Rapat pagi itu berlangsung selama dua jam penuh di ruang konferensi lantai dua belas.

Enam orang duduk mengelilingi meja oval dari kayu jati gelap yang permukaannya selalu mengkilat karena dibersihkan setiap pagi oleh petugas kebersihan yang sama selama tiga tahun. Di dinding kaca sebelah timur, Jakarta terbentang — gedung-gedung yang menjulang, jalan-jalan yang sudah mulai padat meski matahari baru setinggi dua jengkal. Di atas meja: laptop, berkas-berkas, dan kopi hitam dalam cangkir porselen putih yang selalu disiapkan Mbak Sari sebelum aku tiba.

Pak Wirawan — direktur operasional yang sudah bekerja bersama keluargaku sejak Kakak merintis usaha dua belas tahun lalu — meletakkan berkas tebal di hadapanku. Kulitnya gelap, rambutnya sudah lebih banyak putihnya dari hitam, dan caranya berbicara selalu terukur — tidak terburu-buru, tidak pernah lebih dari yang diperlukan.

"Proyek Bintaro Selatan kita targetkan selesai fondasi di bulan depan, Bu." Jarinya menunjuk sebuah halaman penuh grafik. "Kontraktor sudah konfirmasi. Tapi ada satu kendala — izin lingkungan dari kelurahan setempat masih tertahan."

"Siapa yang pegang izinnya?"

"Pak Camat Hendratno. Orangnya..." Pak Wirawan berhenti sebentar, memilih kata. "Tidak mudah."

Aku mengangguk pelan, menyeruput kopi hitam yang pahitnya tepat. "Jadwalkan pertemuan. Bukan lewat perantara — saya yang temui langsung."

"Yakin, Bu? Pak Hendratno itu orangnya sedikit—"

"Sedikit apa?"

"Arogan."

Aku tersenyum kecil. "Saya sudah sangat terlatih menghadapi orang arogan, Pak Wirawan. Percayakan pada saya."

Rapat selesai dengan daftar keputusan yang jelas, tenggat yang spesifik, dan tidak ada satu pun poin yang menggantung tanpa penanggungjawab. Itu prinsipku dalam memimpin: setiap rapat harus berakhir dengan kejelasan, bukan sekadar kesimpulan.

Saat ruangan hampir kosong, ponsel pribadinya berdering. Nomor Kakak.

"Kak," aku menjawab sambil berjalan ke jendela.

"Lagi di kantor?" Suara Rama terdengar hangat — selalu hangat, suara kakak yang tumbuh bersama aku dan tahu persis kapan aku baik-baik saja dan kapan aku tidak.

"Baru selesai rapat. Ada apa?"

"Minggu depan aku ke Jakarta. Urusan proyek sekaligus nengok Ayah."

"Bagus sekali. Mampir ke kontrakan ya, Kak."

Keheningan sebentar. Kemudian Rama berdehem dengan cara yang sudah aku kenal — cara ia berdehem ketika ia tidak setuju dengan sesuatu tapi belum siap mengatakannya langsung.

"Kamu serius mau aku ikut sandiwara itu?"

"Aku butuh kamu jadi bagian dari rencana selanjutnya."

"Alisha..." Nada suaranya berubah — lebih dalam, lebih berat. "Sampai kapan? Tiga tahun kamu menanggung ini. Farhan tidak layak kamu pertahankan, apalagi kamu balas dengan cara serumit ini. Kamu capek, aku yang capek lihatnya."

"Aku tahu dia tidak layak." Aku menatap deretan gedung di luar jendela — beton dan kaca yang berdiri kokoh karena fondasinya tidak terlihat. "Tapi justru karena itu, Kak. Aku tidak mau pergi sebelum ia merasakan apa yang aku rasakan."

"Dendam itu racun, Lis."

"Ini bukan dendam. Ini keadilan yang tertunda."

Rama tidak menjawab lagi untuk beberapa detik. Aku tahu ia tidak setuju. Tapi aku juga tahu ia tidak akan berhenti mendukungku, karena begitulah Kakak — berbeda pendapat tapi tidak pernah meninggalkan.

"Minggu depan aku ke sana," akhirnya ia berkata. "Tapi aku tidak janji bisa berpura-pura bodoh dengan meyakinkan."

"Kamu tidak perlu berpura-pura bodoh, Kak. Cukup kelihatan miskin."

Rama tertawa — tawa kecil yang terdengar antara geli dan tidak percaya. "Gila kamu."

Setelah menutup telepon, aku kembali ke meja dan membuka laptop. Ada satu hal yang sudah menggelitik pikiranku sejak tadi pagi — sejak aku melihat sesuatu yang terjatuh dari sela-sela kemeja Farhan saat aku melipatnya semalam.

Tanda terima dari Restoran Amarta. Meja untuk dua orang. Pukul dua belas tigapuluh. Kemarin.

Aku membuka media sosial dari akun samaran yang sudah aku buat setahun lalu. Mencari tagar restoran itu. Dan di sana, di antara puluhan foto makanan yang difilter terang-terangan, sebuah foto menangkap mataku.

Diunggah oleh akun @sekarwangi_ayu. Perempuan dengan wajah cantik oval, rambut dicat cokelat madu yang bergelombang di bahu, senyum yang terlihat sangat nyaman — sangat di rumah. Di sebelahnya, seorang pria berseragam putih yang wajahnya sedikit tertutup sudut frame foto.

Tapi aku mengenali dagunya. Mengenali cara ia memiringkan kepala ke kanan saat tertawa.

Aku menutup laptop perlahan.

Dadaku tidak sakit. Mataku tidak berkaca-kaca. Tidak ada tangisan yang naik dari dada. Yang ada hanyalah sesuatu yang dingin dan tajam — seperti pisau yang baru diasah — bukan luka, melainkan keteguhan yang semakin solid.

Baik, Farhan. Kamu baru saja menambah satu baris baru di daftar panjangku.

Di ponsel, ada pesan masuk dari akun samaran — pesan dari Farhan untuk "perempuan cantik" yang ia kira adalah orang asing:

"Hai, cantik. Lagi apa?"

Aku menutup aplikasi tanpa membalas.

Belum saatnya bermain denganmu, Mas.