Harum perpustakaan sekolah—campuran bau kertas lama dan aroma pembersih lantai—selalu sukses bikin gue tenang. Tapi siang ini, jantung gue justru berdegup kencang.

Gue duduk di meja paling pojok, pura-pura baca novel thriller padahal mata gue terus melirik ke arah pintu masuk. Hari ini gue ada janji sama Raka. Bukan kencan, cuma 'belajar bareng' buat persiapan ujian tengah semester Matematika minggu depan. Tapi buat gue, ini adalah kemajuan besar.

"Hai, Naira. Udah lama?"

Suara itu. Gue mendongak dan langsung disambut senyum maut Raka. Dia memakai kemeja seragam yang lengannya digulung sampai siku, menampakkan jam tangan hitam yang kelihatan keren banget di pergelangan tangannya.

"Eh, Raka. Baru aja kok," jawab gue sambil buru-buru menutup novel dan mengeluarkan buku paket Matematika. Gue yakin muka gue sekarang sudah semerah tomat matang.

Kami mulai belajar. Ternyata Raka orangnya asyik diajak ngobrol. Dia nggak cuma pinter, tapi juga sabar banget ngejelasin rumus-rumus turunan yang bikin otak gue keriting. Sesekali dia melempar candaan ringan yang bikin gue tertawa kecil, tapi tetap harus jaga volume suara biar nggak ditegur penjaga perpus.

"Lo lucu juga ya kalau lagi bingung, hidung lo suka kembang kempis," celetuk Raka tiba-tiba, sambil menatap gue intens.

Gue refleks menutup hidung dengan telapak tangan. "Apaan sih, Ka! Jangan diliatin!"

Raka tertawa, suaranya renyah banget. Di momen itu, gue merasa dunia cuma milik kami berdua. Gue benar-benar lupa kalau ada kehidupan lain di luar perpustakaan ini. Sampai akhirnya, mata gue nggak sengaja menangkap sosok di balik rak buku Sejarah yang letaknya nggak jauh dari meja kami.

Itu Bram.

Dia berdiri di sana, memegang sebuah buku tebal yang nggak dia baca. Dia nggak bergerak, cuma diam mematung sambil menatap ke arah meja kami. Gue nggak bisa melihat matanya dengan jelas karena terhalang rak, tapi gue bisa merasakan auranya yang tiba-tiba terasa sangat berat.

Pandangan kami bertemu selama sedetik. Bram langsung membuang muka, menaruh buku itu kembali ke rak dengan kasar, lalu berbalik pergi tanpa suara.

Gue merasa sedikit bersalah, tapi rasa itu segera tertutup oleh rasa senang karena Raka baru saja menawarkan diri buat mengantar gue pulang.

"Nai, gue bawa motor hari ini. Mau pulang bareng?" tawar Raka saat kami sedang membereskan buku.

"Eh? Boleh?"

"Ya bolehlah. Masa nggak boleh buat temen belajar yang paling rajin."

Kami berjalan keluar dari perpustakaan. Pas melewati lobi, gue kembali melihat Bram. Dia lagi berdiri sendirian di dekat parkiran, kayak lagi nunggu seseorang. Pas dia melihat gue jalan di samping Raka, dia nggak menyapa. Dia cuma menatap gue datar, sangat datar sampai gue merasa merinding.

"Bram! Pulang duluan ya!" teriak gue sambil melambai.

Bram nggak membalas lambaian gue. Dia cuma mengangguk tipis ke arah Raka, lalu berbalik dan berjalan menuju motor matic-nya yang diparkir paling ujung.

Gue naik ke motor Raka, memakai helm cadangan yang dia kasih. Saat motor Raka mulai bergerak meninggalkan sekolah, gue sempat melihat Bram melalui spion. Dia masih berdiri di sana, menatap knalpot motor Raka yang menjauh.

Bram menghela napas panjang, sebuah suara yang hilang ditelan deru mesin motor. Bibirnya bergerak sangat pelan, menggumamkan satu kata yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

"Akhirnya."

Bukan akhirnya yang bahagia. Itu adalah suara seseorang yang akhirnya menyerah pada kenyataan bahwa dia memang ditakdirkan untuk tetap berada di barisan penonton, melihat orang yang dia sayangi mulai menemukan kebahagiaannya... meski bukan dengan dirinya.