Sembilan belas tahun lalu, di lantai empat RS Pondok Indah, seorang bayi perempuan lahir dengan berat tiga koma dua kilogram dan suara tangisan yang — menurut dokter yang menangani — "sangat sehat dan bertenaga."

Itu aku.

Dan di ruang tunggu lantai yang sama, ada empat laki-laki dengan usia yang berbeda-beda, dengan ekspresi yang berbeda-beda, tapi dengan satu perasaan yang sama persis: panik.

Aku tahu cerita ini karena Kak El yang paling sering menceritakannya. Biasanya sambil masak, sambil senyum-senyum sendiri, dan biasanya berakhir dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca yang kemudian dia pura-pura tidak ada.

Waktu itu, Satya Arendra berusia tujuh belas tahun.

Dia siswa kelas dua belas yang harusnya fokus ujian, tapi pagi itu dia duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit dengan seragam yang belum sempat diganti karena Mama tiba-tiba kontraksi jam tujuh pagi dan semua orang panik.

Satya tidak panik.

Atau lebih tepatnya — Satya tidak kelihatan panik. Dia duduk tegak, tangan di lutut, menatap pintu ruang bersalin dengan ekspresi yang tidak terbaca. Di sampingnya, Reyhan — yang waktu itu lima belas tahun — mondar-mandir tidak bisa diam.

"Mas, kira-kira cewek atau cowok ya?" tanya Reyhan untuk mungkin kelima belas kalinya.

"Cewek," jawab Satya singkat.

"Kok Mas tau?"

"Feeling."

"Feeling Mas Satya biasanya bener nggak sih?"

"Selalu."

Reyhan manyun. "Sombong."

Di pojok ruangan, Miguel — dua belas tahun, tingginya sudah mulai melampaui teman-teman seusianya — duduk dengan buku di tangan tapi tidak ada satu pun halaman yang berhasil dia baca. Matanya terus melayang ke arah pintu. Sesekali ke arah jam dinding. Sesekali ke arah Satya yang terlihat tenang dan Reyhan yang tidak bisa diam.

Dan di kursi paling pojok, dengan kaki yang belum cukup panjang untuk menyentuh lantai, duduk Radiga — delapan tahun, rambut agak acak-acakan karena baru bangun tidur saat dibawa ke sini — dengan ekspresi yang sulit dibaca untuk anak seusianya. Dia tidak bicara. Hanya sesekali menguap, lalu kembali menatap pintu.

Satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Kemudian pintu itu terbuka. Seorang suster keluar dengan senyum.

"Keluarga Arendra? Selamat, bayinya sudah lahir. Perempuan. Ibu dan bayi sehat."

Reyhan langsung melompat dari kursinya. "GUE BILANG APA! CEWEK! GUE YANG BENER—"

"Aku yang bilang cewek," potong Satya datar.

"—maksudnya MAS SATYA yang bener, dan gue ikut seneng!"

Miguel sudah berdiri, matanya langsung merah di sudutnya. Dia menggigit bibir bawah, mencoba tidak kelihatan terlalu terharu — tapi gagal total.

Radiga melompat turun dari kursinya. "Boleh liat sekarang?"

"Sebentar lagi ya, Dek. Bayinya lagi dibersihkan dulu."

Radiga mengangguk. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri lagi. Lalu duduk lagi.

Aku dibawa ke ruang bayi dulu sebelum akhirnya boleh dilihat.

Dan momen pertama keempat abangku melihatku — menurut cerita Kak El yang paling dramatis, dan yang paling sering berubah detailnya setiap kali diceritakan — adalah momen yang tidak ada satu pun dari mereka yang pernah benar-benar lupa.

Satya yang pertama.

Dia berdiri di depan kaca ruang bayi, melihat bayi mungil yang matanya masih tertutup, pipinya merah, kepalan tangannya sekecil kelereng. Satya diam lama sekali. Tidak bergerak, tidak bicara.

Lalu dengan suara yang cukup pelan sehingga hanya Reyhan yang ada di sampingnya yang bisa dengar, dia bilang:

"Nggak ada yang boleh ganggu dia."

Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Pernyataan. Keputusan. Seperti dia baru saja menandatangani kontrak yang tidak ada tanggal kadaluwarsanya.

Reyhan — yang biasanya selalu punya sesuatu untuk dikatakan — untuk sekali ini diam. Lalu dia mengeluarkan ponselnya yang waktu itu masih Nokia jadul dan memotret kaca ruang bayi itu. Foto yang buram, setengah kena refleksi, tapi masih dia simpan sampai sekarang di folder yang dikunci.

"Gue mau foto yang bagus kalau udah boleh deket," kata Reyhan akhirnya.

Miguel yang berdiri di belakang mereka tidak bicara sama sekali.

Dia menangis.

Diam-diam, tapi tetap menangis. Air matanya turun begitu saja seperti dia tidak sadar, dan ketika Reyhan menoleh dan melihatnya, Reyhan tidak mengolok. Dia hanya menepuk punggung Miguel pelan.

"Eh, Gel. Nggak papa."

Miguel menggeleng. "Gue baik-baik aja."

"Iya tau. Makanya nggak papa."

Dan Radiga —

Radiga berdiri paling depan karena dia paling kecil dan yang lain menyingkir supaya dia bisa lihat. Delapan tahun, hidung hampir menempel di kaca, mata yang menatap bayi itu dengan ekspresi serius yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.

Suster yang berjaga tersenyum ke arahnya. "Adik perempuannya lucu kan?"

Radiga menatap sebentar.

"Jelek," jawabnya.

Suster itu tertawa kecil. "Eh, masa?"

"Merah. Kepalanya aneh." Tapi Radiga tidak bergerak dari depan kaca. "Boleh gue yang pegang duluan nanti?"

"Nanti ya, kalau bayinya sudah siap."

Radiga mengangguk. Dan tidak beranjak dari depan kaca itu sampai suster minta mereka masuk ke kamar Mama.

Kak El yang paling sering cerita soal hari itu, tapi ada satu detail yang tidak pernah dia ceritakan — yang aku tahu bukan dari dia, tapi dari foto yang tidak sengaja kutemukan di album fisik Mama.

Foto itu diambil mungkin beberapa jam setelah aku lahir. Mama sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Papa ada di sana. Dan di sofa pojok kamar, ada Satya — dengan kemeja seragam yang masih belum dia ganti, sudah malam — dan di tangannya ada aku.

Aku yang masih sekecil itu, dibungkus kain putih, tidur di tangannya yang jelas-jelas belum pernah megang bayi sebelumnya — tangannya agak kaku, posisinya terlalu formal, seperti dia takut salah.

Tapi di wajahnya —

Di wajah Mas Satya yang bahkan di usia tujuh belas tahun sudah terlihat terlalu serius untuk ukuran anak SMA — ada ekspresi yang tidak pernah kulihat dalam kesehariannya.

Lembut.

Hanya itu. Tidak ada kata lain yang lebih tepat.

Dan di bawah foto itu, dengan tulisan tangan Mama yang bulat-bulat, tertulis keterangan kecil:

"Satya tidak mau letakkan adiknya selama dua jam. Katanya takut kedinginan."

Aku menyimpan foto itu di HP-ku.

Dan tiap kali Mas Satya terlalu strict, terlalu kaku, terlalu banyak aturan — aku membuka foto itu.

Dan aku ingat: ini bukan kontroling. Ini cinta. Cinta yang tidak pandai menemukan kata-katanya sendiri, jadi ia memilih hadir dalam bentuk aturan, dalam bentuk "hati-hati," dalam bentuk Alphard hitam yang parkir di depan gerbang kampus di hari pertama kuliah.

Aku paham.

Walaupun kadang tetap menyebalkan.

Malam itu, setelah hari pertama kuliah yang ternyata tidak se-dramatis yang aku takutkan, aku tiduran di kasur kos dengan langit-langit putih di atas kepalaku.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Kak El.

Kak El 🍳: Hari pertamanya gimana, Cha? Temen-temennya baik?

Aku tersenyum kecil dan mulai mengetik.

Acha: Baik kok Kak. Seru. Makanan Kak El enak banget btw, temen-temen kos pada nanya siapa yang masakin.

Kak El 🍳: 😄 bagus dong. Tidur yang cukup ya. Kak El besok mungkin lewat lagi deket sana kalau kamu perlu apa-apa.

Acha: Kak El...

Kak El 🍳: kebetulan ada casting deket sana kok 😇

Aku menutup layar ponsel dan menahan tawa.

Kebetulan.

Selalu kebetulan.

Aku memejamkan mata. Di luar, Jakarta masih ramai seperti biasa — klakson, suara motor, tawa dari kamar kos sebelah.

Tapi di sini, di kasur kos kecil ini, aku merasa aman.

Seperti selalu.

Karena di mana pun aku berada — selalu ada empat orang yang memastikan itu.

Dan tanpa sadar, aku tertidur dengan senyum kecil di sudut bibirku.