"Masak apa ini?! Hambar! Kamu itu dikasih uang belanja malah dikorupsi sendiri, ya?!"

Kalimat itu bukan pertama kali meluncur dari bibir Farhan. Bukan yang kesepuluh kali, bukan yang keduapuluh. Aku sudah kehilangan hitungan sejak bulan ketiga pernikahan kami, dan kini kami sudah memasuki tahun ketiga. Kata-katanya sudah seperti lagu lama yang setiap nadanya hafal di luar kepala — tapi anehnya, tetap saja terasa menyayat setiap kali diputar ulang. Mungkin bukan karena isinya yang mengejutkan, tapi karena yang mengucapkannya adalah orang yang seharusnya menjadi tempat pulangku.

"Aku masak dengan uang yang kamu kasih, Mas. Segitu ya hasilnya." Aku menjawab datar sambil meletakkan piring di meja makan. Suaraku tidak gemetar. Sudah lama sekali suaraku berhenti gemetar.

Farhan menolak piring itu menjauh sampai hampir jatuh dari tepi meja. Wajahnya yang tampan — wajah yang dulu membuatku bodoh percaya pada setiap kata-katanya — kini hanya terlihat seperti topeng keangkuhan yang sangat tipis. Di baliknya, aku sudah tidak menemukan apa pun yang layak untuk diperjuangkan.

"Istri orang lain bisa masak enak dengan uang setengahnya! Dasar nggak bisa apa-apa! Nggak berguna!"

Ibu mertuaku, Ibu Ratna, sudah hadir tanpa diundang di ambang pintu dapur — seperti selalu. Perempuan enam puluh tahun itu memiliki bakat luar biasa untuk muncul tepat di momen yang paling ia sukai: momen saat menantunya dipermalukan. Rambut putihnya disisir rapi ke belakang, tubuhnya dibungkus daster batik mahal, dan di tangannya ada segelas kopi susu yang ia buat sendiri — tidak pernah memintaku membuatkan, karena ia tahu aku akan meracuninya, begitu candanya pada tetangga.

"Bener kata Farhan. Kamu itu dikasih kepercayaan ngatur dapur malah nggak becus. Anak saya mana tahan makan makanan kampungan kayak begini tiap hari? Orang punya suami PNS harusnya bisa lebih dari ini."

Dan seperti pemain teater yang hafal naskah dengan sempurna, Dinda — adik ipar perempuanku yang cantik dan manja — muncul dari balik punggung ibunya tepat tiga detik kemudian. Gadis dua puluh dua tahun itu mengenakan baju tidur satin berwarna krem, rambutnya panjang berkilat hasil blowdry semalam, dan matanya memandangku dengan campuran jijik dan geli.

"Kak Alisha emang nggak ada bakatnya, Ma. Mending kita makan di luar aja. Kasian juga lidah kita dipaksa makan beginian terus." Dinda berjalan ke kulkas, membuka pintunya dengan santai, mengambil air mineral kemasan yang aku beli dari uangku sendiri. "Lagian dapur itu bukan tempat yang cocok buat orang kayak Kak Alisha. Orang kampung paling bisanya cuma gali tanah sama angkat rumput."

Farhan tertawa — tawa yang entah mengapa masih bisa terdengar tampan meski isinya menjijikkan. Ibu Ratna menimpali dengan tawa yang lebih tinggi. Dan aku — Alisha Permata Sari, istri yang mereka sebut orang kampung itu — duduk tenang di kursi makan, melipat tangan di atas pangkuan, dan membiarkan tawa mereka memenuhi ruangan yang ukurannya tidak seberapa ini.

Biarkan. Tertawalah sepuasnya.

Kalian belum tahu bahwa tertawa ini suatu hari akan berhenti tiba-tiba — dan senyap yang menggantikannya akan jauh lebih keras dari tawa manapun.

Namaku Alisha Permata Sari. Usiaku dua puluh delapan tahun. Di rumah kontrakan tiga kamar yang catnya sudah mengelupas di beberapa sudut ini, aku dipanggil dengan berbagai cara — "Eh, Alisha!", "Hei, kamu!", atau yang paling disukai Ibu Ratna untuk diucapkan di depan tetangga: "Mantu nggak guna." Tapi di luar rumah ini — di gedung bertingkat dua belas di kawasan bisnis Sudirman, di ruang rapat yang lantainya dilapisi marmer, di antara orang-orang yang berbicara soal angka dengan banyak nol — aku dipanggil dengan cara yang sama sekali berbeda.

"Bu Alisha." "Bu Direktur." Atau kadang cukup: "Boss."

Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku, Rama Permata, adalah pengusaha properti yang proyeknya kini tersebar di tiga kota besar. Ayahku — yang Farhan sebut "pensiunan miskin" setiap kali ingin terlihat lebih tinggi — adalah sosok yang dengan sangat tenang memindahkan aset demi aset sambil pura-pura tidak mendengar menantu sombongnya bicara.

Dua tahun lalu, keluargaku menjual tanah warisan seluas tiga hektare kepada sebuah perusahaan properti besar. Mereka tidak tahu bahwa perusahaan properti itu adalah milik kami sendiri. Dan uang yang mengalir dari transaksi itu — yang nilainya lebih dari cukup untuk membuat Farhan pingsan di tempat jika ia tahu — semuanya mengalir ke rekeningku yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya.

Aku sengaja menjaga ini. Aku sengaja memilih menikah dengan tampilan "perempuan biasa". Aku tidak mau kekayaan keluarga tercium oleh laki-laki yang naluri serigala laparnya sudah terbukti sejak bulan pertama pernikahan.

"Kamu besok masak yang bener ya! Aku bawa teman makan siang di sini!" perintah Farhan sebelum beranjak dari meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata sopan pun.

"Baik, Mas."

Aku menatap punggungnya — punggung yang terbungkus kemeja putih disetrika rapi, yang setiap hari berangkat ke kantor dengan sepatu mengkilat. Di kantong dada kemejanya, menyembul sudut selembar tanda terima. Sudah tiga bulan ini ia makan siang di luar. Bukan sendiri.

Ibu Ratna dan Dinda kembali ke kamar masing-masing. Pintu-pintu tertutup. Rumah berubah senyap — hanya suara kipas angin di sudut ruangan dan detak jam dinding yang berdetik pelan.

Aku berdiri, membersihkan meja dengan gerakan yang sudah seperti otot hafal sendiri, lalu berjalan ke dapur. Di balik tumpukan wadah plastik di rak paling atas lemari — tempat yang tidak pernah dijangkau siapa pun selain aku — tersimpan sebuah ponsel tipis berlayar amoled yang harganya bisa membeli dua motor baru sekaligus. Aku menyalakannya.

Ratusan notifikasi menyambutku seperti pelukan yang hangat.

"Bu Alisha, proposal revisi sudah saya kirimkan. Mohon persetujuannya."

"Boss, klien dari Surabaya konfirmasi deal senilai 4,7 M. Kapan bisa meeting?"

"Mbak, aku ada koleksi baru tas edisi terbatas, mau disisihkan dua buat kamu?"

Aku membalas satu per satu. Jempolku bergerak cepat dan terlatih di atas layar. Pesan terakhir kujawab: "Ambilkan tiga. Kirim ke alamat kantor."

Di luar jendela dapur yang kacanya berdebu, matahari sore mulai condong ke barat, membiaskan cahaya kekuningan di atas atap-atap rumah yang berhimpitan rapat. Di dalam rumah ini, semuanya terasa sempit dan pengap. Tapi di dalam genggaman tanganku, ada dunia lain yang luasnya tidak terbatas.

Seperti kata Ayah dulu, waktu ia mengantarku ke pelaminan dengan senyum yang hanya aku yang mengerti maknanya: "Di sana kamu jadi abu, Lis. Tapi ingat — abu itu panas."