Tangan Karina membeku di gagang pintu kayu ek yang tebal itu. Uap panas dari dua cangkir teh chamomile di atas nampan perak yang dibawanya mengepul pelan, menerpa kulit wajahnya yang pucat karena kelelahan. Jam dinding antik di lorong rumah baru saja berdenting menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sepanjang hari ini, Karina sibuk mengurus berkas-berkas peninggalan almarhum ayahnya, disusul dengan rapat panjang bersama notaris keluarga. Kepalanya berdenyut nyeri, dan yang ia inginkan hanyalah menyeduhkan teh hangat untuk suaminya, lalu tidur di pelukan pria itu.

Namun, bukan kehangatan yang menyambutnya malam ini. Melainkan derai tawa dari balik celah pintu ruang kerja suaminya yang sedikit terbuka.

Itu bukan tawa Luthfi. Dan yang pasti, itu bukan suara televisi atau video dari ponsel.

Itu tawa seorang perempuan. Renyah, manja, dan dipenuhi nada kepemilikan yang membuat bulu kuduk Karina seketika meremang.

"Kamu ini terlalu hati-hati, Mas." Suara perempuan itu terdengar lagi, kali ini nadanya merendah, lebih intim, seolah bibirnya berada sangat dekat dengan telinga pria yang diajak bicara. "Perempuan seperti Karina itu gampang dibodohi. Dia terlalu cinta sama kamu, terlalu naif. Kamu tinggal bersikap manis sedikit, kasih perhatian ekstra setelah bapaknya mati, dia pasti akan serahkan semuanya dengan sukarela."

Dada Karina dihantam godam tak kasat mata. Nampan perak di tangannya bergetar hebat. Teh panas tumpah merembes keluar dari cangkir porselen, mengenai ujung jarinya, tapi Karina sama sekali tidak merasakan perih. Rasa sakit di dadanya jauh, jauh lebih menyiksa hingga membuat napasnya seakan terputus.

Bapaknya mati.

Perempuan di dalam sana menyebut almarhum ayahnya—pria hebat yang baru empat puluh hari lalu dimakamkan dengan isak tangis keluarga—dengan nada yang begitu merendahkan dan penuh ejekan.

"Raisa benar, Luthfi."

Kali ini, sebuah suara lain menimpali. Suara serak dan berat yang sangat amat Karina kenal. Suara yang selama enam tahun ini selalu ia hormati. Suara Bu Ratih, ibu mertuanya.

Mata Karina membelalak sempurna. Ibu mertuanya ada di dalam? Sejak kapan?

Sore tadi, Luthfi bilang ia akan lembur di ruang kerja mengurus laporan keuangan tokonya yang sedang merosot tajam. Luthfi melarang Karina masuk agar tidak mengganggu konsentrasinya. Luthfi sama sekali tidak pernah bilang ibunya akan datang berkunjung malam-malam begini. Apalagi membawa... perempuan bernama Raisa itu.

Raisa.

Nama itu berdengung di telinga Karina bagaikan kutukan mematikan. Tentu saja Karina tahu siapa Raisa. Raisa Andara adalah mantan kekasih Luthfi di masa kuliah. Perempuan cantik, ambisius, dan selalu menuntut gaya hidup mewah. Perempuan yang dengan kejam mencampakkan Luthfi enam tahun lalu demi seorang pengusaha batu bara, tepat di saat bisnis pertama Luthfi hancur lebur dan menyisakan tumpukan utang ratusan juta.

Dulu, di malam-malam awal pernikahan mereka, Luthfi sering menangis di pelukan Karina, mengutuk nama Raisa, bersumpah bahwa Karina adalah malaikat penyelamatnya karena mau menerima Luthfi di titik paling hancur. Karina-lah yang menjual perhiasan peninggalan neneknya demi melunasi utang Luthfi. Karina-lah yang menemaninya makan nasi bungkus berdua saat mereka tak punya uang sepeser pun di awal pernikahan.

Lalu, apa yang dilakukan perempuan masa lalu itu di ruang kerja suaminya sekarang?

"Ibu sudah muak, Luthfi, harus pura-pura baik sama istri kamu itu," lanjut Bu Ratih dari dalam sana. Nada suaranya sarat akan kebencian yang terang-terangan. Sangat berbeda dengan nada lembut, pelukan hangat, dan senyuman penuh simpati yang selalu ia tunjukkan pada Karina sebulan terakhir ini sejak ayah Karina meninggal. "Dulu Ibu diam saja waktu kamu maksa nikah sama dia, karena Ibu pikir dia anak tunggal keluarga kaya yang bakal bawa untung cepat buat keluarga kita. Nyatanya? Bapaknya pelitnya minta ampun! Enam tahun kalian nikah, kita masih hidup pas-pasan. Uang jajan Ibu per bulan cuma dikasih lima juta sama menantu pelit itu. Perusahaan properti mertuamu itu baru jatuh ke tangan istrimu sekarang, setelah tua bangka itu mati!"

"Ibu, pelan-pelan bicaranya. Nanti Karina dengar," desis Luthfi.

Suara suaminya terdengar begitu tenang. Begitu rasional.

Tidak ada nada membela istrinya. Tidak ada kemarahan saat istrinya dihina habis-habisan. Tidak ada teguran keras saat mendiang ayah mertuanya disebut 'tua bangka'.

"Biarin aja dia dengar!" dengus Bu Ratih dengan tawa sinis yang mengiris hati Karina. "Kalau bukan karena warisan triliunan, aset properti, dan tanah berhektar-hektar yang sekarang ada di tangannya itu, mana mungkin kamu masih sudi bertahan sama perempuan membosankan seperti dia? Ingat, Luthfi. Tujuan utama kita sekarang adalah memindahkan hak pengelolaan perusahaan PT Wijaya Land itu ke namamu. Begitu kamu pegang kendali penuh secara legal, pelan-pelan kita kuras asetnya, lalu kita singkirkan dia."

"Betul kata Ibu, Mas," sela Raisa, suaranya dipenuhi kemenangan. "Kamu berhak bahagia sama aku. Aku yang dari dulu pantas jadi nyonya di keluarga ini, bukan perempuan lemah yang kerjanya cuma bisa nangisin bapaknya itu. Kemarin aku cek harga saham Wijaya Land, nilainya melonjak naik. Kita harus gerak cepat sebelum pengacara keluarga mereka, si Septian itu, curiga."

"Masalahnya, Karina mulai banyak tanya kalau aku terlalu menekan soal perusahaan, Bu, Sa," balas Luthfi. Terdengar suara dentingan gelas kaca bersentuhan dengan meja kayu, disusul suara helaan napas suaminya. "Apalagi Septian terus-terusan mengawasi setiap pergerakan dokumen. Aku nggak bisa langsung minta surat kuasa mutlak. Harus pelan-pelan. Aku harus bikin Karina merasa kalau dia butuh aku untuk memimpin perusahaan itu."

"Makanya, Mas, kamu harus lebih pintar mainnya." Suara Raisa terdengar berpindah, lebih dekat ke arah Luthfi. Karina bisa membayangkan dengan jelas perempuan itu sedang mengalungkan tangannya ke leher suaminya. "Bikin dia merasa bersalah. Bikin dia merasa nggak mampu, bodoh, dan nggak punya pengalaman urus perusahaan sebesar itu sendirian. Kamu kan tahu persis titik lemahnya. Dia selalu merasa butuh validasi dan perlindungan darimu."

"Kamu memang selalu tahu cara memanjakanku dan memberiku jalan keluar, Sa," kekeh Luthfi pelan.

Terdengar suara kecupan basah. Begitu jelas. Begitu intim. Begitu menjijikkan hingga merobek gendang telinga Karina.

Dunia Karina runtuh detik itu juga. Kakinya lemas seketika, nyaris tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Lantai marmer di bawahnya seakan terbelah dan menelannya ke dalam jurang gelap yang paling dalam. Ia ingin mendobrak pintu jati itu sekarang juga. Ia ingin menyiramkan air teh yang masih mengepul panas ini ke wajah tampan suaminya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya, memaki, mencabik-cabik senyum sombong Raisa dan merobek mulut berbisa ibu mertuanya yang selama ini ia hormati bagai ibu kandungnya sendiri.

Enam tahun pengabdian. Enam tahun air mata, kesabaran, dan doa yang ia panjatkan setiap malam agar bisnis suaminya lancar. Enam tahun menahan cacian diam-diam dari keluarga Luthfi karena ia belum juga bisa memberikan keturunan. Semuanya, seluruh hidupnya, hanyalah sebuah sandiwara yang diatur dengan sangat rapi.

Ia menikahi seorang monster yang sedang menunggu waktu untuk melahapnya.

Jangan gegabah, Karina.

Sebuah suara peringatan, dingin dan tajam, tiba-tiba menggema di kepalanya. Menembus kabut amarah dan keputusasaannya.

Mereka tidak peduli padamu. Mereka mengincar hartamu. Harta Bapakmu. Kalau kamu meledak sekarang, mendobrak pintu ini tanpa bukti apa-apa selain pendengaranmu, Luthfi akan memutar balikkan fakta. Dia akan menuduhmu gila. Dia akan menuduhmu halusinasi karena depresi ditinggal ayahmu. Kamu akan kalah, Karina.

Insting bertahan hidup yang belum pernah Karina ketahui ada di dalam dirinya tiba-tiba mengambil alih kendali tubuhnya. Dengan tangan yang bergetar sangat hebat hingga urat-urat nadi di pergelangan tangannya menonjol, ia melangkah mundur.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Sangat pelan, sangat berhati-hati, memastikan sandal rumahnya tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun di atas lantai. Ia berjalan mundur menjauhi pintu neraka itu dengan mata yang memerah menahan tangis yang mendesak ingin pecah.

Ia kembali ke dapur. Meletakkan nampan perak itu di atas meja pantri dengan gerakan patah-patah. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun meraup oksigen yang mendadak terasa menghilang dari udara di sekitarnya. Ia mencengkeram tepi meja marmer pulau dapur itu dengan kekuatan penuh, hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Ia menundukkan kepala, memejamkan mata rapat-rapat, menahan isakan gila yang meronta-ronta di kerongkongannya.

Air matanya akhirnya jatuh. Menetes deras membasahi permukaan meja marmer yang dingin.

"Pembohong..." bisiknya dengan suara parau yang nyaris tanpa suara, suaranya pecah di ujung kalimat. "Pembohong... kalian semua iblis. Kalian binatang..."

Karina meremas perutnya yang tiba-tiba terasa mual luar biasa. Membayangkan suaminya bercumbu dengan perempuan lain di rumah ini, di bawah atap yang dibangun dengan keringat ayahnya, saat ayahnya baru saja meninggal dunia, membuat lambungnya bergejolak hebat. Ia berlari kecil ke wastafel cuci piring dan memuntahkan cairan asam dari perutnya. Tubuhnya menggigil kedinginan meski pendingin ruangan tidak menyala terlalu kencang.

Dua puluh menit berlalu dengan penuh siksaan batin. Karina mencuci wajahnya berkali-kali dengan air dingin, memaksa fitur wajahnya kembali normal. Ia mengambil napas panjang berulang kali, mencoba mengubur amarahnya hidup-hidup ke dasar jiwanya yang terdalam. Ia tak boleh terlihat hancur. Belum saatnya.

Tiba-tiba, telinganya yang kini sangat waspada menangkap suara decit halus dari arah pintu depan rumah. Seseorang baru saja keluar melalui pintu samping yang jarang digunakan. Langkah kaki mengendap-endap. Diikuti oleh suara pagar besi yang ditutup dengan sangat pelan. Raisa dan Bu Ratih sudah pergi.

Tak lama setelah itu, terdengar suara langkah kaki berat dan santai menuju arah dapur.

Karina buru-buru menyalakan keran air, mengambil sebuah cangkir kotor yang tersisa di bak cuci, dan berpura-pura menggosoknya dengan spons. Ia memaksa otot-otot rahangnya menjadi rileks, meski jantungnya masih berdegup gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya.

"Sayang?"

Suara berat, hangat, dan penuh kasih sayang itu memanggilnya dari ambang pintu. Suara yang sama yang dulu selalu menjadi tempat Karina berlindung dari kerasnya dunia luar. Suara yang baru beberapa menit lalu bersekongkol dengan kejam untuk merampok seluruh harta dan masa depannya.

Luthfi berdiri bersandar di kusen pintu dapur. Ia mengenakan kemeja katun abu-abu yang lengannya digulung asal hingga siku, terlihat sedikit kusut—sekarang Karina tahu pasti mengapa kemeja itu kusut. Senyumnya merekah begitu sempurna, begitu tulus. Matanya memancarkan kehangatan dan kekhawatiran yang kini Karina sadari hanyalah ilusi murahan sekelas aktor picisan.

"Kok lama banget bikin tehnya? Mas nungguin sampai ketiduran lho di meja kerja," Luthfi berjalan mendekat, langkahnya mantap tanpa keraguan.

Ia berdiri tepat di belakang Karina, melingkarkan kedua lengannya yang kekar ke pinggang ramping istrinya. Ia menempelkan dagunya di bahu Karina, lalu mengecup puncak kepala Karina dengan sangat lembut, seakan Karina adalah hal paling berharga di dunia ini.

Sentuhan itu. Pelukan itu. Ciuman di kepala itu.

Semua hal yang dulu biasanya membuat dada Karina dipenuhi kupu-kupu kebahagiaan, kini membuat perutnya kembali bergejolak hebat menahan mual. Rasa jijik merayap cepat bak ribuan serangga dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Kulitnya merinding menahan dorongan kuat untuk menepis tangan kotor yang baru saja menggerayangi tubuh perempuan lain itu. Karina menahan napasnya, tidak ingin menghirup aroma tubuh Luthfi yang kini mungkin bercampur dengan parfum murahan Raisa.

"Maaf, Mas," suara Karina terdengar sedikit bergetar, tapi ia berhasil menyembunyikannya di balik suara keran air yang mengalir deras. Ia mematikan keran, meletakkan cangkir itu, dan meraih lap bersih. "Tadi air panasnya tumpah sedikit ke tanganku, jadi aku harus bersihin dulu dan bikin ulang airnya. Mas masih sibuk kerja? Kok bajunya sampai berantakan begitu?"

Karina sengaja memancing, matanya melirik sekilas ke arah kerah kemeja Luthfi melalui pantulan kaca jendela dapur yang gelap.

"Oh, ini?" Luthfi tertawa kecil, tangannya mengusap kerah kemejanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Iya, tadi Mas ketiduran di kursi, posisinya nggak enak. Pusing banget lihat angka-angka laporan toko. Nggak usah bahas kerjaan Mas deh, bikin pusing. Kamu sendiri kenapa belum tidur, hm? Kamu kelihatan pucat banget, Sayang."

Luthfi membalikkan tubuh Karina secara perlahan, memegang kedua bahu istrinya dan menatap wajah Karina dengan sorot mata intens. Tangannya terulur lembut merapikan anak rambut Karina yang jatuh ke dahi, mengusap pipi Karina dengan ibu jarinya.

"Kamu kecapekan ya ngurusin berkas-berkas warisan Bapak hari ini sama si Septian itu?" tanya Luthfi, nadanya terdengar begitu protektif. "Udah Mas bilang berkali-kali kan, Sayang? Serahin aja semuanya ke Mas pelan-pelan. Kamu itu perempuan, pikiranmu lagi kalut, lagi berduka. Mas nggak tega lihat kamu kurus begini, kurang tidur, stres ditekan sama urusan perusahaan yang keras. Banyak serigala di luar sana yang siap nipu kamu kalau kamu nggak ngerti bisnis."

Serigala itu adalah kamu, Luthfi. Kamu sedang memegang bahuku sekarang.

Karina menatap lurus ke dalam bola mata suaminya. Ia mencari-cari sedikit saja keraguan, sedikit saja rasa bersalah, atau setidaknya setitik kebohongan di sana. Namun tidak ada. Semuanya terlihat sempurna. Luthfi benar-benar seorang manipulator berdarah dingin. Bagaimana mungkin pria ini bisa menatap matanya dengan penuh cinta, mengkhawatirkan kesehatannya, padahal bibirnya baru saja merencanakan kehancuran total bagi Karina?

"Aku nggak apa-apa, Mas," Karina memaksakan seulas senyum tipis. Senyum paling menyakitkan dan paling palsu yang pernah ia ciptakan seumur hidupnya. "Aku cuma... kangen banget sama Bapak. Kalau aku serahkan perusahaan ke Mas semua, aku takut mengecewakan almarhum."

Ekspresi Luthfi seketika berubah sendu, ia memainkan perannya dengan sangat brilian. Ia menarik Karina ke dalam pelukan eratnya, menenggelamkan wajah Karina di dadanya, lalu mengelus punggung istrinya dengan gerakan perlahan yang menenangkan.

"Mas ngerti, Sayang. Mas sangat ngerti," bisik Luthfi di telinga Karina. "Tapi ada Mas di sini sekarang. Mas janji akan selalu jagain kamu dari depan. Mas akan pastikan semua jerih payah Bapak nggak sia-sia dan terus berkembang. Kita kelola sama-sama ya? Besok kita ngobrol lagi sama Notaris, Mas bisa bantu urus surat kuasanya biar kamu nggak perlu capek bolak-balik kantor. Ya?"

Di dalam pelukan erat suaminya yang menyesakkan itu, mata Karina menajam tajam di udara kosong. Dingin, gelap, dan kosong. Sisa-sisa air mata kebodohannya telah mengering sepenuhnya, digantikan oleh bara amarah yang menyala terang membakar sisa-sisa cinta yang tertinggal.

Ya, Luthfi. Kita lihat saja siapa yang akan menandatangani kehancurannya sendiri besok.

"Aku mau tidur duluan ya, Mas. Kepalaku tiba-tiba pusing banget, kayak mau pecah," ucap Karina pelan seraya melepaskan diri dari pelukan Luthfi dengan gerakan halus namun pasti. Ia tak sanggup lagi berlama-lama menyentuh kulit suaminya.

"Mau Mas pijitin kepalanya? Atau Mas buatin susu hangat?" tawar Luthfi, masih mengenakan topeng suami siaga yang menjijikkan itu.

"Nggak usah. Aku cuma butuh tidur pejamkan mata. Mas mandi aja dulu, bau keringat," jawab Karina datar, mencoba menutupi sindirannya dengan nada lelah.

Tanpa menunggu jawaban balasan Luthfi, Karina berbalik dan berjalan meninggalkan area dapur. Ia melangkah menyusuri lorong panjang menuju kamar tidur utama mereka. Membuka pintu perlahan, lalu menguncinya dari dalam, meski ia tahu Luthfi memiliki kunci cadangan. Ruangan luas ini, dengan ranjang king size empuk, lampu tidur kristal, dan seprai sutra yang dulu menjadi saksi bisu kehangatan pernikahan mereka selama enam tahun, malam ini terasa seperti sebuah kamar mayat yang sangat dingin.

Karina naik ke atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya. Ia menarik selimut tebal itu hingga sebatas dada, berbaring menghadap jendela, dan menunggu dalam kegelapan.

Satu jam berlalu. Setengah dua pagi.

Terdengar suara kenop pintu diputar. Luthfi masuk ke dalam kamar setelah mandi. Pria itu bergerak mengendap-endap, seolah berusaha menjadi suami yang sangat pengertian agar tidak membangunkan istrinya. Luthfi tidak menyalakan lampu utama. Ia menyelinap masuk ke dalam selimut, berbaring di sebelah Karina, memberikan jarak yang cukup agar tubuh mereka tidak bersentuhan.

Hanya butuh waktu lima belas menit. Dengusan napas Luthfi berubah menjadi dengkuran halus dan teratur. Pria itu tertidur lelap tanpa dosa, membawa serta mimpi-mimpi tentang kekayaan yang akan segera ia renggut dari istrinya.

Dalam kegelapan kamar yang sunyi itu, mata Karina terbuka lebar. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun di pelupuk matanya.

Ia menoleh perlahan ke arah nakas kayu jati di sisi ranjang Luthfi. Di atasnya, tergeletak ponsel pintar milik suaminya, menyala redup karena notifikasi pesan masuk, bersebelahan dengan jam weker digital yang menunjukkan pukul 02:15 dini hari.

Dengan tangan sedingin es dan gerakan sepelan bayangan, Karina menyingkap selimutnya. Ia bangkit dari kasur tanpa menimbulkan decit per sekecil apa pun. Ia mencondongkan tubuhnya melewati dada suaminya yang naik turun teratur, lalu mengambil ponsel itu.

Luthfi tidak pernah menyembunyikan kata sandinya dari Karina. Pria itu selalu menggembar-gemborkan prinsip 'transparansi dalam rumah tangga' kepada siapa pun, memberikan akses ponselnya pada Karina untuk membangun citra sebagai suami yang jujur dan tak punya rahasia. Kata sandinya bahkan merupakan tanggal pernikahan mereka. Sebuah ironi murahan yang kini membuat Karina mendecih pelan di dalam hati.

Karina melangkah mundur, membawa ponsel itu ke sudut ruangan yang paling gelap, dekat tirai jendela. Ia memasukkan enam digit angka keramat itu. 091019.

Layar ponsel menyala, menampilkan wallpaper foto pernikahan mereka di mana Luthfi tersenyum sangat lebar sambil mengecup pipi Karina. Pandangan Karina mengeras melihat foto itu. Ia langsung menekan ikon aplikasi WhatsApp.

Matanya menyusuri daftar obrolan. Semuanya terlihat sangat normal dan bersih. Bersih sekali. Tidak ada nama Raisa. Tidak ada pesan mencurigakan. Tidak ada kontak yang disembunyikan. Semuanya hanya berisi obrolan dengan supplier aksesoris mobil, grup keluarga besar yang sering mengirim ceramah agama, dan pesan-pesan manis dari Karina. Telegram pun kosong melompong. Kotak masuk Instagram juga bersih.

Luthfi terlalu pintar dan terlalu rapi untuk meninggalkan jejak perselingkuhan murahan di aplikasi pesan biasa.

Tapi Karina mengenal Luthfi luar dalam. Luthfi sangat teliti dan kikir soal uang. Ia selalu mencatat pengeluarannya. Jika ada rahasia besar yang disembunyikan pria ini, jejaknya pasti akan bermuara pada satu hal: uang. Uang yang sangat dipujanya.

Jemari Karina yang gemetar mencari ikon aplikasi mobile banking berwarna biru di layar ponsel. Jantungnya berdebar kencang saat ia memasang wajahnya ke kamera depan, namun gagal karena gelap. Ia lalu memasukkan PIN manual yang juga ia ketahui dari kebiasaan Luthfi bertahun-tahun.

Loading screen berputar lambat. Beberapa detik yang terasa seperti bertahun-tahun siksaan. Begitu menu utama terbuka, Karina tidak membuang waktu. Ia langsung menekan menu riwayat transaksi, memilih opsi mutasi rekening selama satu bulan terakhir.

Mata Karina yang memerah karena lelah dan tangis menyusuri daftar panjang transaksi itu. Transfer pembayaran kartu kredit, tagihan listrik rumah, belanja material toko, transfer uang bulanan ke rekening ibu mertuanya. Mata Karina menyipit saat melihat nominal transfer ke Bu Ratih. Luthfi secara diam-diam telah menaikkan uang bulanan ibunya menjadi tiga kali lipat lebih besar tepat satu hari setelah ayah Karina dimakamkan. Karina mengertakkan giginya.

Namun ia tidak berhenti di situ. Ia terus menggulir layar ponsel ke bawah, menembus tanggal-tanggal sebelumnya, menelusuri setiap pergerakan uang suaminya.

Hingga tiba-tiba, jempol kanannya berhenti bergerak di udara. Tubuhnya menegang kaku seolah baru saja tersambar petir bertegangan tinggi.

Napas Karina tercekat hebat. Layar ponsel bercahaya biru itu seolah menampar wajahnya dengan sebuah kenyataan yang jauh lebih brutal daripada sekadar obrolan perselingkuhan.

Di layar itu, tertera sebuah transaksi keluar yang dilakukan tepat empat hari yang lalu. Di hari di mana Karina menangis histeris di pusara ayahnya.

Transfer Keluar. Berhasil.

Nominal: Rp 350.000.000,00

Ke Rekening: RAISA ANDARA

Keterangan: DP Apartemen Kemang - Lunas.

Ponsel itu nyaris tergelincir dari genggaman Karina. Kakinya lemas hingga ia harus bersandar pada dinding dingin di belakangnya.

Tiga ratus lima puluh juta rupiah.

Minggu lalu, Luthfi datang padanya dengan wajah memelas yang tampak begitu putus asa, mengaku bahwa ia dikejar supplier karena tokonya mau bangkrut. Luthfi memohon pada Karina agar mencairkan dana darurat dari kas perusahaan peninggalan ayahnya untuk 'menutupi biaya operasional dan menggaji karyawan'. Karina, dengan status barunya sebagai direktur utama namun masih berbalut duka dan rasa percaya buta pada suaminya, menandatangani cek pencairan dana itu tanpa curiga sedikit pun. Uang ratusan juta yang merupakan keringat, darah, dan kerja keras almarhum ayahnya seumur hidup.

Dan ternyata... uang bernilai fantastis itu digunakan Luthfi bukan untuk tokonya. Melainkan untuk membelikan sebuah apartemen mewah bagi perempuan simpanannya? Menggunakan uang duka ayahnya?

Cahaya biru dari layar ponsel memantul di wajah Karina yang menegang, memperlihatkan rahangnya yang terkatup sangat rapat hingga urat lehernya menonjol, dan setetes air mata yang akhirnya jatuh menetes tepat di atas nama Raisa di layar ponsel.

Bukan air mata kesedihan seorang istri yang dikhianati. Itu adalah air mata kemurkaan murni yang siap membakar habis apa pun di depannya.

Di atas ranjang sana, Luthfi kembali bergumam pelan dalam tidurnya, membalikkan badan membelakangi Karina, menyisakan punggung lebarnya dalam kegelapan.

Karina menatap punggung suaminya dengan pandangan membunuh. Cinta buta yang selama enam tahun ini menyelimuti hatinya telah mati terbunuh secara tragis malam ini. Terkubur bersama jenazah ayahnya, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih kejam, dan tidak akan pernah mengenal ampun.

Tanpa gemetar sedikit pun, Karina menekan tombol tangkapan layar. Klik. Ia mengirimkan bukti transfer itu ke nomor WhatsApp-nya sendiri, lalu menghapusnya dari riwayat pesan Luthfi dengan sangat bersih. Ia meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas, kembali ke posisi yang sangat akurat tanpa bergeser satu milimeter pun.

"Kamu pikir kamu bisa menginjak-injak harga diriku dan merampok warisan peninggalan keluargaku demi pelacurmu, Mas?" bisik Karina dalam pekatnya malam, suaranya tajam menyayat bagaikan silet berkarat. "Maka bersenang-senanglah malam ini. Karena aku bersumpah demi makam ayahku, kamu dan keluargamu akan merangkak memohon ampun sebelum aku menghancurkan kalian hingga tak tersisa."