Pagi datang tanpa belas kasihan.
Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit ketika aku sudah berdiri di dapur dengan celemek terpasang, rambut diikat sembarangan, dan mata yang belum sepenuhnya terjaga. Udara pagi di dapur ini selalu terasa lembap — uap dari panci yang mendidih bercampur dengan aroma minyak sisa kemarin yang menempel di dinding. Sudah bertahun-tahun dapur ini tidak pernah direnovasi. Ubin lantainya retak di sudut kiri, keran airnya menetes meski sudah diputar penuh, dan satu lampu neonnya berkedip-kedip seperti mau mati tapi tidak jadi-jadi.
Aku merebus air, memotong sayuran, dan menyiapkan sarapan dari sisa bahan yang ada. Telur dua butir — yang satu sudah retak kulitnya. Setengah ikat kangkung yang daunnya mulai menguning di pinggir. Dan tempe setengah papan yang teksturnya sudah agak lembek. Farhan tidak memberi uang belanja kemarin. Ini hasilnya. Dan besoknya, jika ia tidak memberi lagi, hasilnya akan lebih buruk dari ini.
Naira — putriku yang baru genap empat belas bulan — masih terlelap di kamar. Sebelum mulai memasak, aku selalu menyempatkan diri berdiri sebentar di ambang pintu kamar dan memandang wajahnya. Ada sesuatu yang menenangkan dari pemandangan itu: pipinya yang gembul menempel di bantal, bulu matanya yang panjang bergetar halus setiap kali ia mengembuskan napas, dan jari-jari kecilnya yang menggenggam sudut selimut. Wajahnya persis aku waktu kecil, kata Ayah setiap kali berkunjung. Aku percaya itu. Dan karena itu pula aku selalu merasa — selama Naira ada — aku tidak pernah benar-benar sendirian.
"Apa ini? Kangkung lagi?"
Farhan muncul di ambang pintu dapur dengan kemeja disetrika rapi, dasi biru tua sudah terpasang dengan simpul yang sempurna, rambut tersisir klimis ke samping. Ia terlihat seperti laki-laki yang hidupnya baik-baik saja — dan memang, dari sudut pandangnya, hidupnya baik-baik saja.
"Kangkung itu bergizi, Mas."
"Aku bukan kambing." Ia menarik kursi dengan kasar, suaranya membentur keramik. Duduk sambil membuka ponselnya, matanya tidak sepenuhnya menatapku — setengahnya masih di layar. "Mana telurnya?"
"Cuma dua. Sudah aku masak untuk Naira."
"Anakku satu, istriku yang nggak jelas ini juga satu. Itu hitungannya adil?" Ia akhirnya menatapku — dengan tatapan yang ia pikir bisa membekukanku di tempat.
"Kalau Mas mau lauk lebih bervariasi, kasih aku uang belanja yang cukup."
Jeda. Udara di antara kami menggantung berat.
"Kamu tuh ya, bisanya cuma minta. Minta. Minta. Tiap hari minta. Kayak nggak tahu malu."
"Itu namanya nafkah, Mas. Bukan minta-minta."
Ibu Ratna muncul dari balik tirai pintu kamarnya, melangkah ke dapur dengan langkah orang yang sudah hafal jalan. Ia duduk di kursi sudut, mengambil piring sendiri, dan menyendok nasi dengan wajah yang menggambarkan betapa besar penderitaannya harus sarapan di rumah ini.
"Udah, Farhan. Kamu makan di kantin kantor aja. Nggak usah makan di sini, bikin selera hilang." Ibu Ratna mengunyah dengan bibir agak maju. "Lagian, mantu saya ini emang nggak bisa masak dari dulu. Entah apa yang dipelajari waktu di kampung — masak lumpur, mungkin."
"Masak lumpur kali, Ma." Dinda muncul sambil mengusap mata dengan punggung tangan, rambutnya berantakan tapi tetap terlihat seperti model sampul majalah. Ia duduk lalu mendorong piring kangkung menjauh dengan satu jari, seolah itu najis. "Kak Alisha, tolong dong besok masak yang ada rasanya. Aku mau telur dadar, kentang goreng, sama jus alpukat. Bisa?"
Aku menatap Dinda sejenak. Lalu tersenyum — senyum yang sudah sangat aku latih: cukup ramah untuk tidak terlihat sarkastis, cukup dingin untuk dirasakan.
"Baik. Kalau Mas Farhan kasih uang belanjanya."
Dinda memutar mata. Farhan memukul meja pelan dengan kepalan tangan. Ibu Ratna mendengus. Dan aku, dengan sangat tenang, mengambil piring kangkung itu dan mulai makan.
Satu jam kemudian, mereka bertiga sudah pergi. Farhan ke kantor dengan mobil yang masih dua tahun lagi cicilannya. Dinda ke kampus dengan tas baru yang aku tahu dibeli dari uang Farhan tanpa sepengetahuannya. Dan Ibu Ratna ke arisan — acara paling ia nantikan, karena di sana ia bisa menjadi bintang dengan menceritakan betapa sengsaranya ia punya menantu sepertiku.
Rumah kosong. Hanya aku dan Naira.
Aku memandikan Naira dengan sabun bayi yang aku beli sendiri, mengenakan baju lucu berwarna kuning yang tersimpan rapi dalam tasku — baju dengan label merek yang jika Dinda melihatnya, rahangnya pasti turun. Sebelum keluar, aku menggantinya dengan kaus oblong putih polos agar tidak ada yang curiga.
Di depan gang, angkot sudah lewat. Aku naik dengan Naira di gendongan, duduk di bangku paling belakang yang cat plastiknya sudah mengelupas, dan menunggu.
Sepuluh menit kemudian, sebuah SUV putih bersih berhenti di persimpangan dua blok dari halte. Kacanya gelap, platnya nomor ganjil. Pak Hendra — sopirku sejak lima tahun lalu, orang yang lebih banyak tahu soal hidupku daripada suamiku sendiri — membukakan pintu belakang.
"Pagi, Bu Alisha. Ke rumah dulu atau langsung kantor?"
"Rumah dulu, Pak Hendra. Saya perlu ganti baju."
Di dalam mobil yang wangi, Naira langsung digendong Mbak Yuli yang sudah menunggu. Aku menyandarkan kepala ke jok kulit yang lembut, menutup mata sebentar. Hanya sebentar.
Di kamar riasanku — kamar yang jaraknya dua puluh menit dari kontrakan sempit itu tapi terasa seperti di dunia yang berbeda — aku duduk di depan cermin besar berbingkai emas. Perempuan di cermin itu menatapku balik dengan wajah yang sama tapi cahaya yang berbeda.
Foundation tipis. Concealer di bawah mata. Blush on hangat di tulang pipi. Lipstik merah bata yang warnanya seperti keberanian. Blazer abu-abu potongan slim, celana panjang hitam, sepatu heels tiga inci yang kliknya di lantai marmer selalu terdengar seperti deklarasi.
Di cermin, bukan lagi istri malang yang tadi pagi diceramahi soal kangkung.
Di cermin, ada Bu Alisha — Direktur Utama PT Permata Nusantara Properti.
Aku menutup kotak bedak, berdiri, dan mengambil dossier proposal yang sudah disiapkan Pak Wirawan semalam.
Dua wajah. Satu tubuh. Satu tujuan.
Farhan masih belum tahu yang mana yang asli.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar