa tidur setelah pertengkaran ini? Atau ia hanya berpura-pura terlelap untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dariku?
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa sangat canggung. Aku menyiapkan sarapan nasi goreng kesukaannya dalam diam. Arga sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Bau parfumnya menguar memenuhi dapur—parfum yang sama yang kubelikan untuk ulang tahunnya tahun lalu.
Ia duduk di kursi makan dan mulai menyendok makanannya seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Ketenangannya itu justru semakin membuat perutku mual.
"Nasi gorengnya enak, Ra," ucapnya basa-basi sambil tersenyum ke arahku. Sebuah senyuman yang biasanya akan membuat hatiku hangat, namun pagi ini terasa begitu palsu.
Aku hanya mengangguk pelan tanpa menyentuh makananku sendiri.
"Aku berangkat dulu ya," katanya setelah menghabiskan makanannya. Ia bangkit, merapikan kerahnya, dan berjalan menghampiriku. Ia mengecup keningku—sebuah rutinitas yang selalu ia lakukan selama tujuh tahun ini. Namun kali ini, bibirnya terasa dingin di kulitku.
"Jangan terlalu dipikirin yang semalam. Aku ini suamimu, aku tahu batas," bisiknya pelan sebelum melangkah keluar menuju garasi.
Aku mendengar suara mesin mobil dinyalakan, perlahan mundur, dan akhirnya menghilang di ujung jalan. Kesunyian rumah ini tiba-tiba terasa begitu menekan.
Aku mencengkeram tepi meja makan dengan kuat hingga buku-buku jariku memutih. Penjelasannya semalam tentang vendor, tentang uang proyek, tentang kata sandi... semuanya terasa seperti kepingan puzzle yang dipaksakan untuk menyatu padahal bukan pasangannya. Instingku sebagai seorang wanita meronta-ronta, menyuruhku untuk tidak menutup mata.
Aku beranjak dari kursi dapur dan melangkah menuju ruang kerja kecil yang sering digunakan Arga di rumah. Ruangan itu sedikit berantakan dengan tumpukan map dan kertas. Pandanganku tertuju pada laptop kerjanya yang diletakkan di atas meja. Arga selalu membawa laptopnya ke kantor, namun hari ini anehnya ia meninggalkannya. Mungkin karena ia buru-buru ke "lapangan" seperti yang ia katakan semalam.
Aku mendekati meja itu dengan jantung berdebar kencang. Tanganku terulur, menyentuh layar laptop yang tertutup. Ingatanku melayang pada malam-malam di mana Arga sibuk mengetik di depan layar ini, lalu buru-buru menutupnya saat aku membawakan kopi.
Jika Maya benar-benar vendor material, pasti ada jejak korespondensi, invoice, atau catatan keuangan di laptop ini. Jika Arga berkata jujur, aku berjanji pada diriku sendiri akan membuang jauh-jauh rasa curiga ini dan meminta maaf kepadanya nanti malam.
Namun jika tidak...
Dengan tangan gemetar, aku membuka layar laptop tersebut. Mesin itu menyala dari mode sleep. Beruntung, Arga tidak pernah mengunci laptop ini karena ini adalah laptop lama yang dulu sering kami pakai berdua sebelum ia membeli laptop baru untuk di kantor.
Layar utama muncul. Berbagai jendela browser masih terbuka. Napasku tertahan saat melihat tab apa yang terakhir kali ia akses.
Itu bukan situs material bangunan. Bukan juga email perusahaan.
Itu adalah WhatsApp Web yang lupa ia keluarkan.
Dan di layar tersebut, sebuah obrolan dengan kontak bernama "Maya" terpampang dengan sangat jelas. Namun bukan obrolan soal besi baja atau tenggat waktu pengiriman yang kulihat.
Mataku membelalak ngeri saat membaca pesan terakhir yang dikirim Arga tadi malam, tepat sebelum ia tidur, sebelum notifikasi 75 juta itu muncul menghancurkan kewarasanku.
Arga: Uangnya udah Mas transfer ya, Sayang. Buat pelunasan cincin sama biaya kontrol dokter besok. Mas kangen banget sama kamu.
Duniaku runtuh seketika. Layar laptop di depanku perlahan mengabur oleh air mata yang tak lagi bisa kubendung, sementara tanganku perlahan bergerak menggulir mouse, menelusuri kebohongan yang jauh lebih besar, lebih gelap, dan lebih menghancurkan daripada yang pernah kubayangkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar