Dinginnya udara dari Air Conditioner di dalam mobil SUV putih itu tidak mampu membendung keringat yang mengucur dari pelipis Arini. Di sudut remang parkiran basement mal, Arini merasa seperti binatang buruan yang terpojok di dalam sangkar emasnya sendiri. Jemarinya yang gemetar menyentuh kancing kedua gamis satinnya. Di layar ponsel, angka hitung mundur dari "Sovereign Heaven" seolah berdetak di dalam jantungnya.
Tiga puluh menit.
Ia menatap kaca spion tengah. Wajah yang biasanya dipenuhi keangkuhan elegan itu kini hancur. Maskaranya luntur, meninggalkan jejak hitam seperti luka bakar di bawah matanya. Ia melihat pantulan seorang wanita yang telah menjual jiwanya demi selembar citra, dan sekarang, iblis yang membelinya datang untuk menagih bunga yang lebih mahal dari sekadar uang.
"Jangan, Arini... jangan," bisiknya pada diri sendiri.
Namun, sebuah notifikasi muncul. Kali ini bukan teks, melainkan sebuah screenshot. Itu adalah profil LinkedIn Danu. Di bawahnya ada teks merah menyala: "Kami sudah menyiapkan draf pesan untuk Direktur Kepatuhan Bank tempat suami Anda bekerja. Isinya? Foto tanpa hijab Anda semalam dan keterangan bahwa istri Kepala Cabang sedang terlibat skandal keuangan. Mau kami tekan tombol 'Kirim'?"
Isak tangis Arini pecah. Ia memukul kemudi dengan frustrasi, namun suara klakson yang tertahan hanya menambah ironi keputusasaannya. Ia tidak bisa membayangkan wajah Danu jika karir yang dibangun dengan lembur belasan tahun hancur dalam satu klik. Ia tidak bisa membayangkan Kenzo dan adiknya harus pindah dari sekolah internasional karena ayahnya dipecat secara tidak hormat.
Dengan gerakan mekanis, Arini mengangkat ponselnya. Ia memposisikannya di atas dashboard. Cahaya kamera depan menyala, memantulkan binar ketakutan di matanya. Ia membuka kancing gamisnya sedikit lebih rendah, mengekspos tulang selangka dan pundaknya yang bergetar. Ia menekan tombol rekam.
Sepuluh detik video itu terasa seperti keabadian di neraka.
Setelah menekan tombol 'Kirim', Arini melempar ponselnya ke jok penumpang seolah benda itu adalah bara api yang menyengat kulitnya. Ia menyandarkan kepala ke setir, membiarkan tangisnya tumpah tanpa suara. Ia merasa kotor. Ia merasa bukan lagi Arini yang dihormati di pengajian Al-Ikhlas. Ia hanyalah sebuah komoditas digital yang bisa dipermainkan kapan saja.
Dua menit kemudian, ponselnya bergetar.
"Good girl. Jaminan diperbarui. Untuk bulan ini, Anda aman. Tapi ingat, cicilan pertama sebesar sepuluh juta rupiah harus masuk ke rekening kami tanggal 1 besok. Jangan terlambat, atau video barusan akan jadi konsumsi publik."
Arini tertegun. Sepuluh juta? Uang lima puluh juta yang ia terima semalam sebagian besar sudah habis untuk melunasi sepuluh aplikasi pinjol lainnya dan belanja gila-gilaan tadi pagi untuk menutupi jejak stresnya. Saldo di rekeningnya kini hanya tersisa lima belas juta. Jika ia membayar sepuluh juta besok, bagaimana ia membayar uang sekolah anak-anak? Bagaimana ia membayar iuran lingkungan Elit Asri yang sangat mahal?
Ia harus memutar otak. Ia harus mencari sumber uang lain yang "bersih" di mata Danu, tapi cukup besar untuk menenangkan iblis digital ini.
Sore itu, Arini pulang ke rumah dengan langkah yang sangat berat. Tas belanjaan mewah yang tadi ia banggakan kini terasa seperti bukti kejahatan. Ia masuk ke rumah, mencoba memasang wajah ceria saat melihat Danu yang sudah pulang lebih awal dan sedang bermain gim di ruang tengah bersama Kenzo.
"Ma? Kok lama banget? Tadi Papa telepon nggak diangkat," Danu menoleh, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Mata kamu... kamu habis nangis?"
Arini tersentak. Ia segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk menata tas belanjaan. "Ah, nggak kok, Pa. Tadi di mal kena debu pas ada renovasi toko. Terus... terus tadi agak pusing sedikit karena belum makan siang."
Danu bangkit, mendekati Arini. Ia meletakkan tangannya di pundak istrinya. Arini hampir saja berteriak karena terkejut; sentuhan Danu yang biasanya menenangkan kini terasa seperti ancaman. Ia merasa seolah Danu bisa mencium bau pengkhianatan di kulitnya.
"Kamu terlalu capek urus katering itu mungkin, Ma," kata Danu lembut. "Atau... ada masalah lain? Uang bulanan masih cukup, kan? Tadi Papa lihat ada notifikasi transaksi besar di kartu kredit cadangan yang Papa kasih ke kamu."
Arini menelan ludah. Ia lupa kalau kartu itu terhubung ke ponsel Danu. "Oh, itu... itu buat beli kado kejutan buat Papa dan sepatu Kenzo. Kan Arini bilang mau kasih yang terbaik buat keluarga."
Danu tersenyum, meski ada kilat keraguan yang melintas cepat di matanya. "Ya sudah, jangan dipaksakan kalau memang budget-nya lagi ketat. Papa nggak mau kita hidup cuma buat pamer, Ma."
Kalimat itu menghujam jantung Arini seperti belati. Cuma buat pamer. Itulah kenyataannya.
Malam harinya, saat makan malam, suasana terasa sangat canggung. Arini lebih banyak diam, sementara Danu mencoba mencairkan suasana dengan bercerita tentang rencana kantor untuk mengadakan family gathering ke Bali bulan depan.
"Papa sudah pesan tiketnya. Kita berangkat tanggal 15," kata Danu antusias.
Arini nyaris tersedak. Tanggal 15? Itu adalah waktu jatuh tempo cicilan kedua bagi "Sovereign Heaven". Dan ia tahu, liburan ke Bali berarti pengeluaran ekstra untuk baju baru, tas pantai, dan foto-foto estetik agar tidak kalah dari Sarah.
"Ma? Kok bengong? Kamu nggak senang kita ke Bali?" tanya Danu.
"Senang kok, Pa. Senang banget," jawab Arini dengan suara yang terdengar hampa di telinganya sendiri.
Setelah anak-anak tidur, Arini duduk di balkon kamar, menatap lampu-lampu perumahan Elit Asri yang berkilau. Di kejauhan, ia melihat sebuah mobil patroli keamanan lewat. Hidup di sini terasa sangat aman, namun Arini tahu, bahaya yang ia hadapi tidak bisa dihalau oleh satpam mana pun. Bahaya itu ada di dalam genggamannya.
Ia membuka aplikasi Instagram. Di sana, Sarah baru saja mengunggah foto tas baru dengan caption: "Self-reward setelah sebulan penuh berkah. Syukuri apa yang ada, maka Allah akan menambah nikmat-Nya."
Darah Arini mendidih. Ia tahu tas itu harganya empat puluh juta. Ia tahu Sarah hanya ingin memanas-manasi dirinya. Dalam kondisi normal, Arini akan segera membalas dengan unggahan yang lebih mewah. Namun sekarang, ia bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar cicilan utangnya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di kepalanya. Sebuah ide yang lahir dari rasa iri yang berpadu dengan keputusasaan.
Arini adalah bendahara di yayasan yatim piatu "Cahaya Surga" yang dikelola oleh ibu-ibu kompleks. Setiap bulan, terkumpul puluhan juta rupiah dari donatur untuk biaya pendidikan anak asuh. Uang itu disimpan di sebuah rekening yang buku tabungannya ada pada Arini, namun token transaksinya dipegang oleh Bu RT.
Jika aku bisa meminjamnya sebentar... hanya sepuluh juta untuk membayar cicilan pertama besok, pikir Arini. Nanti, setelah aku dapat untung dari... entahlah, aku akan mengembalikannya.
Ia menggelengkan kepala. "Tidak, Arini. Itu uang anak yatim. Itu haram."
Namun, ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan singkat dari "Sovereign Heaven": "12 jam menuju jatuh tempo. Kami sedang mengedit video Anda dengan musik latar yang menarik. Mau lihat?"
Ketakutan mengalahkan iman. Ketakutan mengalahkan logika.
Arini berdiri, berjalan menuju meja riasnya, dan membuka laci paling bawah yang terkunci. Ia mengambil tas kecil berisi buku tabungan yayasan. Ia menatap buku itu seolah-olah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang luas.
Ia tahu bagaimana cara kerjanya. Bu RT adalah wanita tua yang sangat gaptek. Setiap kali ada transaksi, Bu RT selalu meminta Arini untuk membantu mengoperasikan tokennya dengan alasan 'penglihatan sudah kabur'. Besok adalah hari pembayaran SPP anak asuh. Arini bisa dengan mudah menambahkan satu transaksi fiktif ke rekening pribadinya tanpa dicurigai.
"Hanya meminjam," bisik Arini pada kegelapan malam. "Tuhan tahu aku sedang terjepit. Aku akan mengembalikannya secepat mungkin."
Ia tidak sadar bahwa setiap kali ia berkata "hanya sekali ini lagi" atau "akan kukembalikan", ia sebenarnya sedang menggali lubang yang lebih besar di bawah kakinya.
Malam itu, Arini tidur dengan buku tabungan yayasan di bawah bantalnya. Ia bermimpi tentang pintu surga yang besar dan megah, namun saat ia mencoba masuk, pintu itu berubah menjadi layar ponsel raksasa yang menampilkan video dirinya yang sedang memohon-mohon dengan tubuh terbuka. Dan yang paling mengerikan, di balik layar itu, ribuan mata warga Elit Asri menonton sambil tertawa.
Ia terbangun dengan napas tersengal tepat saat adzan subuh berkumandang dari masjid komplek. Suara adzan yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti vonis hukuman. Ia melihat ke samping, Danu masih tertidur lelap.
Arini beranjak ke kamar mandi. Ia menatap wajahnya di cermin. Ia melihat seorang pencuri. Ia melihat seorang pembohong. Namun, saat ia melihat ponselnya yang bercahaya di atas nakas, ia melihat seorang wanita yang akan melakukan apa pun agar dunia tidak melihat siapa dia sebenarnya.
Rencana sudah disusun. Besok pagi, saat pengajian mingguan, ia akan melancarkan aksinya pada Bu RT. Ia akan mengambil uang anak yatim itu untuk membayar "uang keamanan" pada iblis digitalnya.
Ia kembali ke tempat tidur, namun ia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat tulisan merah itu lagi: "Waktu Anda habis."
Tanpa ia sadari, di luar sana, "Sovereign Heaven" bukan hanya sekadar aplikasi pinjol. Mereka adalah sindikat yang lebih besar yang sedang tertawa melihat bagaimana seorang wanita "salihah" di perumahan elit mulai menghancurkan dirinya sendiri piece demi piece, bahkan sebelum mereka benar-benar menyebarkan aibnya.
Arini baru saja melewati satu lagi batas moral yang tak bisa ditarik kembali. Dan di balik pintu surganya, api neraka yang ia ciptakan sendiri kini mulai menjilat kaki ranjangnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar