Malam di Perumahan Elit Asri selalu membawa kesunyian yang mahal. Suara gesekan daun pohon pule yang tertiup angin pelan berpadu dengan dengung pendingin ruangan yang nyaris tak terdengar. Namun, bagi Arini, kesunyian itu justru terdengar seperti detak bom waktu yang menempel di telinganya.
Di sampingnya, Danu sudah terlelap. Napas suaminya teratur, berat, dan tenang—sebuah kemewahan yang kini terasa asing bagi Arini. Cahaya dari lampu tidur yang temaram menyinari separuh wajah Danu, pria yang selama sepuluh tahun ini percaya bahwa ia telah menikahi wanita paling pandai mengelola rumah tangga. Arini menatap suaminya dengan rasa bersalah yang menusuk, namun ketakutan akan kehancuran jauh lebih besar daripada rasa sesalnya.
Perlahan, Arini menyibakkan selimut sutranya. Ia melangkah berjinjit menuju sofa kecil di sudut kamar, tempat ia meninggalkan ponselnya yang sengaja ia posisikan telungkup. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan layar.
Cahaya biru dari ponsel menyiram wajahnya yang pucat. Notifikasi itu masih di sana. Dana Surga.
Jangan ditekan, logika di kepalanya menjerit. Ini jebakan yang lebih dalam.
Namun, jemarinya seolah memiliki kemauan sendiri. Bayangan foto dirinya di masjid yang dikirimkan oleh DC tadi sore terus menghantuinya. Jika foto itu sampai ke grup WhatsApp warga, atau lebih buruk lagi, ke atasan Danu di bank, maka "Surga" yang ia bangun selama ini akan rata dengan tanah. Ia tidak punya pilihan. Baginya, satu-satunya cara untuk mematikan api adalah dengan menyiramnya dengan lebih banyak minyak, berharap api itu akan padam karena kehabisan oksigen—sebuah logika sesat yang lahir dari keputusasaan.
Klik.
Tautan itu membawanya ke sebuah situs web dengan desain yang sangat profesional. Tidak ada logo burung atau saku, hanya tipografi elegan berwarna emas dengan latar belakang hitam. Nama aplikasinya adalah "Sovereign Heaven".
"Pinjaman Tanpa Jaminan untuk Kaum Profesional dan Eksklusif," tulis slogan di sana.
Arini menelan ludah. Ia mulai mengisi formulir digital itu. Kali ini, data yang diminta jauh lebih mendalam. Mereka meminta akses ke akun LinkedIn, bukti mutasi rekening tiga bulan terakhir (yang untungnya masih bisa ia manipulasi sedikit dengan sisa-sisa saldo bulan lalu), dan yang paling aneh: rekaman video singkat dirinya menyatakan bahwa ia meminjam atas kemauan sendiri tanpa paksaan.
"Hanya untuk verifikasi keamanan tingkat tinggi," tulis instruksi di layar.
Arini bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan mengunci pintu. Di bawah lampu wastafel yang terang, ia memulas sedikit lipstik agar tidak terlihat seperti orang yang sedang sekarat karena ketakutan. Ia menekan tombol rekam.
"Saya, Arini Permata, dengan sadar mengajukan pinjaman sebesar lima puluh juta rupiah..." suaranya bergetar di awal, namun ia segera mendehem dan mengulanginya dengan nada "Istri Pejabat Bank" yang biasa ia gunakan.
Setelah video terkirim, ia menunggu. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Lima menit berlalu. Sepuluh menit.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Bukan pesan teks, melainkan panggilan video dari nomor luar negeri.
Arini nyaris menjatuhkan ponselnya ke wastafel. Ia ragu, namun rasa penasaran dan butuh mengalahkan akal sehatnya. Ia mengangkatnya, namun layar di seberang gelap. Hanya ada suara pria yang berat dan sangat tenang.
"Ibu Arini. Profil Anda sangat menarik. Istri dari Bapak Danu, Kepala Cabang Bank Mandiri Area... ah, saya rasa saya tidak perlu menyebutkan detailnya. Anda tahu kami tahu segalanya."
Arini membeku. Suara itu bukan suara DC kasar yang biasa memaki-makinya. Ini suara yang terdidik, dingin, dan jauh lebih mengerikan.
"S-saya butuh dana itu segera," bisik Arini. "Untuk... untuk bisnis katering saya."
Terdengar tawa kecil di seberang sana. "Bisnis katering? Atau untuk membayar sepuluh aplikasi lain yang sedang mengejar Anda malam ini? Mari jujur, Ibu Arini. Kami bukan penagih recehan. Kami adalah solusi bagi orang-orang seperti Anda. Lima puluh juta akan masuk ke rekening Anda dalam tiga menit. Tanpa bunga mingguan. Anda cukup membayar kami kembali enam puluh juta dalam dua bulan. Adil?"
Enam puluh juta dalam dua bulan? Itu sangat jauh lebih ringan daripada bunga aplikasi lain yang bisa membengkak dua kali lipat dalam seminggu. Arini merasa seperti baru saja melihat pintu keluar dari labirin.
"Setuju," kata Arini cepat. "Saya setuju."
"Bagus. Tapi ada satu syarat kecil. Karena limit ini besar, kami butuh 'jaminan sosial'. Kirimkan kepada kami foto buku nikah Anda dan... satu foto pribadi tanpa hijab. Hanya sebagai jaminan bahwa Anda tidak akan lari. Foto itu tidak akan pernah keluar dari server kami kecuali Anda cidera janji."
Dunia seolah berhenti berputar. Arini merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Foto tanpa hijab? Bagi Arini yang membangun citra wanita salihah di media sosial dan lingkungan pengajian, permintaan itu adalah sebuah penghinaan sekaligus ancaman maut.
"Tidak! Saya tidak bisa!" tolak Arini.
"Pilihan ada di tangan Anda, Ibu. Dalam satu jam, DC dari 'KilatCuan' akan mulai mengirimkan foto Anda di masjid tadi ke seluruh daftar kontak Anda. Bayangkan wajah Bapak Danu saat rekan kerjanya bertanya mengapa istrinya dikejar-kejar rentenir digital. Karir sepuluh tahun... lenyap karena gengsi lima juta rupiah. Mana yang lebih mahal, Ibu Arini? Selembar foto pribadi atau seluruh hidup Anda?"
Suara itu sangat persuasif, seperti ular yang membisikkan janji di telinga Hawa. Arini menatap pantulan dirinya di cermin. Ia melihat wanita yang hancur. Ia melihat wanita yang lebih takut pada penilaian manusia daripada apa pun.
Jemarinya menyentuh ujung hijabnya. Dengan tangan gemetar yang tak terkendali, ia melepas peniti peraknya. Hijab organza itu jatuh ke lantai wastafel. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa telanjang di depan layar ponselnya.
Klik.
Foto terkirim. Pengkhianatan terhadap prinsip hidupnya sendiri telah tuntas.
Dua menit kemudian, sebuah notifikasi m-banking muncul. "Masuk dana sebesar Rp 50.000.000."
Arini terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Uang itu ada di sana. Masalahnya selesai—setidaknya untuk malam ini. Ia segera melunasi KilatCuan, SakuDewa, dan delapan aplikasi lainnya. Satu per satu, pesan-pesan konfirmasi pelunasan masuk.
Ia merasa bersih. Ia merasa bebas. Namun, saat ia melihat fotonya sendiri di galeri ponsel—foto tanpa hijab yang baru saja ia kirim ke orang asing—ia tahu bahwa ia baru saja menukarkan belenggu besi dengan belenggu emas yang jauh lebih kuat.
Keesokan paginya, Arini bangun dengan perasaan yang aneh. Seperti orang yang baru saja sembuh dari sakit parah, namun masih merasa limbung. Ia menyiapkan sarapan dengan lebih semangat dari biasanya. Nasi goreng spesial dengan hiasan telur mata sapi yang sempurna.
"Wah, semangat banget hari ini, Ma?" Danu berkomentar sambil menyesap kopinya. "Wajahmu juga nggak pucat lagi kayak semalam."
Arini tersenyum lebar. "Iya, Pa. Rasanya beban pikiran soal... soal menu katering kemarin sudah ketemu solusinya. Oh ya, nanti sore Arini mau ke mall ya, mau beli sepatu baru buat Kenzo. Yang kemarin Papa bilang itu."
Danu tertawa. "Boleh. Pakai kartu kredit Papa saja kalau kurang."
"Nggak usah, Pa. Arini ada simpanan sendiri," jawab Arini bangga. Ia merasa hebat karena memiliki 50 juta di rekeningnya, meskipun itu adalah uang "pinjaman dari neraka".
Pukul sepuluh, Arini pergi ke mall. Ia tidak lagi melihat harga saat mengambil barang. Ia membelikan Kenzo sepatu paling mahal, membelikan putrinya tas sekolah baru, dan bahkan membeli sebuah jam tangan untuk Danu sebagai 'hadiah kejutan'. Ia ingin membuktikan pada dunia—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia adalah istri yang sukses.
Namun, saat ia sedang mengantre di kasir sebuah toko perhiasan untuk memoles cincin berliannya, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal, namun menggunakan profil gambar "Sovereign Heaven".
"Selamat pagi, Ibu Arini. Kami senang melihat Anda menikmati dana kami. Namun, ada sedikit perubahan kebijakan. Karena inflasi digital, jaminan Anda perlu diperbarui. Kami butuh video Anda sedang... menunjukkan sedikit lebih banyak kulit. Jika tidak, foto semalam akan kami gunakan sebagai iklan di Facebook Ads dengan target lokasi Perumahan Elit Asri."
Gelas berisi air mineral yang sedang dipegang Arini terlepas dari tangannya, pecah berantakan di lantai toko perhiasan yang mewah. Semua orang menoleh ke arahnya.
"Ibu? Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan toko dengan cemas.
Arini tidak menjawab. Telinganya berdenging hebat. Ia menatap layar ponselnya dengan mata terbelalak.
Inflasi digital? Perubahan kebijakan? Ini bukan pinjaman. Ini adalah pemerasan sistematis. Mereka tidak menginginkan uangnya kembali; mereka menginginkan kontrol sepenuhnya atas dirinya. Uang 50 juta itu bukan bantuan, itu adalah umpan yang sudah tertelan dalam-dalam di tenggorokannya.
Ia melihat bayangan dirinya di dinding kaca toko. Ia mengenakan gamis mewah, hijab yang serasi, dan perhiasan berkilau. Di luar, mobil SUV-nya menunggu. Di rumah, suaminya yang mencintainya sedang bekerja. Dan di tangannya, ada iblis yang baru saja memberikan perintah baru.
Arini melangkah mundur, keluar dari toko tanpa mempedulikan pecahan kaca yang ia injak. Ia berlari menuju parkiran, masuk ke dalam mobil, dan mengunci pintu.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini sebuah cuplikan video.
Itu adalah rekaman CCTV di mall saat ia baru saja masuk. Mereka mengikutinya. Mereka tahu dia sedang berbelanja mewah dengan uang mereka.
"Jangan mencoba lari, Arini. Surga yang kamu miliki sekarang adalah milik kami. Bayar dengan video itu dalam 30 menit, atau seluruh Elit Asri akan tahu siapa sebenarnya wanita di balik hijab indah ini."
Arini meraung di dalam mobil yang kedap suara itu. Ia memukul-mukul setir hingga tangannya memar. Ia menyadari satu hal yang terlambat: Pintu surga yang ia pikir telah ia buka kembali dengan uang 50 juta itu, ternyata adalah pintu menuju ruang eksekusi yang paling gelap. Dan yang paling mengerikan adalah, ia sendiri yang menyerahkan kuncinya.
Ia menatap tombol rekam di ponselnya. Pilihan yang ada di depannya hanya dua: menjadi budak digital atau menjadi bangkai sosial. Dan bagi Arini, kematian sosial jauh lebih menakutkan daripada kehilangan harga diri di depan kamera yang dingin.
Dengan tangan yang mati rasa, Arini mulai membuka kancing teratas gamisnya di dalam mobil yang terparkir di sudut gelap basement. Air matanya jatuh mengenai layar ponsel, mengaburkan pandangannya, namun tidak mampu menghapus kenyataan bahwa ia telah terjun bebas ke dalam jurang yang tidak memiliki dasar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar