Mas Tarjo sudah tiga jam tidak kembali, dan aku baru saja menemukan satu sandalnya di balik semak — masih basah, masih hangat.


Hujan baru reda dua puluh menit lalu. Aku jongkok, mengangkat sandal swallow biru lusuh itu dengan ujung jari. Tali sandalnya sobek di dua tempat. Tapi yang membuat tanganku gemetar bukan itu.


Yang membuat tanganku gemetar adalah jejak kaki di lumpur depan semak.


Jejak kaki tanpa sandal. Telanjang. Mengarah ke dalam hutan, bukan keluar.


"Reza! Lo nemu apa?"


Suara Bagas memecah dari arah camp. Aku tarik napas, masukkan sandal itu ke kantong jaket, dan berdiri. Aku belum mau bilang apa-apa. Belum.


"Nggak ada," teriakku balik. "Ranting buat api."


Aku berjalan kembali ke camp dengan kaki yang terasa berat. Empat orang menungguku — atau lebih tepatnya, tiga orang menungguku, dan satu orang menatap arah yang sama dari tadi.


Sari.


Dia duduk di atas batu basah, jaket tebalnya menggantung di pundak seperti dia lupa cara memakainya. Wajahnya menghadap timur — ke hutan tebal yang tidak kelihatan ujungnya. Sejak Mas Tarjo hilang siang tadi, Sari hanya bicara dua kali. Sekarang sudah jam empat sore.


"GPS gue masih nol bar," kata Dipo. Kameramen kami. Tangan kanannya memegang GoPro yang tidak pernah lepas, tangan kirinya memegang HP yang sudah dia teriakkan ke langit lima kali. "Sinyal nol semua. Gue udah coba lima provider."


"Iya, kita semua udah coba." Bagas menendang batu kecil. "Yang gue heran, ini gunung kecil. Tilas itu cuma 1.800 mdpl. Gimana mungkin sinyal nol total?"


Mira, yang sejak tadi duduk diam dengan tasbih di tangan, akhirnya bersuara pelan.


"Karena ini bukan masalah sinyal."


Bagas menoleh. "Maksud lo?"


Mira tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan menggeser butir tasbihnya. Pelan. Sangat pelan. Aku menghitung di dalam kepalaku — tasbih Mira ada tiga puluh tiga butir. Setiap kali aku melihat dia memakainya selama empat tahun kuliah, selalu tiga puluh tiga.


Tapi aku menghitung sekarang, dan aku salah berkali-kali.


Aku duduk di tumpukan ranting yang tadinya mau kunyalakan jadi api unggun. Ranting itu basah. Tidak akan menyala. Aku tahu. Tapi aku tetap mencoba dari tadi karena kalau aku berhenti mencoba, aku harus mulai memikirkan hal-hal lain.


Misalnya: kenapa Mas Tarjo, pemandu yang sudah dua puluh tahun hidupnya menjadi pemandu di Tilas, bisa hilang saat pergi mencari sumber air sejauh dua ratus meter dari camp.


Misalnya: kenapa hujan tadi turun selama satu jam penuh tanpa awan di langit.


Misalnya: kenapa kompas kami semua menunjuk ke arah timur. Empat kompas. Empat-empatnya menunjuk timur. Bukan utara.


"Sari." Aku memaksa diriku bicara. "Lo ngapain dari tadi liatin ke sana?"


Sari tidak menjawab.


"Sar."


Tidak.


Mira bangkit pelan, berjalan ke arah Sari, berlutut di sebelahnya. "Sayang, lo dengar gue?"


Sari mengedip. Sekali. Lalu menoleh ke Mira dengan gerakan yang terlalu lambat. Seperti kepalanya berat.


"Ada yang manggil," kata Sari pelan. Suaranya parau. "Dari arah sana. Tapi suaranya kecil. Gue belum bisa dengar jelas."


Bagas tertawa pendek. Tawanya kering. "Kerasukan, nih. Mantap. Bagus banget. Pemandu hilang, sinyal nol, anggota kelompok denger suara dari hutan. Lengkap."


"Bagas, jangan." Mira menatap dia tajam. Untuk pertama kali sejak aku kenal Mira, suaranya tidak lembut.


Tapi Sari sendiri tersenyum tipis ke arah Bagas. Senyum yang aneh — seperti senyum orang yang baru saja dengar lelucon yang tidak dia tangkap intinya.


"Bagas," kata Sari, "lo tau nggak, kata kakek gue, suara dari hutan itu yang paling sering didenger justru orang yang skeptis."


"Iya, gue paham. Karena imajinasi—"


"Bukan." Sari memotong. "Karena beringin lebih suka mereka. Yang skeptis lebih sering nyebut nama lengkap mereka pas marah. Beringin denger lebih jelas. Beringin pilih lebih cepat."


Hening.


Bagas membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Mira menarik napas pelan-pelan. Dipo, yang sebelumnya merekam adegan ini, perlahan menurunkan GoPro-nya.


Aku menatap Sari. "Sar. Lo barusan ngomong apa?"


Sari berkedip lagi. Wajahnya berubah — bingung. Seperti dia baru saja sadar dari mimpi.


"Hah? Gue ngomong apa?"


"Lo barusan—"


"Gue nggak ngomong apa-apa." Sari menatapku. "Gue dari tadi diem. Lo kenapa, Za?"


Aku menatap Mira. Mira menatapku. Dipo menatap GoPro-nya.


"Tunggu." Dipo memutar layar GoPro ke arahku. "Gue ngerekam dari tadi. Lo mau lihat?"


"Iya. Putar."


Dipo memutar rekamannya. Kami bertiga melingkar di sekitar layar kecil itu. Aku melihat Sari di layar — duduk di atas batu, jaket menggantung, wajah ke timur. Aku melihat Mira berlutut di sebelahnya. Aku mendengar suaraku sendiri, "Sar."


Aku mendengar Sari menjawab.


Tapi suara Sari di rekaman bukan suara Sari.


Itu suara seorang kakek. Suara tua. Suara yang aku pernah dengar — sekali, di desa, ketika kami bertemu Mbah Karto sebelum berangkat. Suara juru kunci yang bilang ke kami, sambil tersenyum di teras rumahnya:


"Jangan menyebut nama lengkap kalian dengan keras setelah magrib. Beringin mendengar."


Suara di rekaman itu, suara yang seharusnya keluar dari mulut Sari, mengatakan dengan tenang:


*"Cucu, kamu sudah sampai. Sekarang biarkan beringin memilih."*


Dipo menjatuhkan GoPro.


Bagas mundur tiga langkah dari Sari, tangannya menggenggam pisau lipat di sabuk. Mira tidak bergerak — dia masih berlutut di sebelah Sari, tasbih di tangannya bergetar.


Aku menatap Sari.


Sari menatap balik. Bingung. Polos. Tidak sadar apa-apa.


"Kalian kenapa?" tanyanya pelan.


Aku tidak menjawab.


Aku berdiri, dengan kaki yang sekarang lebih berat dari sebelumnya, dan berjalan ke arah Dipo. Aku ambil GoPro yang tergeletak di lumpur. Aku putar ulang rekaman dari awal.


Sekali lagi.


Dua kali lagi.


Suara kakek itu masih di sana. Setiap kali. Sama persis. Mengatakan kalimat yang sama persis.


"Ini," kataku pelan, "mungkin ada bug di kamera. Mungkin overheat. Mungkin—"


"Reza." Mira berbisik. Dia menarik tangan baju jaketku, halus. "Coba dengerin."


Aku menoleh. "Apa?"


Mira menelan ludah. Tasbihnya berhenti bergerak.


"Sari," katanya pelan, "barusan ngomong sesuatu lagi. Lo nggak denger?"


Aku menatap Sari. Sari sekarang menutup matanya. Kepalanya menunduk ke arah kakinya.


Tapi mulutnya bergerak.


Pelan. Sangat pelan. Berbisik sesuatu yang berulang-ulang.


Aku berlutut di depan Sari. Kupingku dekat ke mulutnya. Aku tahan napas.


Dan aku dengar.


*"Tiga belas... tiga belas langkah dari pohon besar... jangan lewat tiga belas..."*


Suara Sari sendiri. Sari yang asli. Tapi pelan, seperti dia mengulang doa yang dia hapal sejak kecil.


Aku tarik napas.


"Sari." Kuguncang bahunya pelan. "Sari, bangun. Sari!"


Sari membuka matanya. Menatapku.


"Kenapa, Za?"


"Lo barusan bilang... lo barusan bilang sesuatu tentang tiga belas langkah. Pohon besar. Apa itu?"


Sari mengernyit. Dia menggeleng pelan. "Gue nggak tau. Gue—"


Lalu Sari diam.


Dia menatap ke timur. Ke arah hutan tebal yang sejak siang dia tatap.


Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku melihat sesuatu di matanya yang bukan kebingungan.


Itu pengakuan.


Sari kenal arah itu.


"Za," kata Sari, suaranya bergetar, "gue nggak pernah ke gunung ini. Lo tau itu, kan? Gue nggak pernah."


"Iya."


"Tapi gue tau jalan ke pohon besar di sana. Gue tau persis. Gue tau ada tujuh sesajen di bawah akarnya. Gue tau yang tengah baru diganti minggu lalu — daun pisangnya masih hijau."


Aku merasa pipiku jadi dingin.


"Sari."


"Gue tau," Sari menelan ludah, "karena ada sesuatu di kepala gue yang udah ke sana. Berkali-kali. Sebelum gue lahir."


Sari menatapku. Matanya basah, tapi suaranya tenang.


"Za, kakek gue ngirim gue ke sini buat sesuatu. Gue baru paham sekarang."


Hening lagi. Hutan diam total. Burung-burung yang tadi sore masih bersuara, sekarang tidak ada satu pun.


Lalu, dari arah timur — dari tempat hutan paling tebal, dari arah yang Sari tatap dari tadi, dari arah yang sama dengan jejak kaki tanpa sandal yang aku temukan tadi —


Kami mendengarnya.


Suara yang pelan. Sangat pelan. Tapi jelas.


Suara seseorang memanggil.


Bukan satu suara.


Empat.


Suara empat orang, bersamaan, dari arah yang sama, memanggil empat nama yang berbeda:


*"Reza."*


*"Bagas."*


*"Mira."*


*"Dipo."*


Tepat saat aku mendengar namaku dipanggil, aku menyadari sesuatu.


Suara yang memanggilku bukan suara yang aku tidak kenal.


Itu suara Aldo.


Kakakku. Yang sudah meninggal setahun lalu.


Yang abunya, sekarang, ada di tabung kecil di dasar tasku.


Yang seharusnya tidak bisa ada di hutan ini.


Yang seharusnya tidak bisa memanggil siapapun, di mana pun, lagi.


Tapi sedang memanggilku sekarang. Dengan suara yang aku rindukan setiap malam selama tiga ratus enam puluh lima hari terakhir.


Dan suara itu, suara kakakku, sedang berkata satu kata yang sama berulang-ulang ke arahku:


*"Pulang."*


*"Pulang."*


*"Pulang ke sini."*