Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang keluarga, menusuk mataku yang bengkak dan perih. Aku terbangun dengan rasa kaku yang menjalar dari leher hingga punggung bawah. Tidur meringkuk di atas sofa semalaman, tanpa selimut dan dengan udara AC yang membekukan tulang, membuat sekujur tubuhku seolah habis dipukuli.

Namun, rasa sakit fisik ini tidak seberapa dibandingkan denyut nyeri di dadaku yang kembali terasa begitu kesadaranku terkumpul.

Telingaku menangkap suara samar dari lantai bawah. Suara denting piring, gemericik air dari wastafel, dan senandung pelan seorang wanita.

Aku bangkit perlahan, merapikan dasterku yang kusut, dan melangkah gontai menuruni anak tangga. Setiap pijakan terasa berat. Rumah iniβ€”dindingnya yang kucat sendiri dengan warna broken white kesukaan Ardi, foto-foto keluarga kecil kami yang berjajar di sepanjang dinding tangga, pot-pot tanaman hias yang kurawat setiap akhir pekanβ€”semuanya terasa asing. Udara di rumahku sendiri terasa mencekik.

Sesampainya di lantai bawah, langkahku terhenti di ambang ruang makan yang menyatu dengan dapur bersih.

Pemandangan di depanku membuat darahku mendidih perlahan.

Lia sedang berdiri di depan kitchen set. Dia memakai dress rumahan berbahan satin warna peach yang melekat pas di lekuk tubuhnya. Rambutnya dijepit rapi ke atas. Dia sedang menyusun roti bakar, sosis, dan scrambled egg ke atas piring-piring keramik bermotif bunga biru pudar. Piring set yang kubeli di pameran kerajinan tangan dua tahun lalu, barang yang hanya kukeluarkan untuk acara khusus atau menyambut tamu penting.

Dan sekarang, perempuan itu menggunakannya untuk sarapan biasa, seolah dia nyonya rumah ini.

Mbak Yati, asisten rumah tanggaku yang datang setiap pagi, sedang mengepel lantai tidak jauh dari sana. Wajah wanita paruh baya itu terlihat serba salah saat melihatku berdiri mematung.

"Eh, Ibu sudah bangun," sapa Mbak Yati canggung, menghentikan gerakannya.

Lia menoleh. Senyum tipis yang memuakkan itu kembali terbit di bibirnya.

"Pagi, Mbak Nisa," sapanya riang, tanpa dosa. Tangannya dengan luwes meletakkan teko berisi teh hangat di tengah meja makan. "Sini, sarapan bareng. Aku sengaja masak agak banyak hari ini. Mas Ardi bilang dia lagi pengen makan sosis panggang."

Aku mengabaikan sapaannya. Mataku tertuju pada kursi makan di ujung kanan meja. Itu kursiku. Kursi kayu jati berlapis busa abu-abu yang selalu kutempati setiap pagi sambil menyuapi Reno atau sekadar menemani Ardi minum kopi sebelum berangkat kerja.

Di atas kursi itu, Lia sudah meletakkan tas kecilnya dan sebuah majalah kehamilan.

"Singkirkan barang-barangmu dari kursiku," ucapku datar, menekan setiap suku kata agar suaraku tidak bergetar.

Lia menautkan alisnya, memasang wajah polos yang dibuat-buat. "Loh? Emang ini kursi khusus, Mbak? Bukannya sama aja ya duduk di mana aja? Lagian, posisi ini enak banget, langsung menghadap ke taman. Pas buat ibu hamil kayak aku biar mood-nya bagus pagi-pagi."

"Aku bilang, singkirkan," ulangku, kali ini selangkah lebih maju. Tanganku sudah gatal ingin menyapu majalah bodoh itu ke lantai. "Kamu mungkin bisa tidur di kamarku, tapi jangan pikir kamu bisa mengambil alih seluruh isi rumah ini."

"Mbak Nisa ini kenapa sih, pagi-pagi udah ngajak ribut?" Lia merengut, bersedekap dada. "Kan aku cuma numpang duduk. Kok pelit banget sama sesama perempuan. Lagian, Mas Ardi juga pasti setuju kalau aku duduk di dekat dia."

Tepat saat Lia menyebut nama suamiku, langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Ardi turun dengan kemeja biru muda yang sudah tersetrika rapiβ€”entah siapa yang menyetrikanya, karena aku tidak menyentuh pakaiannya sejak semalam. Wajahnya terlihat segar, berbanding terbalik dengan keadaanku yang acak-acakan dan kelelahan.

"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Ardi, menarik kursi utama di tengah meja makan. Dia melirikku sekilas, lalu membuang muka.

"Ini lho, Mas," adu Lia dengan suara yang mendadak berubah manja dan merajuk. Dia berjalan mendekati Ardi, meletakkan tangannya di bahu suamiku. "Masa aku mau duduk di sini nggak boleh sama Mbak Nisa? Katanya ini kursi khusus punya dia. Kan aku nggak tahu, Mas. Aku cuma mau temenin kamu sarapan."

Ardi mendesah kasar. Dia menatapku dengan sorot mata menyalahkan.

"Nisa, kamu bisa nggak sih sehari aja nggak usah cari masalah?" tegur Ardi dingin. "Cuma masalah kursi aja dibesar-besarkan. Kamu kan bisa duduk di kursi yang lain. Masih ada dua kursi kosong di situ."

"Ini bukan sekadar masalah kursi, Mas!" dadaku naik turun, menahan amarah yang menyumbat tenggorokan. "Ini tempatku! Semuanya! Dapur ini, meja ini, kursi ini! Kamu bawa perempuan ini ke sini, membiarkan dia mengacak-acak barangku, dan sekarang kamu nyalahin aku?!"

"Itu karena kamu bersikap seperti anak kecil!" bentak Ardi, menggebrak meja dengan sebelah tangannya. Suara benturan itu membuat Mbak Yati di sudut ruangan berjengit kaget dan buru-buru menunduk. "Lia lagi hamil! Dia butuh kenyamanan! Mengalah sedikit kenapa sih?! Kamu itu wanita dewasa, harusnya ngerti!"

Aku menatap Ardi dengan pandangan tidak percaya. Air mataku menggenang, tapi aku menolak membiarkannya jatuh di depan perempuan itu. Mengalah? Dia menyuruhku mengalah pada pelacur yang telah merebut suamiku?

Lia menarik kursi itu dengan bunyi decitan yang memekakkan telinga. Dia duduk dengan anggun, tepat di sebelah Ardi. Tepat di kursiku.

"Udah, Mas, jangan marah-marah. Nanti darah tinggi lho," ucap Lia lembut, tangannya mengambilkan nasi dan sosis ke piring Ardi. "Makan dulu yuk. Biarin aja Mbak Nisa kalau mau berdiri terus di situ. Mungkin dia lagi nggak selera makan."

Aku berdiri di sana, membeku. Menonton suamiku menerima piring dari tangan wanita lain. Menonton mereka saling melempar senyum kecil seolah aku ini hanyalah patung pajangan yang tak kasat mata. Seolah kehadiranku di ruangan itu tidak lebih dari angin lalu.

Dadaku sesak. Ruang makan ini terasa semakin menyempit.

"Mama..."

Suara kecil Reno memecah keheningan yang menyesakkan itu. Anakku berdiri di anak tangga terbawah, sudah memakai seragam merah putihnya dengan rapi. Dia menatap bingung ke arah meja makan, melihat posisiku yang berdiri jauh dari meja, sementara ayahnya duduk berdampingan dengan wanita asing.

"Reno udah siap, Sayang?" Aku segera membalikkan badan, memaksakan sebuah senyum yang terasa menyakitkan di wajahku. Aku menghampirinya, meraih tas ranselnya yang terasa berat. "Yuk, kita berangkat sekarang. Kita sarapan bubur ayam di depan sekolah aja ya."

"Nggak sarapan di rumah, Ma?" tanya Reno polos, matanya melirik sosis panggang di atas meja. "Itu ada sosis."

"Nggak usah, Sayang. Mama lagi pengen bubur," ucapku cepat, menarik tangan kecilnya. Aku tidak akan membiarkan anakku memakan makanan yang dimasak oleh tangan perempuan yang menghancurkan keluarga kami.

"Reno, sarapan di sini aja sama Papa," panggil Ardi dari meja makan. Nada suaranya melembut.

Reno menatapku ragu. Aku meremas tangannya pelan, memberikan isyarat halus.

"Reno mau makan bubur sama Mama, Pa," jawab anakku pintar, meski matanya masih menyimpan tanda tanya.

Tanpa menoleh lagi ke arah meja makan, aku membawa Reno keluar dari rumah itu. Rumah yang kini terasa seperti neraka.

Sore harinya, keadaan semakin parah.

Saat aku pulang dari menjemput Reno setelah mampir ke minimarket, kulihat mobil Ardi sudah terparkir di garasi. Dia pulang lebih awal. Aku menyuruh Reno langsung ke kamarnya untuk mandi dan menonton kartun, sementara aku merapikan belanjaan di dapur.

Samar-samar, kudengar suara tawa dari ruang TV.

Langkahku terhenti di lorong. Aku mengintip dari balik dinding.

Ardi sedang duduk santai di sofa panjang, matanya terpejam dengan napas teratur. Dan Lia… perempuan itu sedang duduk di lantai beralaskan karpet berbulu, bersandar pada kaki suamiku. Tangannya memijat pelan betis Ardi. Mereka sedang menonton acara komedi di televisi.

Suasananya begitu intim. Begitu normal. Seolah mereka adalah sepasang suami istri yang sedang menghabiskan sore yang damai.

Perutku mual melihatnya. Aku mengepalkan tangan, berusaha mengatur napas agar tidak lepas kendali. Aku berbalik, berniat kembali ke dapur dan mengabaikan mereka.

Namun, langkahku terhenti saat mendengar suara Lia.

"Mas... tadi aku beli pewangi ruangan baru buat di kamar atas. Wanginya lavender, biar tidurmu makin nyenyak," ucap Lia dengan nada manja.

Ardi hanya bergumam pelan, tidak membuka matanya. "Hmm, terserah kamu aja."

"Oh ya," Lia mengelus betis Ardi pelan, lalu menoleh ke atas, menatap wajah suamiku. "Besok temenin aku periksa kandungan ya, Sayang? Jadwalnya USG bulan ini. Aku pengen kamu lihat dedek bayinya."

Sayang.

Kata itu meluncur begitu mulus dari bibirnya. Begitu natural. Menabrak telingaku dan meledak di dalam kepalaku.

Aku terdiam di lorong gelap itu. Tanganku meremas plastik belanjaan hingga berkerut. Mataku panas, tapi anehnya, tidak ada air mata yang keluar. Hanya ada rasa sakit yang begitu pekat, begitu mengakar, hingga membuatku mati rasa.

Aku melihat bagaimana Ardi membuka matanya, menunduk menatap Lia, lalu tersenyum tipis. Senyum yang dulu hanya menjadi milikku.

"Iya," jawab Ardi lembut. "Besok aku kosongkan jadwal pagi buat temenin kamu."

Lia tertawa kecil, mencium punggung tangan Ardi dengan mesra.

Aku memundurkan langkahku pelan-pelan. Dalam diam, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Wanita itu tidak hanya mengambil kamarku, dapurku, atau kursiku. Dia sedang merampas seluruh kehidupanku. Dia menghapus eksistensiku di rumah ini dengan sangat rapi dan telaten, sementara suamiku membiarkannya terjadi begitu saja.

Aku benar-benar menjadi bayangan di rumahku sendiri.