Uangnya udah Mas transfer ya, Sayang. Buat pelunasan cincin sama biaya kontrol dokter besok. Mas kangen banget sama kamu.

Satu kalimat. Tiga puluh detik untuk membacanya. Namun dampaknya terasa seperti sebuah godam raksasa yang diayunkan tepat ke ulu hatiku, menghancurkan seluruh kerangka kehidupanku hingga tak bersisa.

Udara di ruang kerja kecil ini tiba-tiba terasa lenyap. Aku tersedak, meraup napas dengan rakus, tetapi paru-paruku seolah menolak bekerja. Tanganku yang bertumpu pada pinggiran meja gemetar begitu hebat hingga membuat meja kayu itu berderit pelan. Pandanganku mengabur oleh air mata yang menggenang dengan cepat, mengaburkan deretan huruf di layar laptop yang kini terasa seperti racun mematikan.

"Sayang..." gumamku lirih, suaraku terdengar serak dan asing di telingaku sendiri. "Pelunasan cincin... kontrol dokter..."

Setiap kata dalam pesan itu mengiris kewarasanku. Suamiku, pria yang semalam menuduhku posesif, pria yang beralasan bahwa uang 75 juta itu adalah untuk vendor material baja, ternyata memanggil wanita itu dengan sebutan 'Sayang'. Cincin apa? Dokter apa?

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku mencengkeram mouse laptop itu. Tanganku sedingin es. Aku harus tahu. Aku harus melihat sejauh mana kebohongan ini telah mengakar. Aku menggulir layar ke atas, menelusuri riwayat percakapan mereka. Karena ponsel Arga tidak terhubung ke jaringan internet rumah saat ini—kemungkinan ia mematikan paket datanya atau membawanya pergi—aplikasi WhatsApp Web ini sedang dalam mode offline dan tidak bisa memuat pesan baru atau gambar. Tapi teks lama masih tersimpan di sana.

Dan apa yang kubaca membuat perutku bergejolak hebat.

Maya: Mas, bajunya udah aku rapihin di lemari sebelah kiri ya. Nanti malam mau dimasakin apa?

Arga: Apa aja asal buatan kamu, Yang. Sop buntut kesukaan aku boleh.

Maya: Siap, Suamiku. Jangan kemalaman pulangnya, aku sendirian.

Arga: Iya, habis dari gudang aku langsung ke sana. Love you.

Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan, menahan jeritan yang nyaris meledak dari tenggorokanku. Suamiku? Wanita itu memanggil Arga dengan sebutan suamiku?

Rasa mual yang sejak semalam kutahan kini tak tertahankan lagi. Aku berbalik, berlari terhuyung-huyung menuju kamar mandi terdekat, dan memuntahkan seluruh isi perutku ke dalam wastafel. Tidak ada yang keluar selain cairan asam karena aku memang belum makan apa-apa sejak semalam. Aku mencengkeram tepi wastafel, menatap pantulan wajahku di cermin. Kantung mataku menghitam, wajahku pucat pasi, rambutku berantakan. Aku terlihat seperti mayat hidup.

"Ini nggak mungkin... ini pasti salah paham," aku terus merancau sendiri, berbisik pada bayanganku di cermin, mencoba mencari sisa-sisa penyangkalan.

Tetapi bukti itu terpampang nyata. Tujuh tahun aku mengabdi padanya. Aku memasakkan makanan untuknya, mencucikan pakaiannya, menyetrika kemejanya setiap pagi. Aku menemaninya dari saat ia hanya mampu membelikanku martabak telur di pinggir jalan sebagai perayaan hari jadi kami. Dan sekarang, setelah ia berhasil berdiri tegak, ia memberikan sop buntut dan rumah yang entah di mana kepada wanita lain?

Tiba-tiba, suara dering ponsel dari arah ruang makan memecah keheningan rumah.

Aku terkesiap. Dengan langkah gontai, aku berjalan keluar dari kamar mandi, menghampiri ponselku yang tergeletak di atas meja makan. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang membuat dadaku kembali bergemuruh.

Mas Arga is calling...

Aku mematung. Haruskah aku mengangkatnya? Haruskah aku menjerit dan memaki dia sekarang juga? Tanganku melayang di atas layar, ragu-ragu. Jika aku membongkarnya sekarang melalui telepon, ia pasti akan mengelak lagi. Ia pembohong yang terlalu pintar. Aku membutuhkan lebih banyak bukti. Aku harus menahan diri. Aku harus memakai topeng yang sama seperti yang ia pakai kepadaku.

Dengan tangan gemetar, aku mengusap wajahku, menarik napas dalam-dalam, lalu menggeser tombol hijau ke atas.

"Halo?" suaraku terdengar sedikit bergetar, namun aku berusaha keras menstabilkannya.

"Halo, Sayang," suara bariton Arga terdengar di seberang sana. Begitu hangat, begitu lembut. Suara yang sama yang ia gunakan untuk membalas pesan wanita bernama Maya itu. Perutku kembali melilit mendengarnya. "Kamu udah sarapan? Tadi aku lihat nasi gorengnya belum kamu sentuh sama sekali."

Aku memejamkan mata erat-erat. Ya Tuhan, betapa pandainya ia bersandiwara. "Udah, Mas. Ini baru aja selesai makan," bohongku.

"Syukurlah. Ra, soal semalam... aku minta maaf ya," ucapnya, nadanya terdengar penuh penyesalan. "Aku lagi pusing banget mikirin material yang susah dicari, makanya aku agak emosi waktu lihat kamu megang hp-ku. Aku nggak bermaksud bentak kamu. Kamu tahu kan aku sayang banget sama kamu?"

Air mataku menetes membasahi layar ponsel. Pembohong. "Iya, Mas. Nggak apa-apa. Aku juga minta maaf udah curiga yang macam-macam," balasku, menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar isak tangisku tidak terdengar.

"Nah, gitu dong. Istriku emang yang paling pengertian," kekehnya pelan. "Oh ya, hari ini aku full di lapangan ya. Agak susah sinyal kayaknya, proyeknya agak masuk ke dalam. Nanti malam aku usahain pulang sebelum jam delapan. Kamu mau nitip sesuatu nggak? Martabak atau terang bulan?"

Aku mau kejujuranmu, Arga. "Nggak usah, Mas. Hati-hati di jalan aja."

"Oke, Sayang. Love you."

"Hmm."

Aku langsung mematikan sambungan telepon sebelum ia menyadari keanehan pada nada suaraku. Ponsel itu terlepas dari genggamanku, jatuh ke atas meja dengan bunyi keras. Aku merosot ke lantai dapur, memeluk kedua lututku, dan menangis sejadi-jadinya. Aku menangisi diriku sendiri, menangisi tahun-tahun yang terbuang percuma, menangisi pengorbananku yang dibalas dengan pengkhianatan sekeji ini.

Setelah hampir setengah jam membiarkan diriku hancur di lantai dapur, perlahan sebuah perasaan baru mulai menyusup ke dalam hatiku. Sesuatu yang panas, tajam, dan menyala-nyala.

Kemarahan.

Aku menghapus air mataku dengan kasar. Tidak. Aku tidak boleh hanya menangis seperti orang bodoh. Arga pikir aku wanita naif yang bisa dibodohi dengan kata-kata manis dan alasan vendor material? Ia salah besar. Ia lupa bahwa di tahun-tahun pertama usahanya, akulah yang merapikan semua laporan keuangannya. Akulah yang mengajarinya bagaimana membuat pembukuan yang rapi.

Aku bangkit berdiri, setengah berlari kembali ke ruang kerjanya. Aku duduk kembali di depan laptop itu. Mataku kini menyipit, fokus, dan tajam. WhatsApp Web hanyalah puncak gunung es. Jika ia berani mentransfer 75 juta dalam satu malam, pasti ada jejak keuangan lain di sini.

Aku membuka tab baru di browser dan mengetikkan alamat email Gmail Arga. Karena akun Google-nya otomatis login di browser ini, aku bisa langsung masuk ke kotak masuknya. Tanganku dengan cepat mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: "e-statement", "mutasi", "tagihan".

Ratusan email muncul. Aku memfilter pencarian untuk enam bulan terakhir, mencari email dari bank tempat ia membuka rekening bisnisnya—rekening yang katanya uangnya tidak boleh diganggu gugat untuk urusan rumah tangga karena itu adalah urat nadi perusahaannya.

Aku menemukan email e-statement bulanan dari bank. Aku mengunduh lampiran PDF untuk bulan lalu. Dibutuhkan kata sandi untuk membukanya. Biasanya bank menggunakan kombinasi tanggal lahir. Aku memasukkan tanggal lahir Arga. Gagal. Aku mencoba tanggal lahirku. Gagal.

Aku berhenti sejenak. Jika ia mengubah kata sandi ponselnya, mungkin ia juga menggunakan logika yang sama untuk hal lain. Aku mengingat kembali profil WhatsApp wanita itu. Tadi aku sempat melihat sekilas tanggal yang tertera di status WhatsApp Maya sebelum koneksinya terputus: 14-08. Agustus.

Dengan tangan setengah gemetar, aku mengetikkan angka 1408 digabung dengan tahun kelahiran Arga.

File terbuka.

Aku menahan napas. Halaman pertama menampilkan ringkasan saldo. Mataku langsung tertuju pada kolom uang keluar. Jantungku serasa berhenti berdetak.

Mutasi debet bulan lalu mencapai lebih dari tiga ratus juta rupiah.

"Tiga ratus juta..." bisikku tak percaya. Bisnis Arga memang berkembang, tapi perputaran uang bersihnya tidak pernah sebesar ini dalam satu bulan untuk pengeluaran yang tidak jelas.

Aku menggulir ke halaman berikutnya, melihat rincian transaksi satu per satu. Mataku menyapu barisan angka dan keterangan dengan cepat. Pemasukan dari klien, pembayaran ke supplier resmi (yang namanya berupa PT, bukan perorangan), pembayaran gaji karyawan. Lalu, di antara transaksi wajar itu, aku menemukan racun-racun yang menggerogoti pernikahan kami.

Transfer IB - MAYA SAFIRA - Rp 25.000.000

Transfer IB - MAYA SAFIRA - Rp 10.000.000

Pembayaran Kartu Kredit - Rp 45.000.000

Transfer IB - MAYA SAFIRA - Rp 50.000.000

Hampir setiap minggu ada uang yang mengalir ke rekening perempuan itu. Belum lagi tagihan kartu kredit yang melonjak drastis. Untuk apa uang sebanyak itu?

Pikiranku melayang pada kejadian dua bulan lalu. Aku ingat saat aku meminta izin untuk membeli mesin cuci baru karena yang lama sudah sering macet.

"Bulan depan aja ya, Ra. Kas perusahaan lagi seret, klien banyak yang nunggak bayar," alasan Arga waktu itu dengan wajah lelah yang sangat meyakinkan. Aku yang merasa kasihan padanya akhirnya mencuci baju dengan tangan selama sebulan penuh agar ia tidak pusing memikirkan biaya mesin cuci.

Dan di bulan yang sama saat aku mengucek kemeja kerjanya dengan tangan yang melepuh, pria ini mentransfer puluhan juta kepada wanita lain.

Air mata kembali jatuh, namun kali ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kemarahan yang membakar. Tanganku mengepal kuat hingga kukuku menancap ke telapak tangan. Aku terus menggulir laporan mutasi itu, memeriksa bulan-bulan sebelumnya. Semakin jauh aku mundur, semakin banyak transaksi gila yang kutemukan.

Lalu, mataku terpaku pada sebuah transaksi di bulan Januari. Enam bulan yang lalu.

Transfer Keluar - DP PEMBELIAN RUMAH - KAVLING PESONA RESIDENCE - Rp 250.000.000

Dua ratus lima puluh juta.

Aku membeku. Rumah? Arga membeli rumah? Untuk siapa?

Pikiran buruk itu menghantamku. Pesan WhatsApp tadi... "Makasih ya Mas buat rumahnya".

Tubuhku lemas. Kepalaku terasa ringan seolah pasokan oksigen ke otakku terputus. Aku menekan pelipisku yang berdenyut hebat. Kami masih mencicil rumah yang kami tempati sekarang. Sertifikatnya belum ada di tangan kami. Kami harus berhemat bertahun-tahun untuk bisa mengumpulkan DP rumah ini. Dan dia... dia membeli rumah lain dengan DP sebesar itu secara tunai?

Uang dari mana?

Sebuah ingatan menamparku dengan keras. Deposito.

Tiga tahun lalu, saat usahanya mulai menunjukkan hasil yang bagus, kami sepakat untuk membuka rekening deposito bersama. Aku menyumbangkan seluruh sisa tabungan gajiku, ditambah dengan hasil bonus tahunan Arga.

"Ini buat dana darurat kita, Ra. Atau buat biaya program hamil nanti kalau kita mau coba bayi tabung," kata Arga saat itu sambil menyerahkan buku bilyet deposito kepadaku.

Aku langsung bangkit dari kursi, berlari menuju kamar tidur kami. Aku membuka lemari pakaian, membongkar laci paling bawah tempat aku menyimpan dokumen-dokumen penting. Tanganku membongkar tumpukan map, mencari map plastik berwarna biru tempat menyimpan bilyet deposito itu.

Aku menemukannya. Dengan kasar aku membuka map itu.

Kosong.

Bilyet deposito senilai ratusan juta rupiah yang seharusnya ada di sana, tidak ada. Lenyap.

Lututku lemas. Aku jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Kertas-kertas berserakan di sekelilingku. Arga telah mencairkan deposito kami. Tabungan masa depan kami. Uang yang kami kumpulkan dengan keringat dan air mata, yang sebagian adalah hasil jerih payahku bekerja di kantor dengan atasan yang semena-mena. Ia mencairkannya secara diam-diam. Untuk membeli rumah. Untuk wanita itu.

Duniaku benar-benar telah kiamat. Arga bukan hanya mengkhianati pernikahanku. Ia merampok masa depanku. Ia menggadaikan segala pengorbananku, menyedot habis apa yang kami bangun bersama, hanya untuk diberikan kepada seorang wanita bernama Maya.

Di tengah keheningan kamar yang berserakan itu, suara dering pelan terdengar dari arah laptop di ruang kerja. Sebuah notifikasi masuk.

Aku bangkit perlahan, berjalan terseok-seok kembali ke depan layar. Koneksi internet di ponsel Arga sepertinya menyala sesaat, membuat WhatsApp Web berhasil menyinkronkan satu pesan baru sebelum akhirnya putus lagi.

Sebuah pesan dari Maya masuk. Kali ini, pesan itu disertai dengan sebuah foto.

Foto itu menampilkan sebuah ruang keluarga yang mewah, dengan sofa beludru berwarna maroon. Di atas meja kaca di depan sofa itu, tergeletak kunci mobil, dompet kulit milik Arga yang sangat kukenali, dan sebuah boks beludru kecil yang terbuka, menampilkan sebuah cincin berlian yang berkilau.

Caption pesan itu berbunyi: "Udah sampai dengan selamat ya Mas. Makasih banyak cincinnya. Anak kita pasti bangga punya Papa sehebat kamu."

Mataku membelalak lebar. Anak kita?

Napas ditarik paksa dari paru-paruku. Kegelapan perlahan merayap dari sudut-sudut pandanganku. Hal terakhir yang kuingat sebelum tubuhku ambruk menghantam lantai ruang kerja adalah rasa sakit yang begitu luar biasa, seolah jantungku baru saja diremas hingga hancur berkeping-keping.