"Keluar."
Suaraku terdengar dingin, tajam, dan tidak menerima bantahan. Tanganku mencengkeram erat gagang pintu hingga buku-buku jariku memutih.
Lia mendongak dari majalahnya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Dia malah memperbaiki posisi duduknya, membuat lingerie yang dipakainya semakin terekspos.
"Mbak Nisa ngomong sama aku?" tanyanya dengan nada polos yang memuakkan.
"Keluar dari kamarku sekarang juga, perempuan gila!" bentakku. Aku melangkah masuk, tidak mempedulikan sopan santun lagi. Aku menarik selimut yang menutupi separuh tubuhnya, membuangnya ke lantai. "Ini kasurku! Ini kamarku! Keluar!"
"Aduh, Mbak, kasar banget sih!" Lia berseru pura-pura kaget, merapatkan kedua tangannya ke dada.
"Aku bilang KELUAR!"
Aku maju dan menarik lengan kurusnya dengan kasar. Aku tidak peduli dia sedang hamil atau tidak. Di kepalaku saat ini hanya ada rasa jijik melihat wanita kotor ini berada di ranjangku. Ranjang tempatku tidur setiap malam selama sedekade terakhir.
"Aw! Sakit, Mbak! Mas! Mas Ardi!" Lia mulai berteriak, meronta dari cengkeramanku sambil memegangi perutnya. "Mas, tolong aku!"
Langkah kaki yang berat dan terburu-buru terdengar menaiki tangga. Pintu kamar didorong kasar hingga membentur dinding di belakangnya. Ardi berdiri di sana, menatap kami dengan rahang mengeras.
"Ada apa ini, Nisa?!" bentak Ardi.
Dia melangkah cepat, menepis tanganku yang sedang mencengkeram lengan Lia dengan sangat kasar sampai aku terhuyung ke belakang dan pinggangku membentur meja rias. Rasa ngilu menjalar di punggung bawahku, tapi rasa sakit di hatiku jauh lebih parah.
"Mas... Mbak Nisa tiba-tiba narik aku. Dia mau ngusir aku dari kamar," rengek Lia, langsung memeluk lengan Ardi. Wajahnya disembunyikan di bahu suamiku, bertingkah seperti korban yang lemah tak berdaya.
"Nisa, kamu gila ya?!" Ardi membentakku, matanya menyiratkan kemarahan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Dia lagi hamil anakku! Kalau sampai kandungannya kenapa-napa, aku nggak akan maafin kamu!"
Aku menahan napas. Rasa sakit di pinggangku memudar, digantikan oleh rasa perih yang menjalar ke seluruh dada. Aku menunjuk ke arah kasur dengan tangan gemetar.
"Kamu tanya aku gila?" suaraku bergetar, air mata keputusasaan mulai menggenang. "Kamu yang gila, Mas! Kamu masukin pelakor ini ke rumahku, dan sekarang kamu biarin dia tidur di kamarku?! Di kasur kita?!"
"Ini bukan cuma kamarmu, Nisa! Ini rumahku! Dan dia istriku, dia berhak tidur di sini!"
"Lalu aku tidur di mana?!" teriakku, air mataku akhirnya pecah. Aku sudah tidak peduli lagi terlihat menyedihkan. "Aku istrimu yang sah, Mas! Sepuluh tahun! Aku yang beli kasur ini! Aku yang tata kamar ini! Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?!"
Ardi menatapku dengan tatapan muak. Bukan tatapan penuh penyesalan atau kasihan, melainkan tatapan seseorang yang merasa terganggu oleh serangga berdengung.
"Jangan berisik," desis Ardi pelan, nadanya sangat dingin hingga membuatku merinding. "Malam ini, dan malam-malam selanjutnya, aku akan tidur sama Lia di sini. Dia butuh kenyamanan karena lagi hamil."
Aku terdiam. Dadaku naik turun dengan cepat.
"Kamu," tunjuk Ardi ke arahku dengan dagunya, "kamu bisa tidur di kamar tamu. Atau di kamar anakmu. Terserah. Yang penting jangan bikin keributan di rumah ini lagi. Kamu sudah cukup membuat kepalaku pusing dengan omelanmu."
"Mbak Nisa nggak usah marah-marah," suara Lia terdengar dari balik punggung Ardi. Wanita itu mengintip, tersenyum kecil penuh kemenangan ke arahku. "Kasihan Mas Ardi capek kerja seharian denger istrinya ngomel terus. Makanya Mas Ardi cari ketenangan di luar. Harusnya Mbak introspeksi diri dong."
Mataku membelalak. Introspeksi diri?!
Wanita perusak rumah tangga orang ini menyuruhku introspeksi diri?! Aku yang menyiapkan air hangat, menyiapkan sarapan, memastikan suamiku memakai baju terbaik, dan dia menyalahkanku?!
Aku maju selangkah, niatku hanya satu, menampar wajah sombong itu sampai mulutnya berdarah.
Tapi tangan Ardi lebih dulu menahan bahuku. Dia mendorongku mundur ke arah pintu. Dorongannya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuatku terdorong keluar dari ambang pintu kamarku sendiri.
"Kemas barang-barang yang kamu butuhkan besok pagi. Malam ini, tidur di luar," ucap Ardi final.
"Mas... kamu nggak bisaβ"
Brak!
Pintu kamar ditutup tepat di depan wajahku. Bunyi kunci yang diputar dua kali terdengar jelas di telingaku yang berdenging.
Aku terdiam menatap pintu kayu berpelitur cokelat itu. Pintu yang dulunya adalah gerbang menuju tempat paling aman di duniaku. Kini, di balik pintu itu, suamiku sedang memeluk wanita lain.
Kakiku kehilangan kekuatannya. Aku merosot pelan ke lantai yang dingin, menyandarkan punggungku ke daun pintu. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, berusaha keras meredam isak tangis yang meledak di dadaku. Suara tawaku yang getir bercampur dengan isakan perih memenuhi lorong lantai dua yang remang-remang.
Dari balik pintu, aku samar-samar mendengar suara tawa kecil Lia, dan gumaman rendah Ardi yang sedang menenangkannya.
Mereka berdua di dalam sana, menikmati kenyamanan di atas penderitaanku.
Malam itu, aku tidur di sofa ruang keluarga di lantai atas, tanpa selimut, tanpa bantal yang layak. Dinginnya udara malam menusuk hingga ke tulang, tapi dingin di hatiku jauh lebih membekukan. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan senyum sinis Lia dan tatapan jijik Ardi terus berputar seperti kaset rusak.
Aku merasa sangat kecil. Sangat tidak berharga.
Sepuluh tahun pengabdianku dibalas dengan pengusiran dari kamarku sendiri. Harga diriku diinjak, diludahi, dan dibiarkan hancur di atas lantai rumah yang kubangun dengan air mata.
Aku memeluk tubuhku sendiri erat-erat. Air mataku terus mengalir membasahi pelapis sofa kulit itu. Dalam kegelapan dan kedinginan malam itu, perlahan-lahan, rasa sakit di dadaku mulai mengeras. Kesedihan yang sejak semalam menyiksaku, mulai berubah bentuk.
Di sela-sela isak tangisku, sebuah pikiran melintas.
Jika ini yang mereka mau... jika mereka ingin melihatku hancur dan mengalah...
Tanganku meremas pinggiran bantal sofa.
Aku tidak akan membiarkan mereka menang semudah itu. Aku mungkin tersingkir malam ini. Tapi aku bersumpah, air mata yang jatuh malam ini akan menjadi air mata terakhir yang kukeluarkan untuk laki-laki bernama Ardi.
Tunggu pembalasanku. Kalian belum tahu sedang berurusan dengan siapa. Aku akan menjadi mimpi buruk yang tidak pernah kalian bayangkan. Aku akan membuat mereka menyesal pernah menginjak harga diriku.
Semuanya belum berakhir. Aku membatin dalam gelap. Ini baru permulaan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar