Mama dan Papa tiba di rumah Pondok Indah pada sore hari yang cerah — dengan dua koper besar masing-masing, satu tas jinjing yang penuh oleh-oleh yang Mama tidak bisa tidak bawa meskipun ini kepulangan permanen, dan ekspresi yang berbeda-beda tapi sama-sama membawa sesuatu yang bisa disebut: *lega.*
Disambut oleh kami berlima — Kak El yang sengaja mengosongkan jadwalnya hari itu, Bang Han yang datang lebih awal dari semua orang dan sudah ada di ruang tamu sejak dua jam sebelumnya, Kak Diga yang tepat waktu, Mas Satya yang sudah di rumah sejak siang meskipun biasanya baru pulang setelah jam tujuh, dan aku yang pulang dari kampus langsung tanpa mampir ke kos dulu.
Mama yang masuk pertama langsung membuka tangannya. *"Mana yang bungsu?"*
Aku sudah ada di depannya. Pelukan Mama berbau parfum yang sama dari sejak aku kecil — satu hal yang tidak pernah berubah, satu hal yang setiap kali menciumnya membawa aku kembali ke suatu versi masa kecil yang hangat.
*"Kurus lagi,"* kata Mama begitu melepaskan aku.
*"Skripsi, Ma."*
*"Skripsi bukan alasan tidak makan."*
*"Itu persis yang Kak El bilang setiap minggu."*
Kak El dari belakang mengangkat tangan sebagai konfirmasi.
Papa masuk menyusul, lebih pendiam dari Mama seperti biasa tapi senyumnya lebih lebar dari yang biasanya aku lihat di video call. Dia menepuk pundak Mas Satya, mengacak rambut Bang Han yang protes keras, berjabat tangan dengan Kak Diga yang menerima dengan anggukan singkat, memeluk Kak El yang sedikit lebih panjang dari yang lain.
Lalu menatap aku.
*"Gimana kuliahnya?"*
*"Skripsi, Pa. Lagi proses."*
*"Topiknya apa lagi?"*
*"Framing media dan konstruksi narasi di platform digital."*
Papa mengangguk dengan cara yang menunjukkan dia sedang memproses informasi itu dengan serius. *"Nanti cerita lebih."*
*"Papa mau dengerin?"*
*"Aku pensiun. Waktuku banyak."* Senyum kecil. *"Gunakan."*
---
Tiga hari setelah kepulangan Mama Papa, rumah Pondok Indah masih dalam fase penyesuaian yang menggemaskan sekaligus sedikit chaos.
Mama yang langsung aktif — terlibat di dapur yang selama ini jadi wilayah Kak El, bertanya soal hal-hal yang anak-anaknya sudah punya sistem sendiri, menata ulang sedikit tata letak ruang makan yang menurut kami sudah optimal tapi menurut Mama *"kurang sirkulasi."*
Kak El yang dengan sangat sabar dan sangat halus menjelaskan kenapa bumbu-bumbu itu disimpan di urutan tertentu.
Kak Diga yang tiba-tiba punya jadwal lebih padat di luar rumah tepat di hari-hari ketika Mama paling aktif melakukan perubahan.
Dan Mas Satya yang di hari ketiga itu, sepulang dari kantor, meminta bicara berdua dengan Papa di ruang kerja.
Pintu tertutup.
Aku yang ada di ruang keluarga dengan buku skripsi di pangkuan tidak sungguh-sungguh membaca. Karena percakapan yang mungkin terjadi di balik pintu tertutup itu terasa lebih berat dari halaman-halaman jurnal di tanganku.
Empat puluh menit berlalu.
Kemudian pintu terbuka.
Papa keluar pertama — dengan ekspresi yang sudah aku catat tadi: lebih lega, lebih ringan dari ketika masuk. Seperti seseorang yang sudah meletakkan sesuatu yang cukup berat dan baru menyadari betapa beratnya setelah diletakkan.
Mas Satya keluar menyusul. Berjalan ke dapur untuk ambil air. Kembali ke ruang tengah. Melihat aku yang masih di sofa.
*"Kamu di sini dari tadi?"*
*"Baca."* Aku menunjuk buku yang sudah jelas tidak aku baca. *"Ada apa, Mas?"*
Mas Satya duduk di kursi seberang. Diam sebentar dengan cara yang sudah aku kenal — menyusun apa yang mau disampaikan.
*"Papa bicara soal keluarga Moenaf,"* katanya akhirnya.
Aku menunggu.
*"Pak Moenaf — mitra bisnis Papa yang sudah lama. Punya anak perempuan. Dokter spesialis anak, tiga puluh empat tahun. Papa ingin aku mengenalnya."*
*"Mengenal dalam artian..."*
*"Dalam artian yang Papa sampaikan dengan sangat jelas tapi juga dengan sangat hormat."* Mas Satya menatapku. *"Perjodohan. Tapi dengan kata-katanya sendiri: bukan kewajiban. Hanya perkenalan. Keputusan sepenuhnya ada di tanganku."*
Aku menyerap informasi itu.
*"Dan Mas bilang apa?"*
*"Aku setuju untuk bertemu."*
Hening.
*"Mas nggak keberatan?"* tanyaku.
*"Belum tahu apakah ada yang perlu dikeberatan."* Nada suaranya datar tapi di balik kedatarannya ada sesuatu yang lebih nuanced dari sekadar netral. *"Bertemu seseorang dengan niat baik bukan hal yang perlu dikeberatan. Yang perlu dipertimbangkan adalah apa yang terjadi setelahnya."*
*"Mas sudah pernah ketemu orangnya?"*
*"Belum. Dijadwalkan minggu depan."*
Aku mengangguk perlahan.
Dan di dadaku, ada sesuatu yang mulai bergerak — sesuatu kecil, tidak dramatis, yang belum bisa aku identifikasi dengan tepat. Bukan penolakan. Bukan kekhawatiran atas Mas Satya.
Sesuatu yang lebih personal dan lebih tidak nyaman dari itu.
Aku belum bisa menamakannya.
---
Malam itu, di kamarku yang sudah aku tinggali lagi sementara selama persiapan kepulangan Mama Papa, aku membuka buku catatan kecil yang sudah penuh dari semester satu dulu.
Membuka halaman terakhir yang terisi. Membaca kalimat yang paling akhir aku tulis, beberapa bulan lalu:
*Malam ini, lima orang di rooftop. Tidak ada yang direncanakan. Dan itu yang membuatnya sempurna.*
Aku memegang pena.
Lalu menambahkan di bawahnya, hari ini:
*Dua tahun kemudian. Mama Papa pulang. Mas Satya akan bertemu seseorang. Sesuatu sedang berubah lagi — dan aku belum tahu rasanya akan seperti apa.*
*Tapi seperti biasa: kita lihat nanti.*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar