Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra berwarna krem di ruang tamu kediaman Danu dan Arini. Di perumahan Elit Asri, pagi hari bukan diawali dengan kokok ayam, melainkan deru halus mesin mobil Eropa dan sapaan sopan petugas keamanan yang berpatroli dengan sepeda listrik. Arini berdiri di depan cermin besar berbingkai emas di ruang tengah, memastikan setiap helai hijab organzanya jatuh dengan sempurna.

Hari ini adalah hari Selasa. Bagi ibu-ibu di Elit Asri, Selasa berarti "Selasa Cantik"—pertemuan rutin kelompok pengajian Al-Ikhlas yang lebih sering menjadi ajang pameran terselubung daripada sekadar tadarus bersama.

Arini menarik napas dalam, mematut diri. Gamis berbahan satin premium yang ia kenakan berkilau lembut terkena cahaya. Ia tampak seperti potret kebahagiaan yang hakiki: muda, cantik, istri dari seorang kepala cabang bank ternama, dan ibu dari dua anak yang bersekolah di international school. Rumah ini adalah "Pintu Surga"-nya, begitu ia sering menulis di caption Instagram-nya yang diikuti ribuan orang.

"Ma, sepatu bola Kenzo yang baru sudah dimasukkan ke tas?" suara Danu memecah lamunan Arini. Suaminya melangkah turun dari tangga, tampak gagah dengan kemeja kerja yang disetrika licin.

Arini tersenyum lebar, senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. "Sudah, Pa. Yang merek terbaru itu, kan? Yang harganya setara motor matik bekas?"

Danu terkekeh sambil membenarkan dasinya. "Jangan berlebihan. Tapi ya, Kenzo butuh yang terbaik kalau mau masuk tim utama. Oh ya, uang bulanan sudah Papa transfer semalam, ya. Cukup, kan? Kamu bilang mau ganti sofa ruang depan karena sudah mulai 'ketinggalan zaman' kata teman-temanmu?"

Jantung Arini berdegup sedikit lebih kencang. Ia teringat saldo di rekeningnya yang sebenarnya sudah minus sejak tiga hari lalu. Uang yang ditransfer Danu semalam? Sebagian besar sudah terdebet otomatis untuk membayar bunga arisan berlian bulan lalu.

"Cukup kok, Pa. Tenang saja. Arini kan pintar atur uang," jawabnya enteng. Kalimat itu meluncur begitu saja, sehalus sutra yang ia kenakan, meski di dalam kepalanya, suara alarm peringatan mulai berbunyi.

Setelah Danu dan anak-anak berangkat, kesunyian rumah mulai terasa menghimpit. Arini duduk di sofa beludru yang katanya 'ketinggalan zaman' itu. Ia merogoh ponselnya dari tas merek mahal yang cicilannya baru lunas bulan lalu. Di layar ponsel, notifikasi WhatsApp bertumpuk.

Bukan dari Danu. Bukan dari sekolah anak.

[URGENT] PinjamCepat: Pelanggan Yth, tagihan Anda sebesar Rp 4.500.000 akan jatuh tempo dalam 24 jam. Segera lakukan pembayaran untuk menghindari denda harian.

[INFO] DanaKilat: Ajukan limit tambahan hingga 10 Juta sekarang! Klik di sini...

Arini segera menghapus notifikasi itu. Jemarinya gemetar. Ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Angka yang tertera di sana sangat tidak sebanding dengan gaya hidup yang baru saja ia bicarakan dengan Danu. Arisan Selasa Cantik hari ini mengharuskan setiap anggota menyetor lima juta rupiah. Jika ia tidak membayar sekarang, reputasinya sebagai "Istri Teladan" dan "Ketua Sosialita Elit Asri" akan hancur dalam hitungan detik di grup WhatsApp.

"Hanya sekali ini lagi," bisiknya pada diri sendiri. Kalimat yang sudah ia ucapkan sepuluh kali dalam dua bulan terakhir.

Ia membuka aplikasi PinjamCepat. Hanya butuh tiga klik. Data dirinya sudah tersimpan. Wajahnya yang cantik dipindai oleh sistem sebagai verifikasi. Arini merasa seperti sedang menjual sebagian kecil jiwanya setiap kali kamera ponsel menangkap kedipan matanya untuk proses 'Liveness Detection'.

Ting!

Sebuah SMS masuk. Dana sebesar Rp 5.000.000 telah ditransfer ke rekening Anda. Potongan biaya layanan Rp 500.000. Sisa utang: Rp 5.500.000.

Hanya dalam lima menit, masalahnya selesai. Saldo rekeningnya kembali terlihat "pantas". Arini menghela napas lega. Perasaan euforia sesaat itu seperti narkoba; ia merasa berdaya kembali. Ia segera mentransfer uang arisan tersebut kepada Sarah, sang bendahara yang juga saingan terberatnya dalam hal kemewahan.

Done ya, Jeng Sarah. Maaf agak siang, tadi masih sibuk atur menu katering buat acara kantor Mas Danu, tulis Arini di grup WA dengan nada sombong yang halus.

Pukul sepuluh pagi, Arini tiba di masjid komplek. Ia turun dari mobil SUV putihnya dengan anggun. Setiap langkahnya di atas ubin masjid yang dingin terasa penuh percaya diri. Teman-temannya menyambut dengan pujian yang sudah biasa ia dengar.

"Duh, Jeng Arini. Gamisnya baru lagi ya? Ini yang koleksi limited edition desainer itu, kan?" tanya Bu RT dengan nada iri yang kentara.

Arini hanya tersenyum tipis, menyesap teh melati yang disediakan. "Ah, biasa saja Bu RT. Mas Danu yang maksa beli, katanya biar istrinya nggak malu-maluin kalau diajak dinner relasi kantor."

Percakapan mengalir dari soal tadarus hingga harga tas. Namun, di tengah tawa renyah itu, ponsel Arini di dalam tas bergetar terus-menerus. Ia berusaha mengabaikannya. Getaran itu terasa seperti detak jantung yang tidak beraturan.

Saat sesi makan siang, Arini ijin ke kamar mandi. Di dalam bilik yang tertutup, ia membuka ponselnya dengan panik. Ada lima panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Dan satu pesan SMS yang membuat darahnya mendidih sekaligus membeku.

"Ibu Arini yang terhormat. Kami tahu Anda tinggal di Perumahan Elit Asri Blok C-12. Bayar utang Anda di aplikasi 'KilatCuan' sekarang juga atau kami hubungi kontak darurat Anda. Jangan jadi pencuri di balik hijab Anda!"

Napas Arini memburu. KilatCuan? Itu aplikasi sebulan lalu yang ia gunakan untuk membayar uang pangkal kursus piano Kenzo. Ia pikir sudah melunasinya dengan pinjaman dari aplikasi lain. Ternyata ia salah hitung bunga.

Ia melihat pantulan dirinya di cermin wastafel. Wajah yang dipoles make-up mahal itu kini tampak pucat. Hijab organza yang tadi terasa sempurna kini terasa mencekik lehernya.

"Jeng Arini? Di dalam?" suara Sarah memanggil dari luar. "Lama banget? Lagi dandan ya? Eh, tadi aku dengar HP kamu bunyi terus di tas, ada yang penting?"

Arini dengan cepat membasuh wajahnya, berhati-hati agar tidak merusak maskara tahan airnya. Ia memaksakan sebuah senyum, membuka pintu bilik, dan keluar dengan kepala tegak.

"Oh, itu? Biasa, orang bank nawarin kartu kredit tambahan. Capek deh, padahal limit yang lama saja belum habis dipakai," jawab Arini dengan tawa yang terdengar sangat natural.

Sarah menatapnya dengan tatapan menyelidik, namun kemudian ikut tertawa. "Ya ampun, nasib jadi istri orang bank ya begitu. Eh, habis ini kita ke butik depan ya? Ada koleksi baru."

"Boleh, siapa takut?" tantang Arini.

Di balik saku gamisnya, Arini meremas ponselnya kuat-kuat. Di layar yang gelap, sebuah notifikasi baru muncul: "Waktu Anda tinggal 2 jam."

Arini berjalan keluar dari masjid, menyapa tetangga dengan ramah, membagikan senyum "surga"-nya kepada dunia. Ia tidak tahu, bahwa pintu surga yang ia banggakan itu mulai berderit, menahan beban ribuan persen bunga yang siap meruntuhkan segalanya. Ia terus melangkah, memasuki mobilnya, dan melaju menuju butik, sementara di kantongnya, 'setan digital' itu terus menagih nyawa dari kehidupan palsu yang ia bangun dengan susah payah.

Inilah awal dari akhir. Di balik pintu rumah mewah itu, tagihan pinjol bukan lagi sekadar angka, melainkan api yang mulai menyulut ujung gaun indahnya. Dan Arini, dengan segala kesombongannya, justru menuangkan bensin berupa kebohongan baru untuk memadamkannya.