Kalau orang bertanya padaku, "Acha dibesarkan sama siapa?" — jawaban paling jujur yang bisa aku berikan adalah: empat orang yang tidak punya buku panduan tapi semuanya yakin cara mereka yang paling benar.
Hasilnya?
Aku jadi manusia yang agak kacau tapi somehow berfungsi.
Pelajaran dari Mas Satya: Disiplin adalah bentuk cinta.
Mas Satya mulai "mendidikku" secara serius ketika aku kelas dua SD. Aku ingat betul — hari itu aku lupa mengerjakan PR matematika karena keasikan nonton kartun, dan Mama sudah di luar kota, Papa entah di mana, dan yang ada di rumah hanya Mas Satya yang waktu itu baru pulang kuliah.
Mas Satya menemukan buku PR-ku yang kosong.
Dia tidak marah-marah. Tidak teriak. Dia hanya duduk di sebelahku di meja makan, membuka buku PR itu, dan berkata dengan suara yang sangat tenang:
"Selesaikan sekarang."
"Tapi Mas, filmnya belum selesai—"
"Acha."
Cuma satu kata. Tapi ada sesuatu dalam cara Mas Satya mengucapkan namaku yang selalu berhasil membekukan segalanya. Aku tidak tahu apa — nada? Ritme? — tapi itu bekerja.
Aku mengerjakan PR-ku.
Dan sejak hari itu, Mas Satya yang tidak pernah diminta jadi semacam kepala pengawas akademis di rumah kami. Setiap malam — kalau dia ada di rumah — dia akan mampir ke kamarku dan bertanya satu pertanyaan:
"Tugas hari ini sudah beres?"
Kalau sudah: anggukan singkat dan dia pergi. Kalau belum: dia duduk dan tidak pergi sampai beres.
Aku tidak selalu suka. Tapi nilai-nilaiku selalu bagus.
Dan entah kapan mulainya — aku sendiri yang jadi tidak bisa tidur kalau ada tugas yang belum dikerjakan.
Mas Satya berhasil menanamkan sistemnya ke dalam otakku tanpa aku sadar.
Pelajaran dari Bang Han: Dunia ini tidak seseram yang orang bilang — tapi tetap harus waspada.
Bang Han punya cara yang berbeda.
Dia tidak pernah duduk serius dan bicara soal nilai atau tanggung jawab. Cara Bang Han mendidik aku adalah dengan membawaku ke mana-mana — ke kafenya yang berbeda-beda, ke acara-acara sosial yang dia hadiri, ke pertemuan dengan orang-orang yang bahkan aku tidak tahu siapa mereka.
"Kenalan sama orang itu penting," kata Bang Han suatu kali, waktu aku kelas lima SD dan dia baru buka kafe keduanya. Dia sedang mengatur meja-meja dengan dibantu beberapa karyawan, dan aku duduk di bar counter sambil minum jus jeruk. "Tapi kenalan bukan berarti percaya. Bedain itu."
"Bedainnya gimana?" tanyaku.
"Lihat matanya kalau ngomong. Lihat konsistensinya. Orang yang omongnya beda sama lakunya — itu yang harus kamu jaga jarak."
Aku waktu itu mengangguk pura-pura ngerti, padahal tidak.
Tapi sekarang — sembilan belas tahun dan baru masuk kuliah — aku ngerti.
Bang Han juga yang mengajariku satu hal yang tidak pernah dia akui sebagai "pelajaran": cara membaca ruangan.
Bang Han masuk ke tempat mana pun dan dalam tiga menit, dia sudah tahu siapa yang butuh bantuan, siapa yang lagi seneng, siapa yang lagi bete, dan siapa yang mau cari masalah. Awalnya aku pikir itu bakat alami. Tapi ternyata dia memang sengaja latihan — dan tanpa sadar, aku ikut latihan juga, karena selalu ada di sampingnya.
Satu hal lagi yang Bang Han ajarkan — dan yang satu ini lebih dalam dari yang terlihat — adalah cara jahil yang tidak menyakiti.
"Jahil itu seni," katanya suatu hari dengan sangat serius. "Kalau jahilmu bikin orang nangis, itu bukan jahil. Itu jahat. Bedain."
Aku mungkin mewarisi sebagian besar seni itu.
Mungkin.
Pelajaran dari Kak El: Perhatian tidak harus bersuara keras.
Kak El tidak pernah mengajari aku lewat kata-kata.
Dia mengajari aku lewat tindakan — dan tindakannya selalu konsisten: hadir.
Waktu aku sakit, Kak El yang ada di pojok kasurku sambil bikin bubur. Waktu aku sedih dan tidak mau bicara, Kak El yang duduk diam di sebelahku sambil nonton TV tanpa tanya apa-apa. Waktu aku menang lomba kecil-kecilan di sekolah dasar — lomba mewarnai yang hadiahnya cuma penghapus berbentuk karakter kartun — Kak El yang paling bersemangat memasang hasilnya di kulkas.
"Kak El, itu gambar jelek," protesku waktu itu.
"Kamu yang bikin, jadi bagus," jawabnya santai.
Aku belajar dari Kak El bahwa kehadiran adalah hadiah. Bahwa tidak selalu harus ada solusi untuk bisa bikin seseorang merasa lebih baik. Bahwa masak untuk orang yang kamu sayangi adalah cara berbicara tanpa suara.
Dan aku belajar cara masak dasar dari Kak El — meskipun hasilnya tidak pernah seenak punyanya dan dia selalu bilang "hampir," yang menurutku tidak pernah berubah tidak peduli seberapa banyak aku latihan.
Pelajaran dari Kak Diga: Kejujuran lebih baik dari basa-basi.
Kak Diga adalah abang yang paling berbeda cara ngomongnya.
Kalau tiga abangku yang lain akan mengemasnya dulu sebelum disampaikan, Kak Diga langsung ke inti masalah tanpa bungkus.
Waktu aku kelas tiga SMP dan datang ke ruangan Kak Diga sambil minta pendapat soal esai yang aku tulis untuk lomba — dengan tampilan penuh harap karena aku udah yakin itu bagus — Kak Diga membacanya tiga menit, lalu mengembalikannya.
"Paragraf kedua terlalu bertele-tele. Kesimpulannya lemah. Kamu nulis kayak orang yang nggak yakin sama argumennya sendiri."
Aku langsung mau nangis.
"Tapi premisnya bagus," tambahnya sebelum aku sempat bereaksi. "Sayang kalau eksekusinya kayak gini. Tulis ulang."
Aku pulang ke kamar, nangis sebentar, lalu nulis ulang.
Aku menang lombanya.
Dan sejak itu, setiap kali aku butuh pendapat yang jujur — bukan pendapat yang enak didengar, tapi pendapat yang benar — aku pergi ke Kak Diga.
Dia tidak pernah membuatku merasa baik-baik saja kalau memang tidak baik-baik saja. Tapi dia juga tidak pernah meremehkan aku. Ada perbedaan besar di antara keduanya — dan Kak Diga adalah satu-satunya orang yang aku kenal yang selalu berada tepat di garis itu.
Hasilnya dari semua "pendidikan" tidak resmi ini?
Aku, Rasya Arendra alias Acha, tumbuh jadi seseorang yang:
Bisa duduk tegak dan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas (terima kasih, Mas Satya), tapi juga bisa mengendurkan suasana dengan satu komentar usil yang tepat (warisan Bang Han yang tidak aku minta tapi selalu ada).
Bisa diam di samping orang yang lagi susah tanpa harus mengisi keheningan dengan kata-kata (belajar dari Kak El), tapi juga bisa bilang yang sebenarnya meskipun tidak enak didengar (dari Kak Diga yang tidak pernah mengajari secara langsung tapi selalu jadi contoh).
Aku campur aduk.
Dan untuk waktu yang lama, aku pikir itu masalah. Bahwa aku terlalu ini untuk satu hal dan terlalu itu untuk hal yang lain. Bahwa aku tidak punya versi "asli" yang konsisten.
Tapi sekarang — duduk di kelas pertamaku di kampus, mendengarkan dosen perkenalan yang suaranya agak monoton, dengan kantong bekal Kak El di bawah meja — aku mulai berpikir mungkin itu justru yang terbaik.
Aku punya empat referensi.
Kebanyakan orang hanya punya satu atau dua.
Pulang dari kampus, aku melewati minimarket dan beli es krim. Satu untuk aku, satu lagi aku masukkan ke freezer kos karena — entah kenapa — aku beli dua padahal sendirian.
Aku menatap dua es krim di freezer itu.
Refleks Bang Han. Dia selalu beli lebih dari yang dia butuhkan karena "siapa tau ada yang mau."
Aku ketawa kecil sendirian.
Lalu mengambil satu es krim, duduk di kasur, dan membuka grup keluarga yang sudah penuh dengan notifikasi seharian.
Ada foto dari Bang Han — selfie di kafenya yang baru, dengan caption "Gimana day 1 nya Cha???" Ada voice note dari Kak El yang isinya mungkin dia cerita soal syuting tapi aku belum dengerin. Ada pesan dari Kak Diga: "Nilai IPK semester pertama itu yang paling penting. Jangan santai dulu." Dan dari Mas Satya, satu pesan pendek: "Sudah makan?"
Aku membalas semuanya satu per satu.
Dan ketika aku akhirnya meletakkan ponsel dan berbaring, aku sadar satu hal kecil yang tidak pernah benar-benar aku pikirkan sebelumnya:
Aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Bahkan di kos ini, sendirian, sejauh beberapa kilometer dari rumah — aku tidak sendiri.
Mereka selalu ada.
Dalam cara aku merespons, dalam cara aku berpikir, dalam cara aku memilih beli dua es krim padahal cukup satu.
Mereka ada di mana-mana dalam diriku.
Dan untuk pertama kalinya, itu tidak terasa seperti beban.
Itu terasa seperti rumah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar