Kamu memilih: ikat Sari, lindungi dia dan kelompok.*
---
Aku tidak menjawab kakek lewat kata-kata.
Aku menjawab lewat tindakan.
"Mira," kataku tanpa menoleh. "Tali tenda. Yang sintetik. Di tas gue, kantong samping kanan."
Mira terdiam sebentar. Lalu, pelan, dia mengangguk. Dia bergerak ke tasku.
*"Reza Pratama,"* bisik Mbah Karto lewat mulut Sari. Suaranya masih tenang, tapi sekarang ada sesuatu di nadanya — kecewa? Geli? Aku tidak bisa baca. *"Kamu pilih nomor satu."*
"Iya."
*"Kakek hormati. Tapi kakek mau kamu tau konsekuensinya."*
"Saya tahu."
*"Kamu nggak tau, Reza."*
Aku menatap Sari — mata putihnya, senyum kakek yang tipis di mulutnya — dan untuk pertama kali sejak siang, aku merasakan amarah yang bersih. Bukan takut. Bukan bingung. Marah.
"Mbah Karto, saya udah pilih. Kalau Anda mau jelaskan konsekuensinya, jelaskan cepat. Saya nggak punya waktu."
Kakek tertawa pelan dari mulut Sari. Tawanya kering, sopan, seperti tawa kakek tua yang baru dengar lelucon dari cucunya yang masih kecil.
*"Konsekuensinya, Reza, beringin nggak dapat tumbal sukarela malam ini. Yang berarti besok pagi, beringin akan minta tumbal yang lain. Bukan cucu kakek. Salah satu dari kalian."*
Hening.
Aku mendengar Mira berhenti bergerak. Aku mendengar Bagas menarik napas tajam.
"Salah satu dari kami," ulangku.
*"Iya."*
"Yang dipilih beringin."
*"Iya."*
"Berdasarkan apa?"
*"Berdasarkan siapa yang paling sering melanggar aturan kakek malam ini."*
Aku ingat Bagas tadi sore — berteriak ke arah Sari, sebut nama lengkapnya. Setelah magrib. Aku ingat aku sendiri tadi — hampir menjawab suara Aldo dari hutan. Aku ingat Dipo — tatapannya terlalu lama ke arah sesajen pas kami masuk lapangan tadi.
Kami semua sudah melanggar.
"Mbah Karto," kataku pelan, "kalau Sari saya ikat sampai subuh, lalu pas subuh saya lepas, dia masih bisa pergi sukarela. Iya kan?"
Mata putih Sari menatapku lama.
*"Reza, kamu mulai mikir."*
"Iya kan?"
*"Tapi kamu salah."*
"Salahnya di mana?"
*"Salahnya, sebelum subuh, beringin udah pilih siapa di antara kalian. Cucu kakek nggak bisa lagi gantikan posisi mereka. Begitu beringin pilih, pilihan beringin nggak bisa dibatalkan."*
Aku menelan ludah.
"Kapan beringin pilih?"
Kakek tersenyum dari mulut Sari. Senyum yang lebar sekarang — bukan senyum kakek. Senyum yang lebih besar dari yang seharusnya bisa dibuat oleh wajah Sari.
*"Tengah malam, Reza. Tepat tengah malam."*
Aku menatap jam tangan.
Pukul delapan lewat sembilan menit.
Tiga jam lima puluh satu menit lagi.
---
Mira datang dengan tali sintetik di tangan kanannya. Wajahnya pucat — dia mendengar semua percakapan tadi.
"Reza," bisik Mira, "kalau yang dia bilang benar—"
"Mira, gue tau."
"Berarti pilihan kita yang ngikat Sari—"
"Mira."
Aku menatap Mira. Aku coba bicara dengan suara yang tenang, walaupun dadaku sakit.
"Mira, gue percaya Sari. Bukan kakek dia. Dan Sari, sebelum kakek dia ambil alih lagi, ngedip ke gue. Sekali. Itu tanda persetujuan."
"Reza, lo yakin dia ngedip karena setuju?"
"Nggak yakin. Tapi gue lebih nggak yakin lagi sama kakek dia."
Mira menatapku lama. Tasbihnya berhenti bergerak di tangan kirinya.
Akhirnya dia mengangguk pelan.
"Oke. Gue percaya."
Kami berdua berbalik ke arah Sari. Bagas, yang tadi berdiri dengan pisau di tangan, sekarang menyimpan pisaunya. Tangannya pelan turun ke samping.
"Bagas, lo bantu gue?" tanyaku.
"Bantu apa?"
"Tahan kaki Sari. Mira tahan kepalanya. Gue ikat tangannya ke belakang. Pelan-pelan. Jangan kasar."
Bagas menatapku.
"Lo serius mau ngikat Sari pakai tali tenda."
"Iya."
"Gimana kalau dia kerasukan terus, ngamuk?"
"Kita lihat aja."
Bagas menatap Sari. Mata putih kakek menatap balik Bagas, dengan senyum yang masih lebar.
"Oke," kata Bagas pelan. "Gue bantu."
---
Mengikat Sari ternyata lebih mudah dari yang aku takutkan.
Karena kakek tidak melawan.
Mata putih Sari mengikuti gerakan kami — saat Bagas memegang kakinya, saat Mira menahan kepalanya, saat aku perlahan memutar tangan Sari ke belakang dan melingkarkan tali sintetik di pergelangan. Tapi kakek tidak menggerakkan tubuh Sari sedikit pun.
Dia hanya menatap. Dan senyumnya, senyum lebar yang bukan senyum Sari, tidak pernah luntur.
Saat aku menarik simpul terakhir — cukup kencang untuk menahan, cukup longgar untuk tidak menyakiti — kakek berbisik:
*"Reza Pratama, kakek nggak marah ke kamu."*
"Saya nggak butuh Anda nggak marah."
*"Kakek mau kasih kamu satu hal terakhir. Sebelum tubuh ini istirahat."*
"Apa."
*"Kakek tau soal Aldo."*
Aku berhenti bergerak.
Tanganku masih di pergelangan tangan Sari yang sekarang terikat. Aku merasakan kulit Sari dingin di bawah ujung jariku.
"Mbah Karto, jangan—"
*"Aldo masih di hutan, Reza. Bukan ilusi. Bukan tipuan beringin. Beringin nggak bisa pakai orang yang udah mati — beringin cuma bisa pakai mereka yang masih ada. Aldo masih ada."*
"Mbah Karto—"
*"Kamu pilih nomor satu, Reza. Sekarang Aldo nggak bisa kamu temui lagi. Karena pilihan satu, kamu tetap di sini sampai subuh, di lapangan ini, sama beringin. Aldo ada di barat. Empat kilometer."*
Mira, di samping Sari, menarik tangan kanannya dari kepala Sari.
"Reza." Suaranya pelan. Tegas. "Jangan dengarkan."
"Mira, gue—"
"Reza." Mira menatapku. "Lo udah pilih. Sekarang lo eksekusi. Pikirin Aldo nanti, kalau lo masih hidup buat mikirin dia."
Aku menelan ludah.
Aku menatap Sari. Mata putih kakek. Senyum lebar yang bukan senyum Sari.
"Mbah Karto," kataku, suaraku sekarang berbeda — lebih datar, lebih kosong, lebih dingin, "saya nggak akan ke barat. Saya udah pilih ikat cucu Anda. Saya nggak akan ubah pilihan saya buat ngejar bayangan abang saya."
Senyum lebar Sari mulai meredup.
*"Reza Pratama. Kakek kecewa."*
"Saya nggak peduli."
*"Tapi kakek tetap hormati pilihan kamu. Selamat tidur, anak-anak. Tiga jam lima puluh menit lagi, beringin akan pilih."*
Lalu mata Sari menutup.
Tubuhnya melemas dalam ikatan. Napas Sari yang asli — pelan, lembut, dangkal — kembali. Wajah Sari kembali jadi wajah Sari.
Dia pingsan.
Mira mengusap rambut Sari pelan-pelan. Mira mulai berdoa lagi — pelan, hampir tidak terdengar.
Aku berdiri.
Kakiku gemetar. Aku tidak sadar selama berapa lama aku menahan napas, tapi sekarang aku coba bernapas normal lagi dan paru-paruku terasa pedas.
"Bagas, bantu gue pindahin dia ke tenda."
"Iya."
Kami mengangkat Sari bersama. Tubuhnya ringan. Lebih ringan dari yang seharusnya.
Aku tidak suka itu.
---
Setelah Sari terbaring di tenda, Mira tinggal di sebelahnya. Bagas, Dipo, dan aku duduk di luar, di sekitar api unggun yang sekarang hampir mati.
Tidak ada yang bicara selama lima menit.
"Bro," akhirnya Dipo berkata. Suaranya pelan. "Gue dapet sesuatu di rekaman."
"Apa?"
Dipo menyerahkan GoPro-nya. Aku menatap layar.
Dia memutar rekaman dari saat kami mengikat Sari. Aku menonton diriku sendiri — wajahku pucat, tanganku gemetar saat menarik simpul tali. Aku menonton Mira berlutut di sebelah Sari, menahan kepalanya. Aku menonton Bagas memegang kaki Sari dengan dua tangan, hati-hati seolah dia takut Sari akan pecah.
Lalu aku menonton bagian setelah itu.
Bagian saat Sari pingsan.
Bagian saat Mira menangkap Sari.
Tapi di rekaman, bukan Mira yang menangkap.
Yang menangkap Sari di rekaman, sosok di belakang Mira. Berdiri persis di belakang Mira, lebih tinggi dari Mira, mengulurkan tangan ke depan untuk membantu menahan tubuh Sari.
Sosok itu mengenakan kemeja flanel merah. Yang sudah lama tidak aku lihat di mana pun. Yang harusnya, satu tahun lalu, dibakar bersama jasadnya.
Sosok itu Aldo.
Kakakku.
Mira tidak melihatnya. Bagas tidak melihatnya. Aku tidak melihatnya.
Tapi GoPro Dipo melihatnya.
Dipo menatapku. Wajahnya pucat.
"Reza, lo kenal sosok ini?"
Aku tidak bisa bicara.
Aku menatap layar, dan aku menatap rekaman wajah kakakku — wajah yang aku tidak pernah lihat lagi sejak hari pemakaman, wajah yang aku berharap setiap malam selama tiga ratus enam puluh lima hari aku bisa lihat lagi —
— dan wajah Aldo, di rekaman, perlahan menoleh ke arah kamera.
Menatap balik aku.
Tersenyum.
Lalu, di rekaman, mulutnya bergerak. Bicara.
Tapi tidak ada suara.
Aku perbesar layar. Aku coba baca bibirnya.
Dua kata. Aldo bilang dua kata, ke kamera, ke aku.
*"Pilihan salah."*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar