Kepulangan permanen Mama Papa dijadwalkan tiga minggu setelah pengumuman di grup.


Tiga minggu yang terasa seperti waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya — sampai kami mulai mempersiapkan segalanya dan menyadari bahwa *segalanya* itu ternyata lebih kompleks dari yang siapapun bayangkan.


Rumah Pondok Indah sudah berpenghuni secara rotasi sejak dua tahun lalu. Mas Satya yang paling sering ada — karena kantornya tidak terlalu jauh dan karena Mas Satya memang tipe yang lebih suka pulang ke rumah yang sudah dikenal daripada apartemen yang efisien. Kak Diga yang ada beberapa malam seminggu ketika proyeknya sedang di fase yang butuh ketenangan dan studionya terasa terlalu ramai. Aku yang seminggu dua kali pulang karena meskipun punya apartemen kos yang lebih dekat kampus, ada sesuatu dalam ritme rumah ini yang selalu menarik aku kembali.


Bang Han dan Kak El lebih jarang — Bang Han karena kafenya yang makin banyak dan jadwalnya yang tidak menentu, Kak El karena sedang dalam fase paling padat karirnya pasca film besar itu.


Tapi ketika Mama Papa kembali permanen — semua itu harus diatur ulang.


---


Rapat keluarga pertama tentang ini terjadi bukan di meja makan dengan agenda formal, tapi di dapur, tiga hari setelah pengumuman, ketika aku kebetulan pulang dan mendapati Mas Satya, Bang Han, dan Kak Diga sudah ada di sana dengan ekspresi yang menunjukkan mereka sudah bicara sebelum aku tiba.


*"Ngomongin apa?"* tanyaku langsung sambil meletakkan tas dan membuka kulkas.


*"Persiapan,"* jawab Mas Satya.


*"Persiapan apa?"*


*"Kamar Mama Papa perlu sedikit pembenahan,"* kata Bang Han. *"Sudah dua tahun nggak ditempati full, AC-nya mungkin perlu servis, dan—"*


*"Bukan itu yang kalian ngomongin."*


Hening.


Aku menutup kulkas dan memandang mereka bertiga bergantian. Mas Satya yang diam. Bang Han yang senyumnya agak terlalu natural untuk situasi ini. Kak Diga yang menatap mejanya.


*"Kalian ngomongin soal dinamika,"* kataku.


Tidak ada yang menyangkal.


Aku mengambil kursi dan duduk. *"Oke. Kalian ngomongin apa soal dinamikanya?"*


Mas Satya yang akhirnya bicara — karena memang selalu Mas Satya yang bicara kalau topiknya cukup serius untuk tidak diserahkan ke Bang Han.


*"Mama dan Papa sudah terbiasa dengan ritme mereka. Kita sudah terbiasa dengan ritme kita."* Dia menyatukan jari-jarinya di atas meja. *"Gabungan dua ritme yang masing-masing sudah settle tidak selalu langsung mulus."*


*"Mas Satya khawatir?"* tanyaku.


*"Aku realistis."*


*"Itu kode untuk khawatir."*


Bang Han menahan tawa. Kak Diga tidak bereaksi tapi ada sesuatu di sudut matanya.


*"Yang perlu dipikirkan,"* lanjut Mas Satya, *"adalah bagaimana kami — kalian — menyambut mereka kembali dengan cara yang nyaman untuk semua pihak. Bukan hanya untuk Mama Papa. Tapi juga untuk kita."*


Percakapan berlanjut dengan hal-hal yang lebih praktis setelah itu — soal kamar, soal jadwal makan malam yang perlu disesuaikan, soal ruang kerja Papa yang sudah lama kosong dan perlu dihidupkan lagi. Bang Han yang mengusulkan renovasi kecil di taman belakang karena Papa suka tanaman tapi selama ini tidak ada yang mengurusnya. Kak Diga yang langsung bilang dia bisa handle desain pembenahannnya.


Aku mendengarkan semua itu dengan perasaan yang hangat dan sedikit melankolis bersamaan.


Hangat karena ini adalah keluargaku yang bergerak bersama untuk menyambut orang tua mereka. Melankolis karena ada sesuatu yang bergeser — yang tidak bisa aku jelaskan dengan tepat, hanya bisa aku rasakan sebagai: *selama dua tahun ini, rumah ini sudah jadi milik kami dengan cara yang tidak dibagi. Dan sekarang kami mau belajar membaginya lagi.*


---


Dua hari sebelum Mama Papa tiba, ada satu percakapan lagi yang lebih kecil — hanya antara aku dan Mas Satya, di malam yang tidak direncanakan sebagai waktu bicara tapi terjadi begitu saja ketika aku masih di dapur dan Mas Satya turun dari lantai atas.


*"Mas belum tidur?"* tanyaku.


*"Baru selesai laporan."* Dia mengambil gelas air. *"Kamu?"*


*"Nunggu air rebusnya dingin. Mau bikin teh."*


Kami berdiri di dapur yang sunyi itu beberapa saat.


*"Mas,"* kataku akhirnya. *"Dua hari lagi Mama Papa pulang."*


*"Iya."*


*"Mas excited?"*


Jeda yang tidak panjang tapi cukup untuk aku perhatikan. *"Iya."*


*"Ada yang dikhawatirkan?"*


Mas Satya menatap gelasnya. *"Papa bicara sesuatu sebelum pengumuman kemarin. Melalui telepon."*


Aku menunggu.


*"Dia bilang ada beberapa hal yang ingin dia selesaikan setelah pensiun. Hal-hal yang selama ini tertunda karena kesibukan."* Mas Satya minum airnya pelan. *"Termasuk satu hal yang menurutnya sudah terlalu lama dia tunda untuk keluarga."*


*"Hal apa?"*


Mas Satya menaruh gelasnya. Menatapku dengan cara yang aku kenal — cara yang menunjukkan dia sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang mau dia sampaikan dan dalam format apa.


*"Nanti,"* katanya akhirnya. *"Kalau sudah saatnya."*


Aku menatapnya.


Dan di matanya — di mata Mas Satya yang biasanya tidak menyimpan apapun yang tidak perlu disimpan — ada sesuatu yang aku belum pernah lihat sebelumnya.


Bukan khawatir. Bukan tidak siap. Lebih seperti: *seseorang yang berdiri di ambang sesuatu yang besar dan belum memutuskan apakah akan melangkah masuk.*


---

Malam itu, setelah Mas Satya kembali ke kamarnya, aku duduk di dapur sambil minum teh yang sudah jadi. Dan baru ketika aku sudah hampir selesai, aku menyadari: apa yang ada di matanya tadi bukan ekspresi seseorang yang menunggu sesuatu yang dia khawatirkan. Itu ekspresi seseorang yang sudah memutuskan untuk membuka pintu yang selama ini tidak dia pikir perlu dibuka.*