Bau amis menyengat dari udang mentah dan cairan disinfektan menguar kuat di udara pabrik, menciptakan aroma khas yang selama lima tahun ini selalu menempel di rambut dan pakaian Rania. Suara bising mesin conveyor belt yang berputar menderu-deru, berpadu dengan teriakan para mandor yang memberi instruksi.
Namun siang itu, Rania bekerja seperti robot yang kehilangan jiwanya. Gerakan tangannya menyortir ukuran udang dan kerang laut terasa mekanis, matanya kosong menatap ke depan. Pikirannya masih tertinggal di kamar asrama, terjebak pada pengakuan ibunya yang menyayat hati dan tanda tangan palsu yang menari-nari di kepalanya.
"Rania! Yaaa! Mwohaneun geoya?! (Apa yang kamu lakukan?!)"
Sebuah bentakan keras dalam bahasa Korea membuat bahu Rania tersentak kaget. Mandor Kim, pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah memerah, berdiri di seberang conveyor belt sambil menunjuk marah ke arah keranjang penyortiran Rania.
"Kamu mencampur udang ukuran Large dengan ukuran Small! Kamu mau membuat perusahaan bangkrut karena complain dari pelanggan, hah?!" bentak Mandor Kim lagi, suaranya menggelegar mengalahkan deru mesin. Beberapa pekerja lain menoleh, menatap Rania dengan pandangan simpati, termasuk Sari yang berada dua meter darinya.
Rania buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, membentuk sudut sembilan puluh derajat. "Joesonghamnida, Sajangnim. Joesonghamnida (Maafkan saya, Pak. Maafkan saya)," ucapnya berulang kali dengan suara bergetar. Tangannya dengan gemetar dan cepat memisahkan kembali udang-udang yang salah masuk keranjang.
Mandor Kim mendengus kasar, lalu berjalan pergi sambil menggumamkan omelan tentang pekerja asing yang tidak fokus.
Sari setengah berlari menghampiri Rania begitu Mandor Kim menjauh. "Kamu kenapa sih, Ran? Dari pagi mukamu pucat pasi, kayak mayat hidup. Tadi juga kamu hampir masukin jari ke mesin sealer. Kamu sakit? Minta izin pulang saja ke klinik!" omel Sari setengah berbisik, panik melihat keadaan temannya.
"Aku nggak apa-apa, Mbak. Kurang tidur saja," jawab Rania pelan, matanya tidak berani menatap Sari. "Aku... aku mau ke toilet sebentar ya."
Tanpa menunggu persetujuan Sari, Rania melepas sarung tangan karetnya dan berlari kecil menuju pintu keluar area produksi. Ia tidak pergi ke toilet. Kakinya melangkah cepat menuju lorong tangga darurat di lantai dua yang sepi dan dingin, tempat biasa para pekerja mencuri waktu untuk merokok atau menelepon keluarga.
Rania duduk di anak tangga beton yang sedingin es. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan ponselnya. Jam istirahat makan siang baru akan dimulai setengah jam lagi, tapi ia tidak bisa menunggu lebih lama. Kepalanya akan meledak jika ia tidak memastikan satu hal terakhir ini.
Arman dan ibunya bilang bahwa uang kirimannya sering tersendat, dipotong agen, atau bahkan gagal masuk selama tiga bulan terakhir.
Rania membuka aplikasi panggilan internasional berbasis internet berbayar. Ia mengetikkan nomor Call Center Bank Nusantara cabang pusat di Jakarta. Ia harus memastikan apakah benar sistem pengiriman uang dari bank Korea-nya mengalami kegagalan.
Suara nada panggil terdengar diiringi musik instrumental yang khas dan membosankan. Tiga menit berlalu, menunggu antrean layanan, membuat Rania nyaris menggigit kuku jarinya hingga berdarah.
"Selamat siang, dengan Customer Service Bank Nusantara, saya Dita. Ada yang bisa kami bantu?" Suara ramah dan profesional seorang wanita akhirnya terdengar di seberang sana.
"Siang, Mbak. Saya Rania. Saya mau cek status transfer masuk dari luar negeri ke rekening atas nama Arman Maulana," Rania berbicara dengan tempo cepat, tidak ingin membuang waktu. "Saya pengirimnya, dari Korea Selatan."
"Baik, Ibu Rania. Boleh diinformasikan nomor rekening tujuan Bapak Arman Maulana yang dimaksud?"
Rania menyebutkan deretan angka yang sudah ia hafal di luar kepala. Angka yang setiap bulan selalu ia ketik dengan penuh harap dan doa.
"Baik, Ibu. Mohon ditunggu sebentar, saya akan melakukan pengecekan pada sistem kami." Terdengar suara ketikan keyboard yang cepat di latar belakang. Rania menahan napasnya, memejamkan mata rapat-rapat.
"Ibu Rania, terima kasih sudah menunggu," suara Dita kembali mengudara. "Untuk rekening Bapak Arman Maulana, statusnya aktif. Pengecekan mutasi masuk dari remittance internasional atas nama pengirim Rania, apakah ada bulan spesifik yang ingin Ibu tanyakan?"
"Tiga bulan terakhir, Mbak. Oktober, November, dan Desember. Kakak saya bilang uangnya belum masuk dan transaksinya failed atau return ke pengirim. Apakah benar ada gangguan sistem?" tanya Rania, suaranya terdengar tajam.
Terdengar jeda sejenak dari seberang sana, diiringi suara ketikan lagi.
"Mohon maaf, Ibu Rania. Berdasarkan data mutasi di sistem kami, tidak ada transaksi yang berstatus gagal, return, atau tertahan dari pengirim atas nama Rania ke rekening Bapak Arman. Seluruh dana yang Ibu kirimkan pada bulan Oktober, November, dan Desember telah berstatus 'Success' atau berhasil masuk. Bahkan, seluruh dana tersebut terpantau langsung ditarik tunai dan dipindahbukukan di hari yang sama saat dana masuk."
Dada Rania terasa seperti dihantam palu godam. Ditarik tunai di hari yang sama.
"Tidak pernah gagal?" Rania memastikan, suaranya nyaris seperti bisikan kosong. "Tidak pernah ada pemotongan atau uang kembali?"
"Sama sekali tidak ada, Ibu. Sistem remittance kami mencatat transaksi Anda selalu berjalan lancar setiap tanggal dua puluh. Apakah Ibu ingin saya membacakan nominal yang masuk pada tiga bulan terakhir untuk pencocokan?"
"Tidak perlu, Mbak," Rania memotong cepat. Napasnya mulai memburu. "Satu pertanyaan lagi, Mbak Dita. Tolong... tolong cek mutasi lima tahun ke belakang. Mulai dari awal tahun 2021 sampai sekarang. Apakah pernah ada satu kali saja transaksi saya yang gagal masuk ke rekening itu?"
"Sebentar, Ibu. Mengingat rentang waktunya cukup panjang, mohon ditunggu." Jeda kali ini terasa lebih lama. Rania menyandarkan kepalanya ke dinding beton yang kasar, menatap langit-langit lorong tangga dengan pandangan kabur. Air matanya sudah kering, digantikan oleh sorot mata yang menggelap.
"Ibu Rania, terima kasih sudah menunggu. Saya sudah melakukan pengecekan secara menyeluruh. Saya konfirmasi, tidak ada satu pun transaksi yang gagal. Seratus persen transaksi masuk dengan sempurna." Dita berhenti sejenak, nadanya sedikit berubah, seolah ia sendiri terkejut melihat deretan angka di layarnya. "Dan... mohon maaf Ibu, sebagai konfirmasi tambahan saja, seluruh nominal yang Ibu kirimkan sangat besar, dan semuanya telah digunakan melalui transaksi debit, tarik tunai, dan pembayaran cicilan ke perusahaan leasing mobil. Apakah ada indikasi penipuan, Ibu? Jika iya, kami sarankan Ibu segera melapor ke pihak kepolisian—"
"Terima kasih informasinya, Mbak. Selamat siang," Rania langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak sanggup mendengar kata 'leasing mobil'. Honda HR-V sialan itu.
Rania meletakkan ponselnya di anak tangga. Tangannya merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul plastik murahan yang sudut-sudutnya sudah melengkung dan mengelupas. Itu adalah 'Buku Impian' miliknya. Buku tempat ia mencatat setiap sen yang ia kirimkan ke Indonesia, lengkap dengan tanggal dan tujuannya.
Dengan tangan bergetar, ia membalik halaman demi halaman. Catatan itu dibuat dengan rapi menggunakan bolpoin hitam.
Februari 2021: Beli tanah pekarangan di samping rumah untuk kebun Ibu - Rp 150.000.000. (Arman mengirimkan foto sertifikat tanah yang dari kejauhan terlihat buram. Ia bilang tanahnya sedang dalam proses balik nama).
Agustus 2022: Renovasi total rumah warisan Bapak. Pasang keramik dan ganti atap baja ringan biar Ibu nggak kehujanan - Rp 350.000.000. (Arman meminta Rania lembur ekstra dan mengambil tabungannya. Uang itu dikirim bertahap selama enam bulan).
Maret 2023: Modal usaha toko sembako untuk Ibu biar ada kegiatan di rumah - Rp 80.000.000. (Toko yang tak pernah ada wujudnya. Arman beralasan tokonya bangkrut bulan depan karena ditipu supplier).
Januari 2024: Operasi ring jantung Ibu dan perawatan intensif - Rp 150.000.000. (Kebohongan paling biadab yang pernah Rania dengar).
Ditambah lagi dengan transfer rutin sebesar Rp 8.000.000,- setiap bulan selama tepat enam puluh bulan tanpa pernah telat satu hari pun. Total untuk uang bulanan saja adalah Rp 480.000.000,-. Belum termasuk uang THR lebaran, uang kurban sapi, dan sumbangan acara keluarga besar yang selalu dipungut oleh Arman atas nama Rania.
Rania menarik kalkulator di ponselnya. Jari-jarinya mengetikkan deretan angka itu satu per satu. Ia menekan tombol sama dengan.
Layar ponsel itu menampilkan deretan angka yang begitu panjang, membuat mata Rania membelalak ngeri.
Rp 1.210.000.000
Satu miliar dua ratus sepuluh juta rupiah.
Rania tertegun menatap layar itu. Angka itu bukan sekadar nominal uang. Angka itu adalah representasi dari masa mudanya yang direnggut paksa. Angka itu adalah lambang dari tangannya yang melepuh, kakinya yang bengkak karena berdiri dua belas jam sehari, perutnya yang perih karena hanya makan sisa pinggiran roti, dan hari-harinya yang dilalui dalam kesepian serta kedinginan di negeri asing.
Satu miliar lebih. Uang yang seharusnya bisa membuat ibunya hidup seperti ratu, memakai perhiasan emas, pergi haji, dan menikmati masa tua dengan penuh kehormatan.
Namun ke mana uang itu pergi?
Berubah menjadi tas branded di tangan Nisa yang suka pamer. Berubah menjadi mobil SUV putih mengkilap. Berubah menjadi rumah mewah dengan pilar bergaya Eropa klasik. Sementara pemilik asli uang itu menangis setiap malam merindukan kehangatan keluarga, dan sang ibu yang menjadi alasan uang itu dikirim... dibuang ke dalam gudang pengap berdebu, bertahan hidup hanya dengan lima puluh ribu rupiah seminggu.
"Kakakku..." Rania tertawa sumbang. Suara tawanya menggema di lorong tangga yang sepi, terdengar sangat menyayat hati dan sarat akan keputusasaan yang telah berubah wujud menjadi kebencian absolut. "Kakak kandungku sendiri."
Rania menutup buku catatan kecilnya perlahan. Ia berdiri. Udara dingin di lorong itu tidak lagi terasa menusuk kulitnya, karena hati Rania kini jauh lebih dingin dari musim salju paling ekstrem sekalipun.
Wajah pucat dan rapuh itu kini mengeras bak batu karang. Tidak ada lagi Rania si adik penurut yang rela berkorban. Tidak ada lagi Rania yang takut melawan.
Ia mengambil ponselnya, menekan nomor agensi tenaga kerjanya di Seoul. Ketika panggilan itu dijawab, suara Rania terdengar tenang, tanpa riak emosi, namun memancarkan ketegasan yang mematikan.
"Halo, Pak Choi. Ini Rania. Saya minta pemutusan kontrak kerja secepatnya. Tidak peduli berapa denda penaltinya, potong saja dari sisa gaji saya bulan ini. Tolong belikan saya tiket pesawat ke Jakarta untuk penerbangan tercepat."
Perang baru saja dimulai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar