Kami berdebat selama empat puluh menit tentang siapa yang gila.
"Gue dengar suara cewek manggil," kata Dipo, tangannya gemetar memegang botol minum. "Suara mantan gue. Yang udah putus dua tahun lalu."
"Gue dengar abang gue," kata Bagas. Wajahnya pucat — pertama kali aku melihat Bagas pucat sejak aku kenal dia. "Abang gue meninggal pas gue SMP. Gue tau itu suara dia."
Mira hanya mengangguk pelan. Dia tidak bilang siapa yang dia dengar. Tapi air mata di pipinya sudah kering — artinya dia menangis, lalu sempat mengusapnya, lalu pura-pura tidak terjadi.
Aku tidak bilang apa-apa tentang Aldo.
Aku berdiri, mengambil ranselku, dan mulai mengeluarkan kompas. Dipo menatapku.
"Lo ngapain, Za?"
"Kita pergi dari sini."
"Ke mana?"
"Mana aja. Yang penting jauh dari arah suara tadi."
Bagas tertawa. Tawanya tidak normal — pendek, terlalu cepat. "Lo mau jalan? Sekarang? Sudah mau magrib, Reza."
"Justru karena mau magrib." Aku menarik napas. "Sari bilang—"
"Sari bilang banyak hal yang nggak masuk akal," potong Bagas. "Kita semua dengar tadi. Suara kakeknya. Ngomong soal beringin. Lo mau pakai itu sebagai panduan?"
"Iya."
Bagas menatapku lama. "Lo serius."
"Gue serius. Bagas, lo tadi denger suara abang lo manggil dari hutan. Lo mau ngabaikan itu?"
Bagas membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Dia tidak menjawab.
Sari, yang dari tadi diam di batu, bangkit pelan. Dia memakai jaketnya dengan benar untuk pertama kali sejak siang. Jari-jarinya mengancing dari bawah ke atas, satu per satu. Lambat.
"Reza," kata Sari, "kita nggak bisa ke arah barat."
"Kenapa?"
"Karena yang manggil ada di barat."
Aku mengernyit. "Tadi suaranya dari timur. Lo bilang sendiri lo dari tadi liat ke timur—"
"Itu suara yang lain," kata Sari pelan. "Yang manggil nama kalian, itu dari barat. Lo nggak sadar?"
Aku menutup mata. Aku coba mengingat.
Aldo. Aldo memanggilku. Suaranya. Datang dari—
Datang dari mana?
Aku tidak ingat.
Aku membuka mata. Sari menatapku. Wajahnya, untuk pertama kali sejak dia kerasukan, terlihat seperti Sari yang aku kenal — perempuan yang kuajak ke kantin tiap siang, yang ketawa keras pas dengar lelucon Dipo, yang main UNO tiap weekend di kos kami.
"Kita ke timur," kata Sari. "Itu satu-satunya arah yang aman. Untuk sekarang."
"Kenapa lo yakin?" tanya Mira.
Sari berbalik menatap Mira. "Karena gue tau gunung ini. Gue baru sadar gue tau."
Tidak ada yang menjawab.
Sari berjalan ke arah timur. Tas kecilnya di pundak. Sepatu hikingnya basah dari hujan tadi.
Aku mengangguk ke yang lain. Kami mengikuti.
---
Jalur ke timur sebenarnya bukan jalur. Kami mendorong semak, melewati akar pohon yang menjorok, kadang harus memanjat batu basah. Sari di depan. Dia bergerak dengan cara yang aneh — terlalu yakin untuk seseorang yang tidak pernah mendaki gunung ini sebelumnya.
Setiap kali kami sampai di persimpangan kecil — antara dua semak, antara dua arah pohon — Sari tidak pernah berhenti. Tidak pernah ragu. Dia ambil arah kanan, atau kiri, tanpa memeriksa peta atau kompas.
"Sar," panggilku setelah dua puluh menit. "Lo udah pernah di sini."
"Iya."
"Lo bilang lo nggak pernah mendaki Tilas."
"Gue emang nggak pernah."
"Tapi—"
Sari menoleh sambil terus berjalan. "Reza, lo punya kakak. Kakak lo, gue yakin, sering cerita soal jalan-jalan dia, tempat-tempat yang dia datengin. Iya?"
"Iya."
"Pas lo akhirnya pergi ke salah satu tempat itu, lo tau jalannya, kan? Walaupun lo belum pernah ke sana?"
Aku menelan ludah.
"Iya."
"Nah." Sari berbalik, terus berjalan. "Kakek gue cerita. Berkali-kali. Sejak gue bayi. Cuma gue lupa sampai sekarang."
Bagas, di belakangku, bergumam: "Cerita apaan kakek lo, sih?"
Sari tidak menjawab.
Aku menoleh ke Bagas. Wajahnya keras. Tangan kanannya di sabuk — tepat di mana pisau lipatnya.
"Bagas, taruh tangan lo dari pisau."
"Gue cuma jaga-jaga."
"Lo lagi jalan di belakang Sari sambil pegang pisau. Itu bukan jaga-jaga."
Bagas menatapku. Tidak menjawab. Tapi tangannya turun ke samping.
---
Kami menemukan jalur setapak setelah empat puluh menit jalan kasar.
Tidak — bukan menemukan. Sari membawa kami ke sana. Dia berhenti di tepi sebuah pohon besar yang sudah mati, tunjuk ke samping, dan jalur itu ada di sana. Lebar setengah meter. Tanahnya lebih bersih dari tanah hutan di sekitarnya. Daun-daun di tepi jalur ditata berbaris — bukan acak. Berbaris seperti penanda.
Dipo merekam jalur itu dari berbagai sudut. "Bro, ini jalur baru. Daun-daunnya masih hijau. Maksimal seminggu yang lalu."
"Atau kemarin," kata Mira pelan.
"Atau hari ini," tambah Sari. Dia tidak menoleh. Dia sudah mulai berjalan di jalur itu.
Aku menatap kompasku. Jarumnya menunjuk ke arah yang sama dengan jalur — timur. Tapi sekarang, untuk pertama kali sejak siang, jarumnya tidak diam. Jarumnya bergetar pelan. Seperti dia ragu antara timur dan timur-laut. Seperti ada dua arah utara di sini.
Aku tidak bilang ke yang lain. Aku masukkan kompas ke kantong. Aku mengikuti.
---
Setelah dua puluh menit di jalur, kami tiba di lapangan.
Lapangan itu kecil. Mungkin selebar lapangan badminton. Tidak ada rumput — hanya tanah, lumpur, dan akar yang menonjol dari tanah. Akar-akar yang terlalu besar untuk pohon biasa.
Lalu aku melihat pohonnya.
Beringin.
Bukan beringin kecil yang biasa kami lihat di alun-alun kota. Ini beringin tua. Tinggi, mungkin lima belas meter. Akarnya menjuntai dari dahan-dahan tinggi, beberapa sudah menyentuh tanah dan tumbuh masuk lagi — membentuk kolom-kolom kecil di sekitar pohon utama. Seperti pohon ini bukan satu pohon, tapi seratus pohon yang menyamar jadi satu.
Di bawah akar utamanya, tersusun rapi, ada sesajen.
Tujuh sesajen.
Aku menghitung.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.
Tujuh tampah anyaman bambu, masing-masing berisi: bunga melati segar, bunga kantil, sebatang rokok kretek menyala (tidak — rokok itu sudah mati, tapi abunya masih utuh, tidak terkena angin), sebutir telur ayam kampung, sepiring kecil nasi kuning, dan satu butir kembang gula merah-putih.
Setiap sesajen sama persis.
"Tujuh," kata Mira. Suaranya tipis. "Kita berlima."
"Mungkin yang dua untuk Mas Tarjo dan—" Dipo memotong kalimatnya sendiri. "Entah."
Bagas berjalan ke arah sesajen. Mira berteriak.
"Bagas, jangan!"
"Gue cuma mau lihat—"
"Bagas, jangan dekat sesajen." Sari, yang sudah berdiri dekat akar beringin, menoleh tajam. "Itu salah satu aturan kakek gue. Jangan ambil. Jangan injak. Jangan terlalu lama menatap."
"Gue lapar."
"Lapar — tahan saja."
Bagas menatap Sari. Lalu menatap sesajen. Lalu, pelan, dia mundur tiga langkah.
Aku berjalan ke samping Sari. Aku menatap akar beringin yang besar. Akarnya terbuat dari kayu kering yang menyatu dengan tanah — tapi bagian luarnya licin. Seperti ada yang sering menyentuhnya.
"Sar," kataku pelan, "lo bilang tadi yang tengah baru diganti minggu lalu."
"Iya. Yang tengah."
"Gimana lo tau?"
Sari menunjuk. "Daun pisang yang dipakai sebagai alas. Yang tengah masih hijau cerah. Yang lain sudah mulai kuning di pinggir. Beda usia."
Aku menatap. Sari benar. Yang tengah, alas daun pisangnya benar-benar segar.
"Berarti," kataku, "ada orang yang baru-baru ini ke sini. Minggu lalu, paling tidak."
"Iya."
"Sar, kita di hutan. Gunung Tilas. Desa terdekat dua belas kilometer ke barat. Siapa yang naik ke sini cuma untuk taruh sesajen?"
Sari menatapku.
"Bukan siapa, Za. Tapi apa."
Aku ingin bertanya lagi. Tapi Dipo, di belakang kami, tiba-tiba berkata —
"Bro. Kalian liat ini."
Kami berbalik.
Dipo berdiri di tepi lapangan, di sisi yang berlawanan dari kami. Dia memegang GoPro-nya. Layarnya menyala.
"Gue baru rekam beringin dari jauh tadi. Pas kita masuk lapangan. Tapi pas gue puter ulang—"
Dia menunjukkan layar ke kami.
Di rekaman, beringin terlihat persis seperti beringin yang ada di depan kami sekarang. Akar yang sama. Sesajen yang sama. Lapangan yang sama.
Tapi di antara akar-akar yang menjuntai, ada sosok.
Sosok yang berdiri. Membelakangi kamera. Mengenakan jaket parka berwarna jingga.
Jaket parka jingga itu — itu jaket Mas Tarjo. Yang dia pakai pas siang tadi. Yang sekarang, di pohon di mana pun di hutan ini, tidak terlihat di akar.
Aku menatap layar. Aku menatap pohon di depanku.
Tidak ada sosok di antara akar.
Tidak ada Mas Tarjo.
Hanya rekaman yang menunjukkan ada — padahal mata kami melihat tidak.
Dipo menelan ludah.
"Bro," katanya pelan, "kita nge-camp di mana malam ini?"
Aku tidak menjawab.
Aku masih menatap rekaman.
Sosok di rekaman itu — yang membelakangi kamera, yang seharusnya tidak ada di sana — pelan-pelan, di layar, mulai menoleh.
Wajahnya hampir terlihat.
Lalu rekamannya berakhir.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar