Pagi itu terasa surealis. Seolah aku sedang terjebak dalam mimpi buruk yang panjang, dan jika aku mencubit lenganku cukup keras, aku akan terbangun di kasurku, di sebelah Ardi, dan semuanya kembali normal.

Tapi lenganku sudah biru oleh cubitanku sendiri, dan aku tidak terbangun.

Semalam aku tidak tidur sama sekali. Aku duduk meringkuk di atas karpet kamar tamu yang pengap, memeluk kedua lututku sambil menangis tanpa suara. Aku takut suaraku akan membangunkan Reno yang tidur di kamar sebelah. Aku takut anak lelakiku yang baru berusia tujuh tahun itu melihat ibunya hancur berkeping-keping.

Pukul enam pagi, aku mendengar suara langkah kaki dari arah dapur. Suara denting wajan yang beradu dengan spatula. Bau harum mentega dan roti panggang menguar di udara.

Itu bukan kebiasaanku. Aku selalu memasak nasi goreng atau sup ayam untuk sarapan.

Dengan langkah gontai dan mata yang bengkak parah, aku keluar dari kamar tamu. Aku berjalan menyusuri lorong menuju dapur. Dan di sanalah dia.

Lia berdiri di depan kompor gas milikku. Dia memakai piyama sutra berwarna merah marun yang panjangnya hanya sebatas paha. Rambutnya diikat asal tapi tetap terlihat badai. Tangannya dengan luwes membalikkan telur sunny-side up di atas teflon kesayanganku—teflon anti lengket yang kubeli dengan harga mahal karena aku benci melihat telur yang hancur.

Dia sedang menggunakan dapurku.

"Oh, Pagi, Mbak Nisa," sapa Lia dengan nada riang, tanpa menoleh sedikit pun padaku. Dia memindahkan telur itu ke atas piring keramik putih milikku. "Udah bangun? Mau aku buatin sarapan sekalian? Tapi Mas Ardi bilang Mbak Nisa biasanya cuma minum teh tawar kalau pagi."

Tanganku mengepal kuat di sisi tubuh. Napasku memburu. Rasanya aku ingin melangkah maju, menjambak rambutnya, dan menyeretnya keluar dari rumahku saat ini juga.

"Jangan sentuh barang-barangku," desisku. Suaraku serak dan parau.

Lia menghentikan gerakannya. Dia berbalik menatapku, meletakkan spatula itu di pinggiran kompor. Senyum di bibirnya memudar, digantikan oleh tatapan meremehkan.

"Barang-barang Mbak?" Lia tertawa kecil, suara tawa yang halus tapi menyayat. "Mbak, Mas Ardi bilang semua perabotan di rumah ini dia yang beli. Aku kan istrinya juga sekarang. Jadi, ini barang-barangku juga dong."

"Kamu—"

"Ada apa ini pagi-pagi?"

Suara berat Ardi memotong ucapanku. Aku menoleh dengan cepat. Ardi sudah rapi dengan kemeja kerjanya, dasinya belum terpasang dengan benar, tergantung di kerahnya. Dia berjalan masuk ke dapur, mengabaikanku sepenuhnya, dan langsung menghampiri Lia.

"Wanginya enak," ucap Ardi, mengecup puncak kepala Lia di depanku. Di depanku.

"Ini sarapannya, Mas," Lia tersenyum manja, menyodorkan piring itu ke meja makan. "Duduk gih, aku pasangin dasinya."

Aku berdiri mematung di ambang pintu dapur, seperti makhluk kasat mata, seperti hantu di rumahku sendiri. Aku melihat suamiku—laki-laki yang kuurus pakaiannya selama sepuluh tahun—kini menundukkan kepala, membiarkan jemari lentik wanita lain memakaikan dasi untuknya.

"Mas," panggilku. Suaraku bergetar menahan amarah yang rasanya mau meledak. "Kita belum selesai bicara semalam."

Ardi melirikku dari sudut matanya. "Nggak ada yang perlu dibicarakan, Nisa. Semua sudah jelas."

"Jelas apanya?!" Aku melangkah maju, tidak peduli lagi pada wanita gatal di hadapannya. "Kamu bawa perempuan ini ke rumah yang kita bangun sama-sama! Kamu pikir aku bakal diam aja dan nerima nasib jadi madu?!"

"Mbak, suaranya tolong dipelankan," potong Lia dengan nada mengingatkan yang sangat menjijikkan. "Nanti anak Mbak bangun. Kasihan."

"Jangan sebut-sebut anakku dari mulut kotormu!" bentakku, menunjuk wajah Lia dengan jari telunjuk yang gemetar.

Brak!

Ardi menggebrak meja makan dengan keras. Piring dan gelas di atasnya bergetar hebat. Aku terlonjak kaget.

"Tutup mulutmu, Nisa!" bentak Ardi dengan mata melotot. Urat di lehernya menonjol. "Aku sudah bilang, terima saja kenyataan ini! Lia sedang hamil anakku, anak laki-laki yang mungkin selama ini nggak bisa kamu kasih ke aku karena rahimmu bermasalah setelah operasi itu!"

Kata-katanya seperti pisau belati yang ditusukkan langsung ke ulu hatiku, lalu diputar dengan kejam. Napasku tercekat. Air mataku luruh tanpa bisa kutahan. Dia tahu betul traumaku. Dia tahu betul dokter melarangku hamil lagi dalam waktu dekat karena komplikasi medis masa laluku. Dan dia menggunakan rasa sakit itu sebagai senjatanya.

"Mama...?"

Suara serak khas anak bangun tidur terdengar dari arah ruang tengah.

Aku menoleh dengan panik. Reno berdiri di sana, memeluk boneka beruang lusuhnya. Matanya yang bulat mengerjap bingung melihat pemandangan di depannya. Ibunya menangis, ayahnya marah, dan ada orang asing di dapur mereka.

"Reno," aku buru-buru menghampirinya, menghapus air mataku dengan kasar, berusaha menutupi semuanya. Aku berjongkok di depannya, memeluk tubuh mungilnya. "Anak Mama udah bangun. Yuk, mandi, nanti telat sekolah."

Reno tidak menatapku. Pandangannya tertuju pada Lia yang sedang duduk di kursi makan—di kursi yang biasa aku tempati.

"Mama... Tante itu siapa?" tanya Reno polos.

Sebelum aku sempat menjawab, Lia sudah berdiri. Dengan langkah anggun yang menjijikkan, dia mendekat ke arah kami. Dia berjongkok di sebelahku, mencoba mensejajarkan dirinya dengan Reno.

"Halo, Reno," sapa Lia dengan senyum termanisnya. "Reno ganteng banget ya, persis kayak Papa."

Reno mundur selangkah, bersembunyi di balik punggungku. Tanganku mencengkeram lengan Reno protektif. "Jangan sentuh anakku."

Lia mengabaikanku. Dia menatap Reno dan berkata, "Panggil Tante Lia ya, sayang. Tante teman baik Papa. Mulai sekarang, Tante bakal tinggal di sini nemenin Reno."

Aku menatap Ardi dengan tatapan memohon, berharap ada sedikit belas kasihan di hatinya untuk tidak melibatkan anak kami dalam kegilaan ini. Tapi Ardi hanya memalingkan wajah, kembali memakan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sepanjang hari itu, aku merasa seperti orang gila.

Aku mengantar Reno ke sekolah, lalu kembali ke rumah hanya untuk melihat koper-koper besar milik Lia berserakan di ruang tengah. Wanita itu sedang duduk di sofa sambil menonton TV, memerintah asisten rumah tangga paruh waktuku—Mbak Yati—untuk membuatkan jus jeruk. Mbak Yati menatapku dengan pandangan bingung dan kasihan, tapi aku hanya bisa memberikan isyarat agar dia menuruti saja. Aku tidak punya tenaga untuk bertengkar di depan pembantu.

Malam harinya, puncaknya terjadi.

Setelah menemani Reno tidur di kamarnya, aku berjalan menuju kamar utama di lantai dua. Kamarku dan Ardi. Kamar tempat aku menyimpan semua barang pribadiku, tempat aku menangis saat lelah, tempat aku menjadi diriku sendiri.

Langkahku terhenti di ambang pintu yang terbuka setengah.

Napas tercekat di tenggorokan.

Koper-koper Lia sudah tidak ada di bawah. Pakaian-pakaian wanita itu sudah tergantung rapi di sebagian sisi lemariku yang entah bagaimana sudah dikosongkan. Namun, yang paling membuat darahku mendidih adalah pemandangan di atas tempat tidur.

Lia sedang duduk bersandar di headboard kasurku, memakai lingerie hitam, sambil membaca majalah. Di atas seprai sutra yang baru kuganti dua hari lalu.

Di kamar utamaku.