Aku baru selesai ujian tengah semester pertamaku ketika Mama tiba-tiba mengirim pesan di grup keluarga.

Mama ✈️: Anak-anak, Mama sama Papa pulang Sabtu ini. Sudah kangen. Makan malam bareng ya di rumah.

Reaksi grup seperti biasa — Bang Han langsung kirim serangkaian emoji pesta, Kak El tanya mau dimasakkan apa, Kak Diga balas dengan "oke" yang datar tapi aku tahu dia senang, dan Mas Satya mengirim satu kata: "Baik."

Aku sendiri mengetik: "Yeyyy! Kangen Mama!" dengan tanda seru yang cukup untuk menyembunyikan perasaan yang sedikit lebih kompleks dari sekadar kangen.

Sabtu sore, aku balik ke rumah.

Rumah keluarga Arendra terletak di kawasan Pondok Indah — bukan yang paling megah di lingkungannya, tapi cukup besar untuk menampung keluarga kami yang kadang terasa seperti satu tim sepak bola. Halamannya luas, ada kolam renang yang lebih sering dipakai Kak El buat "pemanasan pagi" dan lebih sering aku pakai buat duduk-duduk di pinggirannya, dan ruang makan yang mejanya bisa muat dua belas orang dengan nyaman.

Mas Satya sudah ada di sana waktu aku tiba — dia memang tidak pernah ke mana-mana kalau Mama Papa pulang, selalu pulang duluan dan pastikan segalanya beres. Bang Han datang setelahku, membawa dua dus kue dari kafenya dengan tampilan bangga yang berlebihan. Kak El sudah ada di dapur sejak entah jam berapa, dan aroma masakan sudah menguar sampai ke garasi.

Kak Diga datang terakhir, lima menit sebelum Mama Papa tiba, dengan tampilan seperti baru dari kantor — jaket abu-abu, tas jinjing, dan ekspresi "aku tepat waktu jadi tidak ada yang perlu dikomentari."

Kami mendengar suara mobil di depan.

Dan kemudian pintu terbuka.

Mama masuk duluan — wanita lima puluh empat tahun yang terlihat mungkin sepuluh tahun lebih muda, rambut hitam berkilau yang sama persis dengan rambutku, dengan koper kecil yang sudah langsung diambil alih Kak El sebelum sempat dia letakkan sendiri.

"El, nggak usah—"

"Berat, Ma. Sini."

Mama tertawa kecil dan langsung membuka tangannya. "Mana yang bungsu?"

Aku sudah ada di depannya. "Sini, Ma."

Mama memelukku — hangat, wangi parfumnya yang selalu sama dari sejak aku kecil — dan aku membalas pelukan itu dengan sama kuatnya.

"Kurus," komentarnya begitu melepaskan aku.

"Mas Satya juga bilang gitu."

"Kak El nggak masakin?"

"Masakin, Ma. Tiap minggu dikirim."

Mama menatap Kak El. "Kamu yang harus jagain makanannya, El. Jangan sampai dia skip makan."

Kak El mengangguk serius. "Siap, Ma."

Papa masuk menyusul — lebih pendiam dari Mama, senyumnya lebar tapi matanya selalu terlihat sedikit lelah, rambut di pelipisnya sudah lebih abu dari foto-foto setahun lalu. Dia menepuk pundak Mas Satya, mengacak rambut Bang Han yang protes keras, mengangguk ke Kak Diga, dan memeluk Kak El sebentar.

Lalu dia menatap aku.

"Gimana kuliahnya?"

"Bagus, Pa. Seru."

"Teman-temannya baik?"

"Baik."

Papa mengangguk. Senyumnya hangat tapi ada jarak kecil di sana yang sudah lama ada — bukan karena dia tidak sayang, tapi karena dia lebih sering tidak ada dan tidak tahu cara menjembatani waktu yang terlewat itu dengan cepat.

Kami pindah ke ruang makan.

Makan malam keluarga Arendra selalu punya polanya sendiri.

Kak El yang masak, selalu. Papa yang duduk di kepala meja, Mama di sebelah kanannya. Mas Satya di sebelah kiri Papa. Bang Han biasanya di sebelahku karena katanya "Acha teman makan paling asyik" — yang artinya dia bisa jahilin aku dan aku tertawa dan orang lain tidak setuju tapi tidak bisa protes karena suasananya jadi cair.

Malam itu Kak El masak: soto betawi, ikan bakar, tempe orek, dan sayur asem. Menunya persis yang selalu Mama minta kalau pulang dari perjalanan jauh.

"El, kamu bisa buka restoran tau," kata Mama sambil mengambil kuah soto. "Sayang banget masak enak begini."

"Kak El udah diajak buka restoran sama beberapa orang," kata Bang Han sambil menyendok nasi. "Tiap kali nolak."

"Karena tidak tertarik," jawab Kak El santai.

"Kenapa nggak tertarik, El?" tanya Papa.

Kak El mengangkat bahu. "Kalau jadi chef profesional, masak jadi kewajiban. Kalau jadi kewajiban, nilainya beda."

Meja hening sebentar — bukan hening canggung, tapi hening yang terjadi ketika seseorang bilang sesuatu yang benar tanpa bermaksud bijak.

Mama mengangguk pelan. "Bener juga."

"Tapi kalau mau buka, gue yang desain interiornya," kata Kak Diga tanpa angkat kepala dari piringnya.

"Belum minta kamu."

"Tapi kalau minta, gue yang paling kompeten."

"Itu bukan berarti—"

"Oke, stop," potong Bang Han. "Kalian bisa debat ini di luar jam makan ya."

Di tengah makan malam, Mama menoleh ke arahku.

"Acha, teman di kampus udah banyak?"

"Lumayan, Ma. Ada satu yang lumayan deket, namanya Naya."

"Perempuan?"

"Iya, Ma."

Mama tersenyum. "Bagus. Teman perempuan penting. Acha dari kecil teman mainnya abang-abang terus."

"Karena abang-abangnya nggak kasih ruang buat yang lain," komentarku sambil melirik Bang Han.

"Itu fitnah," kata Bang Han langsung.

"Cowok di kelas ada yang ramah?" tanya Mama lagi.

Pertanyaan yang sederhana. Benar-benar sederhana.

Tapi entah kenapa, aku merasakan perubahan kecil di udara meja makan — perubahan yang tidak akan terdeteksi kalau kamu tidak tumbuh besar di sini dan tidak hafal ritme dari masing-masing orang di meja ini.

Mas Satya sedikit lebih diam. Bang Han sedikit berhenti mengunyah. Kak El sedikit terlalu fokus di piringnya. Kak Diga yang menoleh sebentar, lalu kembali ke makanannya.

"Ada," jawabku santai. "Teman-temannya baik, Ma."

Mama mengangguk. "Bagus. Acha harus bisa bergaul yang luas ya."

"Iya, Ma."

Dan percakapan berlanjut ke topik lain.

Setelah makan malam, ketika semua orang sudah berpencar — Papa dan Mas Satya bicara soal bisnis di ruang kerja, Bang Han sudah di teras main HP, Kak El beres-beres dapur — aku duduk di sofa ruang keluarga sama Mama.

Mama memegang cangkir teh. Aku memegang remote TV yang tidak aku nyalakan.

"Mama kangen," kata Mama tiba-tiba.

"Acha juga," jawabku jujur.

Mama menatapku sebentar. Ada sesuatu di matanya — sesuatu yang sulit diberi nama, tapi kalau dipaksa, mungkin namanya adalah realisasi yang terlambat.

"Acha lebih nyaman sama abang-abangnya ya?" tanya Mama. Bukan dengan nada menyalahkan. Lebih ke... mengakui.

Aku tidak menjawab langsung.

"Bukan lebih nyaman, Ma," kataku akhirnya, hati-hati. "Tapi mereka yang ada waktu Acha butuh seseorang. Jadi ya... udah kebentuk aja."

Mama mengangguk pelan. Dia tidak terlihat tersinggung — dan aku berterima kasih untuk itu.

"Mama sama Papa kurang," katanya sendiri. Bukan keluhan. Lebih ke pengakuan.

"Mama sama Papa kerja keras juga buat keluarga."

"Iya, tapi..." Mama menghela napas. "Mama kadang merasa Acha lebih kenal Satya daripada kenal Mama sendiri."

Aku tidak menyangkal.

Karena jujur — itu benar.

Aku lebih tahu cara Mas Satya minum kopinya. Lebih tahu kapan Bang Han lagi capek meskipun dia senyum. Lebih tahu menu apa yang Kak El akan masak kalau cuaca mendung. Lebih tahu cara membaca ekspresi datar Kak Diga.

Mama dan Papa — aku sayang mereka. Sungguh. Tapi ada jarak yang terbentuk dari tahun-tahun ketidakhadiran, dan jarak itu tidak bisa ditutup dalam satu makan malam.

Mama meletakkan tangannya di atas tanganku.

"Makasih ya, sudah jadi anak yang mandiri."

Aku tersenyum. "Abang-abangnya yang berjasa, Ma."

Mama tertawa kecil. "Iya. Abang-abangmu memang luar biasa."

Dan di kamar kerja, sayup-sayup aku mendengar suara Mas Satya dan Papa yang bicara serius.

Di dapur, Kak El masih beres-beres sambil bersenandung pelan.

Di teras, Bang Han tertawa keras karena sesuatu di ponselnya.

Di lorong, Kak Diga lewat sambil bawa gelas air dengan langkah pelannya yang khas.

Rumah ini penuh.

Dan Mama menyadarinya — bahwa rumah ini penuh bukan karena dia atau Papa yang mengisinya, tapi karena empat anak laki-laki yang tidak pernah benar-benar pergi jauh dari satu sama lain, dan dari adik bungsu mereka.

Mama menggenggam tanganku lebih erat.

Dan aku membiarkannya.