Angin malam di Gyeonggi-do malam ini terasa seperti ribuan jarum kasat mata yang menusuk langsung ke tulang sumsum. Suhu turun hingga minus sepuluh derajat Celcius, membuat uap putih tebal mengepul setiap kali Rania menghembuskan napas dari bibirnya yang mulai membiru.
Ia merapatkan kerah jaket tebalnya—jaket bekas yang ia beli di pasar loak Dongmyo tiga tahun lalu, yang resletingnya kadang macet dan bulu angsanya sudah banyak yang menggumpal di bagian bawah. Di sebelahnya, deru mesin pabrik pengemasan makanan laut tempatnya bekerja baru saja berhenti bergemuruh, menyisakan keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh langkah kaki para pekerja migran yang kelelahan.
"Ran, kau tidak mau mampir ke minimarket dulu? Beli hotbar atau susu hangat? Wajahmu pucat sekali," tegur Sari, rekan kerjanya sesama perempuan asal Jawa Timur yang berjalan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan rajut.
Rania menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di wajahnya yang kebas. "Tidak usah, Mbak. Di asrama masih ada sisa mi instan kemarin. Sayang kalau beli makanan di luar, harganya lumayan."
Sari menghela napas panjang, menatap Rania dengan tatapan setengah iba dan setengah gemas. "Ya ampun, Ran. Ini sudah tahun kelima kamu di Korea. Gaji kita bulan ini lumayan besar karena banyak lemburan. Masa kamu masih mau makan mi instan sisa kemarin? Sesekali nikmati hasil keringatmu sendiri. Beli jaket baru, kek. Jaketmu itu sudah tipis."
"Bulan depan saja, Mbak," jawab Rania berbohong, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali topik tentang pengeluaran pribadi dibahas. "Bulan ini aku harus kirim agak banyak. Mas Arman bilang atap rumah Ibu di kampung bocor parah karena hujan angin minggu lalu. Harus segera diganti sebelum musim hujan makin parah. Belum lagi untuk biaya kontrol tekanan darah Ibu ke rumah sakit."
Sari hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini anak perempuan, Ran. Tapi tulang punggungmu rasanya lebih keras dari baja. Kakak lakilakimu itu kerja apa sih di kampung? Masa semuanya dibebankan ke kamu? Dia kan anak laki-laki pertama, seharusnya dia yang merawat Ibu."
Pertanyaan Sari menohok tepat di dada Rania, tapi ia buru-buru menepis perasaan itu. "Mas Arman kan kerjanya serabutan, Mbak. Gaji honorernya di kelurahan cuma cukup untuk makan istri dan anaknya. Lagipula, ini kan baktiku buat Ibu. Selama aku masih kuat berdiri di pabrik ini, aku nggak mau Ibu kurang satu apapun."
Percakapan itu berakhir seiring dengan langkah mereka yang tiba di depan pintu asrama pekerja yang sempit dan berbau campuran bumbu masakan dan deterjen murah. Begitu masuk ke dalam kamarnya yang hanya seukuran garasi mobil kecil untuk berdua dengan Sari, Rania langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Seluruh persendiannya berteriak minta diistirahatkan setelah berdiri selama dua belas jam menyortir udang dan kerang beku. Jari-jarinya keriput, kemerahan, dan dipenuhi luka goresan kecil yang terasa perih jika terkena air hangat.
Namun, ia tidak bisa langsung tidur. Ada ritual wajib yang harus ia lakukan setiap tanggal dua puluh.
Rania merogoh saku celana trainingnya, mengeluarkan ponsel pintar yang layarnya sudah retak di sudut kiri atas. Ia membuka aplikasi perbankan, menatap angka saldo di rekeningnya dengan senyum lega. Kerja kerasnya membuang kantuk, menahan lapar, dan menahan rindu terbayar lunas. Ia segera menekan menu transfer internasional. Jarinya dengan lincah mengetikkan nominal yang tidak main-main. Delapan juta rupiah.
Tiga juta untuk biaya hidup Ibu dan obat-obatan. Lima juta untuk ditabung membangun kamar mandi baru di dalam rumah agar Ibu tidak perlu repot ke kamar mandi luar saat malam hari, serta biaya perbaikan atap yang katanya bocor.
Transfer Berhasil.
Layar ponsel memunculkan tanda centang hijau terang. Rania memotret layar tersebut, lalu mengirimkannya ke nomor WhatsApp kakaknya, Arman.
“Mas, uangnya sudah masuk ya. Delapan juta. Tolong besok pagi langsung ditarik. Beliin Ibu obat darah tingginya yang habis, sama panggil tukang buat benerin atap. Sisanya tolong Mas simpan di rekening khusus Ibu yang dulu kita obrolin.”
Pesan itu terkirim. Centang dua abu-abu. Belum dibaca. Rania tidak terlalu memikirkannya, mungkin Arman sudah tidur. Waktu di Indonesia lebih lambat dua jam, berarti di sana masih sekitar jam delapan malam.
Setelah mengganti pakaian dengan piyama flanel yang sudah pudar warnanya, Rania menyeduh mi instan dengan air panas dari dispenser asrama. Aroma gurih kaldu instan menguar, sedikit menghangatkan perutnya yang sedari tadi berbunyi. Sambil meniup-niup mi yang mengepul, jarinya mencari kontak dengan nama "Ibu Tercinta" di aplikasi WhatsApp.
Ia menekan tombol video call. Nada sambung berbunyi cukup lama. Biasanya, pada jam segini, Ibu sedang menonton sinetron televisi atau sedang melipat pakaian di ruang tengah.
Panggilan ke-empat baru diangkat. Layar ponsel menampilkan wajah renta seorang wanita berusia akhir enam puluhan. Kerutan di wajahnya tampak semakin dalam, namun mata teduhnya selalu berhasil membuat Rania merasa hangat di tengah dinginnya udara Seoul.
"Assalamualaikum, Nduk," sapa suara serak dari seberang sana. Layar terlihat agak gelap, hanya diterangi cahaya kekuningan dari lampu bohlam yang tampaknya sudah mau redup.
"Waalaikumsalam, Ibu. Ibu kok belum tidur? Ini di sana gelap banget, Ibu lagi di mana?" tanya Rania, mengernyitkan dahi. Latar belakang video ibunya tidak terlihat seperti ruang tengah rumah mereka yang dindingnya dicat hijau muda. Dinding di belakang Ibu tampak seperti tembok batako yang belum diplester.
"Ibu lagi di kamar, Nduk. Tadi habis isya langsung rebahan. Punggung Ibu rasanya pegal sekali," jawab ibunya sambil terbatuk pelan. Tangan keriputnya menarik selimut tipis yang tampak sangat lusuh.
"Kamar Ibu kok dindingnya begitu? Lampunya juga redup, Bu. Rania kan bulan lalu sudah kirim uang buat ganti semua lampu rumah pakai yang terang," Rania mendekatkan wajahnya ke layar, matanya memicing mencoba melihat lebih jelas.
Ibu tampak gelagapan sebentar, matanya bergerak ke sana kemari menghindari tatapan Rania di kamera. "Oh, ini... ini anu, Nduk. Lampu kamarnya putus sore tadi, jadi Arman pasangkan lampu sementara. Kamu sendiri bagaimana? Sehat? Jangan lupa makan yang banyak. Kamu kelihatan makin kurus."
Ibu dengan cepat mengalihkan pembicaraan, dan Rania, yang terlalu lelah untuk berpikir macam-macam, membiarkan topik itu berlalu.
"Rania sehat, Bu. Di sini lagi musim dingin, jadi Rania pakai baju berlapis-lapis, makanya kelihatan kurus," Rania terkekeh pelan, menyembunyikan fakta bahwa ia memang turun lima kilogram bulan ini karena mengirit makan. "Oh ya, Bu. Obat darah tingginya masih ada? Rania tadi sudah transfer uang ke Mas Arman. Besok pagi Ibu minta tolong Mas Arman belikan obat ya, sekalian beli daging sapi buat Ibu makan. Ibu pucat banget lho."
Keheningan yang aneh tiba-tiba menyergap dari seberang sana. Layar ponsel Rania hanya menampilkan wajah ibunya yang tiba-tiba tertunduk. Rania bisa mendengar suara tarikan napas ibunya yang berat dan bergetar.
"Ibu? Halo? Sinyalnya putus ya, Bu?" Rania mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
"Sinyalnya tidak putus, Nduk," suara Ibu terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan yang tertiup angin. "Ran... maafkan Ibu ya, Nak. Ibu tahu kamu kerja keras di sana banting tulang."
Dada Rania mendadak terasa sesak. Firasat buruk merayap naik dari perutnya. "Ada apa, Bu? Kenapa Ibu minta maaf? Ibu sakit parah? Kita ke dokter spesialis besok, ya? Uangnya cukup kok, Bu. Ibu jangan takut soal biaya."
Mata tua di layar ponsel itu kini berkaca-kaca. Air mata jatuh menetes melewati keriput di pipinya yang tirus. Ibu menggeleng pelan, bibirnya gemetar saat ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Rania seolah berhenti mengalir seketika.
"Bukan begitu, Nduk... Ibu cuma mau tanya," jeda sejenak, diiringi isak tertahan yang menyayat hati, "Kamu... kamu sedang ada masalah di sana? Arman bilang, pabrikmu bangkrut ya? Bulan ini... dan bulan-bulan kemarin... kirimanmu belum masuk lagi, Nak. Obat Ibu sudah habis dari minggu lalu, dan Ibu belum berani minta ke Nisa karena uang belanjanya juga katanya sedang pas-pasan."
Rania tertegun. Garpu plastik di tangannya jatuh ke atas meja dengan bunyi klak yang nyaring. Udara dingin di luar seakan menembus langsung ke jantungnya.
"Apa maksud Ibu?" suara Rania bergetar hebat. "Bulan ini dan bulan-bulan kemarin? Bu, Rania tidak pernah putus kirim uang. Setiap bulan, tidak pernah kurang dari delapan juta! Bahkan bulan lalu Rania kirim sepuluh juta untuk bayar hutang pupuk sawah peninggalan Bapak!"
Layar ponsel berguncang. Ibu menatap Rania dengan mata membelalak, campuran antara kaget dan ketakutan yang luar biasa.
"Delapan juta? Sepuluh juta?" Suara Ibu bergetar keras. "Ran... Mas-mu bilang, sudah tiga bulan ini kamu tidak kirim uang sepeser pun. Dan sebelum-sebelumnya... dia bilang kamu cuma bisa kirim lima ratus ribu sebulan karena gajimu dipotong agen..."
Napas Rania tercekat. Lima ratus ribu. Tiga bulan tidak ada kiriman. Matanya menatap kosong ke arah mangkuk minya yang perlahan mendingin, sementara di seberang sana, isak tangis ibunya semakin menjadi, membuka tirai sebuah pengkhianatan yang terlalu besar untuk dicerna oleh akal sehatnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar