Dunia ini penuh dengan kebetulan, tapi belakangan ini, kebetulan di hidup gue rasanya mulai nggak masuk akal.
Pagi ini dimulai dengan bencana kecil: gue lupa bawa uang saku. Dompet gue ketinggalan di atas meja rias karena semalam gue keasyikan stalking Instagram Raka sampai ketiduran. Gue baru sadar pas sudah sampai di depan gerbang sekolah dan mau bayar angkot. Rasanya mau nangis, apalagi abang angkotnya sudah mulai pasang muka curiga.
Tapi tiba-tiba, sebuah tangan terjulur dari belakang gue, menyodorkan selembar sepuluh ribuan.
"Nih, Bang. Kembaliannya ambil aja," suara berat yang sangat gue kenal itu terdengar di telinga gue.
Gue menoleh dan menemukan Bram berdiri di sana dengan wajah bantalnya, masih pakai hoodie hitam yang sama kayak kemarin. Dia bahkan nggak melihat ke arah gue, cuma sibuk benerin tali tasnya yang kendor.
"Bram! Kok lo...?"
"Gue tadi di angkot belakang lo. Gue liat lo bongkar-bongkar tas kayak lagi nyari harta karun yang hilang, ya udah gue turun aja," potongnya santai. Dia mulai jalan masuk ke sekolah, meninggalkan gue yang masih bengong.
"Nanti gue ganti ya!" teriak gue sambil mengejarnya.
"Nggak usah. Anggap aja DP buat sewa alat tulis gue minggu depan," sahutnya tanpa menoleh, tangan kanannya melambai asal di udara.
Itu kebetulan pertama. Kebetulan kedua terjadi pas jam istirahat. Gue yang nggak punya uang saku cuma bisa duduk diam di kelas, pura-pura sibuk ngerjain tugas Biologi padahal perut gue sudah konser metal. Tiba-tiba, ada susu kotak rasa stroberi dan sebungkus roti sobek cokelat mendarat di meja gue.
Gue mendongak. Bram lagi-lagi pelakunya. Dia baru saja balik dari kantin, mulutnya penuh dengan bakwan.
"Apa lagi ini?" tanya gue heran.
"Tadi beli dua gratis satu di koperasi. Gue males makannya, kebanyakan gula bikin bego. Lo habisin aja," katanya sambil duduk dan langsung masang headset, menutup akses buat gue nanya lebih lanjut.
Gue menatap roti dan susu itu. Sejak kapan koperasi sekolah ngasih promo beli dua gratis satu buat roti dan susu? Gue sudah dua tahun sekolah di sini dan nggak pernah dengar promo itu. Tapi karena lapar sudah di level kritis, gue nggak protes. Gue makan sambil mikir: apakah hari ini adalah hari keberuntungan nasional buat Naira?
Puncaknya adalah sore hari, pas hujan deras tiba-tiba turun tepat saat bel pulang berbunyi. Gue berdiri di lobi sekolah dengan wajah melas. Gue nggak bawa payung, dan jarak dari lobi ke gerbang depan itu lumayan jauh kalau harus ditembus pakai lari.
"Duh, kenapa harus hujan sih?" gumam gue frustrasi.
"Nih."
Gue menoleh. Bram sudah ada di sebelah gue, menyodorkan sebuah payung lipat warna biru dongker.
"Lo punya payung?" tanya gue nggak percaya. Cowok kayak Bram punya payung lipat di tasnya? Biasanya dia tipe cowok yang lebih milih nerobos hujan sampai basah kuyup terus besoknya izin sakit.
"Dipinjemin Bu kantin tadi," jawabnya singkat. "Pakai aja. Gue mau nunggu hujan reda sambil main game di kelas bareng anak-anak."
"Tapi nanti lo pulangnya gimana?"
"Gampang. Udah sana, mumpung belum makin deras." Dia mendorong payung itu ke tangan gue, lalu berbalik dan jalan santai naik lagi ke lantai dua.
Gue menatap payung biru itu. Ada aroma maskulin yang samar tercium dari gagangnya—bukan bau parfum yang menyengat, tapi bau yang menenangkan. Gue menyipitkan mata, merasa ada yang aneh. Semua 'kebetulan' ini... kenapa selalu melibatkan Bram?
Gue teringat ucapan mama tempo hari, katanya kalau ada hal yang terlalu sering terjadi secara berurutan, itu namanya bukan kebetulan, tapi direncanakan. Tapi masa iya? Bram? Si cowok nyebelin yang suka naruh penghapus di lubang kuping gue kalau gue lagi fokus belajar?
Nggak. Gue pasti cuma geer. Mungkin Bram memang lagi masa pertumbuhan menuju manusia yang lebih baik saja. Gue membuka payung biru itu dan melangkah menembus hujan, tanpa menyadari kalau dari jendela kelas di lantai dua, ada sepasang mata yang terus mengikuti langkah gue sampai gue hilang di belokan gerbang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar