Pagi turun di Gyeonggi-do dengan warna kelabu yang muram. Salju tipis mulai turun, menempel di kaca jendela asrama yang berembun. Di dalam kamar sempit itu, Rania sama sekali belum memejamkan mata. Sisa mi instan semalam sudah mengembang dan dingin di dalam mangkuk plastiknya, tak tersentuh.

Ia duduk bersila di atas lantai berpenghangat (ondol), namun anehnya, tak ada sedikit pun kehangatan yang menjalar ke tubuhnya. Rania merasa seolah-olah ia sedang duduk telanjang di tengah badai salju. Seluruh tubuhnya mati rasa.

Di pangkuannya, sebuah laptop tua yang layarnya sudah bergaris menyala terang. Semalaman suntuk, Rania membongkar semua riwayat obrolannya dengan Arman di WhatsApp, mencadangkannya ke laptop, lalu mengelompokkan ribuan foto dan dokumen yang pernah dikirimkan kakaknya itu selama lima tahun terakhir.

"Kamu beneran nggak tidur semalaman, Ran?" Suara serak Sari memecah keheningan. Perempuan asal Jawa Timur itu mengucek mata, bangkit dari kasurnya, dan menatap Rania dengan raut wajah khawatir. "Mata kamu bengkak banget. Kamu habis nangis? Ada masalah di rumah?"

Rania menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. "Nggak apa-apa, Mbak. Cuma... lagi kangen Ibu saja," dustanya pelan. Suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri.

Sari menghela napas, menyampirkan handuk ke pundaknya. "Ya sudah, buruan mandi. Setengah jam lagi shift pagi mulai. Mandor Kim bisa ngamuk kalau kita telat masuk line penyortiran."

Begitu Sari keluar kamar menuju kamar mandi umum di ujung lorong, Rania kembali memfokuskan pandangannya ke layar laptop. Jari-jarinya yang dingin dan kaku mengklik sebuah folder yang ia beri nama 'Bukti Transfer & Nota'.

Ada ratusan foto di sana. Foto kuitansi pembelian bahan bangunan, foto struk apotek, foto surat keterangan dari kelurahan, hingga foto selembar kertas bermaterai sepuluh ribu.

Mata Rania memicing, menatap tajam pada sebuah dokumen: Surat Kuasa Pencairan Deposito Atas Nama Siti Aminah.

Dua tahun lalu, Arman meneleponnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia bilang Ibu terkena serangan jantung ringan dan butuh biaya besar untuk perawatan intensif serta pemasangan ring di rumah sakit provinsi. Arman menyarankan agar uang sisa bulanan Rania yang selama ini katanya 'ditabung' dalam bentuk deposito atas nama Ibu, dicairkan saja. Saat itu, Rania yang panik setengah mati dan tidak bisa pulang karena kontrak kerjanya, langsung mengiyakan. Ia bahkan meminjam uang sepuluh juta kepada rentenir di Korea yang mematok bunga mencekik, demi menutupi kekurangannya.

Arman mengirimkan foto Surat Kuasa itu sebagai bukti bahwa ia telah mengurus semuanya dengan legal. Di bagian bawah surat, tertera tanda tangan Ibu, tepat di atas materai.

Rania memperbesar gambar tersebut hingga pikselnya sedikit pecah. Jantungnya bergemuruh hebat.

Tanda tangan itu...

Ia buru-buru membuka ritsleting koper tuanya yang tergeletak di lantai, mengaduk-aduk tumpukan baju hingga menemukan sebuah dompet plastik bening tempat ia menyimpan dokumen-dokumen penting miliknya. Ia menarik keluar fotokopi Kartu Keluarga dan sebuah surat izin orang tua yang dulu ia gunakan untuk mendaftar sebagai pekerja migran. Di sana, tertera tanda tangan asli ibunya.

Rania meletakkan kertas itu tepat di sebelah layar laptop. Ia membandingkan keduanya.

Setetes air mata panas lolos begitu saja dari pelupuk matanya, jatuh menetes ke atas punggung tangannya yang gemetar.

Tanda tangan asli ibunya, Siti Aminah, terlihat sangat rapuh. Huruf 'S'-nya kaku, tarikan garisnya gemetar, dan ada tekanan bolpoin yang tidak merata, khas tulisan tangan seorang wanita tua yang tidak tamat Sekolah Dasar dan tangannya sudah mulai tremor karena usia.

Sementara tanda tangan di Surat Kuasa itu? Sangat mulus. Tarikan garisnya tegas, mengalir lancar tanpa keraguan, dengan lengkungan yang terlalu sempurna. Bahkan ekor huruf 'h' di akhir nama melengkung dengan gaya yang sangat khas. Gaya yang sering Rania lihat di buku rapor keponakannya setiap kali Arman memamerkan nilai anaknya kepadanya.

"Itu tulisan tanganmu, Mas..." bisik Rania dengan bibir bergetar hebat. "Kamu memalsukan tanda tangan Ibu."

Rasa mual kembali menyerangnya. Jika Surat Kuasa itu palsu, berarti deposito itu tidak pernah ada. Atau lebih buruk lagi, uangnya memang ada, tapi dicairkan untuk hal lain. Dan cerita tentang serangan jantung Ibu?

Rania melirik jam di sudut layar laptop. Pukul 07.15 pagi waktu Korea. Berarti di Indonesia baru pukul 05.15 subuh. Ibu pasti sudah bangun untuk shalat subuh. Nisa, kakak iparnya, terkenal pemalas dan biasanya baru bangun jam delapan pagi. Arman juga jarang bangun sepagi ini. Ini adalah waktu yang tepat.

Dengan tangan yang masih gemetar, Rania meraih ponselnya dan menekan tombol panggil ke nomor ibunya. Kali ini hanya panggilan suara. Ia tidak sanggup jika harus melihat wajah ibunya sambil menahan tangis.

Nada sambung berbunyi empat kali sebelum terdengar suara klik.

"Assalamualaikum, Ran? Tumben jam segini sudah telepon, Nduk? Kamu belum berangkat kerja?" Suara Ibu terdengar jernih, diiringi sayup-sayup suara gesekan sapu lidi di tanah. Ibu pasti sedang menyapu halaman belakang.

"Waalaikumsalam, Bu." Rania menggigit bibir bawahnya keras-keras, berusaha menstabilkan suaranya agar tidak terdengar sedang menangis. "Belum, Bu. Sebentar lagi berangkat. Ibu lagi nyapu ya?"

"Iya, Nduk. Nyapu daun mangga kering di halaman belakang, sekalian berjemur cari keringat tipis-tipis," kekeh Ibu pelan. "Ada apa, Nak? Kamu butuh doa Ibu ya buat kerjaan hari ini?"

Pertanyaan sederhana itu membuat dada Rania seakan diremas oleh tangan raksasa yang tak kasat mata. Ibu tidak pernah meminta apa-apa dariku, batinnya perih. Hanya doa yang selalu ia tawarkan.

"Iya, Bu. Doakan Rania terus ya," suara Rania sedikit parau. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan segenap keberaniannya. "Bu... Rania mau tanya sesuatu, tapi Ibu jawab yang jujur ya. Ibu jangan takut sama Mas Arman atau Mbak Nisa."

Suara sapu lidi di seberang sana berhenti tiba-tiba. Hening.

"Tanya apa, Nduk?" Suara Ibu kini terdengar ragu dan sedikit was-was.

"Dua tahun lalu... waktu Ibu sakit jantung dan dirawat di rumah sakit provinsi... Ibu beneran pasang ring jantung, kan?" Rania menutup matanya rapat-rapat, menunggu jawaban yang akan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.

Terdengar helaan napas panjang yang sarat akan kebingungan dari ibunya. "Sakit jantung apa to, Nduk? Astaghfirullahaladzim. Umur Ibu memang sudah tua, sering masuk angin dan pegal linu, tapi alhamdulillah jantung Ibu sehat walafiat. Ibu nggak pernah dirawat di rumah sakit provinsi. Ke puskesmas kecamatan saja cuma kalau mau minta obat batuk sirup."

Duar.

Satu lagi kebohongan Arman meledak di wajah Rania. Uang seratus lima puluh juta yang ia kumpulkan dengan keringat darah, ditambah hutang berbunga ke rentenir yang memaksanya makan hanya dengan garam dan nasi selama enam bulan, lenyap ditelan alasan palsu.

"Ran? Halo? Kamu dengar Ibu, Nduk? Kok tanya aneh-aneh? Siapa yang bilang Ibu sakit jantung?" tanya Ibu dengan nada cemas.

"Nggak apa-apa, Bu. Mungkin Rania salah ingat," jawab Rania cepat, menyeka air matanya dengan kasar. "Bu, satu hal lagi. Tolong Ibu jawab sejujurnya. Tadi malam Ibu bilang... Ibu kehabisan obat darah tinggi dan belum berani minta uang ke Mbak Nisa. Selama ini... Mas Arman kasih Ibu uang bulanan berapa untuk makan dan keperluan Ibu?"

Kembali hening. Kali ini, keheningan itu terasa sangat mencekam. Rania bisa mendengar suara napas ibunya yang berat.

"Ran... jangan bahas ini ya, Nduk? Nanti kalau Masmu dengar, dia bisa marah. Istrinya juga gampang tersinggung. Ibu ini numpang di rumah mereka, Ibu nggak mau bikin ribut," suara Ibu memelas, sarat akan ketakutan yang membuat darah Rania mendidih oleh amarah.

Numpang? Rania mengernyit keras. Itu rumah Bapak! Rumah yang direnovasi pakai uangku! Kenapa Ibu yang harus merasa numpang?!

"Bu, tolong. Rania berhak tahu," desak Rania, suaranya kini terdengar lebih tegas, mengintimidasi namun bergetar menahan emosi. "Uang yang Rania kirim itu hak Ibu. Berapa yang Mas Arman kasih setiap bulan ke tangan Ibu langsung?"

Terdengar isakan kecil dari seberang sana. Pertahanan ibunya runtuh.

"Arman... Arman kasih Ibu jatah seminggu sekali, Nduk," bisik Ibu pelan, seolah takut ada yang menguping dari balik dinding.

"Berapa, Bu?"

"Lima puluh ribu, Nduk..." jawab Ibu diiringi tangisan tertahan. "Lima puluh ribu seminggu. Katanya, itu uang dari gajinya sendiri karena uang kirimanmu selalu dipotong pihak agen di Korea dan cuma sisa buat bayar hutang almarhum Bapak. Kadang kalau Nisa lagi butuh beli skincare, jatah Ibu dipotong jadi tiga puluh ribu. Makanya Ibu sering makan nasi pakai garam dan tempe saja di kamar belakang. Tapi nggak apa-apa, Ran... Ibu ikhlas. Asal kamu sehat di sana."

Ponsel di tangan Rania nyaris tergelincir. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah tembok asrama.

Lima puluh ribu seminggu. Dua ratus ribu sebulan.

Sementara Rania mengirimkan minimal delapan juta rupiah setiap bulan tanpa pernah putus. Bahkan ia rela menahan lapar agar bisa mengirim lebih.

Dan ibunya—wanita yang melahirkannya, wanita yang menjadi alasan satu-satunya Rania bertahan hidup di negeri orang yang dingin ini—hanya diberi makan nasi dan garam di sebuah kamar kumuh bekas gudang gabah, di dalam rumah mewah yang dibangun dari uang darahnya sendiri.

"Ran? Kamu masih di situ, Nak? Jangan menangis, ya. Ibu nggak apa-apa. Beneran," suara Ibu terdengar begitu tulus, mencoba menenangkan putrinya yang berada ribuan kilometer jauhnya.

"Ibu..." Rania tidak bisa lagi menahan tangisnya. Suaranya pecah berkeping-keping. "Maafkan Rania, Bu. Maafkan Rania."

Ia segera mematikan sambungan telepon sebelum ibunya mendengar tangisannya yang meledak menjadi raungan. Rania membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Tangisnya tak bersuara, namun tubuhnya berguncang hebat.

Bukan hanya sedih. Ini adalah amarah yang membakar habis kewarasannya. Amarah murni yang mengubah darahnya menjadi lahar panas. Rasa kasihan dan cinta kepada kakak kandungnya menguap tak bersisa, digantikan oleh kebencian yang begitu pekat dan hitam.

Arman bukan lagi kakaknya. Laki-laki itu adalah parasit. Lintah yang menghisap darah adik kandungnya sendiri dan menelantarkan ibunya.

Rania mengangkat wajahnya. Air matanya telah mengering. Matanya yang merah kini menatap tajam ke arah layar laptop, memantulkan cahaya dingin dari layar dokumen-dokumen palsu itu. Rahangnya mengeras.

"Lima puluh ribu," desisnya sinis. Terdengar mengerikan di tengah keheningan kamar. "Akan kubuat kau memuntahkan kembali setiap lembar seratus ribuan yang kau telan, Mas. Sampai kau memohon untuk mati."