Kardus itu berat.
Bukan karena isinya banyak — hanya dua belas mug koleksi Bapak yang sudah kubungkus satu per satu dengan koran bekas. Tapi entah kenapa, dari truk sampai pintu depan mansion yang lebarnya tiga kali lebar badan Dito, tanganku terasa seperti mengangkat sesuatu yang jauh lebih besar dari keramik dan tanah liat.
Mungkin karena setiap mug itu ada tulisannya. *World's Okayest Employee*. *But First, Coffee*. Satu mug polos hijau tua tanpa tulisan apapun yang entah kenapa selalu jadi favorit Bapak tiap pagi.
Aku berhenti di depan pintu.
Tarik napas dalam-dalam.
Ini hanya sebuah rumah.
Sebuah rumah dengan dua belas kamar, tiga garasi, taman belakang yang lebih luas dari taman umum di Bekasi, dan plafon setinggi ekspektasi hidup yang belum pernah kupenuhi.
Tapi tetap saja. Hanya sebuah rumah.
"Kak Nadia!"
Aku menoleh. Dito berlari kecil dari arah truk ekspedisi dengan ekspresi yang sudah kutahu artinya sebelum ia selesai bicara.
"Jadi gini. Ada sedikit... situasi."
---
Situasinya adalah: kasur kami sudah masuk. Semua kasur. Empat kasur untuk empat orang anggota keluarga Soemarto, sudah berdiri tegak di lorong utama mansion yang untungnya memang lebar, karena kalau tidak, kami tidak bisa lewat.
Lemari? Belum datang.
Sofa? Belum datang.
Meja makan? Belum datang.
Yang datang bersama kasur: satu termos plastik, satu kardus berisi alat masak Ibu, dan sebuah lemari kecil yang ternyata bukan punya kami tapi punya tetangga satu RT di Bekasi yang entah bagaimana masuk ke truk yang sama.
"Kamu pesan truk dari mana?" tanyaku dengan nada yang sudah kujaga sekuat tenaga supaya tetap di bawah level berteriak.
"GoSend XL."
Aku menatapnya.
"Untuk pindahan rumah?"
"Katanya bisa sampai dua ton."
"Dito—"
"Tapi tenang, Kak. Aku sudah order yang kedua. Lemarinya nyusul nanti sore."
"Nanti sore itu jam berapa?"
Dito mengecek HPnya. "Estimasi empat sampai tujuh."
"Empat sampai tujuh *sore* atau empat sampai tujuh *hari*?"
Ia tidak menjawab dengan cukup cepat untuk menenangkanku.
Aku menghela napas. Di kepalaku, pros-and-cons list tentang apakah ini kelalaian yang bisa dimaafkan mulai terbentuk sendiri — lalu langsung kububarkan karena tidak ada satu pun pros yang muncul.
Di dalam mansion, dari arah dapur, terdengar suara Ibu.
"Nadia! Nadiaaaa! Sini deh, lihatin ini! Dapurnya ada island counter! Ibu mau foto dulu!"
"Bu, listriknya belum nyala!"
"Nggak papa, mode potrait juga bagus kok cahayanya!"
---
Aku baru saja berhasil meletakkan kardus mug Bapak di atas meja yang untungnya sudah ada di ruang depan — tampaknya bawaan mansion sendiri, meja kayu tua yang berat dan terlihat mahal — ketika seseorang mengetuk pintu.
Bukan ketukan biasa.
Ketukan itu metodis. Tiga kali. Jeda. Tiga kali lagi.
Seperti ketukan orang yang sudah memikirkan bagaimana caranya mengetuk pintu sebelum melakukannya.
Kubuka pintu.
Di depanku berdiri seorang perempuan berusia sekitar lima puluh lima tahun, berpakaian blazer krem yang pressed sempurna, rambut disasak setengah formal, memegang sebuah amplop putih bersih dengan kedua tangan — cara orang memegang sesuatu yang dianggapnya penting.
Ia menatapku dari atas ke bawah. Lalu ke kardus di tanganku. Lalu ke kasur-kasur yang masih berjejer di lorong di belakangku.
Ekspresinya tidak berubah. Tapi matanya berkata banyak hal.
"Anda pasti Nadia Soemarto," katanya, dengan nada ulasan restoran berbintang satu yang baru menerima makanan yang tidak sesuai foto menu.
"Iya," jawabku.
"Saya Kartika. Ketua RT." Ia menyorongkan amplop ke arahku. "Ini surat resmi dari kepengurusan kompleks. Sudah dicetak lengkap dengan kop surat dan tanda tangan digital. Ada tanda terima di belakangnya, tolong ditandatangani sekarang jika berkenan."
Aku menatap amplop itu.
Lalu menatapnya lagi.
Aku masih memegang kardus berisi mug-mug Bapak.
Dengan kedua tangan.
"Bu, saya lagi—"
"Saya bisa menunggu tiga puluh detik."
Ia bisa menunggu. Ia berdiri di sana dengan postur orang yang sudah memutuskan bahwa ia tidak akan pergi sebelum amplop ini berpindah tangan, sedangkan aku berdiri dengan dua tangan penuh di depan pintu rumah yang secara teknis adalah milikku tapi terasa seperti bukan.
Aku menjepit kardus di antara pinggul dan lengan kiri. Mengambil amplop dengan tangan kanan. Merasakan kertas yang lebih tebal dari amplop biasa — ini amplop khusus. Diprint khusus.
Untuk hari pertama kami pindah.
Bu Kartika sudah menyiapkan ini sebelum truk kami tiba.
"Isinya," katanya sebelum aku sempat bertanya, "adalah keberatan resmi warga kompleks atas beberapa hal terkait proses kepindahan Anda serta keluarga. Termasuk di antaranya: penggunaan truk ekspedisi yang melebihi tonase yang diizinkan untuk jalan kompleks, dan—" matanya melirik ke kasur di belakangku, "—penempatan furnitur di area bersama yang mengganggu estetika lingkungan."
Kasur itu tidak di jalan umum kompleks.
Kasur itu di lorong dalam rumah kami.
Ia bisa melihatnya dari pintu yang terbuka.
Aku menyusun kalimat yang hendak kuucapkan dengan sangat hati-hati.
Namun sebelum kalimat itu selesai terbentuk di kepalaku, dari kejauhan terdengar suara Shinta dari arah taman samping: "HAAAH? Ini taman beneran punya kita?!" — diikuti suara gemerisik semak yang sepertinya adalah adikku sedang menerobos sesuatu yang tidak seharusnya diterobos.
---
Aku menemukan ruangan itu setengah jam kemudian.
Bukan karena aku mencarinya. Tapi karena aku sedang kabur dari Ibu yang ingin aku masuk ke foto dapur, dari Dito yang ingin aku tandatangani sesuatu untuk SomartoCorp, dan dari tanda terima Bu Kartika yang masih ada di saku bajuku.
Lorong belakang mansion itu lebih panjang dari yang kusangka. Berbelok ke kiri di ujung, lalu ada tangga kecil turun dua anak tangga, dan di sana — di ujung lorong yang pencahayaannya lebih redup — ada sebuah pintu.
Pintu kayu tua. Pegangan besi. Terkunci.
Kupegang pegangannya. Tidak bergerak.
Kucari-cari di daftar properti yang Pak Wibisono serahkan kemarin — lembar laminated berisi denah lantai dan keterangan setiap ruangan. Ruang tamu. Ruang keluarga. Dapur. Tujuh kamar tidur. Tiga kamar tidur asisten. Rumah kaca. Garasi.
Tidak ada ruangan ini.
Ruangan ini tidak ada di daftar.
"Kamu mau masuk juga?"
Aku berbalik begitu cepat sampai bahuku membentur kusen pintu.
Aryo Wirawan berdiri di ujung lorong.
Hari ini ia memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung ke siku — satu-satunya penyesuaian terhadap situasi, sepertinya — dan memegang sebuah map tipis. Ekspresinya sama seperti kemarin dan keamarin: seseorang yang sedang melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan tapi merasa wajib.
"Inspeksi rutin," katanya, menjawab pertanyaan yang belum kutanyakan. "Aset."
"Senin pagi," jawabku.
"Bukan hari Senin sekarang?"
"Pindahan baru saja dimulai."
"Justru karena itu." Ia berjalan mendekat, berhenti dua langkah sebelum pintu, dan menatapnya sama seperti aku tadi. "Ruangan ini tidak ada di dokumen transfer aset."
Aku menatapnya.
"Kamu tahu ruangan ini?"
"Aku tahu ruangan ini *tidak* ada di dokumen." Ia menatapku balik. "Itu yang berbeda."
Kami berdiri di depan pintu yang sama. Dua langkah satu sama lain. Dua orang yang jelas-jelas memikirkan hal yang persis sama — apa yang ada di balik pintu ini, kenapa tidak ada di daftar, siapa yang menyembunyikannya dan kenapa — tapi tidak ada satu pun dari kami yang mengatakannya dengan keras.
Karena mengatakannya keras berarti mengakui bahwa kami sedang bertanya hal yang sama.
Dan itu akan jadi terlalu rumit.
Di kepalaku, pros-and-cons list mulai terbentuk dengan sendirinya:
*Cons tanya Aryo tentang ruangan ini*: menunjukkan bahwa aku tidak tahu; memberinya amunisi untuk meragukan hak keluarga kami; risiko ia benar dan aku salah tentang sesuatu yang belum kuketahui apa.
*Pros tanya Aryo tentang ruangan ini*: —
Pros-nya kosong.
Tapi ada satu hal yang lebih mengganggu dari semua itu.
Aryo menatap pintu dengan ekspresi yang sudah berubah dari tadi — bukan lagi ekspresi orang yang sedang melakukan inventarisasi. Tapi ekspresi orang yang *pernah melihat pintu ini sebelumnya*.
"Kamu sudah pernah ke sini?" tanyaku.
Ia tidak langsung menjawab.
Satu detik. Dua detik.
"Bukan urusanmu."
"Ini rumahku."
"Ruangan ini tidak ada di dokumen kepemilikan."
"Yang artinya?"
Aryo menatapku. Untuk pertama kalinya sejak ia muncul di lorong ini, ada sesuatu di matanya yang bukan sekadar dingin profesional — ada sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, seperti pertanyaan yang sudah ia tahan terlalu lama.
"Yang artinya," katanya perlahan, "kita sama-sama tidak tahu apa ini."
Keheningan.
Di ujung lorong, samar-samar terdengar suara Ibu yang sedang video call sambil tur dapur untuk Instagramnya. Suara Dito yang memanggil nama ekspedisi. Suara Shinta yang tertawa — tawa yang tidak kukenali, terlalu riang untuk situasi, dan disertai suara orang lain yang juga tertawa.
Tapi di sini, di lorong belakang yang tidak ada di peta manapun, hanya ada aku, Aryo, dan pintu yang tidak seharusnya ada.
Dan satu kalimat Bapak yang tiba-tiba terlintas:
*Hutang yang tidak perlu dibayar dengan uang.*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar