"Naira. Coba sebutkan tiga isi dari Perjanjian Linggarjati."

Suara berat Pak Joko memecah keheningan kelas yang setegang ruang isolasi. Kipas angin di langit-langit berputar dengan suara krek-krek yang ritmis, seolah menghitung mundur sisa hidup gue.

Gue menelan ludah. Tangan gue yang berada di bawah meja refleks meremas kertas loose leaf kuning yang tadi gue temukan. Sambil memaksakan senyum yang pasti terlihat sangat kaku, gue menarik napas. Ingatan gue kembali ke poin-poin ber-stabilo kuning di catatan misterius itu.

"Satu," suara gue agak bergetar di awal, tapi mulai stabil. "Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera, dan Madura."

Pak Joko mengangguk pelan. Alisnya yang tebal sedikit terangkat.

"Dua... Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949." Gue melanjutkan, merasa sedikit lebih percaya diri.

"Satu lagi?" tuntut Pak Joko.

"Pihak Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat... atau RIS."

Keheningan menggantung selama dua detik sebelum Pak Joko mengangguk pelan dan menunduk ke buku nilainya. Coretan pulpennya di atas kertas terdengar sangat jelas. "Bagus. Duduk."

Gue menghembuskan napas yang sedari tadi gue tahan dan menjatuhkan diri ke kursi. Rasanya lutut gue lemas. Gue lolos. Gue benar-benar lolos dari pembantaian lisan Pak Joko.

Di sebelah gue, Bram yang sedari tadi bersandar santai di kursinya sambil memutar pulpen (pulpen gue, tepatnya), sedikit menoleh.

"Tumben lo pinter," bisiknya dengan nada datar, nyaris tak terdengar kalau gue nggak duduk sedekat ini. "Biasanya kalau ditanya Linggarjati, jawaban lo nyerempet ke sejarah Candi Borobudur."

Gue mendelik ke arahnya. "Gue belajar, ya, semalam," dusta gue refleks.

Bram menghentikan putaran pulpennya sejenak. Dia menatap gue dengan ekspresi yang sulit diartikan—sedikit geli, sedikit menyebalkan. "Oh, belajar. Pantesan mata lo merah gitu kayak habis nangis darah."

"Ini namanya mata ngantuk, Bramantyo," desis gue kesal, menendang pelan kaki mejanya. "Udah sana lo urus aja tuh pulpen gue jangan sampai hilang lagi."

Jam pelajaran Sejarah akhirnya berlalu tanpa ada korban jiwa tambahan. Begitu bel istirahat berbunyi, kelas langsung riuh layaknya pasar malam. Beberapa anak langsung berhamburan ke luar, berebut posisi terdepan di antrean kantin.

Gue masih duduk di tempat, merogoh saku rok dan mengeluarkan kertas kuning itu lagi. Gue menatap tulisan tangan yang rapi itu. Siapa sih? Teman SMP gue yang tahu kebiasaan gue jarang belajar? Atau ada salah satu anak pinter di kelas yang kasihan lihat gue panik pagi tadi?

"Mau kantin nggak lo?"

Suara Bram membuat gue buru-buru menyelipkan kertas itu ke bawah kotak pensil. Gue mendongak dan melihatnya sudah berdiri, jaket hitamnya disampirkan di satu bahu.

"Males desak-desakan. Paling beli minum aja nanti," jawab gue sambil merapikan buku-buku di atas meja.

"Ya udah, titip lapaknya. Awas kalau tempat duduk gue didudukin si Bima." Bram berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban gue.

Gue menggeleng pelan melihat punggungnya yang menghilang di balik pintu kelas. Terkadang gue nggak ngerti sama cowok itu. Dia bisa sangat menyebalkan sampai rasanya gue pengen pindah sekolah, tapi di sisi lain, kehadirannya—entah bagaimana—sudah jadi bagian dari rutinitas yang terbiasa gue hadapi setiap hari. Kami duduk sebangku sejak kelas dua dimulai. Awalnya karena sisa bangku kosong cuma di sini, tapi lama-lama kami terbiasa. Terbiasa berantem.

Sekitar lima belas menit kemudian, kelas masih sepi karena sebagian besar penghuninya masih menetap di kantin. Gue sedang menyalin catatan Matematika dari papan tulis saat sebuah mangkuk plastik diletakkan di atas meja gue dengan sedikit suara bantingan pelan.

Gue mendongak. Bram berdiri di sana, meletakkan semangkuk mi ayam dan sebotol es teh manis di hadapan gue.

"Nih," katanya singkat, menarik kursinya sendiri lalu duduk dan mulai membuka bungkus batagor miliknya.

Gue menatap mangkuk mi ayam itu, lalu menatap Bram bingung. "Gue kan nggak nitip?"

"Tadi Bude Mi Ayam salah bikin pesanan. Ada yang pesan tapi nggak diambil-ambil. Daripada mubazir, gue bawa aja ke sini. Lo makan aja." Bram berbicara dengan mulut penuh batagor, matanya fokus ke ponsel yang sudah kembali menyala menampilkan layar game.

Gue menatap mi ayam itu curiga. "Lo nggak masukin racun kan ke sini?"

"Kalau gue mau ngeracunin lo, gue pakai sianida elit, Nai. Bukan pakai kuah mi ayam. Udah makan aja bawel banget."

Gue mendengus, tapi perut gue yang berbunyi nggak bisa diajak kompromi. Gue meraih sendok dan garpu plastik. Saat gue mengaduk mi tersebut, gerakan tangan gue terhenti.

Gue memperhatikan mangkuk itu baik-baik. Mi ayam dengan pangsit rebus dua biji, tanpa daun bawang, dan kuahnya dipisah di mangkuk kecil. Sambalnya ada di pinggir, persis setengah sendok teh.

Ini... pesanan gue. Presisi banget.

Gue selalu memesan mi ayam seperti ini. Nggak pakai daun bawang karena gue benci bau langu-nya, kuah dipisah karena gue suka mi yang agak kering, dan sambal sedikit aja karena perut gue nggak kuat pedas.

"Bram," panggil gue pelan.

"Hm," sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

"Bude Mi Ayam... salah pesanan kebetulan banget ya?" tanya gue hati-hati, mencoba mencari reaksi dari wajahnya.

"Namanya juga kebetulan," jawabnya datar. Jari jempolnya menekan layar ponsel dengan cepat. "Cepat makan sebelum dingin."

Gue menatap profil samping wajahnya. Garis rahangnya keras, tapi ekspresinya sangat santai seolah apa yang baru saja dia katakan adalah kebenaran mutlak. Nggak ada tanda-tanda dia berbohong. Tapi pikiran gue mulai berkecamuk. Seberapa besar peluang Bude kantin salah membuat pesanan yang seratus persen sama persis dengan spesifikasi kebiasaan makan gue?

Lalu ingatan gue kembali pada jaket yang menutupi sinar matahari pagi tadi. Pada pulpen kesayangan gue yang selalu 'dipinjam' tapi entah kenapa nggak pernah benar-benar hilang karena dia selalu mengembalikannya tepat sebelum gue butuh. Dan... pada kertas kuning itu.

Gue melirik kotak pensil gue, tempat kertas kuning itu bersembunyi.

Gue mencoba menepis pikiran bodoh yang mulai terbentuk di kepala gue. Nggak. Nggak mungkin Bram. Ini cowok yang kerjaannya ngeledek gue soal tinggi badan, yang numpahin es jeruk ke sepatu gue bulan lalu, dan yang nggak pernah bisa diajak ngobrol serius. Nggak mungkin dia repot-repot merhatiin gue sedetail itu.

"Bram," panggil gue lagi.

Kali ini dia mendesah kasar, mem-pause game-nya dan menoleh ke gue dengan tatapan lelah yang dibuat-buat. "Apa lagi, Naira Cantika? Lo mau gue suapin juga?"

Gue menelan ludah, menatap matanya langsung. "Tulisan tangan lo jelek kan, ya?"

Bram mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Lo nanya gitu doang sampai nyuruh gue pause rank match? Iya, jelek. Kayak ceker ayam kesurupan. Puas?"

Dia kembali ke ponselnya. Gue kembali menatap mangkuk mi ayam gue.

Benar. Nggak mungkin Bram. Tulisan di kertas kuning itu sangat rapi. Berarti ini semua murni kebetulan. Mi ayam ini kebetulan. Jaket itu kebetulan. Catatan itu... mungkin dari malaikat baik hati yang nyasar ke SMA ini.

Ya, pasti begitu. Gue mengangguk pada diri sendiri dan mulai memakan mi ayam itu dalam diam. Sesekali gue melirik Bram, yang kini sibuk mengumpat pelan karena karakternya di game mati terbunuh.

Satu hal yang nggak gue sadari saat itu adalah: dari balik layar ponselnya yang miring, mata Bram sebenarnya tidak sepenuhnya fokus pada game. Di sela-sela umpatannya, dia sempat melirik sekilas ke arah gue yang sedang makan dengan lahap, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Sangat tipis, sampai-sampai angin yang masuk dari jendela pun mungkin tak menyadarinya.