Sepuluh hari setelah Mama Papa resmi kembali ke Jakarta, seorang perempuan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan koper besar yang rodanya sudah sedikit aus karena terlalu sering dipakai di berbagai bandara di berbagai benua.


Aku tidak ada di sana waktu itu.


Tapi aku tahu ceritanya dari dua sumber yang berbeda, yang kemudian aku gabungkan jadi satu gambaran yang cukup lengkap.


Sumber pertama: Mama, yang mendapat pesan begitu Ardini mendarat — *"Sudah di Jakarta, Bu. Nanti mampir kalau boleh."* Dan Mama yang membalas: *"Kapanpun, Dini. Rumah selalu terbuka."*


Sumber kedua: foto yang Ardini posting di Instagram-nya — yang aku temukan setelah nama itu terus berputar di kepalaku dan akhirnya aku cari. Akun yang tidak terlalu aktif tapi foto-fotonya selalu punya kualitas pandangan yang terasa lebih dalam dari sekadar estetika: sudut-sudut kota, detail tekstur yang tidak semua orang perhatikan, sesekali karya seni dari pameran-pameran yang dia kurasi di Amsterdam, Paris, Copenhagen.


Dan satu foto yang diunggah hari dia tiba: ban berjalan di terminal kedatangan, dilihat dari atas, dengan teks pendek di caption-nya:


*Jakarta. Tiga belas tahun. Akhirnya.*


---


Aku mengenal Ardini sebelum benar-benar mengenalnya — dari cerita Mama, dari foto album yang menguning, dari nama yang sesekali muncul dalam percakapan keluarga dengan cara yang menunjukkan bahwa seseorang yang sudah pergi lama masih punya jejak yang nyata di tempat yang ditinggalkannya.


Tapi mengenal lewat cerita orang lain dan mengenal langsung adalah dua hal yang sangat berbeda.


Dan satu-satunya yang sudah mengenal Ardini secara langsung — sebagai seseorang yang tumbuh bersamanya, yang tahu cara dia tertawa dan cara dia berpikir dan cara dia berdiri di depan sesuatu yang dia percayai — adalah empat abangku.


Terutama satu.


---


Mama mengundang Ardini *mampir minum teh* di hari ketiga setelah kedatangannya. Dalam konteks keluarga kami, *mampir minum teh* artinya: datang sore, kemungkinan besar masih ada sampai makan malam, dan pulang dengan perut kenyang dan percakapan yang tidak selesai.


Aku sengaja ada di sana.


Bukan karena Mama memintaku — tapi karena rasa ingin tahu yang terlalu besar untuk diabaikan dan yang tidak bisa aku akui secara langsung ke siapapun.


Ardini tiba jam empat sore dengan cara yang tidak berusaha keras: kaos putih bersih, celana panjang hitam, rambut yang tidak disisir secara berlebihan tapi entah bagaimana tetap terlihat intentional. Bawaan tangannya hanya satu tas kecil.


Yang pertama aku perhatikan ketika dia masuk adalah cara dia bergerak di ruang tamu rumah yang mungkin belum dia masuki selama tiga belas tahun — tidak seperti tamu yang tidak tahu tempat, tapi juga tidak seperti orang yang tinggal di sini. Di antara dua itu: seseorang yang pernah sangat kenal tempat ini dan sedang mengkalibrasi ulang memory-nya dengan kondisi yang ada sekarang.


Matanya melewati ruangan sekali, cepat. Lalu menatap Mama.


Pelukan pertama dengan Mama berlangsung cukup lama.


*"Dini sudah besar,"* kata Mama ketika melepaskan.


*"Ibu juga kelihatan lebih muda dari terakhir kali."* Suara Ardini — hangat, tidak terlalu keras, dengan aksen yang sangat samar dari bertahun-tahun di luar yang tidak sepenuhnya hilang tapi sudah cukup melebur.


Mama tertawa. *"Rayuan."*


*"Fakta."*


Kemudian Ardini menoleh ke arahku — karena aku yang berdiri di belakang Mama, dan dia tahu pasti siapa aku meskipun terakhir kali dia melihatku aku masih anak kecil yang mungkin baru bisa berjalan.


*"Acha."* Bukan pertanyaan.


*"Ardini."* Aku mengulurkan tangan. *"Aku terlalu kecil untuk ingat kamu. Tapi ceritanya banyak."*


Dia tersenyum — senyum yang tidak dibuat-buat. *"Semoga cerita yang bagus."*


*"Campuran,"* kataku jujur.


Ardini tertawa kecil. *"Itu lebih jujur dari 'semuanya bagus'."*


---


Bang Han tidak ada sore itu.


Mama sudah memberitahukannya — tapi Bang Han, dengan kelebihan artistiknya dalam menciptakan alasan yang terdengar sangat legitimate, memiliki keperluan mendadak di salah satu kafenya yang tidak bisa ditunda.


Kak Diga yang ada — datang dengan cara yang sangat Kak Diga: tepat waktu, tidak lebih, tidak kurang. Menyambut Ardini dengan anggukan singkat dan jabatan tangan yang to the point. Duduk di kursi yang tidak terlalu dekat tapi cukup untuk ikut percakapan kalau diperlukan.


Dan dalam percakapan sore itu — antara Mama, Ardini, aku, dan Kak Diga yang sesekali ikut bicara — aku belajar beberapa hal tentang perempuan yang sudah tiga belas tahun menjadi nama di cerita keluarga ini.


Bahwa Ardini pergi ke Amsterdam untuk studi fashion dan berkembang menjadi fashion curator yang sekarang bekerja dengan galeri-galeri dan brand internasional — bukan karena ambisi yang berlebihan, tapi karena satu kesempatan membuka satu kesempatan lain dan dia selalu memilih untuk melangkah maju.


Bahwa dia tidak kehilangan cara berbicara tentang hal-hal yang personal bahkan setelah bertahun-tahun bicara dalam konteks profesional yang berbeda bahasa dan budayanya.


Dan bahwa — dan ini yang paling aku perhatikan — ketika nama Bang Han disebut dalam percakapan, ada sesuatu yang sangat kecil bergerak di caranya merespons. Bukan dramatis. Hanya: sedikit lebih hati-hati dalam memilih kata, sedikit lebih singkat dari yang biasanya.


Seperti seseorang yang sudah sangat terlatih untuk berbicara tentang sesuatu dengan cara yang tidak mengungkapkan terlalu banyak.


---


Menjelang magrib, Kak Diga pamit lebih dulu karena ada keperluan. Mama masuk ke dapur untuk menyiapkan teh tambahan. Dan aku dan Ardini ada berdua di ruang keluarga untuk beberapa menit.


*"Kamu sering di sini?"* tanya Ardini.


*"Lumayan. Kos-ku lebih dekat kampus tapi sering balik ke sini."*


*"Betah."*


*"Rumah yang paling kenal aku,"* kataku. *"Susah untuk tidak betah."*


Ardini mengangguk pelan, menatap ruangan sekali lagi. *"Banyak yang sama. Tapi banyak juga yang berbeda."*


*"Kamu ingat detail-detailnya?"*


*"Tiga belas tahun itu lama untuk melupakan tempat yang pernah terasa seperti rumah kedua."* Dia mengalihkan pandangannya ke aku. *"Abangmu yang bungsu — yang nomor empat — dia bilang banyak?"*


*"Kak Diga? Tentang kamu?"*


*"Tentang apapun."*


*"Kak Diga tidak banyak bilang soal siapapun. Tapi cara dia tidak banyak bilang sesuatu tentang kamu itu sendiri sudah cukup informatif."*


Ardini memandangku beberapa detik.


Lalu tersenyum — dan kali ini senyumnya punya lapisan yang lebih dalam dari yang sebelumnya. *"Kamu tajam."*


*"Dibesarkan oleh empat laki-laki yang semuanya tajam dengan caranya masing-masing. Nular."*


Ardini tertawa — tawa yang pertama kali aku dengar dan yang langsung memberitahukanku bahwa orang ini sangat genuine dalam cara dia bereaksi terhadap sesuatu.


Dan di saat yang sama, dari arah pintu depan, ada suara kunci yang dimasukkan ke lubang.


Pintu terbuka.


Bang Han masuk — dengan kemeja yang sedikit kusut karena hari panjang, tas yang disampirkan di bahu, dan ekspresi seseorang yang baru selesai dari keperluan yang rupanya tidak bisa dia perpanjang lagi.


Dia melihat aku dulu.


Kemudian melihat Ardini.


Tiga detik.


Tiga detik yang rasanya lebih panjang dari itu.


*"Han,"* kata Ardini. Nada yang sangat tenang. Sangat terkontrol.


*"Ardini."* Bang Han masuk ke ruangan, menutup pintu. *"Kamu sudah di sini."*


*"Sudah dua jam."*


*"Oh."* Satu kata. *"Maaf terlambat."*


*"Tidak apa-apa."* Ardini berdiri, mengulurkan tangan. *"Lama tidak bertemu."*


Bang Han menjabat tangannya. Dan aku yang berdiri di antara mereka, tiba-tiba sangat sibuk merapikan buku yang tidak perlu dirapikan di atas meja.


*"Sangat lama,"* kata Bang Han akhirnya.


Dan di kalimat dua kata itu — dalam cara dia mengatakannya, dalam nada yang sedikit berbeda dari suaranya yang biasanya — ada tiga belas tahun yang mencoba muat ke dalam dua kata dan tidak sepenuhnya berhasil.