Seminggu sebelum Rama datang, aku memulai fase pertama dari rencanaku.
Bukan serangan besar yang dramatis. Bukan konfrontasi di tengah ruang tamu dengan suara yang bisa didengar tetangga tiga rumah. Bukan juga tangisan yang meledak tiba-tiba sambil membeberkan semua kartu. Tidak. Itu terlalu mudah, terlalu cepat selesai, dan tidak akan meninggalkan bekas yang dalam.
Yang aku mulai adalah sapuan-sapuan kecil yang perlahan mengubah ritme rumah ini — seperti meracuni sumur setetes demi setetes, sampai rasanya berubah tanpa ada yang menyadari kapan tepatnya perubahan itu terjadi.
Hari pertama.
Aku membeli lauk mewah untuk diriku dan Naira. Ayam bakar bumbu rempah dari warung Bu Lastri yang katanya paling enak di kompleks, ditemani nasi putih pulen yang aku masak sendiri dengan takaran beras yang pas, dan lalapan segar dengan sambal tomat yang warnanya merah menyala. Semua aku siapkan di piring khusus yang aku letakkan di meja makan pukul enam sore — tepat saat Farhan biasa pulang.
Sementara itu, di kompor tidak ada apa-apa. Tidak ada masakan untuk mereka. Karena Farhan tidak memberi uang belanja, dan aku "lupa" membeli bahan makanan dari uang gajiku sendiri.
Ibu Ratna muncul dari kamar dengan ekspresi yang sudah siap marah bahkan sebelum melihat situasinya.
"Kamu masak buat siapa itu?!" ia berdiri di ambang dapur, matanya melompat dari piringku yang penuh ke kompornya yang mati.
"Buat saya dan Naira, Bu." Aku menyuapi Naira sepotong ayam kecil yang sudah aku suwir halus. "Mas Farhan kan bilang kemarin, kebutuhan saya dan Naira harus saya tanggung sendiri dari gaji saya. Jadi ini saya beli sendiri." Aku menatap Ibu Ratna dengan ekspresi yang sepolos mungkin. "Ibu mau? Masih ada di warung Bu Lastri, belum tutup kalau saya lihat tadi."
"Kurang ajar kamu!"
"Saya cuma nurut kata Mas Farhan, Bu."
Ibu Ratna mendengus keras, membalik badan, masuk ke kamar dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Tidak lama kemudian terdengar suara telepon — ia menelepon Farhan, tentu saja. Dan Farhan pulang tiga puluh menit kemudian dengan wajah yang sudah diatur untuk marah.
"Alisha!"
"Iya, Mas?"
"Kamu sengaja nggak masak buat kami?!"
"Mas bilang kebutuhan aku dan Naira aku tanggung sendiri." Aku menjawab dengan nada yang sama ratanya, tidak naik dan tidak turun. "Uang yang aku punya cukup untuk dua porsi. Kalau mau aku masakkan semua orang, besok kasih uang belanja yang cukup."
Farhan terdiam. Di matanya ada kemarahan — tapi di balik kemarahan itu ada sesuatu yang baru: kebingungan. Ketidakbiasaan. Ia belum pernah melihatku seperti ini. Biasanya aku menunduk. Biasanya aku yang mundur duluan.
Malam itu, pertama kalinya dalam tiga tahun, Farhan memesan ayam goreng delivery untuk makan malam keluarganya — menggunakan uang yang ia bilang tidak punya.
Hari kedua.
Aku bangun lebih pagi, memasak dengan sepenuh hati: nasi uduk yang wanginya menguar ke seluruh penjuru rumah, orek tempe yang legit, ayam goreng rempah berwarna keemasan, dan sayur asem dengan kuah bening yang rasanya persis seperti masakan yang pernah aku makan di restoran Sunda mahal — karena resepnya memang dari sana, aku beli dari katering Bu Lani dan mempresentasikannya seolah aku masak dari pukul empat pagi.
Mereka makan lahap. Ibu Ratna nambah dua kali tanpa berterima kasih. Dinda minta dibungkuskan untuk makan siang di kampus. Dan Farhan makan dengan cara orang yang tidak mau mengakui bahwa sesuatu terasa lebih baik dari biasanya.
Setelah selesai makan, Dinda meletakkan sendok dengan bunyi yang cukup keras dan berkata, "Nih baru namanya masak."
"Kamu nggak minta maaf dulu ke aku kemarin?" tanyaku, santai, sambil mengangkat piring.
Dinda menghentikan gerakan tangannya.
"Kemarin kamu bilang aku nggak bisa masak. Hari ini kamu makan sampai minta dibungkus." Aku menatapnya sebentar — cukup lama untuk bermakna, tidak terlalu lama sampai terasa konfrontatif. "Siapa yang nggak bisa masak?"
Meja makan hening tiba-tiba. Bahkan Ibu Ratna tidak langsung menyerang.
Itu pertama kalinya aku membalik kata-kata mereka. Dan rasanya — seperti akhirnya meneguk air setelah lama sekali berjalan di padang pasir.
Hari ketiga.
Aku pulang pukul setengah sepuluh malam. Bukan karena pekerjaanku memanjang — tapi karena setelah rapat di kantor, aku sengaja mampir ke bioskop sendirian, menonton film yang sudah lama aku tunda, makan malam dengan tenang di restoran dekat mal, dan baru pulang saat langit sudah gelap pekat.
Farhan menungguku di ruang tamu. Lampu ruang tamu menyala terang. Ia berdiri begitu mendengar suara kunci.
"Dari mana?!"
"Kerja."
"Sampai jam segini?"
"Ada lembur."
"Siapa yang izinin kamu lembur?!" Nada suaranya meninggi — tapi di baliknya, aku mendengar sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: sesuatu yang menyerupai kegelisahan.
"Majikan saya, Mas." Aku melewatinya masuk ke kamar. "Selamat malam."
Aku menutup pintu kamar. Dari balik kayu tipis itu, terdengar langkah Farhan mondar-mandir sebentar, lalu suaranya mengumpat pelan, lalu senyap.
Di atas kasur, aku membuka ponsel. Melihat laporan dari Pak Wirawan, pesan dari Rama, dan satu unggahan baru dari akun @sekarwangi_ayu — foto tangan berjari lentik memegang segelas minuman berwarna merah muda, di latar belakang terlihat lampu-lampu kafe yang hangat.
Aku menyimpan tangkapan layarnya ke folder yang sudah aku beri nama: Bukti.
Sabar, Alisha. Semua puzzle harus terkumpul dulu sebelum gambarnya bisa terlihat utuh.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar