Perpustakaan kampus jam sepuluh pagi berbeda dari perpustakaan kampus jam dua siang.
Jam sepuluh pagi, masih ada optimisme di udara — mahasiswa yang baru datang dengan kopi di tangan dan keyakinan bahwa hari ini akan produktif. Jam dua siang, optimisme itu sudah tergantikan oleh realita: layar laptop yang penuh dengan tab yang tidak semuanya relevan, catatan yang lebih banyak coretan daripada isinya, dan bau keputusasaan yang samar tapi ada.
Aku, Rasya Arendra — Acha — sudah ada di perpustakaan ini sejak jam delapan pagi. Dan sekarang jam setengah sebelas, draft bab pertama skripsiku sudah ditulis ulang untuk keempat kalinya.
Keempat.
Bukan karena isinya salah. Tapi karena setiap kali aku membaca ulang, selalu ada sesuatu yang terasa belum tepat — kalimat yang terlalu kaku, argumen yang terlalu melompat, atau struktur yang menurutku sudah bagus ternyata setelah dikonsultasikan ke dosen pembimbing masih perlu *"diperdalam lagi, Acha, kamu punya materinya tapi belum sampai ke intinya."*
Dua tahun. Sudah dua tahun sejak hari pertama aku masuk gerbang kampus ini dengan bekal Kak El di tangan dan empat abangku yang *"kebetulan"* ada di sekitar gerbang. Sekarang aku semester enam, dengan skripsi yang judulnya sudah disetujui tapi isinya masih terus bergulat, dengan Bima yang sudah bukan lagi senior yang meminjamkan pulpen tapi seseorang yang pagi tadi mengirim pesan: *"Semangat ngerjain, nanti makan siang bareng kalau bisa."*
Di sebelah kananku, Naya duduk dengan posisi yang tidak jauh berbeda dari kondisiku — rambut dikuncir setengah karena menurut dia *"rambut yang rapi itu menguras energi yang harusnya buat nulis,"* kopi sudah dingin sejak setengah jam lalu, dan ekspresi seseorang yang sedang dalam negosiasi intens dengan dirinya sendiri.
Naya semester akhir. Skripsinya sudah lebih jauh dari punyaku, tapi *lebih jauh* bukan berarti lebih mudah — justru karena sudah lebih jauh, setiap kata yang ditambahkan terasa semakin berat konsekuensinya.
*"Nay,"* kataku tanpa angkat kepala dari layar.
*"Hmm."*
*"Kamu pernah nggak ngerasa kayak kamu nulis sesuatu yang bagus, terus kamu baca lagi, dan ternyata kamu lagi nulis soal hal yang beda sama yang harusnya?"*
*"Setiap hari."*
*"Itu normal?"*
*"Itu skripsi."*
Aku menghela napas dan menutup laptopku untuk satu menit — satu menit yang aku izinkan untuk tidak memikirkan kerangka teoritisnya, tidak memikirkan metodologinya, tidak memikirkan apapun yang berhubungan dengan framing media dan konstruksi narasi digital yang jadi topik penelitianku.
Satu menit untuk menatap langit-langit perpustakaan.
Dua tahun yang lalu, aku duduk di meja tidak jauh dari sini dan meminjam pulpen dari seseorang yang tulisannya kecil-kecil rapi. Sekarang aku duduk di meja yang sama, mengerjakan skripsi, dan orang itu sudah setahun lebih bekerja di lembaga riset kecil di kawasan Kuningan dengan jam kerja yang tidak menentu tapi caranya ada untuk aku sudah menemukan polanya.
Banyak yang berubah dalam dua tahun.
Kak El yang filmnya sudah tayang dan namanya sekarang ada di konteks yang berbeda dari sebelumnya. Bang Han yang kafenya bertambah dua lagi. Kak Diga yang perusahaannya sudah tidak bisa disebut *perusahaan kecil* lagi meskipun dia sendiri masih menyebutnya begitu. Mas Satya yang... Mas Satya yang tidak banyak berubah dari luar, tapi sesuatu di dalam hiruk-pikuk keluarga kami dua tahun ini sudah cukup untuk membuatku tahu ada hal-hal kecil yang bergeser.
Banyak yang berubah.
Dan hari ini, sesuatu lagi akan berubah — aku hanya belum tahu itu.
Ponselku bergetar di samping laptop.
Notifikasi dari grup keluarga. Aku mengambilnya setengah malas, membayangkan itu pasti Bang Han yang kirim meme atau Kak El yang laporan dari lokasi syuting berikutnya.
Tapi yang muncul di layar adalah nama *Mama ✈️* — dan bukan emoji atau foto. Teks panjang yang tidak biasa untuk Mama yang biasanya singkat di grup.
*"Anak-anak, Mama dan Papa sudah membicarakan ini matang-matang. Kami sudah memutuskan. Bulan depan kami pulang ke Jakarta — dan kali ini bukan untuk dua minggu atau sebulan. Permanen. Papa pensiun resmi per akhir bulan ini. Mama juga sudah tidak ada agenda luar negeri yang tidak bisa diwakilkan. Kami mau pulang. Mau ada di rumah. Mau ada untuk kalian. Kalau kalian berkenan. 😊"*
Aku membaca pesan itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
*"Nay."*
*"Hmm."*
*"Baca grup."*
Naya menoleh, mengambil ponselnya, membaca. Ekspresinya berubah — bukan terkejut yang dramatis, tapi sesuatu yang lebih hangat dan lebih kompleks dari sekadar kaget.
*"Mama Papa pulang permanen?"*
*"Iya."*
*"Bagaimana perasaan kamu?"*
Aku berpikir sebentar. *"Senang. Dan... nggak tahu. Campuran sesuatu yang belum bisa aku sortir."*
Naya mengangguk pelan, seperti dia mengerti sebelum aku selesai menjelaskan. Karena Naya memang begitu.
Di grup, reaksi sudah mulai masuk:
**Bang Han:** *"MAMA PAPA PULANG PERMANEN??? AKU SIAPIN KAMARNYA SEKARANG 🥺🥺🥺"*
**Kak El 🍳:** *"Mama, ini beneran? Kak El seneng banget 😭"*
**Kak Diga:** *"Oke. Bagus."*
Dan kemudian, setelah jeda yang cukup lama — cukup lama untuk aku perhatikan, cukup lama untuk Naya yang ikut baca layarku juga perhatikan:
**Mas Satya:** *"Baik. Bagus."*
Dua kata. Persis dua kata yang Kak Diga tulis, tapi dengan jeda yang berbeda. Kak Diga menjawab dalam dua menit. Mas Satya menjawab dalam delapan menit.
Delapan menit untuk Mas Satya yang biasanya efisien bahkan dalam hal mengetik adalah waktu yang tidak biasa.
Aku menyimpan ponsel.
Membuka kembali laptopku.
Dan menatap draft bab pertama skripsiku yang sudah ditulis ulang empat kali, dengan firasat bahwa dua tahun berikutnya akan punya lebih banyak hal untuk ditulis ulang dari sekadar skripsi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar