Malam itu seharusnya sama seperti malam-malam lainnya.
Aku duduk di sofa ruang tamu yang empuk—sofa yang kubeli dari hasil tabunganku sendiri tiga tahun lalu. Di depanku, secangkir teh chamomile sudah berhenti mengepulkan asap. Sudah dingin. Aku sesekali melirik jam dinding kayu di atas televisi. Jarum pendeknya sudah melewati angka sebelas, hampir menunjuk angka dua belas.
Sudah lewat tengah malam.
Seperti biasa, suamiku, Ardi, belum pulang. Dan seperti biasa pula, aku terbiasa menunggu. Sepuluh tahun pernikahan mengajariku bahwa kesabaran adalah bentuk pengabdian tertinggi seorang istri. Dulu, saat kami baru menikah dan masih mengontrak di petak sempit, aku menungguinya pulang kerja sambilan dengan sepotong martabak dingin. Kini, di rumah berlantai dua yang kami—atau lebih tepatnya, aku—bangun dengan keringat dan air mata, aku masih menunggunya.
Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut. Pesan WhatsApp-ku sejak pukul delapan malam hanya dibaca, ditandai dengan dua centang biru yang membisu.
Mas, pulang jam berapa? Aku panaskan sayurnya ya.
Hanya itu. Tidak ada balasan.
Aku baru saja hendak memejamkan mata dan menyandarkan kepala di sandaran sofa ketika suara deru mesin mobil yang sangat kukenal memecah kesunyian malam. Itu mobil SUV hitam milik Ardi. Mobil yang cicilannya juga sebagian besar kubantu lunasi saat bisnisnya sedang goyah dua tahun lalu.
Aku buru-buru berdiri, merapikan daster katunku, dan berjalan menuju pintu depan. Ada senyum lega yang otomatis terukir di bibirku. Namun, entah kenapa, langkahku terasa berat. Saat tanganku menyentuh kenop pintu yang dingin, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap. Perasaan itu merayap dari ujung kaki hingga ke tengkuk.
Bukan rindu. Bukan juga bahagia.
Tapi gelisah yang tajam dan tidak bisa dijelaskan. Firasat seorang perempuan jarang meleset, dan malam itu, firasatku berteriak menyuruhku untuk tidak memutar kenop pintu ini.
Tapi aku memutarnya. Aku membuka pintu itu lebar-lebar.
Dan di sanalah duniaku, kewarasanku, dan seluruh sisa hidupku hancur berantakan.
Ardi turun dari kursi kemudi. Dia memakai kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga siku, terlihat lelah tapi rapi. Namun, pandanganku tidak tertuju padanya. Mataku tertuju pada pintu penumpang sebelah kiri yang terbuka.
Ardi tidak sendirian.
Seorang wanita turun dari mobil suamiku. Dia masih muda, mungkin usianya terpaut lima atau enam tahun di bawahku. Tubuhnya ramping terbalut dress selutut berwarna navy yang pas badan. Rambutnya lurus sebahu, berkilau tertimpa cahaya lampu teras. Wajahnya dipoles riasan yang sempurna—tidak menor, tapi sangat menegaskan bahwa dia merawat dirinya dengan sangat baik.
Wanita itu menutup pintu mobil dengan pelan, lalu berjalan mendekati Ardi. Dia berdiri tepat di samping suamiku. Tidak ada jarak yang sopan di antara mereka. Bahu mereka nyaris bersentuhan.
Dan yang membuat napasku seakan ditarik paksa dari paru-paru adalah senyumnya. Wanita itu tersenyum ke arahku. Sebuah senyum yang terlalu tenang. Terlalu percaya diri. Tidak ada gurat kecanggungan, ketakutan, atau rasa bersalah di wajahnya. Seolah-olah… dia sudah tahu letak batu pijakan di teras ini. Seolah-olah dia tahu tempatnya di rumah ini.
Rumahku.
Jantungku berdegup sangat kencang hingga telingaku berdenging. Tanganku yang masih memegang pinggiran pintu mendadak sedingin es.
"Mas..." Suaraku keluar lebih mirip cicitan tikus yang tercekik. Aku menelan ludah, berusaha mencari kebohongan di wajah suamiku. "Mas Ardi... ini..."
Ardi menatapku. Matanya datar, dingin, dan sama sekali tidak memancarkan penyesalan. Dia tidak terlihat seperti suami yang tertangkap basah selingkuh. Dia tidak panik. Dia tidak buru-buru menjauhkan diri dari wanita itu.
"Masuk, Sayang," ucap Ardi.
Kata 'sayang' itu bukan ditujukan padaku. Ardi menoleh pada wanita di sebelahnya, memberikan anggukan kecil.
"A-ardi..." Aku melangkah maju, memblokir pintu. Tubuhku gemetar hebat. "Ini siapa? Kenapa malam-malam bawa perempuan lain ke rumah?"
"Minggir, Nisa. Aku capek," desis Ardi. Suaranya rendah, tapi penuh penekanan.
"Nggak! Sebelum kamu jelasin dia siapa!" Suaraku mulai naik, meski masih bergetar. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku, mengaburkan pandangan. Aku menatap wanita itu. "Kamu siapa? Ngapain kamu datang ke rumah orang malam-malam begini?!"
Wanita itu sama sekali tidak gentar. Dia malah menatapku dengan sorot mata kasihan yang merendahkan, lalu melirik Ardi dengan helaan napas kecil.
"Mas," rengek wanita itu pelan, nyaris berbisik tapi cukup keras untuk merobek gendang telingaku. "Katanya udah diomongin?"
Diomongin? Diomongin apa?!
Ardi mendecak kesal. Dia menatapku tajam, lalu berkata dengan nada santai yang membuat darahku mendidih dan jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga.
"Dia Lia. Dan mulai malam ini, dia akan tinggal di sini."
Hening.
Angin malam berembus, menyapu dedaunan mangga di halaman depan, tapi aku merasa sedang berdiri di tengah badai salju tanpa pakaian.
"Apa… maksud kamu?" tanyaku terbata-bata. Aku menahan napas. "Tinggal... di sini?"
"Kamu dengar ucapanku, Nisa. Dia istriku sekarang."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Ringan. Tanpa beban. Tanpa rasa berdosa.
"Istri...?" Aku tertawa sumbang. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan dan putus asa. "Kamu gila, Mas?! Sepuluh tahun kita nikah! Sepuluh tahun aku nemenin kamu dari kamu nggak punya apa-apa, pakai motor butut, makan sehari cuma sekali! Sekarang kamu bawa perempuan ini ke rumahku dan kamu bilang dia istrimu?!"
Air mataku akhirnya jatuh. Pertahanan yang kubangun hancur. Aku memukul dada Ardi, tapi dia menepis tanganku dengan kasar.
"Jaga sikapmu, Nisa! Tetangga bisa dengar!" bentaknya pelan namun mengancam. "Lia istri sahku secara agama. Aku sudah menikahinya bulan lalu."
Bulan lalu.
Saat dia bilang dia harus dinas ke luar kota selama dua minggu. Saat aku membawakan koper dan menyetrika semua kemejanya dengan rapi. Saat aku mendoakannya setiap selesai salat agar urusannya dilancarkan. Ternyata dia pergi untuk menikahi perempuan lain.
"Kamu bajingan, Ardi..." desisku, suaraku parau oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan. "Kamu nggak punya hak bawa dia ke sini! Ini rumahku! Aku yang ikut bayar cicilannya!"
Lalu, kalimat itu keluar. Kalimat yang akan terus terngiang di kepalaku, yang menghancurkan sisa-sisa kewarasanku malam itu.
"Ini hakku sebagai suami," ucap Ardi dingin, menatapku seolah aku adalah bawahan yang tidak tahu aturan. "Laki-laki berhak menikah lagi kalau dia mampu. Dan ini rumahku, atas namaku. Aku berhak membawa istriku ke rumahku sendiri."
Hak?
Aku menatapnya tak percaya. Mataku membelalak ngeri. Sepuluh tahun aku bekerja sebagai akuntan, membagi gajiku untuk menutupi kekurangan uang belanja karena gaji Ardi dulu sangat kecil. Aku yang menahan diri tidak membeli baju baru agar anak kami, Reno, bisa masuk sekolah yang bagus. Aku yang menelan semua hinaan ibunya yang selalu menyebutku menantu tidak berguna hanya karena aku melahirkan melalui operasi caesar.
Semua pengorbanan itu, semua darah dan keringat itu... dan dia menyebut pengkhianatan ini sebagai hak?
"Mulai sekarang, kamu harus belajar menerima," lanjut Ardi tanpa perasaan. "Jangan bikin masalah. Lia sedang hamil muda, dia butuh istirahat."
Hamil.
Duniaku berputar. Kepalaku pening luar biasa. Kakiku terasa seperti jeli, dan aku nyaris merosot ke lantai teras kalau saja tanganku tidak berpegangan kuat pada kusen pintu.
Wanita itu, Lia, tersenyum tipis ke arahku. Senyum kemenangan. Dia melangkah maju, bahunya menyenggol lenganku dengan sengaja saat dia melewati pintu rumahku. Melangkah masuk ke dalam surgaku, istanaku, tempat aku membesarkan anakku.
"Permisi, Mbak," ucap Lia dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Aku capek banget."
Dia masuk tanpa izin. Menginjakkan sepatunya yang kotor di atas lantai yang baru saja kupel sore tadi.
Ardi menyusul di belakangnya, menatapku untuk terakhir kalinya malam itu. "Kunci pintunya kalau kamu sudah selesai drama di luar."
Pintu kayu itu setengah tertutup. Meninggalkanku berdiri mematung di teras yang dingin. Air mataku mengalir deras, membasahi pipi, membasahi leherku. Malam itu, aku tidak hanya kehilangan suami yang kucintai.
Aku kehilangan tempatku di duniaku sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar