Bang Han punya kelebihan yang tidak semua orang punya: kemampuan untuk membuat kehidupannya terlihat sangat baik-baik saja bahkan ketika sesuatu sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Ini bukan kemampuan yang dia sadari sepenuhnya. Dan ini bukan sesuatu yang dia lakukan secara sengaja. Tapi bertahun-tahun menjadi orang yang semua orang kenal, yang semua orang minta energinya, yang semua orang andalkan untuk mencairkan suasana — secara otomatis membangun semacam reflex: masuk ke ruangan, pasang mode terbaik, jalankan.
Dan biasanya, itu tidak membutuhkan usaha karena memang itulah Bang Han.
Tapi hari-hari ini ada sesuatu yang membuat satu lapisan tipis itu terlihat sedikit berbeda — hanya bagi yang sudah sangat mengenal caranya bergerak.
Aku termasuk yang sangat mengenal.
---
Kafe Bang Han yang baru di Senopati hampir selesai renovasi — konsep kali ini lebih *intimate* dari yang lain, dengan kapasitas yang sengaja dibuat lebih kecil dan pencahayaan yang lebih hangat. Bang Han yang merancang konsepnya sendiri, yang berarti ada bagian dari dirinya di setiap sudut tempat itu.
Aku mampir ke sana suatu sore ketika Naya ada janji dengan dosen pembimbing dan aku tidak punya alasan untuk tidak ke sana selain mau menghindari draft skripsi yang sudah aku tatap terlalu lama.
Bang Han ada di dalam, sedang mendiskusikan sesuatu dengan kontraktornya. Ketika melihatku, ekspresinya langsung berubah ke versi yang aku kenal — senyum lebar, lambaian, ucapan *"Oi, Cha! Timing bagus, justru mau minta pendapat orang luar soal layout ini."*
Kami menghabiskan hampir satu jam membahas letak furnitur dan pilihan warna dinding dengan intensitas yang tidak proporsional untuk topiknya tapi sangat menyenangkan.
Kemudian kontraktornya pergi dan kami berdua duduk di kursi yang belum dipasang dengan benar di pojok kafe yang belum jadi, dengan kopi yang Bang Han buat sendiri dari mesin espresso yang sudah dipasang sejak dua hari lalu karena *"harus test dulu sebelum operasional."*
Dalam keheningan yang nyaman itu, ponsel Bang Han bergetar di mejanya.
Dia mengambilnya. Membaca.
Dan aku melihat sesuatu yang sangat kecil terjadi di wajahnya — sesuatu yang bukan siapapun yang tidak hafal topografi ekspresinya akan perhatikan. Sedikit ketegangan di rahangnya. Cara matanya bergerak membaca dua kali. Cara dia meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan gerakan yang terlalu terkontrol untuk natural.
*"Siapa?"* tanyaku tanpa niat menginterogasi, lebih dari rasa ingin tahu yang refleks.
*"Kontak lama."* Bang Han mengangkat kopinya.
Aku tidak mendesak. Minum kopiku.
Tapi aku melihat — karena memang tidak bisa tidak melihat — bahwa dalam lima belas menit berikutnya, Bang Han tidak membalas pesan itu. Dan dua kali dia mengambil ponselnya, membacanya lagi, lalu meletakkannya tanpa mengetik apapun.
---
Aku tahu nama pengirimnya bukan dari Bang Han.
Aku tahu dari Mama, dua hari kemudian, ketika aku membantu Mama beres-beres lemari lama di kamar tamu dan menemukan beberapa foto yang sudah lama disimpan di sana — foto-foto keluarga dari satu atau dua dekade lalu, dalam album plastik yang sampulnya sudah menguning.
Di satu halaman, ada foto yang membuatku berhenti.
Taman belakang rumah sebelah — aku mengenali pagarnya. Lima anak dengan rentang usia yang jauh, semuanya tertawa ke kamera. Mas Satya yang paling tua terlihat seperti sedang tidak terlalu antusias difoto tapi tetap ada. Kak El yang sudah tinggi bahkan waktu itu. Bang Han dengan senyum paling lebarnya. Kak Diga kecil yang ekspresinya sudah datar bahkan di foto.
Dan di sebelah Bang Han, seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua yang tertawanya sangat lepas.
*"Itu Ardini,"* kata Mama dari belakangku.
Aku menoleh. Mama sudah berdiri di sampingku, menatap foto yang sama.
*"Ardini yang mana, Ma?"*
*"Anak keluarga Prasetyo. Dulu rumahnya sebelah."* Mama mengambil album itu perlahan. *"Teman baik abang-abangmu dari kecil. Terutama Reyhan."*
*Terutama Reyhan.*
*"Mereka masih kontak?"* tanyaku.
Mama membalik halaman album. *"Ardini pergi ke Amsterdam waktu dia dua puluh dua tahun. Sekolah, terus kerja. Sudah tiga belas tahun di sana."* Jeda kecil. *"Tapi Mama masih sesekali dapat kabar. Dia anak yang tidak lupa asal."*
*"Mama tahu kondisinya sekarang?"*
*"Tahu sedikit."* Mama menutup albumnya. *"Dia SMS Mama minggu lalu. Bilang akan ada proyek pameran seni di Jakarta. Enam bulan. Bertanya apakah boleh mampir."*
Aku diam sebentar. Menyambungkan titik-titik.
*"Dan Mas Han tahu?"*
Mama tersenyum — senyum yang menyimpan lebih dari yang diucapkan. *"Mama sudah kasih tahu."*
*"Reaksinya?"*
*"Bilang 'oke'."* Mama meletakkan album di rak. *"Hanya itu."*
---
Malam itu aku berbaring di kasur kamarku, menatap langit-langit, dan memikirkan dua hal sekaligus.
Pertama: di ponsel Bang Han ada pesan dari seseorang yang tiga belas tahun tidak benar-benar pergi dari cerita keluarga ini, yang sekarang akan kembali selama enam bulan.
Kedua: Bang Han sudah tiga hari tidak membalas pesan itu.
Dan Bang Han adalah orang yang membalas pesan dalam hitungan menit — bukan karena tidak ada kerjaan lain, tapi karena dia percaya bahwa kalau seseorang mengirim pesan, mereka layak mendapat respons.
Kecuali kalau pesannya datang dari seseorang yang responnya tidak bisa ditulis dalam hitungan menit.
Kecuali kalau pesannya datang dari seseorang yang untuk menjawabnya kamu perlu tahu dulu apa yang mau kamu katakan — dan kamu belum tahu.
Aku memejamkan mata.
*Ardini Prasetyo.*
Nama yang baru pertama kali aku dengar secara langsung hari ini, tapi yang terasa seperti sudah lama ada di pinggiran cerita keluarga kami — dalam cara Mama menyebut *keluarga Prasetyo* sesekali, dalam cara foto itu disimpan dengan hati-hati di album yang tidak dibuang, dalam cara Bang Han meletakkan ponselnya terlalu terkontrol tadi sore.
Sesuatu yang tidak selesai. Sudah tiga belas tahun tidak selesai.
Dan sekarang ia akan kembali.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar