Bau keringat bercampur pewangi pakaian menyengat di udara begitu bel istirahat kedua berbunyi. Lapangan basket indoor sekolah selalu menjadi spot paling ramai di jam segini, dipenuhi siswi-siswi yang rela berdesakan di pinggir lapangan cuma buat menonton anak cowok tanding.

Gue, dengan sebotol air mineral dingin di tangan, sedang berusaha mencari jalan keluar dari kerumunan itu. Niat hati cuma mau lewat buat motong jalan ke perpustakaan, malah terjebak di tengah lautan manusia yang sedang histeris.

Lalu, bunyi pantulan bola basket berhenti, digantikan bunyi decit sepatu olahraga yang bergesekan keras dengan lantai kayu. Kerumunan di sekitar gue seketika mendadak diam selama satu detik, sebelum akhirnya meledak dalam sorakan.

"Raka! Raka! Nice shoot!"

Mendengar nama itu, langkah gue otomatis berhenti. Gue berjinjit sedikit, mencoba melihat melewati bahu anak kelas sepuluh di depan gue.

Di tengah lapangan, Raka sedang mengusap keringat di dahinya dengan kerah kausnya. Rambutnya yang sedikit gondrong basah oleh peluh, menempel di dahi. Dia tersenyum—senyum yang selalu bikin napas separuh cewek di angkatan ini tertahan. Termasuk gue.

Gue memperhatikan cowok itu saat dia menepuk bahu teman setimnya, tertawa lebar, dan berjalan ke pinggir lapangan, tepat ke arah tempat gue berdiri sekarang. Jantung gue mendadak berdetak sedikit lebih cepat. Gue memperbaiki letak jepit rambut gue refleks, berharap gue nggak kelihatan sekucel anak yang baru selesai ngerjain tugas Matematika dua jam penuh.

Raka semakin dekat. Mata kami tanpa sengaja bertemu.

Gue menahan napas. Dia akan lewat. Dia pasti cuma mau ambil tasnya di bangku belakang gue.

Tapi saat Raka berjalan melewati gue, dia memelankan langkahnya sedikit. Sudut bibirnya terangkat, senyumnya tidak selebar tadi, tapi cukup jelas ditujukan padanya. "Permisi," ucapnya pelan, suaranya berat dan renyah.

Gue cuma bisa mematung, mengangguk patah-patah seperti boneka rusak. "O-oh... iya."

Raka melewati gue, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar bercampur dengan bau khas lapangan basket. Butuh waktu sekitar sepuluh detik buat gue bisa berfungsi normal lagi. Dia senyum ke gue. Raka senyum ke gue!

Dengan semangat yang mendadak penuh, gue setengah berlari meninggalkan lapangan. Gue harus cerita ke seseorang. Dan sialnya, satu-satunya orang yang saat ini pasti ada di kelas dan bersedia dengerin ocehan gue cuma satu orang.

Begitu sampai di kelas, gue langsung menggebrak meja, membuat Bram yang sedang tidur siang dengan posisi menelungkup—lagi—hampir jatuh dari kursi karena kaget.

"Buset, Nai! Lo mau ngajak perang atau gimana sih?" sungut Bram, mengusap wajahnya kasar. Matanya masih setengah merah, rambut belakangnya mencuat ke segala arah.

Gue menarik kursi, duduk di sebelahnya dengan posisi menyamping sehingga gue menghadap penuh ke arahnya. "Bram, lo harus denger ini."

Melihat ekspresi wajah gue yang berbinar-binar, Bram mengerutkan kening. Dia memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung ke kursi, dan melipat kedua tangan di depan dada. "Apa? Lo nemu duit seratus ribu di jalan?"

"Lebih dari itu!" Gue mencondongkan badan ke depan. "Gue tadi lewat lapangan basket. Terus ada Raka."

Saat nama itu keluar dari mulut gue, ada perubahan mikroskopis di wajah Bram. Alisnya sedikit turun, dan gerakan bahunya yang tadi santai mendadak terasa sedikit... kaku? Entahlah, gue terlalu sibuk excited untuk peduli.

"Terus?" tanya Bram. Nada suaranya mendadak terdengar lebih datar dari biasanya.

"Terus dia jalan ke arah gue, Bram. Mata kita tatap-tatapan." Gue menutup muka dengan kedua tangan, merasakan pipi gue yang memanas. "Terus dia senyum! Dia bilang 'permisi' ke gue, senyumnya tuh yang senyum tipis manis gitu lho. Gila, gue nyaris lupa cara napas."

Bram diam. Dia nggak langsung merespons seperti biasanya. Nggak ada ledekan 'lo halu' atau 'muka lo kayak kepiting rebus'. Dia hanya menatap gue. Matanya yang tajam menelusuri wajah gue yang sedang berbunga-bunga ini.

"Lo... suka sama Raka?" Suara Bram memecah keheningan di antara kami. Anehnya, suaranya terdengar pelan, nyaris hati-hati. Sangat bukan Bram.

Gue menurunkan tangan, menatapnya dengan senyum malu-malu. "Kelihatan banget ya?"

Bram tidak langsung menjawab. Dia membuang muka, menatap ke arah papan tulis yang kosong di depan kelas. Jari-jarinya di atas meja mengetuk pelan permukaan kayu, sebuah kebiasaan yang belakangan gue sadari sering dia lakukan kalau lagi mikir.

"Kelihatan," jawabnya akhirnya. Dia menoleh lagi ke gue, dan kali ini senyum menyebalkannya yang khas sudah kembali terpasang di wajahnya. "Muka lo kayak anak SD dikasih balon. Lebay banget."

Gue mendecak kesal, memukul lengannya pelan. "Ih, gue serius, Bram! Menurut lo, itu tanda-tanda dia ngeh sama eksistensi gue nggak sih? Selama ini kan kita beda kelas, gue pikir dia nggak tahu gue hidup."

"Dia cuma bilang permisi, Nai. Bukan ngajak lo ke KUA," balas Bram sinis. Dia meraih pulpen gue (lagi) dan mulai memutar-mutarnya. "Lagian, Raka kan emang caper. Sama semua cewek juga dia senyum."

"Enak aja! Ini beda. Senyumnya beda, gue bisa ngerasain." Gue membela diri, sedikit tak terima Raka dicap caper. "Gue pengen deh coba follow Instagram dia duluan. Menurut lo agresif nggak?"

Putaran pulpen di tangan Bram meleset. Pulpen itu jatuh menggelinding dan jatuh ke lantai.

Bram menunduk untuk mengambilnya. Saat dia kembali duduk tegak, ekspresinya sulit dibaca. Dia tidak menatap mata gue, melainkan sibuk menggosok-gosokkan ujung pulpen ke telapak tangannya sendiri seolah ada noda di sana.

"Terserah lo," ucapnya pelan. "Kalau lo mau follow, ya follow aja."

Gue mengerutkan kening. Antusiasme gue sedikit mereda melihat reaksi Bram yang terasa... redup. Biasanya dia akan mendebat gue panjang lebar, mengatakan betapa bodohnya ide gue, atau setidaknya membuat lelucon yang bikin gue emosi. Tapi ini nggak. Dia cuma diam, dengan pandangan kosong tertuju ke luar jendela.

"Bram? Lo sakit?" tanya gue, sedikit khawatir.

"Nggak," jawabnya singkat tanpa menoleh.

"Terus kenapa lo diam aja? Nggak biasanya lo kehabisan kata-kata buat ngehina gue."

Kali ini Bram menoleh. Dia menatap gue tepat di mata. Untuk sedetik, gue bersumpah gue melihat sesuatu yang rapuh di sana. Sesuatu yang membuat napas gue tertahan sejenak. Tapi secepat kilat, bayangan itu hilang, digantikan oleh tawa kecil yang terdengar dipaksakan.

"Gue cuma lagi mikir," katanya ringan, menyandarkan kepalanya ke tangan. "Mikirin gimana repotnya gue nanti kalau lo patah hati terus nangis-nangis di sini. Meja gue bisa banjir."

Gue mendengus kasar, rasa khawatir gue seketika menguap. "Sialan lo. Gue nggak bakal patah hati, ya! Liat aja, gue bakal bikin Raka sadar kalau gue tuh ada."

"Ya. Liat aja nanti," gumam Bram. Suaranya terdengar begitu pelan, seolah dia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Dia lalu menarik buku tulisnya, pura-pura sibuk mencoret-coret halaman belakang, membiarkan gue sibuk dengan ponsel gue sendiri, mencari username Instagram Raka.

Saat gue akhirnya menekan tombol follow, gue tersenyum puas. Gue menoleh ke arah Bram, berniat pamer. Tapi kata-kata tertahan di tenggorokan gue.

Bram tidak sedang mencoret-coret bukunya. Tangannya memang memegang pulpen, tapi ujung tintanya hanya menekan diam pada satu titik di kertas hingga tintanya merembes hitam. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan langit siang yang terik. Ada jarak tak kasat mata yang tiba-tiba terasa begitu tebal di antara kursi kami berdua.

Gue memanggil namanya sekali lagi dalam hati, tapi memilih untuk tidak bersuara. Untuk pertama kalinya, gue merasa ada bagian dari cowok yang selalu duduk di sebelah gue ini yang sama sekali tidak gue pahami.