Saat aku membuka mata, hal pertama yang kurasakan adalah dinginnya lantai ubin yang menempel di pipiku. Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada puluhan jarum yang ditusukkan ke pelipisku secara bersamaan. Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kembali kesadaranku yang sempat hilang.

Cahaya matahari siang menerobos masuk dari sela-sela tirai ruang kerja, menyilaukan mataku. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Aku pasti pingsan selama beberapa jam.

Dengan susah payah, aku menopang tubuhku dengan kedua tangan, memaksa diriku untuk duduk. Seluruh persendianku terasa kaku. Mataku langsung tertuju pada layar laptop yang kini telah berubah menjadi gelap karena masuk ke mode sleep.

Ingatan tentang apa yang kulihat sebelum pingsan menghantamku kembali dengan kecepatan penuh.

Transfer 75 juta. Ratusan juta uang keluar. Deposito yang hilang. Cincin berlian. "Anak kita."

Seketika, rasa mual itu kembali menyerang. Aku meremas dadaku, berusaha bernapas. Rasa sakit ini terlalu nyata, terlalu besar untuk ditanggung oleh satu orang. Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri. Rumah yang dibangun dari kebohongan. Pernikahan yang ternyata hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh seorang manipulator ulung.

Aku butuh bantuan. Aku tidak bisa menanggung ini sendirian.

Dengan tangan bergetar, aku meraih ponselku di atas meja makan dan mencari nama kontak satu-satunya orang yang bisa kupercaya saat ini. Tari, sahabatku sejak zaman kuliah, yang selalu tahu segalanya tentangku.

Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum suara riang Tari terdengar di seberang sana.

"Tumben siang-siang neken, Ra? Lagi jam istirahat kantor gue nih. Kenapa? Mau ngajak makan siang?" sapanya ceria.

Mendengar suaranya, pertahananku runtuh. Isak tangis yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah. Aku menangis meraung-raung di telepon, membuat Tari di seberang sana langsung panik.

"Ra! Nara! Lo kenapa?! Ra, jangan bikin gue panik dong! Lo di mana sekarang? Sakit?" cecar Tari, suaranya berubah tinggi dan cemas.

"Tar..." panggilku susah payah, tersedak oleh air mataku sendiri. "Tar... tolongin gue. Gue hancur, Tar. Semuanya hancur."

"Nara, tarik napas dulu. Tenang. Ada apa? Arga kenapa? Kalian berantem?"

"Dia selingkuh, Tar," ucapku, kata-kata itu terasa seperti silet yang mengiris tenggorokanku sendiri saat diucapkan. "Dia... dia punya perempuan lain. Dia ngasih perempuan itu puluhan juta... dia beliin rumah... dan... dan perempuan itu... hamil, Tar. Perempuan itu bilang 'anak kita'."

Hening yang panjang terjadi di seberang sana. Aku hanya mendengar suara deru napas Tari.

"Lo... lo dapat info dari mana, Ra? Lo jangan dengerin gosip orang! Arga tuh bucin banget sama lo, nggak mungkin dia—"

"Gue lihat sendiri, Tar!" potongku setengah berteriak. "Gue lihat WhatsApp-nya! Gue lihat mutasi rekeningnya! Dia nyairin deposito darurat kita buat DP rumah perempuan itu! Tiga ratus juta bulan lalu dia transfer ke perempuan bajingan itu, Tar! Sementara gue... gue nyuci baju pakai tangan sampai lecet karena dia bilang lagi nggak ada uang buat beli mesin cuci!"

Kini giliran Tari yang terdiam. Saat ia kembali bersuara, nadanya telah berubah 180 derajat. Tidak ada lagi kepanikan, digantikan oleh nada dingin dan penuh amarah yang tertahan.

"Lo di rumah sekarang?" tanyanya tegas.

"Iya."

"Gue izin setengah hari dari kantor sekarang juga. Gue ke sana. Lo jangan ngapa-ngapain, jangan hubungi Arga, jangan nangis lagi. Screenshot semua bukti yang lo lihat. Pindahin ke flashdisk atau kirim ke email lo sendiri. Jangan sampai dia sadar lo udah tahu. Paham, Nara?" instruksi Tari dengan cepat dan logis.

"Tar, gue nggak kuat..."

"Lo kuat!" bentaknya, sengaja memarahiku untuk membangunkanku dari keterpurukan. "Lo harus pintar, Ra! Kalau lo gegabah dan langsung labrak dia tanpa bukti di tangan lo, dia bakal putar balik fakta dan bilang lo gila! Amankan semua buktinya sekarang. Gue jalan ke sana."

Telepon ditutup.

Kata-kata Tari seolah menampar kesadaranku. Ia benar. Menangis tidak akan mengembalikan uangku. Menangis tidak akan mengubah fakta bahwa suamiku adalah seorang pengkhianat. Jika Arga bisa bermain licik di belakangku selama berbulan-bulan, maka aku harus bisa bermain lebih pintar darinya.

Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan kasar. Aku kembali duduk di depan laptop. Kali ini, tidak ada lagi rasa ragu. Jariku bergerak lincah di atas keyboard dan mouse. Aku mengambil ponselku, memfoto setiap baris percakapan WhatsApp, memfoto bukti mutasi rekening, dan meneruskan dokumen e-statement itu ke email pribadiku.

Selesai mengamankan bukti keuangan, mataku tertuju pada sebuah folder di desktop laptop Arga yang diberi nama “Proyek M”. Awalnya aku mengira itu adalah singkatan dari nama klien atau lokasi proyek. Namun kini, huruf 'M' itu memiliki arti yang jauh lebih menjijikkan. Maya.

Aku mengklik dua kali pada folder tersebut.

Isinya adalah puluhan file PDF dan Word. Ada kuitansi pembelian perabotan rumah tangga—Sofa kulit, meja makan marmer, smart TV 65 inci, kulkas dua pintu. Total pengeluarannya membuatku mual. Barang-barang yang tidak pernah berani kuminta karena aku selalu menjaga kondisi keuangan suamiku, ia berikan begitu saja kepada wanita simpanannya.

Lalu, mataku menangkap sebuah file PDF berjudul "Berita_Acara_Serah_Terima_Kavling".

Jantungku berdebar kencang. Aku membukanya. Itu adalah dokumen resmi dari developer perumahan. Di sana tercantum nama Arga sebagai pihak pembeli, dan...

Alamatnya.

Pesona Residence, Cluster Edelweiss, Blok C No. 08, Jakarta Selatan.

Mataku terpaku pada deretan huruf tersebut. Alamat itu... itu bukan di pinggiran kota. Itu adalah kawasan perumahan elite di daerah Selatan yang harganya minimal di atas dua miliar rupiah. Dan suamiku membelikan rumah di sana untuk wanita simpanannya? Menggunakan uang yang sebagian besar adalah hasil dari memeras keringatku?

Aku meraih secarik kertas dari tumpukan file Arga dan mencatat alamat itu dengan tangan yang kaku. Aku harus melihatnya sendiri. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri istana kebohongan yang dibangun Arga dari air mataku.

Satu jam kemudian, bel rumah berbunyi. Aku membuka pintu dan melihat Tari berdiri di sana dengan wajah memerah menahan amarah. Ia langsung memelukku erat-erat. Pelukan yang hangat dan protektif itu membuat pertahananku nyaris runtuh lagi, namun aku menggigit bibirku, menolak untuk mengeluarkan air mata lagi hari ini.

"Mana buktinya?" tanya Tari tanpa basa-basi saat kami duduk di ruang tamu.

Aku menyerahkan ponselku dan menunjukkan semua foto layar yang kuambil. Tari menggeser layar demi layar. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya menonjol.

"Bajingan. Keparat. Laki-laki nggak tahu diuntung!" umpat Tari dengan suara mendesis. "Dia pikir dia siapa? Lo nemenin dia dari zaman dia masih makan nasi bungkus dibagi dua, Ra! Terus sekarang dia sok jadi sugar daddy beliin rumah miliaran? Sinting!"

Tari menatapku lekat-lekat. "Lo mau lapor polisi? Ini bisa masuk penggelapan aset bersama dalam pernikahan, Ra. Kita sewa pengacara."

"Belum, Tar. Gue belum punya bukti kuat soal pernikahan atau perzinaannya. Cuma chat 'suamiku' dan 'anak kita'. Arga bisa aja ngeles itu cuma chat main-main atau apalah. Dia licin banget," jawabku, suaraku terdengar jauh lebih dingin dan tenang dari yang kuduga. Kehancuran ternyata bisa mematikan saraf perasaan.

Aku menyodorkan secarik kertas berisi alamat yang kutemukan tadi. "Gue nemu alamat rumah yang dibeli Arga buat perempuan itu."

Mata Tari melebar. "Pesona Residence? Gila, itu perumahan mahal banget, Ra! Temen kantor gue ada yang beli di sana dan cicilannya selangit." Tari menatapku dengan sorot mata penuh tekad. "Kita ke sana sekarang. Kita labrak pelakor itu."

"Nggak usah, Tar." Aku berdiri, merapikan pakaianku. Aku sudah mengganti bajuku dengan kemeja rapi dan celana bahan. Aku juga sudah memakai sedikit make up untuk menutupi wajah pucatku. Aku menolak terlihat menyedihkan saat berhadapan dengan kenyataan. "Gue pergi sendiri."

"Lo gila?! Gimana kalau Arga ada di sana? Lo mau dikeroyok sama mereka berdua?" protes Tari, ikut berdiri dan menghalangiku.

"Arga bilang dia full di lapangan hari ini. Dia pamit buat ngecek barang ke proyek," ujarku dingin. "Lagipula, ini urusan rumah tangga gue, Tar. Gue harus berani ngadepin ini sendiri. Kalau gue bawa lo, Arga bakal tahu kalau gue nyelidikin dia pakai bantuan orang lain. Biar gue yang survei lokasinya. Gue cuma mau mastiin."

Tari menatapku ragu, namun ia tahu betapa keras kepalanya aku jika sudah membuat keputusan. Sambil menghela napas kasar, ia menepuk bahuku. "Oke. Tapi lo harus janji, jangan langsung labrak kalau sikonnya nggak aman. Lo pantau aja dari jauh. Dan lo harus share location ke gue live. Kalau dalam satu jam lo nggak ada kabar, gue bakal panggil polisi dan nyusul lo ke sana."

"Gue janji, Tar. Makasih."

Setengah jam kemudian, aku sudah berada di balik kemudi mobilku—mobil city car murah yang kubeli dengan gajiku sendiri sebelum menikah. Aku membelah kemacetan kota Jakarta dengan pikiran yang kosong. Di luar, matahari bersinar sangat terik, memanggang aspal jalanan, namun di dalam mobil ini, aku merasa membeku.

Aku mengikuti petunjuk arah dari aplikasi navigasi di ponselku. Semakin dekat aku dengan lokasi tujuan, jalanan semakin lebar dan rapi. Pohon-pohon rindang berjejer di pinggir jalan, gedung-gedung perkantoran elit mulai terlihat. Kontras sekali dengan jalanan menuju perumahan kami yang sering macet karena pasar tumpah.

Navigasi mengarahkanku masuk ke sebuah gerbang raksasa berwarna emas bertuliskan Pesona Residence. Pos penjagaan di depan terlihat sangat ketat dengan palang pintu otomatis dan satpam berseragam rapi.

Jantungku berdegup kencang saat mendekati pos satpam.

"Siang, Bu. Mau ke blok mana?" tanya satpam itu ramah.

"Siang, Pak. Mau ke Cluster Edelweiss, Blok C nomor delapan. Ada kiriman katering yang harus diantar," bohongku lancar. Aku sengaja menurunkan kaca mobil agar satpam melihat seragam kantorku yang rapi.

Satpam itu mengecek daftar tamu di catatannya, lalu mengangguk. "Oh, rumah Pak Arga ya? Silakan, Bu. Lurus saja, nanti di bundaran belok kanan."

Rumah Pak Arga. Mendengar nama suamiku disebut dengan wajar sebagai pemilik rumah mewah di perumahan ini membuat perutku kembali melilit. Aku tersenyum kaku dan mengangguk, lalu menancap gas memasuki kawasan cluster tersebut.

Perumahan ini benar-benar mewah. Rumah-rumah di sini tidak memiliki pagar, menampilkan desain modern minimalis dengan taman depan yang luas dan terawat. Jalanannya lebar dan bersih. Aku mengemudikan mobil dengan pelan, mataku menyapu nomor rumah yang tertera di setiap pilar.

Blok C... Nomor 4... Nomor 6...

Dan di sanalah tempatnya. Nomor 8.

Aku menginjak rem, menghentikan mobilku beberapa meter dari rumah itu. Mesin mobil tetap menyala.

Rumah itu berdiri megah dengan cat dominan warna putih dan abu-abu. Jendelanya besar-besar dengan kaca gelap. Di garasinya yang luas, muat untuk dua mobil.

Namun, bukan kemegahan rumah itu yang membuat darahku berdesir, napasku tercekat, dan duniaku kembali berhenti berputar.

Melainkan apa yang terparkir di bawah carport rumah itu.

Sebuah SUV hitam mengkilap. Plat nomornya yang berakhiran angka unik itu sudah hafal di luar kepala. B 819 ARG.

Itu mobil Arga.

Suamiku yang tadi pagi mengecup keningku dan pamit untuk berpanas-panasan di lokasi proyek demi "mencari uang untuk kita", saat ini sedang berada di dalam rumah mewah itu. Bersama wanita lain.

Tanganku mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga rasanya otot-ototku akan robek. Aku menatap tajam ke arah pintu utama rumah itu yang tertutup rapat. Emosi yang sejak tadi kuredam kini mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa sakit, pengkhianatan, dan amarah bercampur menjadi satu racun yang menuntut pembalasan.

Lalu, di tengah pandanganku yang mulai kabur oleh kemarahan, gagang pintu utama rumah mewah itu perlahan bergerak turun. Pintu itu terbuka.