Kami nge-camp di tepi lapangan. Sejauh mungkin dari beringin, tapi cukup dekat untuk bisa melihatnya.


Aku tidak suka pilihan ini. Tidak ada yang suka. Tapi saat kami coba turun jalur tadi — coba kembali ke arah barat, kembali ke camp lama kami — Dipo menyadari sesuatu. Jalur setapak yang membawa kami kemari sekarang tidak ada lagi. Daun-daun yang ditata berbaris di tepi jalur sudah kembali acak. Tanah yang tadi bersih sekarang ditutup semak, seperti hutan menutup pintunya di belakang kami.


Sari tidak terkejut. Dia hanya bilang, "Beringin udah pilih kita."


Sekarang sudah jam tujuh malam. Magrib lewat tiga puluh menit. Gelap total — bulan tertutup awan tebal yang muncul tiba-tiba.


Dipo berhasil menyalakan api unggun pakai gas portable yang dia bawa. Bagas duduk paling dekat ke api, tangan melingkari lutut. Mira di sebelah Bagas, tasbih di tangan, mulutnya bergerak pelan dalam doa. Sari di seberang api, menatap nyala api seperti dia mencari sesuatu di sana.


Aku duduk di samping Sari.


"Sar," kataku pelan, "ceritain. Yang lo inget tentang kakek lo."


Sari diam lama. Lalu, akhirnya, dia mulai bicara.


---


"Kakek gue juru kunci Gunung Tilas. Sudah tiga puluh dua tahun."


Aku mengangguk. Aku ingat — pas kami pertama tiba di desa Sumberkembang, dua hari lalu, kami singgah di rumah Mbah Karto. Sari yang bawa kami. Mbah Karto duduk di teras, kulit keriput, mata yang terlalu tajam untuk kakek umur tujuh puluh delapan. Dia kasih kami minum air hangat. Dia kasih kami aturan.


"Kakek gue dulu pernah cerita ke gue," lanjut Sari, "pas gue umur lima tahun. Dia pegang tangan gue, dia bilang, 'Sari, kalau kakek udah tua banget, kakek bakal ngajak kamu ke Tilas. Kamu mau, kan, ikut kakek?' Gue jawab mau. Karena umur lima tahun gue suka kakek."


Sari menelan ludah.


"Sepuluh tahun kemudian, kakek gue mulai ngomong sama gue dalam mimpi. Setiap malam. Kadang dia ngajarin gue hitungan. Kadang dia ngajarin gue nama-nama tumbuhan. Kadang dia bilang ke gue, 'Cucu, jangan lupa angka tujuh. Tujuh sesajen. Tujuh aturan. Tujuh tahun lagi.'"


"Lo kasih tau orang tua lo?" tanyaku.


"Iya. Mama gue marah. Dia bilang ke kakek, 'Bapak jangan mainin Sari. Sari nggak mau.' Tapi kakek gue cuma senyum. Dia bilang, 'Kalau Sari nggak mau, ya nggak apa-apa. Gunungnya yang nyari Sari, bukan kakek.'"


Bagas, yang tadinya pura-pura tidak mendengarkan, sekarang mengangkat kepalanya. "Dan lo kabur."


"Iya. Gue kuliah di kota. Gue pikir gue bisa lupa."


"Tapi minggu lalu," kataku, "lo yang ngajak kita pendakian ke Tilas."


Sari menatap api.


"Iya."


"Kenapa?"


Sari diam lama.


"Karena pagi itu, gue bangun dengan nama gue ada di kepala gue. Bukan nama lengkap gue. Nama lain. Nama yang gue nggak tau. Tapi pas gue ngomong nama itu di depan cermin, gue tau itu nama gue juga."


Mira berhenti berdoa.


"Sari, lo bilang ke gue lo punya tugas kuliah," kata Mira pelan. "Itu yang lo bilang ke kita semua. Tugas kuliah pendakian buat mata kuliah Geografi."


"Iya. Itu bohong."


Tidak ada yang menjawab.


Sari menatap api lebih lama. Lalu dia berbalik ke arah kami semua.


"Gue minta maaf. Gue ngajak kalian buat alasan yang gue sendiri nggak ngerti. Tapi gue tau sekarang. Kakek gue manggil gue. Dan kakek gue butuh gue bawa orang lain."


"Buat apa?" tanya Dipo.


Sari membuka mulut. Dia mau bicara. Lalu dia tutup mulutnya. Lalu dia coba lagi.


"Gue nggak tau. Bagian itu, gue belum inget."


---


"Aturan kakek lo," kataku, mencoba mengarahkan kembali. "Lo masih inget?"


Sari mengangguk pelan.


"Ada lima yang dia kasih ke kalian pas kita di teras."


"Ulangi," pinta Mira.


Sari menarik napas. Dia menatap api. Dia bicara dengan suara yang terdengar setengah dari Sari, setengah dari sesuatu yang lain.


*"Satu — jangan lewat tiga belas langkah dari pohon besar. Selalu dua belas atau empat belas. Yang melanggar, ditandai jadi tumbal."*


Bagas mengernyit. "Tumbal apaan."


Sari tidak menjawab pertanyaan Bagas. Dia melanjutkan.


*"Dua — jangan ambil sesajen. Jangan injak. Jangan terlalu lama menatap. Lapar, tahan saja."*


*"Tiga — setelah magrib, jangan menyebut nama lengkap kalian dengan keras. Beringin mendengar."*


Aku menelan ludah. Sekarang sudah jam tujuh tiga puluh.


*"Empat — yang memanggil kalian dari hutan, sering pakai suara orang yang kalian sayang. Jangan menjawab. Jangan menoleh."*


Bagas tertawa pendek, kering. "Telat. Kita semua udah denger tadi."


"Tapi kita nggak menjawab," kata Mira pelan. "Itu bedanya. Kita dengar, tapi kita nggak menjawab."


*"Lima — kalau kalian merasa berputar-putar di tempat yang sama, itu bukan tersesat. Itu sedang dipilih."*


Sari berhenti.


"Itu lima," kata Dipo. "Lo bilang masih ada yang lain?"


Sari menelan ludah.


"Ada dua lagi yang kakek gue nggak kasih tau ke kalian. Yang dia simpan."


"Apa?"


Sari membuka mulutnya. Lalu suaranya berubah.


Suaranya bukan suara Sari lagi.


Itu suara kakek tua. Mbah Karto. Suara yang sama yang ada di rekaman GoPro Dipo tadi sore.


*"Cucu, jangan kasih tau yang nomor enam dan tujuh. Mereka nggak boleh tau. Belum saatnya."*


Sari mengejang. Punggungnya kaku. Matanya berputar ke atas, hanya putih yang terlihat. Mira melompat ke arahnya, tasbih di tangan, mulai membaca doa keras.


"Sari! Sari!"


"Mira, jangan terlalu dekat—" aku berseru, tapi terlambat.


Sari, dengan mata yang masih putih, perlahan menoleh ke arah Mira. Mulutnya terbuka.


*"Mira Hapsari."*


Suara Mbah Karto. Menyebut nama lengkap Mira.


Setelah magrib.


Mira terdiam. Tasbihnya berhenti bergerak.


*"Cucu Karto bilang dia mau cerita aturan enam dan tujuh? Yo wis, kakek aja yang cerita."*


Sari — atau yang ada di tubuh Sari — tersenyum. Senyum yang tidak pernah ada di wajah Sari sebelumnya. Senyum kakek.


*"Aturan enam — beringin sudah pilih korban sebelum kalian sampai. Kalian datang tidak untuk lari. Kalian datang untuk milih siapa di antara kalian yang dipilih."*


Bagas bangkit. "Apa-apaan—"


*"Aturan tujuh — penjaga beringin harus diganti tiap tiga puluh tahun. Mbah Karto sudah tiga puluh dua tahun. Mbah Karto butuh pengganti."*


Sari menutup matanya. Tubuhnya melemas. Dia jatuh ke samping. Mira menangkapnya tepat sebelum kepalanya kena tanah.


Sunyi.


Api unggun bergetar tanpa angin.


Dipo, dengan tangan yang masih gemetar, mengangkat GoPro-nya. Layarnya menyala.


"Gue ngerekam tadi. Semua. Lima menit terakhir."


Aku tidak menjawab.


Mira pelan-pelan menggoyang Sari. "Sari? Sari, sayang, bangun."


Sari terbuka matanya. Lambat. Dia menatap Mira. Lalu menatapku. Lalu menatap api. Tidak ada penyamaran kakek lagi di matanya. Hanya Sari yang lelah.


"Gue ngomong apa tadi?" tanyanya pelan.


"Lo... kakek lo ngomong lewat lo," kata Mira. "Tentang aturan enam dan tujuh."


Sari menutup matanya. Dia menarik napas panjang.


"Aturan enam dan tujuh," gumamnya. "Yang harusnya kakek nggak kasih tau ke kalian."


"Tapi udah dikasih tau," kata Bagas. Suaranya keras. Marah. "Lo dengar nggak, Sar? Beringin udah pilih satu di antara kita. Itu kata kakek lo. Satu di antara kita harus jadi tumbal. Atau penjaga. Atau apapun."


Sari mengangguk pelan.


"Iya. Gue dengar."


"Lo gimana bisa tenang?!"


"Karena gue tau," kata Sari, "dari awal, korbannya bukan kalian."


Hening.


Bagas mundur satu langkah. "Maksud lo?"


Sari menatap kami. Mata Sari sekarang basah, tapi suaranya jernih.


"Korbannya gue. Gue jangkar darah. Gue cucu juru kunci. Tanpa gue, beringin nggak bisa nerima siapapun dari kalian. Kakek bawa gue ke sini buat itu."


"Tapi kakek lo bilang—" kata Mira.


"Kakek bohong sebagian. Dia bilang harus ada tumbal dari kalian. Itu nggak benar. Yang harus ada cuma gue. Tapi kakek butuh saksi. Dia butuh kalian, biar ritualnya bisa diakui sama beringin. Lima orang naik. Empat orang turun. Itu syarat ritualnya."


Aku menatap Sari.


"Sar. Lo lagi bilang lo udah tau dari tadi?"


"Gue baru inget pas kakek tadi pakai gue sebagai mulut."


"Sari."


"Reza, gue bukan korban kalian. Kalian korban gue. Gue yang ngajak kalian ke sini."


Sari bangkit. Pelan. Kakinya lemah, tapi dia berdiri.


"Sekarang kalian tau aturan enam dan tujuh. Sekarang kalian tau gue jangkar darah. Mungkin kalian bisa pulang sebelum subuh. Kalau kalian jalan ke arah barat sekarang, lewat jalur yang tertutup tadi, mungkin beringin biarin kalian lewat. Karena gue masih di sini. Gue belum pergi."


Bagas berdiri juga. "Lo mau ngapain?"


Sari menatap Bagas.


"Gue mau ke beringin. Sekarang."


"Sari—" Mira meraih tangan Sari.


Sari menarik tangannya.


"Mira, kalau gue tunggu sampai subuh, gue nggak akan punya pilihan. Kalau gue pergi sekarang, gue bisa milih cara gue. Gue bisa milih hitungan empat belas. Gue bisa milih yang damai."


Sari mulai berjalan. Pelan, tapi pasti, ke arah beringin. Empat puluh meter dari kami.


Aku berdiri.


"Sari, tunggu."


Sari berhenti. Tidak menoleh.


"Apa, Reza?"


Aku tidak tahu apa yang aku mau bilang. Aku tahu aturan. Aku tahu Sari benar — kalau Sari pergi ke beringin sukarela sekarang, kami mungkin bisa pulang. Kami mungkin bisa hidup. Mira tidak akan mati. Bagas tidak akan mati. Dipo tidak akan mati. Aku tidak akan mati.


Tapi aku tidak bisa membiarkannya.


Aku tidak bisa.


Aku berjalan ke arah Sari. Aku berdiri di depannya. Aku menahan bahunya.


"Sari. Tunggu sampai subuh. Kita pikir cara lain."


Sari menatapku. Air matanya mengalir, tapi senyumnya tipis.


"Reza, lo nggak ngerti. Kalau gue tunggu sampai subuh, kakek gue bakal—"


Sari berhenti.


Matanya berubah.


Putih lagi. Mata kakek lagi.


Lalu Sari, dengan suara yang bukan suaranya, dengan senyum yang bukan senyumnya, berbisik ke wajahku:


*"Reza Pratama, kamu mau pegang cucu kakek? Pegang yang kuat. Kakek lagi kasih kamu pilihan."*


Aku tidak bisa bergerak. Tanganku masih di bahu Sari. Tubuh Sari kaku di bawah tanganku, tapi mulutnya terus bicara, suara kakek yang tenang dan pelan.


*"Pilihan satu — kamu ikat cucu kakek sekarang. Jangan biarkan dia ke beringin. Kamu lindungi dia."*


*"Pilihan dua — kamu lepas cucu kakek. Biarkan dia jalan. Dia tau yang dia lakukan."*


*"Pilihan tiga — kamu tinggal cucu kakek di sini. Kamu kabur. Kamu selamatkan teman-teman kamu yang lain."*


Mata Sari, mata kakek, menatapku dalam.


*"Sekarang Reza. Pilih sekarang."*


---


> **PILIHANMU MENENTUKAN APA YANG TERJADI SELANJUTNYA**

>

> Mbah Karto memberi Reza tiga pilihan. Pembaca yang menentukan jalan cerita.

>

> **▸ PILIHAN 1 — Ikat Sari, dia bahaya bagi semua.**

> Reza setuju dengan Bagas. Lindungi Sari sekaligus selamatkan kelompok dari ritual yang dia mau jalani.

> *BUKA Bab 4: "Sari Bukan Sari"*

>

> **▸ PILIHAN 2 — Dengarkan Sari, biarkan dia jalan.**

> Sari sadar. Sari minta. Hormati pilihannya. Mungkin dia tahu sesuatu yang Mbah Karto sembunyikan.

> *BUKA Bab 19: "Sari yang Memimpin"*

>

> **▸ PILIHAN 3 — Tinggalkan Sari, selamatkan diri.**

> Sari sudah jadi alat kakeknya. Selamatkan empat yang masih utuh. Lari ke barat sebelum subuh.

> BUKA Bab 39: "Empat yang Pergi"*


---