Sabtu pagi, Rama datang.
Aku sudah mempersiapkan segalanya sejak Jumat malam — termasuk mempersiapkan kakakku yang paling tidak bisa berpura-pura itu untuk memainkan peran yang aku butuhkan.
"Kamu yakin aku harus pakai baju begini?" Rama berdiri di depan pintu rumahku yang sebenarnya, memandang dirinya di cermin lorong dengan ekspresi campuran antara lucu dan tidak rela. Ia mengenakan kaos oblong abu-abu yang aku beli khusus di pasar pagi — potongannya agak kebesaran, bahannya tipis, ada sedikit noda kecil di lengan kanan yang sengaja aku buat dengan kecap. Celana jeansnya kusam karena sudah aku rendam dengan pewarna yang dilunturkan. Dan sandalnya — sandal jepit biasa, ukuran empat puluh tiga, yang aku beli dua puluh ribu rupiah dari warung sebelah.
"Bagus sekali. Itu tepat yang aku mau." Aku memeriksa penampilannya sekali lagi, menggosok sedikit tepung di kedua sikunya. "Ingat ya, Kak. Di sana kamu adalah kakak yang kerja serabutan di Kalimantan. Penghasilan pas-pasan. Kamu datang karena kangen dan ingin melihat keadaanku. Sesimpel itu."
Rama menatap sandalnya lagi. Menghela napas panjang — napas orang yang sudah pasrah. "Demi kamu, Dek. Hanya demi kamu."
Kami naik angkot dari perempatan besar. Rama duduk di bangku tengah dengan posisi kaku seperti orang yang tidak terbiasa dengan angkot — padahal dua belas tahun lalu, sebelum perusahaannya besar, ia naik angkot setiap hari. Tapi ia benar, ia sudah lupa bagaimana tidak kikuk.
"Santai, Kak. Jangan terlalu tegang." Aku berbisik.
"Aku tidak tegang. Aku sedang berpura-pura nyaman."
"Bedanya?"
"Signifikan."
Kami turun di depan gang perumahan. Pak Burhan — tetangga sebelah yang hampir selalu ada di kursi plastiknya di depan rumah sejak pukul tujuh pagi — langsung menatap kami dengan mata yang tidak diajak berdiri pun sudah aktif.
"Pagi, Bu Alisha. Ada tamu?"
"Kakak saya, Pak. Dari Kalimantan. Lagi kangen, jadi mampir."
Pak Burhan menatap Rama dari kepala sampai sandal jepit dengan kecepatan yang terlatih — kecepatan orang yang sudah ribuan kali menaksir seseorang dari penampilannya dan sudah sangat terampil membuat kesimpulan dalam tiga detik pertama. Rama tersenyum kikuk, sedikit membungkuk. Sempurna.
Di dalam rumah, Farhan sedang duduk di sofa dengan posisi kaki selonjoran di atas meja kecil, menonton siaran olahraga. Ibu Ratna di sampingnya, kaki dilipat di bawah tubuh, sedang memainkan ponselnya. Dinda melukis kuku di kursi pojok dengan empat warna berbeda berjejer di lantai.
Pemandangan hari Sabtu yang sangat mereka.
"Mas, ini Kakak aku. Rama." Aku memperkenalkan keduanya.
Farhan bangkit dari sofa — bukan karena sopan santun yang tulus, tapi karena kebiasaan menilai seseorang dalam lima detik pertama membutuhkan ia berdiri dan melihat secara penuh. Pandangannya bergerak dari atas ke bawah: rambut Rama yang tidak ditata, kaos yang kebesaran, jeans yang kusam, sandal jepit.
Aku melihat sesuatu berubah di wajah Farhan. Sesuatu yang sangat ia sembunyikan tapi tidak cukup terlatih untuk benar-benar tersembunyi: pengakuan diam-diam bahwa orang di hadapannya berada di bawahnya dalam tatanan yang ia percayai.
"Oh. Dari Kalimantan ya?" Nada suaranya sudah berubah — lebih tinggi, lebih nyaring, lebih dari yang diperlukan. Nada orang yang merasa lebih besar.
"Iya." Rama menjawab datar. Untungnya datar Rama lebih mudah dibaca sebagai pemalu daripada sombong.
"Kerja apa di sana?"
"Serabutan." Aku menjawab sebelum Rama bisa berkata lebih. "Kak Rama itu tidak suka banyak cerita soal kerjaan."
Ibu Ratna mengeluarkan suara dari hidung — dengusan pendek yang memiliki terjemahan sangat spesifik dalam bahasa tubuhnya: serabutan, berarti tidak ada nilainya.
Rama duduk di sofa pojok. Dan selama empat puluh lima menit berikutnya, aku menyaksikan pertunjukan yang sudah aku prediksi hampir kata per katanya: Farhan mulai bercerita tentang kerjanya — jabatan, golongan, tunjangan, mobil dinas, kenalan pejabat — dengan nada yang naik satu tangga setiap lima menit. Ibu Ratna menimpali di sela-sela tentang betapa beruntungnya Alisha punya suami pegawai negeri sipil yang posisinya tinggi. Dan Dinda sesekali melirik Rama dengan tatapan yang sama yang biasa ia arahkan padaku.
Rama menjawab seadanya. Mengangguk di tempat yang tepat. Tersenyum di momen yang sesuai.
Aku duduk di pojok sambil menyusui Naira. Mataku merekam segalanya.
Saat Farhan ke kamar mandi, Rama bergeser sedikit ke arahku dan berbisik, "Kapan sandiwara ini berakhir?"
"Sabar."
"Aku hampir tidak tahan waktu dia cerita soal tunjangannya. Mau rasanya aku—"
"Kak harus tahan." Aku menatap Rama dengan tenang. "Ini baru babak pertama."
Sebelum Rama pamit, saat kami berdiri di teras rumah dan Pak Burhan masih setia di kursinya, Farhan berbalik dan berkata — dengan nada yang cukup keras untuk terdengar tapi pura-pura hanya berbicara pada ibunya:
"Pantas Alisha nggak ada bagusnya. Lihat kakaknya aja sudah ketahuan."
Aku merasakan pergelangan tangan Rama mengeras. Aku menangkap tangannya, menggenggamnya erat.
Bukan sekarang, Kak.
Rama menatapku. Menarik napas. Melepasnya perlahan.
Ia mengangguk pelan — dan di matanya aku membaca sesuatu yang baru: bukan sekadar pasrah mengikuti rencanaku, tapi pengertian yang semakin dalam tentang mengapa aku membutuhkan ini berjalan tepat seperti yang aku rencanakan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar