*Sari terikat di tenda. Aldo di rekaman bilang: "Pilihan salah."*
---
Aku tidak bisa tidur.
Bagas yang jaga pertama. Dia duduk di luar tenda, bersandar di batang pohon mati, pisau lipatnya di pangkuan. Tidak menggenggam. Hanya di pangkuan, siap diambil. Mira tidur di tenda Sari — dia bersikeras tidur di sebelah Sari malam ini, "biar Sari nggak sendirian."
Dipo dan aku di tenda kedua.
GoPro Dipo masih di tangannya. Layar mati, tapi lampu rekam masih menyala — Dipo membiarkan kameranya merekam sepanjang malam. Mode time-lapse. Kalau ada sesuatu yang lewat, kami akan tahu pagi.
Aku menatap langit-langit tenda. Aku coba menghitung berapa kali aku sudah memutar rekaman Aldo di kepalaku.
Lima. Sepuluh. Tidak lagi terhitung.
Aldo. Pakai kemeja flanel merah. Berdiri di belakang Mira. Mengulurkan tangan untuk menahan tubuh Sari yang pingsan.
Mulutnya bicara dua kata. *"Pilihan salah."*
Aku terus memutar. Aku terus mencari hal yang aku lewatkan. Cara berdirinya — apakah dia berdiri di tanah, atau melayang? Tangannya — apakah dia benar-benar menyentuh Sari, atau hanya tampak menyentuh? Wajahnya — apakah itu wajah Aldo dari pemakaman, atau Aldo dari sebelumnya?
Aku tidak bisa simpulkan apa-apa. Cuma pertanyaan.
"Bro." Bisik Dipo, di sleeping bag-nya. "Lo masih bangun?"
"Iya."
"Lo nggak akan bisa tidur, kan?"
"Iya."
Dipo bangun pelan. Dia mengambil GoPro dari pinggir tenda. Dia matikan mode time-lapse, dia putar mode normal.
"Bro, gue mau lihat sesuatu lagi. Tapi gue butuh lo lihat juga."
"Apa?"
"Gue rekam tenda Sari dari sini. Lima belas menit terakhir. Sebelum kita masuk tenda, gue sengaja taruh GoPro yang menghadap ke tenda Sari."
Dipo memutar layarnya ke arahku.
Di rekaman, tenda Sari. Mira di luar, baru selesai menutup retsleting. Mira berbalik, jalan ke tenda kami. Layar bergetar — itu Dipo yang ambil GoPro dan masuk tenda. Lalu rekaman berlanjut dari dalam tenda, layarnya menghadap ke luar — ke tenda Sari, di balik kanvas semi-transparan.
Selama tujuh menit, tidak ada apa-apa.
Lalu, di menit kedelapan, sesuatu lewat di belakang tenda Sari.
Bukan binatang. Bukan angin yang menggoyang ranting. Sosok manusia. Tinggi. Pakai sesuatu — tidak jelas dari rekaman — tapi siluetnya jelas: manusia.
Sosok itu berhenti di belakang tenda. Diam selama lima belas detik. Lalu — perlahan — masuk ke tenda Sari.
Bukan dari pintu. Dari belakang. Tembus kanvas.
"Dipo," bisikku.
"Iya, bro. Gue lihat."
"Itu—"
"Bukan kita, bukan Bagas. Tinggi badannya beda. Dan kita semua di luar tenda dari menit pertama."
Aku menatap layar. Aku coba lihat sosok itu lebih jelas. Tapi rekaman GoPro tidak cukup tajam untuk pencahayaan rendah — sosok itu hanya siluet hitam.
"Dipo, kita harus ke tenda Sari sekarang."
"Iya."
---
Kami keluar tenda pelan-pelan. Bagas, di pohon mati, menatap kami.
"Lo dua kemana?"
"Tenda Sari."
"Mira di sana."
"Ada sesuatu di rekaman. Sosok masuk ke tenda Sari dari belakang. Lima menit lalu."
Bagas berdiri. Pisau lipatnya sekarang di tangan, terbuka. "Mira—"
"Pelan-pelan, Bagas. Jangan teriak. Kita nggak tau apa yang ada di dalam."
Kami bertiga jalan pelan ke tenda Sari. Bagas di depan, pisau siap. Aku di belakangnya. Dipo paling belakang, GoPro merekam.
Lima meter dari tenda, aku mendengar.
Suara Mira. Pelan. Berbisik.
Mira sedang bicara dengan seseorang.
Aku berhenti. Aku tahan tangan Bagas.
"Mira," bisik Bagas, "ngomong sama siapa?"
"Sama Sari?" tanyaku pelan. "Kalau Sari bangun—"
"Sari diikat, Reza. Lo sendiri yang ikat. Sari nggak bisa duduk."
Kami mendekat dua meter lagi. Suara Mira lebih jelas sekarang. Dia tidak berbisik. Dia bicara dengan suara normal — tapi pelan, lembut, seperti dia sedang menenangkan anak kecil.
"...iya, sayang. Iya. Mama sayang kamu juga. Kamu udah dewasa sekarang, ya?"
Aku merasakan keringat dingin.
Mira tidak punya anak. Mira belum menikah. Mira tidak pernah memanggil siapapun di kelompok kami "sayang" dengan nada itu — nada Ibu ke anak.
"Bagas, pelan-pelan."
Bagas membuka retsleting tenda Sari. Dia menyorotkan senter ke dalam.
Mira di dalam, duduk bersila, menghadap Sari.
Sari masih terikat. Mata tertutup. Napasnya pelan.
Tapi mulut Sari bergerak.
Pelan. Membuka dan menutup. Seperti dia sedang bicara — meski tidak bersuara.
Dan Mira menjawab apa yang mulut Sari "katakan".
"Mira," kataku pelan. "Mir."
Mira tidak menoleh.
"Mira."
Mira berbalik. Pelan. Wajahnya tenang. Tasbih di tangannya tidak bergerak.
"Reza, kalian masuk."
"Mira, lo—"
"Reza, dia ngomong sama gue. Anak Mira. Anak yang gue tunggu lima tahun."
Aku menatap Mira. Wajah Mira tenang, tapi matanya basah.
"Mira, lo nggak punya anak."
"Iya, gue tau." Mira tersenyum. Senyum yang aku belum pernah lihat di wajahnya. "Tapi anak gue ada di sini sekarang. Lewat Sari. Lima tahun lalu, anak gue meninggal di kandungan. Bulan ketujuh. Gue nggak pernah bilang ke siapa-siapa."
---
Bagas masuk tenda. Dia menarik Mira keluar dengan pelan tapi tegas. Mira tidak melawan — dia masih tersenyum, masih menatap Sari, masih bilang "iya, sayang, sebentar ya, Mama balik bentar."
Aku duduk di samping Sari. Aku menatap mulut Sari. Mulutnya masih bergerak.
"Sari," bisikku. "Sar."
Mulut Sari berhenti bergerak.
Lalu mata Sari membuka.
Bukan mata putih kakek. Bukan mata Sari yang asli.
Mata itu mata yang aku kenal. Mata yang sudah aku lihat ribuan kali sejak aku berumur tiga tahun. Mata coklat tua, dengan bintik hijau kecil di iris kanan — bintik yang Aldo bilang adalah "tanda kalau dia adik gue spesial."
Mata Aldo.
Di wajah Sari.
Menatap aku.
"Za," bisik Sari — atau Aldo — atau apapun yang ada di tubuh Sari sekarang.
Suara Sari, tapi nada Aldo. Nada panggilan kakak ke adik.
"Za, lo nggak bisa terus marah sama gue."
Aku tidak bisa bergerak.
"Aldo," bisikku. "Lo—"
"Iya, Za. Gue. Bukan ilusi beringin. Bukan trik kakek Sari. Gue."
"Gimana lo—"
"Sari ngebuka pintunya. Pas dia kerasukan tadi sore, kakek dia bawa banyak roh ke tubuh dia. Gue salah satunya. Gue masuk lewat dia. Sekarang gue bisa ngomong sama lo lewat dia, Za. Selama dia masih kerasukan. Sebelum kakek dia ambil alih lagi."
Aku menelan ludah. Air mataku mulai keluar — aku tidak bisa tahan.
"Aldo, gue—"
"Za, dengar gue. Penting. Lo pilih ngikat Sari. Itu pilihan yang—"
Mulut Sari berhenti bicara. Tubuhnya kaku.
Mata Aldo di Sari mulai berputar.
"Aldo!"
"Za, dengerin cepet. Beringin malam ini akan pilih satu di antara kalian sebagai tumbal. Bukan Sari. Salah satu yang lain. Lo udah tau. Lo punya waktu sampai tengah malam buat persembahkan sesuatu yang menggantikan tumbal itu."
"Apa? Apa yang gue persembahkan?"
Mata Aldo di Sari mulai memutih. Kakek Sari sedang ambil alih.
"Za, gue—"
"Aldo, ngomong cepat!"
"Za, persembahkan abu gue. Sekarang. Di akar beringin. Lo bawa gue kan? Persembahkan gue. Itu akan jadi pengganti tumbal."
Mata Aldo hilang. Mata putih kakek muncul. Sari kerasukan lagi.
Tapi sebelum kakek bicara, satu kalimat terakhir keluar dari mulut Sari — pelan, parau, dengan suara Aldo yang sudah tipis:
*"Za, lo harus pilih. Gue, atau salah satu dari mereka. Tengah malam."*
---
Aku keluar tenda dengan kaki gemetar.
Bagas dan Dipo menatap aku. Mira duduk di bangku batu, masih tersenyum tipis, masih menatap tenda Sari, tasbihnya di tangan tapi tidak bergerak.
"Bro," kata Dipo. "Lo ngomong sama Sari?"
"Bukan Sari."
"Siapa?"
Aku menelan ludah.
"Aldo."
Bagas menatapku. "Aldo... kakak lo?"
"Iya."
"Aldo yang udah meninggal."
"Iya."
Bagas tidak bicara lagi. Dia hanya menatap aku, lalu menatap tenda Sari, lalu menatap Mira yang masih tersenyum.
"Reza," kata Bagas pelan. "Lo tau apa yang Mira bilang ke kita pas gue tarik dia keluar tadi?"
"Apa?"
"Mira bilang, anaknya yang udah meninggal lima tahun lalu, nyuruh dia... 'nyusul mama.'"
Aku menatap Mira.
Mira di bangku batu, masih tersenyum. Tapi sekarang aku perhatikan — dia sedang meraba-raba sesuatu di kantongnya. Pelan. Hati-hati.
Tasbihnya bukan satu-satunya yang dia pegang.
Ada sesuatu yang tajam di kantongnya.
Mata pisau.
---
Aku menatap jam tanganku.
Pukul sebelas malam tiga puluh empat.
Dua puluh enam menit lagi sampai tengah malam.
Aldo bilang aku harus pilih: persembahkan abunya, atau biarkan beringin pilih satu di antara kami.
Aku menatap Mira yang masih meraba sesuatu di kantongnya.
Aku menatap Bagas yang wajahnya sekarang pucat.
Aku menatap Dipo yang GoPro-nya masih merekam — mungkin merekam hal-hal yang aku tidak lihat.
Aku menatap tenda Sari yang masih tertutup, di mana Sari yang asli atau Aldo atau Mbah Karto — siapapun yang ada di sana sekarang — sedang menunggu keputusanku.
Empat orang di sini. Empat orang yang aku sayang dengan cara-cara yang berbeda.
Dan aku punya satu tabung kecil di tas — yang berisi abu Aldo — yang Aldo bilang harus aku persembahkan ke beringin sebelum tengah malam.
Tapi Aldo juga ngomong satu hal yang aneh tadi. Sebelum kakek Sari ambil alih.
Aldo bilang, *"Lo harus pilih. Gue, atau salah satu dari mereka."*
Bukan, "persembahkan gue, mereka selamat."
*"Lo harus pilih."*
Dengan nada yang terdengar seperti — Aldo tidak yakin pilihan mana yang dia mau aku ambil.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar