Meja makan itu seluas lapangan badminton.
Ini bukan hiperbola. Aku sudah menghitungnya tadi pagi sambil menunggu kopi matang: dua belas langkah dari ujung ke ujung, dengan kursi-kursi berukir yang masing-masingnya mungkin seharga motor matic baru. Dan di meja yang bisa menampung delapan belas orang ini, kami berlima duduk berkerumun di satu ujung seperti orang yang takut air di kolam renang.
"Rapat keluarga darurat resmi dibuka," kataku.
Tidak ada yang memperhatikan.
Ibu sedang berdiri di depan kompor island di tengah dapur — kompor yang jumlahnya enam tungku, satu fakta yang sudah Ibu foto dari tujuh sudut berbeda untuk Instagram dalam tiga puluh menit terakhir.
"Bu."
"Sebentar, Nad. Cahayanya belum pas."
Ibu menggeser posisi HP-nya tiga sentimeter ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu kembali ke posisi semula.
"Ini, kalau filternya warm tone sama cool tone hasilnya beda banget loh. Yang ini kesannya lebih artisan," Ibu bergumam pada dirinya sendiri. "Kira-kira captionnya apa ya. 'Dapur baru, semangat baru'? Atau terlalu generic?"
"Bu."
"'Enam tungku, enam cerita'? Hmm. Terlalu filosofis."
"*Bu.*"
"Iya, iya." Ibu akhirnya menurunkan HP-nya. "Kamu mau bicara apa, Nad? Tapi sambil, ya, Ibu masih mau foto kulkasnya."
---
Di ujung meja, Dito sudah membuka laptop. Ia mengetuk permukaan meja dengan jari telunjuknya — gesture orang yang akan mempresentasikan sesuatu penting.
"Oke," katanya dengan nada CEO Silicon Valley. "Aku sudah siapkan deck-nya."
Aku menatapnya. "Deck apa?"
"SomartoCorp." Ia memutar layar laptopnya ke arahku.
Slide pertama: logo SomartoCorp. Font Bebas Neue, gradien biru-emas, tagline *"Building Tomorrow, Today."*
Slide kedua: logo SomartoCorp, lebih besar.
Slide ketiga: logo SomartoCorp dengan background berbeda.
"Dit," aku menghela napas. "Ini tiga slide, semua isinya logo."
"Itu *brand identity* dulu, Kak. Visi dulu sebelum eksekusi."
"Ini namanya bukan visi. Ini namanya belum bikin apa-apa."
"Proses kreatif tidak bisa dipaksa."
Di sebelah Dito, Shinta tidak memperhatikan percakapan ini sama sekali. Ia sedang menggambar sesuatu di atas serbet makan — serbet linen putih bersih yang sepertinya harganya tidak murah.
"Shint, itu serbet."
"Aku tau." Ia tidak mengangkat kepala. "Tapi inspirasinya datang sekarang."
"Kamu gambar apa?"
"Konsep kamar baruku. Ini tembok utara, ini accent wall-nya, ini area baca sudut sana." Ia menunjuk sketsa yang penuh detail dengan pensil yang entah dari mana ia temukan. "Vibe-nya vintage academia tapi ada sentuhan industrial. Modern tapi hangat."
"Shinta, kita belum tahu kamar mana yang jadi punyamu."
"Aku sudah milih. Yang pakai jendela bulat itu."
"Itu mungkin bukan kamar tidur. Itu mungkin perpustakaan."
"Lebih bagus lagi."
---
Aku duduk. Menarik napas panjang. Mengeluarkannya perlahan.
Di kepalaku, pros-and-cons list pagi ini sudah mencapai halaman ketiga. Cons nomor satu: *keluargaku tidak pernah bisa fokus pada satu hal sekaligus.* Pros nomor satu: *setidaknya mereka tidak pernah panik secara produktif, jadi paniknya tidak menular.*
Ini bukan hiburan yang signifikan.
Bel pintu berbunyi.
Semua orang di ruangan tidak bergerak — masing-masing terlalu dalam di dunianya sendiri. Ibu masih di depan kulkas. Dito sedang menambahkan slide keempat yang sepertinya juga akan berisi logo. Shinta menggambar.
Aku yang berdiri dan membuka pintu.
Pak Wibisono berdiri di luar dengan koper dokumen di satu tangan dan ekspresi seseorang yang sudah terlalu sering berurusan dengan hal-hal di luar kendali. Rambutnya lebih rapi dari kemarin. Jas-nya disetrika sempurna. Tapi di sekitar matanya ada lingkaran yang menunjukkan ia tidak tidur cukup.
"Selamat pagi, Mbak Nadia." Ia mengangguk sopan. "Ada yang perlu saya sampaikan sebelum kita mulai."
---
Lima belas menit kemudian, semua orang sudah duduk di meja — termasuk Ibu yang membawa nampan perkedel jagung karena *"rapat itu pikiran harus kenyang dulu"* — dan Pak Wibisono sedang menjelaskan tentang syarat tambahan dalam wasiat Bapak yang rupanya belum sempat disampaikan kemarin.
"Inventarisasi aset resmi," ulangku. "Dalam tujuh hari."
"Benar. Semua aset yang tercakup dalam warisan — properti, koleksi, investasi — harus diverifikasi bersama perwakilan dari pihak keluarga Wirawan." Pak Wibisono membuka dokumennya. "Ini bukan prosedur biasa. Ini adalah klausul spesifik yang ditulis langsung oleh Pak Soemarto dalam wasiatnya."
Bapak yang menulisnya.
Aku tidak tahu kenapa fakta itu terasa seperti sesuatu yang berat mendarat di dadaku.
"Perwakilan dari keluarga Wirawan itu..." aku mulai.
"Sudah saya konfirmasi semalam," kata Pak Wibisono. "Mas Aryo yang akan mewakili."
Di sebelahku, Dito langsung mengeluarkan laptop. "Ini kesempatan bagus pitching SomartoCorp, Kak."
"Dito."
"Jaringan itu penting—"
"*Dito.*"
Pak Wibisono melirik jam tangannya. "Sebenarnya, Mas Aryo dijadwalkan tiba..."
Bel pintu berbunyi lagi.
"...sekarang."
---
Aku berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi.
Pros-and-cons list di kepalaku mencapai halaman keempat dalam empat detik.
Pros: *setidaknya aku sudah pakai baju rapi hari ini, bukan kaos kemarin.*
Cons: rambutku dikuncir asal karena tidak sempat sisir benar. Cons kedua: perkedel jagung Ibu wanginya menyebar ke seluruh ruangan dan ini bukan suasana yang *corporate* sama sekali. Cons ketiga, keempat, kelima: terlalu panjang untuk diproses sekarang.
Ibu yang bangun dan berjalan ke pintu.
Aku ingin mencegahnya. Tapi kakiku tidak bergerak. Ini adalah gejala klasik *freeze response* yang sudah kukenali — tubuhku memutuskan bahwa diam adalah respons terbaik sementara otakku masih berdebat sendiri.
Pintu dibuka.
Aryo Wirawan berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih lengan panjang yang dimasukkan rapi, ekspresi seseorang yang sangat tidak ingin berada di sini tapi sudah memutuskan akan menjalaninya dengan profesional. Ia membawa satu folder tipis. Tidak ada koper, tidak ada laptop. Sepertinya ia tidak berencana lama.
Ibu menatapnya selama tiga detik penuh.
Lalu: "Eh, sudah sarapan belum? Masuk, masuk. Ibu bikin perkedel. Anak muda zaman sekarang suka *skip* makan, padahal nasi itu penting untuk konsentrasi—"
Ekspresi Aryo bergeser — bukan kelembutan, tapi semacam kebingungan yang ia sembunyikan sangat cepat.
"Terima kasih, Bu. Saya sudah—"
"Belum, kan? Kelihatan dari mukanya." Ibu sudah menarik lengannya masuk. "Tipis begini. Mana cukup buat kerja keras."
Sementara ibuku menggiring pria konglomerat itu ke meja makan sambil membahas pentingnya sarapan bergizi, Dito sudah bangkit berdiri dengan senyum terlebar yang pernah ia keluarkan.
"Bro! Aryo, kan? Dito Soemarto." Ia mengulurkan tangan. "Founder dan CEO SomartoCorp. Kita harus ngobrol."
Aryo menjabat tangannya dengan jabatan tangan yang sopan tapi tanpa energi. Lalu menatap layar laptop Dito.
Tiga slide berisi logo.
Tatapannya kembali ke Dito.
Kosong. Total. Level boardroom yang sudah menyaksikan banyak presentasi buruk dan berhenti merasa apapun tentangnya.
Dito tidak terusik. "Ini baru brand identity-nya. Intinya kita—"
"Nadia."
Suara itu ditujukan kepadaku. Bukan pertanyaan. Bukan salam. Hanya nama, diucapkan dengan cara yang terasa seperti konfirmasi.
Aku menghadapnya. "Ya."
"Aryo." Ia tidak mengulurkan tangan kali ini — hanya mengangguk singkat, seperti mencentang nama dari daftar. Matanya ada sesuatu yang aku tidak bisa identifikasi. Bukan permusuhan. Tapi bukan keramahan juga.
Di antara itu. Di wilayah abu-abu yang lebih tidak nyaman dari keduanya.
---
Pak Wibisono menunggu sampai semua orang duduk — Aryo memilih kursi paling jauh dari nampan perkedel, fakta yang Ibu langsung tangkap dan jadikan alasan untuk memindahkan nampannya lebih dekat — sebelum ia membuka koper dokumennya.
"Baik. Saya akan langsung ke poin pertama inventarisasi." Ia mengeluarkan sebuah map. "Berdasarkan catatan aset Pak Soemarto, inventarisasi dimulai dari koleksi yang nilainya paling tidak mudah diestimasi — dan karenanya memerlukan verifikasi langsung."
"Koleksi apa?" tanyaku.
Pak Wibisono membuka halaman pertama.
"Koleksi tanaman hias. Berlokasi di rumah kaca belakang mansion. Pak Soemarto mengumpulkannya selama dua puluh tiga tahun, beberapa di antaranya termasuk varietas yang langka dan bernilai tinggi di pasar kolektor."
Ruangan hening.
Dito: "Tanaman?"
Shinta, tanpa mengangkat kepala dari sketsanya: "Bapak punya rumah kaca?"
Ibu: "Oh iya, Bapak memang suka tanaman. Orchid-nya yang ungu itu cantik sekali."
Aku membuka mulut untuk berkata sesuatu — entah apa, mungkin pertanyaan, mungkin komentar — tapi tidak jadi.
Karena aku melihat ekspresi Aryo berubah.
Bukan dramatis. Bukan terkejut. Hanya — sesuatu yang lewat di wajahnya, cepat, seperti bayangan. Rahangnya sedikit mengendur. Ada satu detik di mana ia tidak terlihat seperti orang yang sedang menjalankan misi profesional.
Satu detik itu hilang cepat. Tapi aku melihatnya.
Dan aku tidak bisa membacanya.
Wajah orang yang mendengar sesuatu yang familiar, bukan sesuatu yang asing. Tapi familiar yang seperti apa? Kenangan? Pengakuan? Atau sesuatu yang lebih dari itu?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu: ekspresi itu muncul tepat ketika tanaman hias Bapak disebutkan.
Dan instingku — yang sudah terbukti benar ketika Dito nyaris investasi MLM tahun lalu, dan benar ketika aku tahu interview pagi itu tidak akan semudah yang kupikir — instingku mengatakan ini bukan kebetulan.
Bapak punya rumah kaca yang bahkan kami sendiri tidak tahu.
Dan Aryo Wirawan tahu sesuatu tentangnya.
Itu pertanda buruk.
Atau, kemungkinan lain yang lebih menakutkan: itu pertanda bahwa jawaban atas laci yang terkunci di kamar Bapak, tulisan tangan di belakang foto hitam putih itu, dan semua yang Ibu belum mau ceritakan —
Mungkin ada di antara tanaman-tanaman yang Bapak rawat diam-diam selama dua puluh tiga tahun.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar