Hari pertama kuliah harusnya jadi momen paling bebas dalam hidup seseorang.

Harusnya.

Aku, Rasya Arendra — yang lebih suka dipanggil Acha — berdiri di depan gerbang kampus dengan tas ransel baru, sepatu putih yang belum kotor, dan satu harapan sederhana: tolong jangan ada yang mengenalku di sini.

Bukan karena aku pemalu. Bukan juga karena aku antisosial. Tapi kalau kamu tumbuh besar sebagai adik bungsu dari empat laki-laki paling protektif se-Jakarta, kamu akan paham betapa mewahnya kata "anonim."

Di rumah, aku adalah Acha — adik yang tidak boleh pulang malam, tidak boleh naik ojol kalau malam, tidak boleh pergi ke tempat ramai tanpa kasih tahu dulu, dan paling parah: tidak boleh punya teman laki-laki tanpa melalui proses seleksi yang rasanya lebih ketat dari rekrutmen pegawai BUMN.

Tapi hari ini berbeda. Hari ini aku kuliah. Dan keempat abangku — dengan sangat terpaksa — mengakui bahwa aku sudah cukup dewasa untuk pergi sendiri.

Kata kunci: sendiri.

Jadi kenapa ada mobil hitam mengkilap yang terparkir di pinggir jalan tepat di depan gerbang kampusku?

Aku menghentikan langkah. Mataku menyipit.

Itu... Alphard hitam. Plat ganjil. Dengan supir berseragam yang berdiri di luar, memegang pintu belakang yang terbuka.

Dan dari dalam mobil itu, turun seseorang dengan kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, jam tangan yang harganya mungkin bisa beli satu unit apartemen, dan ekspresi wajah yang selalu terlihat seperti baru selesai rapat direksi.

Mas Satya.

Satya Arendra. Abang pertamaku. Usia tiga puluh enam tahun. CEO Arendra Holding — perusahaan konglomerat yang namanya ada di mana-mana mulai dari properti sampai energi. Sosoknya tinggi, rahang tegas, rambut yang selalu rapi seperti baru dari salon padahal dia bangun jam lima pagi, dan tatapan yang bisa bikin orang merasa sedang diaudit.

Dia berdiri di sana. Di depan gerbang kampusku. Dengan tampilan yang jelas-jelas bukan tampilan orang yang "hanya lewat."

Aku menarik napas panjang.

"Mas," panggilku, berjalan mendekatinya dengan langkah yang sudah kusiapkan sesabar mungkin. "Mas bilang nggak bakal ikut."

"Aku nggak ikut." Mas Satya melirikku sekilas, lalu mengembalikan pandangannya ke layar ponsel di tangannya. "Aku ada meeting di gedung sebelah."

"Gedung sebelah kampusku."

"Kebetulan."

"Mas Satya."

"Rasya."

Aku menghela napas. Tidak ada gunanya berdebat dengan Mas Satya. Laki-laki itu punya kemampuan supernatural untuk terlihat selalu benar meskipun jelas-jelas salah.

"Yaudah," aku menyerah. "Mas mau nemenin sampai kapan?"

"Sampai kamu masuk." Dia akhirnya memasukkan ponselnya ke saku. Lalu menatapku — bukan tatapan CEO, tapi tatapan abang yang sudah terlatih selama sembilan belas tahun untuk memastikan adiknya baik-baik saja. "Sarapanmu tadi kurang. Makan siang yang bener."

"Iya, Mas."

"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku dulu."

"Iya."

"Jangan langsung ke orang lain dulu. Ke aku dulu."

"Mas Satya, aku kuliah. Bukan dikirim ke medan perang."

Sudut bibirnya bergerak sedikit. Hampir senyum. Tapi Mas Satya tidak pernah benar-benar senyum sembarangan — dia terlalu efisien untuk itu.

"Sama saja," gumamnya.

Aku mau protes lagi, tapi tiba-tiba telingaku menangkap suara yang tidak asing —

"Guys, guys, ini dia adekku yang hari ini mulai kuliah! Say hi, Cha!"

Kepala aku berbalik.

Di seberang jalan, bersandar santai di motor gedenya, ada laki-laki tiga puluh empat tahun dengan senyum lebar yang terlalu menyenangkan untuk seseorang yang harusnya ada di meeting. Dia pegang ponsel, kamera menghadap ke arahku, dan di layarnya aku bisa lihat tampilan live streaming dengan ratusan penonton yang sudah bergabung.

Bang Han.

Reyhan Arendra. Abang keduaku. Pemilik jaringan kafe yang tersebar di seluruh ibu kota, punya jejaring pertemanan yang entah sampai mana ujungnya, wajah yang selalu kelihatan segar padahal tidurnya tidak pernah teratur, dan mulut yang tidak bisa diam lebih dari tiga menit.

"BANG HAN!"

"Hai, haiiii!" Dia melambai ke arahku sambil tetap pegang ponsel. "Anak-anak yang lagi nonton, ini adek gue yang baru masuk kuliah. Cantik kan? Tapi jangan ada yang coba-coba kenalan ya, nanti gue yang kalian hadapin."

Tawa penonton membanjiri kolom komentar yang bisa kulihat dari jarak ini.

"Bang Han matiin live-nya sekarang."

"Bentar bentar, gue lagi seru—"

"Sekarang."

Bang Han manyun tapi akhirnya mematikan live-nya. Dia melipat tangan di dada dengan tampilan anak kecil yang dilarang jajan.

"Acha gitu deh. Padahal penonton gue lagi nanyain kamu tuh."

"Mereka nggak perlu tahu gue," jawabku datar.

"Betuuul," suara lain muncul dari belakangku.

Aku memutar badan.

Di sana, berdiri seseorang yang tingginya hampir dua meter, rambut hitam rapi, dengan kantong belanja di tangan kanan yang isinya — kalau aku tidak salah lihat — kotak makan dan termos.

Kak El.

Miguel Arendra. Abang ketigaku. Model sekaligus aktor yang wajahnya ada di mana-mana — billboard, majalah, layar kaca — tapi di rumah dia lebih sering ada di dapur daripada di depan cermin. Badannya besar dan tinggi, tapi tangannya paling lembut kalau lagi masakin aku makanan.

"Kak El bawa apa itu?" tanyaku pelan.

"Makan siang." Dia mengangkat kantong belanjaannya dengan santai. "Nanti pas istirahat, makan ya. Gue parkir di sana, kalau mau—"

"Kak El juga ke sini?"

"Kebetulan lewat."

"Kebetulan lewat sambil bawa bekal?"

Kak El tersenyum manis. Senyum yang sama persis dengan senyum yang biasa dia pakai di iklan — tapi versi ini terasa lebih tulus dan dua kali lebih menyebalkan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Satu, dua, tiga—

"Sepatumu salah sebelah."

Suara keempat.

Aku mendongak.

Bersandar di tiang dengan tangan di saku celana, ada laki-laki dua puluh tujuh tahun dengan jaket oversized, ekspresi datar, dan tatapan yang turun ke arah kakiku.

Aku refleks lihat ke bawah.

Sepatuku tidak salah sebelah. Dua-duanya benar.

"Kak Diga."

"Refleksnya bagus." Radiga Arendra — Kak Digaku yang paling muda, desainer interior dengan perusahaan kecil tapi kliennya orang-orang tajir — mengangkat sebelah alisnya. "Artinya kamu masih bisa dikejutin. Berarti belum terlalu percaya diri. Bagus. Kampus itu tempatnya orang-orang yang sok tau."

"Kak Diga ke sini juga kenapa?"

"Ada klien di deket sini."

"Kata Mas Satya juga ada meeting. Kata Bang Han juga kebetulan lewat. Kata Kak El juga kebetulan lewat." Aku menatap keempatnya satu per satu. "Kalian koordinasi ya?"

Hening sejenak.

"Nggak," jawab keempatnya bersamaan.

Terlalu kompak untuk tidak koordinasi.

Aku mau marah. Sungguh mau marah. Tapi di sudut pandangku, aku melihat beberapa mahasiswa baru di sekitar gerbang yang mulai melirik ke arah kami — lebih tepatnya ke arah Kak El yang memang selalu jadi pusat perhatian di mana pun dia berada, dan ke arah Mas Satya yang auranya jelas-jelas bukan aura orang biasa.

Malu duluan daripada marah.

"Kalian pulang sekarang," bisikku sambil senyum paksa ke arah orang-orang yang melirik.

"Lima menit lagi," kata Mas Satya.

"Sekarang, Mas."

"Sepuluh menit—"

"Mas Satya."

Tatap-tatapan singkat terjadi di antara keempat abangku. Semacam komunikasi non-verbal yang sudah mereka kembangkan selama puluhan tahun — dan yang sampai sekarang belum berhasil aku decode sepenuhnya.

Akhirnya Mas Satya mengangguk pelan. "Oke."

Kak El menyerahkan kantong belanjaannya kepadaku. "Makannya nggak boleh telat ya."

Bang Han mendekat dan mengacak-acak rambutku. "Semangat ya, Dek. Kalau ada yang ganggu, foto mukanya kirim ke abang."

Kak Diga tidak bergerak dari posisinya. Dia hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk sekali — dan entah kenapa, anggukan satu kali dari Kak Diga selalu terasa lebih berat dari panjangnya pidato orang lain.

Satu per satu mereka berpencar. Mas Satya kembali ke Alphard-nya. Bang Han balik ke motornya. Kak El berjalan ke arah parkiran. Kak Diga memutar badan dan melangkah pergi tanpa menoleh.

Aku berdiri di sana, memegang kantong bekal Kak El, dengan perasaan yang campur aduk antara kesal, terharu, dan geli sendiri.

Aku membalikkan badan ke arah gerbang kampus.

Hari pertama kuliah. Dan empat abangku baru saja memastikan bahwa setidaknya di hari ini, tidak ada satu pun yang berani ganggu aku.

Aku melangkah masuk.

Sepuluh langkah kemudian, ponselku bergetar.

[Grup: Arendra Squad 👑]

Mas Satya: Sudah masuk?

Bang Han: Udah belum, Chaaa?

Kak El: Jangan lupa makan siang ya Cha 🥺

Kak Diga: Kunci kos sudah dibawa?

Aku menatap layar ponselku.

Lalu tersenyum — senyum kecil yang tidak ada yang lihat — dan mengetik balasan singkat.

Acha: Udah masuk semua. Makasih ya, memalukan.

Tiga detik kemudian, notifikasi meledak.

Dan di sudut mataku, aku melihat seorang mahasiswa baru laki-laki yang dari tadi melirik ke arahku sejak abang-abangku ada di sana — kini berjalan mendekat dengan senyum dan tampilan mau berkenalan.

Ah.

Abang-abangku belum pulang.