Udara malam Pekalongan terasa lebih dingin dari biasanya. Angin yang berembus masuk melalui celah jendela kamar Reno membuatku merapatkan selimut bermotif pahlawan super itu ke sekeliling tubuh mungil anakku.
Reno sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu. Napasnya teratur, wajahnya damai tanpa beban. Aku duduk di tepi ranjangnya, mengelus rambut hitamnya yang tebal—rambut yang menuruni genetik ayahnya.
"Maafin Mama, Sayang," bisikku parau, setetes air mata jatuh mengenai punggung tanganku. "Maafin Mama karena situasi ini."
Mengapa aku tidak pergi saja? Mengapa aku tidak mengemasi barang-barangku, menggandeng tangan Reno, dan keluar dari rumah terkutuk ini sejak malam pertama perempuan itu menginjakkan kakinya di sini?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak setiap kali aku melihat wajah polos anakku.
Jawabannya rumit.
Aku bertahan karena Reno. Aku tidak ingin anakku kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi idolanya. Aku tahu betapa sakitnya tumbuh dalam keluarga yang hancur, dan aku tidak ingin Reno merasakan luka yang sama.
Tapi di sudut hatiku yang paling dalam, alasan yang lebih menyedihkan bersembunyi.
Aku masih berharap.
Aku masih menggenggam harapan bodoh bahwa Ardi sedang tersesat. Bahwa ini hanyalah fase kegilaan sesaat dari seorang laki-laki yang sedang berada di puncak kariernya. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Kami memulai semuanya dari nol. Dari debu.
Pikiranku melayang ke masa lalu. Masa-masa di mana kami masih tinggal di kontrakan petak yang atapnya bocor jika hujan deras turun. Aku ingat suatu malam, hujan turun dengan sangat lebat. Ardi baru saja di-PHK dari pabrik tekstil, dan kami hanya punya cukup uang untuk membeli dua bungkus mi instan.
“Nis, maafin aku ya. Istri sarjana akuntansi kok malah kuajak menderita begini,” ucap Ardi saat itu, menatapku dengan mata berkaca-kaca sambil membagi sisa kuah mi ke mangkukku.
“Nggak apa-apa, Mas. Roda pasti berputar. Selama kita sama-sama, aku yakin kita bisa lewatin ini,” balasku sambil tersenyum, menyeka sisa kuah di sudut bibirnya.
Tiga bulan setelah malam itu, aku nekat menjual kalung emas peninggalan almarhum ibuku, satu-satunya perhiasan berharga yang kumiliki, untuk modal awal Ardi membuka usaha konveksi kecil-kecilan. Aku yang mengurus pembukuan setelah pulang bekerja dari kantor. Aku yang berkeliling mengendarai motor matic tua untuk menagih pembayaran dari reseller yang menunggak.
Kami membangun kerajaan kecil ini dengan darah dan keringatku yang tak terhitung jumlahnya.
Dan kini, setelah kerajaan itu berdiri megah, dia menabalkan ratu baru di atas singgasananya.
Aku menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipi. Tidak. Aku tidak boleh terus-terusan menjadi pecundang yang meratapi nasib. Aku harus bicara berdua dengan Ardi. Tanpa perempuan itu. Aku harus menyadarkan suamiku tentang apa yang sedang dia hancurkan.
Aku bangkit dari tepi ranjang Reno, mengecup keningnya dengan lembut, lalu berjalan keluar kamar.
Lampu lantai bawah sudah dimatikan, menyisakan lampu temaram di sepanjang lorong. Rumah ini terasa begitu sepi. Aku melirik jam dinding di ruang tengah, pukul setengah sebelas malam. Biasanya, Ardi masih berada di ruang kerjanya di lantai bawah untuk mengecek laporan harian dari pabrik.
Aku menuruni tangga tanpa menimbulkan suara, berharap bisa menemui Ardi di sana.
Namun, saat aku melewati ruang makan menuju lorong ruang kerja, langkahku terhenti. Lampu ruang kerja memang menyala, pintunya sedikit terbuka. Aku baru saja hendak mengangkat tangan untuk mengetuk, tapi suara dari dalam mengurungkan niatku.
Itu suara Ardi. Dan dia tidak sedang menelepon urusan pekerjaan.
"Sabar, Sayang. Jangan cemberut terus dong, nanti cantiknya hilang," bujuk Ardi. Suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan nada dingin yang selalu ia tujukan padaku belakangan ini.
"Habisnya aku bete, Mas," rengek suara Lia, terdengar jelas dari balik celah pintu. "Mbak Nisa itu lho. Matanya kalau lihat aku kayak mau makan orang. Aku kan jadi nggak nyaman di rumah ini. Dia tuh kapan sih perginya? Katanya kamu mau bikin dia nggak betah?"
Darahku berdesir. Tanganku yang melayang di udara perlahan turun, terkepal erat di sisi tubuh.
"Ya kan nggak bisa instan, Lia. Dia keras kepala," terdengar helaian napas berat dari Ardi. "Aku udah usir dia dari kamar utama, aku udah cuekin dia, aku biarin kamu ambil alih semuanya. Tapi dia masih aja bertahan di sini. Demi Reno, katanya."
"Terus sampai kapan aku harus pura-pura manis di depan dia kalau pas ada orang lain? Aku capek, Mas, harus bagi tempat sama dia."
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara kertas yang dibalik.
Lalu, kalimat itu keluar. Kalimat yang membakar habis sisa-sisa harapanku yang rapuh.
"Aku juga capek sama dia, Lia," ucap Ardi dengan nada muak yang begitu nyata. "Sumpah, lihat wajahnya aja aku udah jengah. Dia tuh kaku, membosankan, kerjaannya cuma ngatur-ngatur dan ngungkit-ngungkit masa lalu. Beda jauh sama kamu."
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Rasanya ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku hingga hancur berkeping-keping.
Membosankan. Kaku. Ngungkit masa lalu.
Itukah pandangannya terhadapku sekarang? Sepuluh tahun pengorbananku, masa mudaku yang habis untuk mengurusi keuangannya, menahan diri tidak membeli barang-barang bagus demi membangun masa depannya... di matanya kini hanya terlihat sebagai hal yang membosankan?
"Ya udah, ceraiin aja sih, Mas. Susah amat," cetus Lia santai. "Kan kamu udah janji sama aku."
Aku menahan napas. Tubuhku gemetar hebat menempel pada dinding lorong yang dingin. Cerai? Mereka merencanakan perceraian?
"Nggak semudah itu, Sayang," potong Ardi cepat. Nada suaranya berubah menjadi lebih serius, berbisik lebih rendah.
"Kenapa nggak mudah? Toh dia juga nggak punya apa-apa kan kalau pergi dari sini?"
Aku menempelkan telingaku lebih dekat ke celah pintu. Rasa sakit hati yang tadi mendominasi, perlahan mulai digantikan oleh rasa curiga yang merayap naik. Mengapa Ardi menunda? Jika dia begitu muak padaku, mengapa dia tidak menceraikanku saja dan hidup bahagia dengan pelacur kesayangannya itu?
"Ada hal yang harus aku pastikan dulu," jawab Ardi ambigu. "Aku nggak mau ambil risiko."
Risiko apa?
Aku berdiri di sana, di dalam kegelapan lorong, dengan pikiran yang berputar liar. Ada sesuatu yang salah di sini. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar perselingkuhan murahan. Sesuatu yang Ardi sembunyikan dariku.
Dan aku harus tahu apa itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar