Interior mobil SUV putih milik Arini terasa seperti ruang isolasi yang mewah. Bau parfum black opium yang kuat biasanya memberikan rasa tenang, namun siang ini, aroma itu justru membuat mual. Arini menggenggam kemudi dengan jemari yang kaku. Di jok penumpang, tas belanja dari butik ternama—hasil paksaan gengsi saat bersama Sarah tadi—tergeletak seperti beban batu. Di dalamnya ada sebuah scarf sutra seharga tiga juta rupiah yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
Ponsel di dashboard bergetar lagi. Nama pengirimnya tidak muncul, hanya rangkaian angka acak yang terlihat seperti kode kematian bagi ketenangannya.
Ting!
"Ibu Arini, 1 jam lagi. Kami sudah mendapatkan akses ke daftar kontak Anda. Apakah Anda ingin suami Anda, Bapak Danu di Bank *** tahu bahwa istrinya adalah penipu?"
Darah Arini terasa surut dari wajahnya, meninggalkan rasa dingin yang menjalar hingga ke ujung kaki. Bagaimana mereka tahu tempat kerja Danu? Ia yakin hanya memberikan izin akses galeri dan kontak, tidak pernah menuliskan detail pekerjaan suaminya di aplikasi "KilatCuan" itu. Namun, ia lupa—atau sengaja menutup mata—bahwa di era digital, privasi adalah mitos. Sekali ia mengizinkan aplikasi itu membaca riwayat SMS-nya, mereka bisa membaca segalanya, termasuk notifikasi mutasi rekening dan pesan-pesan dari kantor Danu.
"Sial!" Arini memukul kemudi. Suara klakson berbunyi pendek, mengejutkan seorang tukang parkir di depannya.
Ia harus membayar. Sekarang juga. Tapi dari mana? Saldo arisan tadi sudah lunas, dan sisa uang di rekeningnya hanya cukup untuk membayar biaya listrik dan air yang akan jatuh tempo lusa. Jika ia menggunakan uang listrik, Danu pasti akan curiga saat lampu rumah tiba-tiba padam.
Arini mematikan mesin mobil di parkiran butik yang mulai sepi. Ia menarik napas dalam, mencoba menjernihkan pikiran yang berantakan. Otaknya mulai bekerja seperti mesin judi, menghitung peluang dan risiko.
Gali lubang lagi, bisik sebuah suara di kepalanya. Hanya untuk menutup yang satu ini. Nanti, setelah Danu dapat bonus triwulan bulan depan, semuanya akan beres.
Ia membuka folder tersembunyi di ponselnya, sebuah folder berisi sepuluh aplikasi pinjaman online yang sudah ia unduh namun belum ia eksekusi. Ia memilih satu dengan logo burung biru yang terlihat "terpercaya", bernama CairKilat.
Prosesnya sangat cepat, hampir seperti sihir yang mengerikan. Ia memasukkan data, mengambil foto selfie sambil memegang KTP—sebuah tindakan yang kini terasa seperti menyerahkan leher ke algojo—dan menunggu. Lima menit kemudian, notifikasi masuk.
"Pengajuan Anda ditolak. Skor kredit Anda rendah."
Jantung Arini mencelos. Ditolak? Bagaimana mungkin? Ia selalu membayar, meski dengan cara meminjam dari tempat lain. Ia mencoba aplikasi lain. UangCepat. Ditolak. DanaMudah. Ditolak.
Keringat dingin mulai membasahi dahi Arini, merusak bedak glow up yang ia banggakan pagi tadi. Ia tidak sadar bahwa sistem informasi keuangan antar-aplikasi ini saling terhubung. Mereka tahu dia sedang melakukan spinning, memutar utang dari satu pintu ke pintu lain. Dia mulai dianggap berisiko tinggi.
"Ayo, tolong... satu saja," rintihnya pada layar ponsel yang dingin.
Akhirnya, sebuah aplikasi bernama SakuDewa memberikan lampu hijau. Namun, syaratnya mencekik. Pinjam tiga juta, yang cair hanya 1,8 juta karena potongan biaya administrasi yang gila, dan harus dikembalikan 3,6 juta dalam waktu tujuh hari.
Tanpa pikir panjang, Arini menekan tombol "Setuju". Persetujuan itu terasa seperti suara jeruji besi yang mengunci.
Uang cair. Arini segera mentransfernya ke KilatCuan. Begitu status di aplikasi itu berubah menjadi "Lunas", sebuah beban berat seolah terangkat dari dadanya. Ia bisa bernapas lagi. Ia bisa pulang ke rumah, tersenyum pada Danu, dan memasak makan malam seolah-olah dunia baik-baik saja.
Sore harinya, rumah di Blok C-12 itu tampak seperti istana kedamaian. Wangi masakan ayam bumbu kuning menyerbak dari dapur. Arini mengenakan apron cantik, wajahnya kembali segar setelah dipoles ulang.
"Ma, aku pulang!" suara Kenzo terdengar, diikuti debuman tas sekolah di lantai.
"Cuci tangan dulu, Sayang," teriak Arini dari dapur.
Danu masuk tak lama kemudian. Ia tampak lelah namun tersenyum saat melihat istrinya sedang menata meja makan. Ia memeluk Arini dari belakang, sebuah gestur yang biasanya membuat Arini merasa dicintai, namun kini justru membuatnya merasa seperti pengkhianat.
"Tadi di kantor ada audit, capek banget," keluh Danu sambil duduk. "Tapi ya sudahlah, yang penting posisi aman. Oh ya, tadi siang kok Papa dapat telepon dari nomor aneh ya? Pas Papa angkat, langsung dimatiin."
Sendok di tangan Arini berdenting keras saat bersentuhan dengan piring porselen. "Oh ya? Mungkin orang asuransi atau telemarketing kartu kredit, Pa. Akhir-akhir ini kan emang lagi banyak banget yang begitu."
Danu mengangguk, menyesap air putihnya. "Iya sih. Tapi anehnya, pas Papa cek di aplikasi GetContact, namanya 'DC Pinjol'. Papa bingung, kita kan nggak pernah punya urusan sama yang begitu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arini. Tenggorokannya terasa tersumbat biji salak. Ia harus tetap tenang. Show, don't tell. Jangan gemetar. Jangan gagap.
"Mungkin salah sambung, Pa. Atau mungkin ada teman Papa yang jadiin nomor Papa sebagai kontak darurat tanpa bilang-bilang," Arini mencoba memberikan penjelasan yang logis. "Zaman sekarang kan banyak orang yang nggak tahu diri begitu."
"Bisa jadi," Danu bergumam, meski matanya masih menunjukkan sedikit keraguan. "Papa cuma nggak mau nama Papa rusak. Kamu tahu sendiri kan, di bank itu integritas nomor satu. Kalau sampai ada masalah keuangan pribadi, posisi Papa bisa terancam."
Arini hanya bisa mengangguk kaku. Setiap suapan nasi terasa seperti pasir di mulutnya. Pintu surga yang ia tempati ini ternyata memiliki fondasi yang mulai keropos, dan suaminya baru saja mengetuk salah satu tiang penyangganya.
Setelah makan malam, saat Danu asyik menonton berita di ruang tengah dan anak-anak belajar di kamar, Arini mengunci diri di kamar mandi lantai atas. Ia duduk di atas tutup toilet, menatap layar ponselnya.
Ia membuka aplikasi kalkulator.
Utang di SakuDewa: 3,6 juta (jatuh tempo 7 hari). Utang di PinjamCepat: 5,5 juta (jatuh tempo 14 hari). Utang di aplikasi-aplikasi kecil lainnya yang ia lupakan jumlah pastinya karena bunga yang terus berjalan.
Totalnya mendekati angka 25 juta rupiah. Dan itu hanya utang pokok plus bunga berjalan, belum termasuk denda jika ia terlambat satu jam saja. Sementara sisa uang bulanan dari Danu hanya tinggal beberapa ratus ribu setelah ia pakai membayar belanjaan butik tadi demi menutupi rasa malu di depan Sarah.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor baru. Kali ini bukan ancaman, tapi sebuah tautan.
"Butuh dana cepat tanpa ribet? Limit hingga 50 juta. Tanpa BI Checking. Klik di sini: bit.ly/DanaSurga99"
Nama "Dana Surga" itu seolah mengejeknya. Arini tahu ini adalah jebakan. Ia tahu ini kemungkinan besar adalah aplikasi ilegal yang lebih kejam. Namun, angka "50 juta" itu berkilau di matanya seperti oase di tengah padang pasir. Jika ia bisa mendapatkan 50 juta, ia bisa melunasi semua aplikasi kecil, menutup semua lubang, dan memulai hidup baru yang jujur—atau setidaknya, begitu pikirnya.
Ia hampir menekan tautan itu ketika terdengar ketukan di pintu kamar mandi.
"Ma? Kamu di dalam? Kok lama banget? Papa mau pakai kamar mandinya," suara Danu terdengar dari balik pintu.
Arini tersentak. Ponselnya hampir jatuh ke lantai marmer. "I-iya Pa! Sebentar, lagi... lagi maskeran!"
Ia segera mematikan layar ponsel. Namun, sebelum ia sempat menyembunyikan ponselnya ke dalam saku, sebuah notifikasi muncul di layar kunci. Sebuah foto.
Arini memberanikan diri melihatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Itu adalah foto dirinya saat sedang di masjid tadi pagi. Foto itu diambil dari jarak jauh, menunjukkan Arini yang sedang tertawa sambil memegang tas mahalnya. Di bawah foto itu ada tulisan merah besar: "Wajah Cantik, Gaya Elit, Utang Sulit. Segera Bayar sebelum Kami Sebarkan ke Seluruh Kontak Anda!"
Mereka sudah mengawasinya. Mereka tahu dia ada di mana. Mereka ada di sekitar lingkungannya.
"Ma?" Danu mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Kamu nggak apa-apa di dalam? Suaramu kok kayak orang sesak napas?"
Arini menatap pintu kamar mandi. Ia merasa seperti tikus yang terpojok di dalam lubang emasnya sendiri. Di luar sana ada suaminya, pria yang menganggapnya istri sempurna. Di tangannya ada ponsel yang berisi bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan segalanya—karir suaminya, masa depan anaknya, dan harga dirinya.
"Nggak apa-apa, Pa! Ini... ini cuma bersin!" Arini menjawab dengan suara yang dipaksakan ceria, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh menangis. Menangis berarti mengaku kalah. Ia harus mencari cara. Ia harus menekan tautan "Dana Surga" itu nanti malam saat Danu sudah tidur. Ia harus terus berlari, meski ia tahu jalan yang ia tempuh bukan lagi menuju surga, melainkan labirin digital yang tidak memiliki jalan keluar.
Arini membuka pintu kamar mandi, melempar senyum tipis pada Danu yang menunggu di depan pintu, dan berjalan melewatinya dengan aroma black opium yang kini berbaur dengan bau keringat ketakutan yang dingin. Ia telah resmi masuk ke dalam permainan yang tidak akan pernah bisa ia menangkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar