Angin malam yang berhembus melintasi jalanan beraspal kasar di desa itu membawa aroma tanah basah dan daun bambu kering. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip redup, sesosok perempuan berjalan gontai menyeret sebuah koper tua bersampul kain kanvas hitam. Roda kopernya berderit pelan setiap kali menghantam kerikil, memecah kesunyian malam yang mulai larut.

Itu Rania.

Empat hari sejak ia menelepon agen tenaga kerjanya di Seoul, kakinya akhirnya kembali menginjak tanah kelahirannya. Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada kalungan bunga. Ia sengaja tidak memberi tahu siapa pun tentang kepulangannya. Tiket pesawat kelas ekonomi yang dibelinya mendadak telah menguras habis sisa tabungan daruratnya, tapi Rania tidak peduli. Pikirannya hanya terpaku pada satu tujuan: melihat dengan mata kepalanya sendiri kebohongan yang telah mencabik-cabik hidupnya.

Langkahnya terhenti ketika ia tiba di pertigaan jalan desa, tepat di dekat pohon beringin besar yang dulu sering menjadi tempatnya bermain waktu kecil. Dari titik ini, rumah peninggalan almarhum Bapaknya seharusnya sudah terlihat—sebuah rumah panggung sederhana berdinding bilik bambu yang diplester semen separuh.

Namun, yang menjulang di ujung jalan sana bukanlah rumah kenangannya.

Rania menahan napas. Matanya membelalak lebar, memantulkan cahaya benderang dari lampu-lampu taman yang terpasang angkuh di balik sebuah pagar besi tempa setinggi dua meter. Di balik pagar itu, berdiri sebuah bangunan dua lantai bergaya Eropa klasik. Pilar-pilarnya besar dan kokoh, dicat putih bersih bak istana di tengah perumahan desa yang rata-rata hanya beratap genteng usang.

Di garasi terbuka yang berlantaikan keramik anti-selip, terparkir sebuah mobil Honda HR-V putih yang mengkilap tertimpa cahaya lampu, bersanding dengan dua buah sepeda motor keluaran terbaru.

Kaki Rania terasa seperti terpaku di aspal. Jantungnya bergemuruh hebat, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia mencengkeram gagang kopernya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tiga ratus lima puluh juta untuk renovasi, batinnya perih, mengingat catatan di buku kecilnya. Seratus lima puluh juta untuk beli tanah pekarangan samping. Semuanya ada di sini. Berdiri dengan angkuhnya. Dibangun di atas keringatnya yang menetes di suhu minus derajat Celcius, dibangun dari rasa laparnya saat memakan roti sisa, dibangun dari air matanya yang tumpah setiap kali ia merindukan pelukan ibunya.

Dari arah teras, terdengar suara tawa melengking. Rania menyipitkan mata, bersembunyi di balik bayangan pohon mangga di seberang jalan.

Ia melihat Nisa, kakak iparnya, sedang duduk santai di kursi rotan sintetis yang terlihat mahal. Wanita itu mengenakan piyama satin sutra, wajahnya bersinar karena perawatan klinik kecantikan, tangannya sibuk menggeser layar ponsel keluaran terbaru. Di sebelahnya, Arman duduk sambil menghisap rokok elektrik yang mengepulkan asap tebal beraroma stroberi.

"Mas, besok kita jadi kan ke mall di kota? Anak-anak minta dibelikan sepatu roda yang ada lampunya itu lho. Terus aku mau sekalian mampir ke toko emas, cincin yang kemarin kulihat di etalase kayaknya bagus kalau dipasangkan sama gelangku yang ini," suara Nisa terdengar jelas, memecah keheningan malam.

Arman tertawa kecil, menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Gampang. Gesek saja pakai kartu. Mumpung awal bulan, transferan dari 'sumber air' kita di Korea kan baru masuk minggu lalu. Sayang kalau didiamkan di bank, keburu kena inflasi."

Nisa ikut tertawa, tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Rania. "Bagus deh. Adikmu itu memang pahlawan devisa keluarga kita, Mas. Asal kamu pintar-pintar saja bikin alasan. Bulan depan bilang saja pompa air rusak atau atap garasi bocor. Dia kan gampang panik kalau urusan rumah ini."

Sumber air. Pahlawan devisa keluarga.

Perut Rania bergejolak hebat. Rasa mual yang luar biasa menyerangnya hingga ia harus membekap mulutnya sendiri agar tidak muntah. Kakak kandungnya—darah daging yang sama dengannya, yang dulu memeluknya di bandara dan berjanji akan menjaga ibu mereka—kini memperlakukannya tak lebih dari sekadar sapi perah yang bodoh.

Tapi amarah Rania harus ditahan. Ia tidak boleh gegabah. Mata Rania menyapu sekeliling rumah mewah itu, mencari satu sosok yang menjadi alasan utamanya pulang.

Di mana Ibu?

Ia tidak melihat tanda-tanda kehadiran wanita tua itu di teras, atau di ruang tamu yang tembus pandang lewat jendela kaca besarnya. Mengingat cerita ibunya di telepon beberapa hari lalu, Rania menarik kopernya perlahan, melangkah mengendap-endap menyusuri jalan setapak di samping pagar rumah.

Di bagian belakang istana megah itu, ada sebuah lorong sempit yang memisahkan dapur kotor dengan tembok pembatas tanah. Lorong itu gelap, lembap, dan ditumbuhi lumut. Di ujung lorong, terdapat sebuah bangunan kecil berukuran dua kali tiga meter yang atapnya hanya menggunakan seng berkarat. Dulu, bangunan ini adalah gudang tempat Bapak menyimpan pupuk dan gabah sisa panen.

Sebuah lampu bohlam lima watt yang nyaris mati menggantung di depan pintunya yang terbuat dari tripleks tipis. Pintunya tertutup rapat, namun ada celah cahaya redup dari bawahnya.

Dengan napas tertahan, Rania meninggalkan kopernya di balik semak-semak. Ia melangkah mendekati pintu tripleks itu tanpa suara. Bau apak yang bercampur dengan aroma minyak kayu putih langsung menusuk hidungnya.

Rania meletakkan tangannya yang bergetar di daun pintu. Ia mendorongnya perlahan. Pintu itu berderit pelan, tidak dikunci.

Pemandangan di balik pintu itu menghancurkan sisa-sisa pertahanan Rania seketika.

Udara di dalam ruangan itu pengap dan berbau lembap. Tidak ada jendela, hanya ada satu ventilasi kecil yang ditutupi kawat nyamuk berdebu. Di atas sebuah kasur kapuk tipis yang digelar langsung di atas lantai semen yang dingin, duduklah seorang wanita tua yang tubuhnya ringkih menyisakan tulang berbalut kulit.

Ibu sedang duduk membelakangi pintu, mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar hingga menjadi putih kecokelatan. Di pangkuannya, terdapat sebuah piring plastik hijau yang sudah kusam. Ibu sedang menyuap sesuatu ke mulutnya dengan gerakan lambat dan gemetar.

Rania melangkah masuk. Tenggorokannya tercekat, seolah ada bongkahan batu besar yang menyumbat di sana. Ia melirik ke arah piring di pangkuan ibunya.

Nasi putih dingin yang sudah mengeras di bagian pinggirnya. Sepotong tempe goreng yang ukurannya tak lebih besar dari ibu jari. Dan taburan garam kasar. Hanya itu. Tidak ada sayur. Tidak ada daging sapi yang uangnya rutin ia kirimkan setiap bulan.

"I... Ibu..." panggil Rania, suaranya pecah, tak lebih dari sebuah bisikan parau.

Sendok di tangan Ibu terhenti di udara. Wanita tua itu menegang. Dengan gerakan kaku, Ibu menoleh ke belakang perlahan-laman.

Mata rabun yang dipenuhi kerutan itu memicing, mencoba mengenali sosok yang berdiri di ambang pintu di bawah cahaya temaram lampu lima watt. Ketika bayangan wajah Rania mulai jelas, piring plastik di pangkuan Ibu tergelincir, jatuh menghantam lantai dengan bunyi berdebum pelan. Nasi dan tempenya berserakan.

"Ya Allah... Gusti Pangeran..." suara Ibu bergetar hebat. Tangannya yang keriput terulur ke udara, seolah mencoba menggapai sebuah ilusi. "Ini... ini Rania? Rania anakku?"

"Ibu!" Rania tidak tahan lagi. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai, memeluk tubuh ibunya yang kini terasa seringkih ranting kering. Tangisnya pecah seketika, menggema di dinding-dinding tripleks yang lembap itu. Ia menangis meraung, membenamkan wajahnya di bahu ibunya, mencium aroma minyak kayu putih dan keringat yang begitu ia rindukan.

"Maafkan Rania, Bu... Maafkan Rania..." Rania meracau tak jelas di sela-sela isaknya. Hatinya hancur lebur merasakan betapa dinginnya tubuh ibunya. Kasur kapuk yang didudukinya ini basah di bagian bawahnya, merembeskan hawa dingin langsung ke tulang. "Kenapa Ibu di sini? Kenapa Ibu makan nasi pakai garam? Rania kirim uang, Bu! Rania kirim miliaran buat Ibu!"

Ibu membalas pelukan Rania dengan tenaga yang tersisa. Air mata deras mengalir membasahi pipi keriputnya. Ia mengelus rambut putrinya dengan tangan gemetar.

"Sstt... Nduk, kamu pulang, Nak... Kamu pulang..." bisik Ibu, menciumi puncak kepala Rania berulang kali. "Ibu tidak bermimpi, kan? Kamu benar-benar pulang..."

Rania melepaskan pelukannya, menangkup wajah ibunya. Matanya yang sembab menatap nanar. "Bu, jawab Rania. Kenapa Ibu tinggal di gudang pengap ini? Di depan ada banyak kamar kosong. Di depan ada rumah mewah yang dibangun pakai uang Rania! Kenapa Mas Arman membiarkan Ibu membusuk di sini?!"

Pertanyaan itu membuat tatapan Ibu meredup. Ia menundukkan kepalanya, tangannya meremas ujung dasternya dengan gugup.

"Jangan keras-keras bicaranya, Nak. Nanti Masmu dengar. Dia bisa marah besar," bisik Ibu ketakutan, matanya melirik liar ke arah pintu yang terbuka. "Ibu di sini nyaman kok. Kalau di depan, lantainya licin, Ibu takut jatuh. Nisa juga sering ngomel kalau Ibu batuk-batuk malam hari, katanya mengganggu tidurnya. Jadi Ibu minta sendiri dipindah ke sini."

"Itu bohong, Bu!" Rania menggertakkan giginya. Matanya memerah menyala. "Mbak Nisa yang mengusir Ibu ke sini, kan? Dan Mas Arman diam saja?!"

Ibu menelan ludah, air matanya kembali menetes. "Ran... sudahlah. Ibu cuma numpang. Lagipula, Masmu sedang pusing. Kata Masmu, perusahaannya sedang banyak potong gaji. Dia butuh banyak uang untuk bayar cicilan."

Ibu menatap mata Rania dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang menghentikan detak jantung Rania selama beberapa detik.

"Masmu bilang... kamu sudah lama dipecat dari Korea. Katanya kamu terlibat masalah hutang di sana dan sudah tiga tahun ini tidak kirim uang sepeser pun. Semua yang kamu kirim dulu habis untuk bayar hutang almarhum Bapak. Masmu bilang, dia yang selama ini menanggung hidup Ibu pakai gajinya yang pas-pasan. Jadi Ibu harus tahu diri..."

Tiga tahun tidak kirim uang sepeser pun. Menanggung hidup ibu pakai gajinya. Harus tahu diri.

Dunia di sekitar Rania seakan berhenti berputar. Kata-kata ibunya meledak di dalam kepalanya seperti bom waktu. Fitnah yang diucapkan Arman kepada ibunya jauh lebih keji dari sekadar mencuri uang. Arman telah membunuh karakter Rania di mata ibunya sendiri, membuatnya seolah-olah menjadi anak durhaka yang menelantarkan orang tuanya, sementara Arman berperan sebagai pahlawan yang tersiksa.

Rania bangkit berdiri perlahan. Tangisannya berhenti seketika, menguap digantikan oleh hawa dingin yang mematikan. Wajahnya mengeras seperti pahatan batu. Urat-urat di lehernya menonjol.

"Ibu tunggu di sini sebentar," ucap Rania dengan nada suara yang sangat tenang. Ketenangan yang menakutkan, seperti lautan sebelum tsunami menghantam.

"Ran? Kamu mau ke mana, Nduk? Ran, jangan bikin ribut, Nak..." Ibu mencoba berdiri menahan tangan Rania, tapi tenaganya terlalu lemah.

"Aku tidak akan bikin ribut, Bu," Rania melepaskan genggaman ibunya dengan lembut. Matanya menatap lurus ke arah pintu yang menghubungkan lorong belakang dengan dapur utama rumah mewah itu. "Aku hanya mau menagih janji."

Rania melangkah keluar dari gudang lembap itu. Langkah kakinya mantap, matanya menyorotkan kebencian murni. Ia menendang pintu dapur belakang yang terbuat dari kayu jati berukir hingga terbuka dengan suara bantingan yang menggelegar ke seantero rumah.

BRAAAK!

Di ruang tengah, tawa Nisa dan Arman yang baru saja masuk dari teras terhenti mendadak. Arman melonjak dari sofa, sementara Nisa memekik kaget, menjatuhkan ponselnya ke atas karpet tebal berbulu.

"Siapa di sana?!" bentak Arman, menyambar sebuah asbak kaca kristal dari atas meja, bersiap melemparnya.

Dari dalam lorong dapur yang gelap, sebuah bayangan melangkah maju ke bawah cahaya lampu gantung kristal di ruang keluarga. Sepatu bot usang Rania meninggalkan jejak tanah basah di atas lantai granit putih yang mengkilap.

Arman membeku. Mulutnya terbuka setengah, matanya membelalak seperti melihat hantu bangkit dari kuburan. Asbak di tangannya merosot perlahan.

"Ra... Rania?" suara Arman bergetar, wajahnya pucat pasi kehilangan warna darah.

Nisa di sebelahnya ikut ternganga, matanya melotot menatap perempuan berjaket lusuh yang kini berdiri di tengah ruang keluarganya. "Lho... Rania? Kok kamu... kok kamu nggak ngabari kalau mau pulang? Bukannya tiket dari Korea mahal?!"

Rania tidak menatap Nisa sedikit pun. Matanya terkunci pada wajah kakak kandungnya. Ia melangkah maju perlahan, setiap pijakannya terasa berat dan mengancam.

"Tiketnya memang mahal, Mbak," suara Rania terdengar rendah dan menggeram. "Tapi tenang saja, aku belinya pakai sisa uang dari 'sumber air' yang kalian bicarakan di teras tadi."

Wajah Arman semakin pucat pasi. Ia mundur selangkah tanpa sadar. "Ran... kamu... kamu dengar pembicaraan kami? Sejak kapan kamu di situ? Kenapa nggak ketuk pintu depan?"

"Kalau aku ketuk pintu depan, aku tidak akan pernah melihat piring berisi nasi dan garam di gudang belakang, Mas," desis Rania tajam.

Arman menelan ludah kasar. Ia mencoba merangkai senyum palsu di wajahnya yang tegang. "Ran, kamu salah paham. Itu Ibu sendiri yang minta tidur di situ karena—"

"TUTUP MULUTMU, BANGSAT!"

Teriakan Rania meledak, menggelegar menghantam dinding-dinding rumah mewah itu. Suaranya penuh dengan kepedihan, amarah, dan dendam yang tak tertahankan. Nisa menjerit tertahan dan melangkah mundur berlindung di belakang punggung suaminya.

Rania maju dua langkah dengan cepat, tangannya menunjuk tepat ke depan wajah Arman yang gemetar.

"Kau bilang aku sudah tiga tahun tidak kirim uang? Kau bilang uang yang kukirim habis untuk bayar hutang Bapak?! SATU MILIAR DUA RATUS JUTA, MAS! Satu miliar lebih darah dan keringatku masuk ke rekeningmu tanpa pernah kurang satu sen pun!"

Rania mencengkeram kerah kemeja mahal kakaknya dengan kedua tangannya, menariknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Matanya menyorot tajam, menembus langsung ke jiwa Arman yang pengecut.

"Uang siapa yang kau pakai untuk membangun istana ini, Mas?! Uang siapa yang kau pakai untuk membeli mobil di depan sana?! SEMENTARA KAU MEMBIARKAN IBUKAN KITA MEMBUSUK DI GUDANG GABAH DAN MAKAN NASI GARAM?!"

Arman mematung. Kebohongan lima tahun yang ia bangun dengan rapi baru saja diledakkan di depan wajahnya dalam hitungan detik. Ia tidak punya jalan keluar. Tapi Rania belum selesai. Ia melepaskan kerah Arman dengan dorongan kasar hingga kakaknya itu terhuyung mundur dan menabrak meja kaca.

Rania menatap Nisa dan Arman bergantian dengan senyum miring yang mengerikan, senyum seseorang yang sudah tidak memiliki rasa takut.

"Nikmati tidur nyenyak kalian malam ini di atas kasur empuk itu," bisik Rania dingin, matanya berkilat mematikan. "Karena mulai besok, aku akan merampas semuanya. Semuanya. Sampai kalian berdua harus mengemis di jalanan."