Rania tidak ingat bagaimana ia mengakhiri panggilan telepon dengan ibunya malam itu. Yang ia tahu, kepalanya terasa seperti dihantam balok beton. Dunia di sekelilingnya berputar cepat, membuat isi perutnya mual bukan kepalang.
Ia duduk membeku di atas kasur tipisnya, membiarkan layar ponselnya meredup lalu mati. Di sebelahnya, Sari sudah tertidur pulas, dengkuran halusnya berirama dengan detak jam dinding murahan di sudut kamar. Namun bagi Rania, malam ini tidak ada ruang untuk istirahat.
Ingatannya terlempar paksa ke lima tahun yang lalu. Ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Waktu itu, ia baru berusia dua puluh tiga tahun, gadis kampung yang nekat mendaftar program G to G (Government to Government) ke Korea Selatan setelah Bapaknya meninggal dan meninggalkan setumpuk hutang di bank keliling.
Rania masih ingat betul pelukan erat Arman di ruang keberangkatan. Bau rokok murah dan keringat kakaknya menguar saat Arman mengusap puncak kepalanya.
"Kamu jangan khawatirkan Ibu, Ran. Mas yang akan jaga Ibu. Mas yang akan pastikan Ibu makan enak, tidur nyenyak, dan berobat rutin. Kamu fokus saja kerja, kumpulkan uang. Mas janji, setiap rupiah yang kamu kirim, akan Mas kelola dengan baik untuk masa depan kita, terutama untuk masa tua Ibu."
Kata-kata itu terngiang kembali di telinganya, jernih dan tajam, mengiris kewarasannya sedikit demi sedikit. Demi janji itu, Rania membuang masa mudanya. Saat teman-teman sebayanya sibuk hangout di kafe, Rania berdiri di depan mesin pres yang panas, tangannya melepuh terkena uap. Saat orang lain membeli baju hangat yang modis untuk berfoto di tengah salju, Rania membungkus dirinya dengan lapisan koran di balik jaket tipisnya saat berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju pabrik demi menghemat ongkos bus.
Ia rela memakan roti yang masa kedaluwarsanya tinggal hitungan jam karena didiskon tujuh puluh persen di minimarket. Ia menahan sakit gigi berhari-hari karena enggan pergi ke dokter gigi di Korea yang biayanya sangat mahal. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan: memastikan ibunya hidup bak ratu di kampung halaman.
Tapi apa yang baru saja ibunya katakan?
Lima ratus ribu sebulan? Tiga bulan terakhir tidak ada sepeser pun?
Tangan Rania yang gemetar hebat kembali meraih ponselnya. Ia membuka kunci layar dengan tergesa-gesa. Matanya merah, bukan lagi karena lelah, tapi karena amarah yang mulai mendidih di dalam nadinya.
Ia membuka aplikasi Instagram. Rania jarang bermain media sosial. Akunnya hanya berisi beberapa foto pemandangan pabrik dan foto bunga sakura yang ia ambil tiga tahun lalu. Ia mengetikkan sebuah nama di kolom pencarian: Nisa_Arman88.
Itu adalah akun kakak iparnya. Selama ini, Rania jarang berkomunikasi dengan Nisa karena ia tahu tabiat kakak iparnya yang sedikit sombong dan gemar pamer. Namun, ia tidak pernah ikut campur selama Arman mengurus ibunya dengan baik.
Halaman profil Nisa terbuka. Akun itu tidak dikunci. Dan apa yang Rania lihat di sana membuat napasnya seakan dirampas secara paksa.
Unggahan terbaru Nisa, tertanggal dua hari yang lalu, adalah sebuah foto Nisa dan Arman yang sedang tersenyum lebar di depan sebuah mobil Honda HR-V berwarna putih mengkilap. Mobil itu masih memiliki pita merah besar di bagian kap mesinnya. Nisa mengenakan gamis sutra berwarna peach yang mewah, menenteng tas yang dari logonya saja Rania tahu harganya setara dengan gajinya dua bulan kerja lembur.
Caption-nya tertulis: “Alhamdulillah, hasil kerja keras suamiku tersayang. Rezeki memang tidak akan ke mana kalau kita selalu bersyukur dan ikhlas merawat keluarga. My new baby HR-V! 🚘✨ #RezekiSuamiSholeh #KeluargaBahagia”
Rania merasa asam lambungnya naik ke kerongkongan. Ia menscroll layar ke bawah, jari telunjuknya bergerak dengan kasar, menggeser deretan foto demi foto yang seolah menampar wajahnya berulang-kali.
Sebulan yang lalu: Foto keluarga Arman (tanpa Ibu) sedang makan malam di restoran mewah All You Can Eat. Dua bulan yang lalu: Foto Nisa memamerkan perhiasan emas model terbaru di pergelangan tangannya. “Hadiah ulang tahun dari Mas Arman. Katanya biar istri makin disayang,” tulisnya. Empat bulan yang lalu: Sebuah Reels yang menunjukkan proses renovasi rumah. Bukankah itu rumah peninggalan Bapak? Dinding papannya sudah diganti dengan tembok beton yang tebal. Pilar-pilar besar bergaya klasik berdiri angkuh di bagian depan. Lantainya dipasang granit berkilau.
Tapi tunggu dulu. Di mana Ibu dalam semua foto-foto itu?
Mata Rania terpaku pada sebuah video home tour yang diunggah Nisa. Nisa dengan bangga memamerkan ruang tamu yang luas, dapur bersih dengan kitchen set minimalis, dan kamar utamanya yang dilengkapi AC serta kasur berukuran king size. Tapi saat kamera berputar sekilas melewati lorong belakang menuju area jemuran, Rania menangkap sebuah pintu kayu lapuk yang sangat ia kenal. Pintu gudang penyimpanan gabah yang lembap dan pengap.
Mengapa dinding batako di belakang ibunya saat video call tadi... sangat mirip dengan dinding gudang itu?
"Brengsek," desis Rania pelan, suaranya parau dan bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya luruh, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata murka yang membakar.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Rania keluar dari Instagram dan membuka kembali aplikasi perbankannya. Ia mencari menu riwayat transaksi. Jarinya menekan opsi 'Unduh Mutasi Rekening', memasukkan rentang waktu dari bulan pertama ia tiba di Korea hingga hari ini. Lima tahun penuh.
Proses pengunduhan memakan waktu beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Jantung Rania berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang menyakitkan.
File PDF berhasil diunduh.
Rania membuka dokumen tersebut. Halaman demi halaman berisi deretan angka mutasi keluar yang nominalnya membuat siapa saja yang melihatnya akan menahan napas. Tujuh juta. Delapan juta. Dua belas juta saat menjelang Lebaran. Sembilan juta. Begitu terus, konsisten setiap bulan tanpa pernah absen satu kali pun selama enam puluh bulan.
Rania menarik kalkulator di ponselnya. Tangannya yang dingin mengetikkan perkiraan rata-rata kasar. Delapan juta dikali enam puluh bulan.
Empat ratus delapan puluh juta. Hampir setengah miliar rupiah. Dan itu belum termasuk bonus tahunan dan uang lembur ekstra yang sering ia kirimkan secara mendadak jika Arman meminta dengan berbagai alasan: asuransi Ibu, pajak tanah, perbaikan ini itu. Jika ditotal, angka itu jauh melampaui tujuh ratus juta rupiah.
Semuanya, tanpa terkecuali, masuk ke satu nama rekening penerima.
ARMAN MAULANA.
Tanda bukti transfer yang selama ini Arman kirimkan padanya—foto-foto struk penarikan bank, nota pembelian obat yang selalu buram, kuitansi tukang bangunan—semuanya melintas di kepala Rania seperti potongan film murahan. Bagaimana ia bisa begitu bodoh? Bagaimana ia bisa begitu percaya tanpa pernah sekalipun meminta bicara langsung dengan Ibu soal uang? Karena Arman selalu bilang, “Ibu nggak ngerti soal perbankan, Ran. Biar Mas yang atur biar uangmu nggak habis dipakai Ibu buat ngasih tetangga.”
Rania mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke arah dinding kamar asramanya yang usang, tapi pikirannya sudah terbang melintasi ribuan kilometer, melintasi samudra, tepat menuju rumah mewah berlantai granit di kampung halamannya. Rumah yang dibangun di atas darah, keringat, dan air matanya. Rumah yang dibangun di atas penderitaan ibunya.
“Mas yang akan jaga Ibu. Mas janji.” Kalimat itu kini terdengar seperti racun paling mematikan di telinga Rania.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, bangkit berdiri di tengah kegelapan kamar. Ia berjalan perlahan menuju koper tuanya yang ia simpan di bawah ranjang. Ia menarik koper itu keluar, menatapnya dalam diam.
Tidak ada lagi air mata. Yang tersisa di mata Rania malam itu hanyalah kekosongan yang mengerikan, sedingin angin malam Gyeonggi-do. Kakaknya telah mencuri hidupnya. Kakaknya telah menyiksa ibunya. Dan Arman Maulana, beserta istrinya yang tamak itu, akan segera belajar satu hal yang sangat penting.
Jangan pernah membangun istanamu dari keringat seorang perempuan yang tidak punya apa-apa lagi untuk hilang.
Rania mengambil paspornya dari dalam laci. Tangannya tidak lagi gemetar. Ia menatap lekat-lekat dokumen berwarna hijau itu, lalu berbisik pada keheningan malam.
"Tunggu aku pulang, Mas. Akan kuminta kembali setiap tetes keringatku, sampai ke akar-akarnya."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar