Kalau kamu tanya padaku apa aturan resmi keluarga Arendra, aku tidak bisa menjawab. Karena tidak ada. Tidak ada buku panduan, tidak ada papan pengumuman, tidak ada rapat keluarga yang diakhiri dengan tanda tangan dan stempel.

Tapi kalau kamu tanya apa yang benar-benar berlaku di keluarga ini — itu aku bisa ceritakan.

Dan semua yang akan aku ceritakan adalah hal-hal yang tidak pernah diucapkan secara eksplisit, tapi entah bagaimana semua orang tahu, dan entah bagaimana semua orang mengikuti.

Hukum Pertama: Ada masalah, lapor ke dalam dulu, baru ke luar.

Ini yang paling kuat.

Aku tidak ingat kapan persisnya aturan ini mulai berlaku, tapi aku ingat momen pertama kali aku melanggarnya.

Waktu kelas empat SD, ada teman yang mengambil penghapus baruku tanpa izin dan tidak mau mengembalikan. Aku tidak bilang ke siapa pun di rumah. Aku justru mengadu ke guru.

Gurunya menyelesaikan masalah itu dengan baik. Penghapusnya kembali. Selesai.

Tapi malamnya, Bang Han — yang entah dari mana bisa tahu — duduk di sebelahku sambil makan snack dan bertanya santai: "Katanya ada yang ambil penghapus kamu?"

Aku kaget. "Dari mana Bang Han tau?"

"Ada yang laporan." Dia mengunyah. "Kenapa nggak bilang ke abang dulu?"

"Kan udah selesai."

"Selesai bukan berarti abang nggak perlu tahu." Bang Han menatapku serius — yang cukup langka. "Cha, dengerin. Abang-abangmu ini mau tahu. Bukan buat ikut campur. Tapi kalau ada apa-apa sama kamu dan kita nggak tau, itu nggak enak. Kayak kita nggak dianggap."

Aku tidak langsung paham waktu itu.

Tapi sekarang aku paham.

Ini bukan soal kontrol. Ini soal kepercayaan yang berjalan dua arah.

Hukum Kedua: Konfirmasi lokasi kalau pulang malam.

Definisi "malam" di keluarga kami adalah setelah jam delapan.

Aku tahu, itu terdengar sangat ketat. Dan waktu SMA, aku memang sering protes. Tapi aturan ini tidak pernah berhasil aku runtuhkan — bahkan dengan argumen terkuat sekalipun.

Pernah suatu kali aku coba negosiasi sama Mas Satya.

"Teman-teman lain boleh sampai jam sepuluh, Mas."

"Teman-teman lain bukan tanggung jawabku."

"Tapi itu nggak fair—"

"Kalau kamu mau pulang jam sembilan, hubungi aku. Aku atau salah satu abangmu yang jemput. Kalau nggak mau dijemput, pulang jam delapan."

Akhirnya aku selalu dijemput.

Kadang Mas Satya, kadang Bang Han yang paling sering bercanda sepanjang perjalanan sampai aku lupa mau marah, kadang Kak El yang sudah bawa makanan di jok belakang, dan paling jarang tapi paling berkesan: Kak Diga, yang tidak bicara sepanjang jalan tapi menyetel lagu-lagu yang ternyata persis yang sedang aku suka waktu itu.

Sampai sekarang aku tidak pernah bertanya bagaimana dia tahu.

Hukum Ketiga: Makan malam keluarga adalah wajib kalau semua orang ada di kota.

Ini yang paling tidak terasa seperti aturan, tapi paling konsisten dijalankan.

Kalau Mas Satya ada di Jakarta, Bang Han ada di Jakarta, Kak El ada di Jakarta, Kak Diga ada di Jakarta, dan aku ada di Jakarta — maka makan malam dilakukan bersama. Di rumah, atau di tempat manapun yang disepakati.

Tidak ada yang pernah secara resmi mendeklarasikan aturan ini. Tapi kalau salah satu dari kami tidak bisa hadir tanpa alasan yang kuat, pertanyaannya bukan "kenapa nggak datang?" melainkan "ada apa?"

Karena ketidakhadiran tanpa alasan berarti ada sesuatu yang tidak beres.

Aku pernah sekali skip makan malam karena malas dan bilang ada tugas. Kak Diga mengirim pesan singkat setengah jam kemudian: "Tugas apa? Kelas kamu nggak ada tugas deadline hari ini."

Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana dia bisa tau jadwal akademikku.

Hukum Keempat: Tidak ada yang boleh bikin Acha nangis tanpa konsekuensi.

Ini yang paling tidak pernah diucapkan tapi paling serius berlaku.

Aku pernah pulang SMP dengan mata merah setelah dijahilin teman sekelas. Aku tidak bilang apa-apa — langsung ke kamar, cuci muka, berharap tidak ada yang lihat.

Tapi Bang Han ada di ruang tengah dan dia punya mata yang terlalu jeli.

Dia tidak tanya langsung. Dia ikut masuk kamarku, duduk di lantai sebelah tempat tidurku, dan mulai scroll HP-nya sendiri.

Aku diam.

Dia diam.

Lima menit berlalu.

"Siapa?" tanya Bang Han akhirnya, tanpa angkat kepala dari HP-nya.

"Nggak ada."

"Siapa, Cha."

Ada sesuatu dalam cara dia bertanya yang kedua kalinya — lebih pelan, lebih serius — yang membuat pertahananku runtuh.

Aku bilang namanya.

Bang Han mengangguk. Tidak bicara lagi. Keesokan harinya, anak itu mendatangiku duluan dan minta maaf dengan sangat sungguh-sungguh. Aku tidak tahu Bang Han ngomong apa atau ke siapa. Sampai sekarang tidak tahu.

Dan aku tidak pernah berani tanya.

Hukum Kelima: Abang pertama, keputusan terakhir.

Mas Satya adalah kepala yang tidak pernah secara resmi dipilih tapi secara alamiah diterima semua orang.

Bukan karena dia paling tua saja. Tapi karena dia yang paling konsisten ada, paling teliti, dan paling siap menanggung konsekuensi dari setiap keputusan yang dibuat.

Waktu kecil, aku tidak selalu suka ini. Rasanya seperti ada hierarki yang tidak bisa aku lawan.

Tapi sekarang — sekarang aku lebih paham. Mas Satya tidak mengambil posisi itu untuk kekuasaan. Dia mengambilnya karena kalau tidak ada yang ambil, yang lain akan berantakan.

Dan dia mau menanggungnya.

Naya, teman baruku di kampus, pernah bertanya setelah aku cerita sedikit soal keluargaku: "Itu nggak bikin kamu ngerasa dikekang?"

Aku berpikir sebentar.

"Kadang," jawabku jujur. "Tapi... kayak pagar, gitu. Pagar bukan buat ngehambat kamu keluar. Tapi buat mastiin kamu tau batasnya dan bisa balik kalau perlu."

Naya mengangguk pelan. "Abang-abangmu sayang banget ya."

Aku tersenyum. "Lebay."

"Itu bukan lebay. Itu..." Naya mencari kata-kata. "Langka."

Aku tidak bilang apa-apa.

Tapi dalam hati, aku mengiyakan.

Malam itu, di kos, aku iseng membuka notes di HP-ku dan mulai mengetik daftar.

Hukum tidak tertulis keluarga Arendra: 1. Ada masalah, lapor ke dalam dulu. 2. Konfirmasi lokasi kalau pulang malam. 3. Makan malam keluarga kalau semua di kota. 4. Tidak ada yang bikin Acha nangis tanpa konsekuensi. 5. Abang pertama, keputusan terakhir. 6. Selalu angkat telepon kalau abang yang nelpon. 7. Nggak boleh sakit tanpa laporan. 8. ...

Aku berhenti mengetik.

Karena aku sadar — daftarnya terlalu panjang. Dan setiap kali aku mau berhenti, selalu ada satu lagi yang muncul di kepala.

Keluarga kami memang tidak punya buku panduan.

Tapi ternyata kami punya banyak sekali aturan yang semua orang hafal di luar kepala — hanya karena bertahun-tahun hidup bersama dan saling memilih untuk ada.

Aku menyimpan notes itu.

Dan menambahkan satu poin terakhir yang paling penting:

9. Kita selalu pulang ke satu sama lain.