Aroma kayu manis dan seduhan teh krisan memenuhi ruang tamu kediaman Bu RT yang luas. Pagi ini, sepuluh wanita dari kelompok pengajian Al-Ikhlas berkumpul. Mereka duduk melingkar di atas karpet Persia yang tebal, dengan kitab-kitab suci terbuka di depan mereka. Namun, di balik lantunan ayat yang terdengar syahdu, atmosfer di ruangan itu sebenarnya dipenuhi oleh tegangan listrik yang tak kasat mata.
Arini duduk di sudut, tangannya meremas ujung hijab organza berwarna salem yang senada dengan gamisnya. Di dalam tas kulit mahalnya, buku tabungan Yayasan Cahaya Surga terasa seberat bongkahan timah. Setiap kali matanya bertemu dengan tatapan Bu RT yang teduh, Arini merasa seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk kulitnya.
"Jeng Arini, kok diam saja? Biasanya kamu yang paling semangat kalau bahas rencana santunan anak yatim minggu depan," tegur Bu RT sambil membetulkan letak kacamata bacanya yang bertengger di ujung hidung.
Arini tersentak, memaksakan sebuah senyum yang hampir pecah. "Oh, maaf Bu RT. Arini agak kurang enak badan saja, mungkin karena cuaca lagi nggak menentu."
"Jangan-jangan lagi hamil lagi?" celetuk Sarah sambil tertawa kecil, matanya melirik sinis ke arah tas baru Arini yang tergeletak di samping. "Atau mungkin kecapekan belanja di mal kemarin? Aku lihat postingan toko sepatu langganan kita, katanya Jeng Arini borong banyak ya?"
Suasana mendadak senyap. Arini bisa merasakan mata ibu-ibu lain mulai tertuju padanya. Di komunitas Elit Asri, berita tentang siapa yang belanja apa menyebar lebih cepat daripada wabah.
"Ah, itu... cuma keperluan Kenzo, Jeng Sarah. Anak-anak kan cepat besar," jawab Arini dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia segera mengalihkan pembicaraan sebelum Sarah menggali lebih dalam. "Oh ya, Bu RT. Soal dana SPP anak asuh yang mau dibayarkan hari ini, apa sudah bisa kita proses? Takutnya kalau sorean, sistem bank sering maintenance."
Bu RT mengangguk-angguk setuju. "Iya, benar juga. Tolong bantu saya ya, Jeng. Mata saya lagi buram banget hari ini, tadi pagi salah pakai tetes mata. Tokennya ada di laci meja depan, tolong ambilkan."
Inilah momennya. Arini berdiri, melangkah menuju meja kayu jati di sudut ruangan. Jantungnya berdegup kencang, suaranya bergemuruh di telinga sendiri hingga ia hampir tak bisa mendengar suara tadarus di belakangnya. Ia mengambil token kecil berwarna biru itu. Jemarinya gemetar saat menyentuh tombolnya.
Ia kembali duduk di samping Bu RT, membuka laptop yayasan yang sudah ia siapkan. Dengan lihai, Arini masuk ke sistem internet banking.
"Total SPP bulan ini dua puluh juta ya, Bu?" tanya Arini, suaranya rendah dan tenang—sebuah ketenangan palsu yang ia asah di bawah tekanan pinjol selama berminggu-minggu.
"Iya, dua puluh juta untuk tiga puluh anak," jawab Bu RT tanpa curiga sedikit pun.
Arini mulai mengetikkan nomor rekening sekolah. Namun, di tab sebelah, ia sudah menyiapkan daftar transaksi lain. Ia memasukkan nomor rekening pribadinya. Ia mengetikkan angka: Rp 10.000.000. Di kolom keterangan, ia menuliskan: "Biaya Seragam Tambahan".
"Bu, tolong masukkan kode yang muncul di tokennya ya," Arini menyodorkan alat itu.
Bu RT memicingkan mata, mencoba melihat angka di layar kecil token. "Duh, Jeng, sebutkan saja angkanya, nanti saya yang tekan. Atau Jeng Arini saja yang tekan, saya percaya kok."
"Jangan begitu, Bu. Prosedurnya kan Ibu yang harus tekan sebagai ketua," Arini bersandiwara, pura-pura menjaga integritas padahal hatinya bersorak. Ia membimbing jari Bu RT untuk menekan tombol-tombol itu.
Klik.
Satu transaksi berhasil. Uang SPP terkirim.
"Satu lagi ya, Bu. Ini buat biaya seragam yang kemarin kita bahas di rapat kecil," bohong Arini. Padahal tidak pernah ada rapat kecil soal seragam.
Sekali lagi, jari Bu RT menekan kode konfirmasi.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Arini yang ia sembunyikan di bawah paha. "Dana Masuk: Rp 10.000.000."
Arini menutup laptop dengan cepat. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia merasa seperti baru saja membunuh seseorang. Uang anak yatim. Uang yang seharusnya menjadi harapan bagi mereka yang tidak punya siapa-siapa, kini berada di tangan seorang wanita yang sedang diperas oleh bayangannya sendiri di internet.
"Sudah beres, Bu RT. Semuanya lunas," kata Arini.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya, Jeng Arini. Kamu memang tangan kanan saya yang paling bisa diandalkan," puji Bu RT tulus.
Pujian itu terasa seperti tamparan keras di wajah Arini. Ia segera pamit dengan alasan ada janji dengan dokter, mengabaikan ajakan makan siang bersama. Ia butuh keluar dari rumah itu. Ia butuh udara segar yang tidak berbau kemunafikan.
Di dalam mobil, Arini tidak langsung pulang. Ia segera membuka aplikasi "Sovereign Heaven".
"Sudah saya transfer sepuluh juta. Hapus video itu!" ketik Arini dengan amarah yang meluap.
Hening selama beberapa menit. Kemudian, balasan muncul.
"Uang sudah kami terima. Bagus. Video tidak akan kami sebarkan... hari ini. Tapi Arini, kami baru saja melihat mutasi rekening yayasan yang baru saja Anda akses. Wah, ternyata Anda bendahara yang sangat 'kreatif' ya? Meminjam uang anak yatim untuk membayar kami? Sangat religius sekali."
Arini nyaris menjatuhkan ponselnya. Napasnya tersengal. Bagaimana mereka tahu?
"Kami punya akses ke semua jaringan yang Anda sentuh melalui WiFi rumah dan ponsel Anda, Arini. Kami melihat transaksi itu. Sekarang, jaminan kami bertambah. Bukan cuma video Anda, tapi bukti bahwa Anda telah menggelapkan uang yayasan. Sekarang, cicilan bulan depan naik menjadi lima belas juta. Sebagai biaya 'tutup mulut' tambahan."
Arini memukul-mukul stir mobilnya hingga tangannya memar. Ia meraung di dalam kabin yang kedap suara itu. Ia pikir sepuluh juta itu akan memberinya nafas, ternyata itu hanya memperpendek tali gantungan di lehernya. Setiap langkah yang ia ambil untuk menyelamatkan diri justru menjadi peluru baru bagi para pemeras itu.
Ia pulang ke rumah dalam keadaan linglung. Di depan rumah, ia melihat sebuah mobil kurir sedang menurunkan beberapa kardus besar.
"Ma! Papa beli apa itu?" Kenzo berlari keluar, tampak antusias.
Danu keluar dari rumah, wajahnya berseri-seri. "Kejutan! Papa baru saja beli sistem home theater terbaru. Kebetulan ada promo gila-gilaan buat karyawan bank. Kita bisa nonton film kayak di bioskop setiap malam!"
Arini menatap kardus-kardus itu dengan pandangan kosong. Harga sistem itu pasti tidak murah, meski ada diskon karyawan. Di saat ia sedang mencuri uang anak yatim untuk bertahan hidup, suaminya justru menambah kemewahan yang tak perlu di rumah ini.
"Pa... apa nggak terlalu berlebihan? Kita kan mau ke Bali bulan depan," suara Arini terdengar lirih.
Danu mendekat, merangkul bahu istrinya. "Tenang saja, Ma. Papa sudah hitung semuanya. Rezeki itu harus dinikmati, jangan ditumpuk terus. Oh ya, tadi Bu RT telepon Papa. Katanya terima kasih sudah dipinjami kamu buat urusan yayasan tadi pagi. Beliau puji-puji kamu terus."
Dunia Arini seolah runtuh. Bu RT menelepon Danu?
"Dia... dia bilang apa lagi, Pa?" tanya Arini, suaranya nyaris hilang.
"Cuma itu. Oh, dan dia tanya soal nomor rekening yayasan yang baru. Katanya dia mau cek mutasi sendiri lewat keponakannya yang baru lulus IT, biar nggak merepotkan kamu terus. Kamu sudah kasih tahu dia kalau ada perubahan?"
Arini merasa bumi di bawah kakinya berguncang. Keponakan Bu RT yang lulusan IT? Jika orang itu mengecek mutasi dan melihat sepuluh juta masuk ke rekening pribadi Arini dengan keterangan "Seragam", tamatlah riwayatnya.
"Ma? Kok mukanya pucat lagi?" Danu menatapnya cemas.
"Nggak apa-apa, Pa. Arini cuma... Arini cuma senang kita punya home theater baru," bohongnya untuk kesekian ribu kalinya.
Malam itu, saat seluruh rumah bersorak merayakan suara menggelegar dari sistem bioskop baru di ruang tengah, Arini mengunci diri di kamar mandi lantai atas. Ia duduk di lantai marmer, memeluk lututnya. Di dalam rumah yang megah ini, di "pintu surga"-nya yang dipenuhi fasilitas mewah, Arini merasa seperti sedang berada di dalam sel penjara yang paling sempit di dunia.
Ia membuka ponselnya. Ia melihat foto profil WhatsApp grup pengajian Al-Ikhlas yang menampilkan logo yayasan: sebuah tangan yang menengadah dengan tulisan "Berbagi adalah Ibadah".
Air mata Arini jatuh satu per satu. Ia telah melewati batas yang paling sakral. Ia bukan lagi sekadar korban pinjol; ia adalah pelaku kriminal. Ia adalah pencuri. Dan yang paling mengerikan adalah, ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan uang itu sebelum keponakan Bu RT melakukan audit.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor asing. Bukan dari "Sovereign Heaven".
"Jeng Arini, ini keponakan Bu RT, Bagas. Saya tadi cek sistem yayasan buat bantu Bibi. Ada satu transaksi sepuluh juta ke rekening pribadi Jeng yang keterangannya agak membingungkan. Mungkin Jeng salah input? Bisa kita ketemu besok pagi buat klarifikasi sebelum saya laporkan ke Bibi?"
Ponsel Arini jatuh ke lantai. Layarnya retak, tepat di tengah-tengah pesan dari Bagas.
Arini menatap retakan itu. Ia merasa retakan itu adalah gambaran hidupnya. Sebuah labirin kaca yang megah, yang kini mulai pecah berkeping-keping. Dan satu kepingan tajamnya baru saja mengiris urat nadinya tepat di jantung harga dirinya.
Ia tidak punya waktu lagi. Pintu surga itu tidak lagi tertutup; pintu itu sedang runtuh menimpa dirinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar