Tiga detik.

Itu waktu yang kubutuhkan untuk memproses kalimat Ibu.

Tiga detik yang rasanya seperti tiga jam, di mana otakku dengan cermat menyusun daftar kemungkinan: (1) Aku salah dengar. (2) Ibu salah ngomong. (3) Semesta memang sudah memutuskan hari ini adalah hari penghancuran total Nadia Soemarto, dan ini hanya babak keduanya.

Ibu sudah balik badan. Membalik tempe lagi.

"Bu."

"Hmm."

"Ibu bilang apa tadi?"

"Tempe ini hampir gosong kalau kamu gangguin terus."

Aku menarik napas dalam. Dalam sekali. Sampai terasa seperti meditasi darurat.

"Ibu bilang sudah lama tahu. Tahu apa?"

"Ya itu." Ibu mengangkat spatula, menunjuk ke arah amplop bermaterai yang masih kupegang dengan tangan setengah lemas. "Soal Bapak dan Pak Wirawan itu."

"Soal Bapak punya empat puluh persen saham di perusahaan konglomerat terbesar Indonesia?"

"Iya."

"Ibu tahu."

"Iya."

"Dan Ibu tidak pernah bilang."

Ibu menoleh. Ekspresinya persis seperti orang yang baru diingatkan bahwa ia lupa matikan kompor — sedikit kaget, tapi tidak terlalu bersalah.

"Kamu nggak tanya, Nadia."

---

Ini adalah titik di mana seseorang yang lebih waras dari aku mungkin akan duduk, minum air putih, dan melanjutkan percakapan dengan terstruktur. Pertanyaan satu per satu. Kronologis. Logis.

Yang aku lakukan: berdiri di depan kompor sambil mulut terbuka dan pikiran berlari ke tujuh arah berbeda secara bersamaan.

*Bapak punya saham. Ibu tahu. Ibu tidak pernah bilang. Bapak tidak pernah bilang. Kami hidup di rumah Bekasi yang catnya mengelupas di sudut kamar mandi selama sebelas tahun. Bapak kerja sebagai pegawai administrasi di perusahaan distribusi sampai pensiun. Ibu jual kue kering setiap lebaran untuk nambah-nambah. Dan ternyata—*

"Kak Nadia, nasi udah mateng belum?"

Dito muncul dari balik pintu dapur dengan ekspresi orang yang prioritas hidupnya sangat jelas dan tidak termasuk krisis keluarga.

"Belum," kata Ibu.

"Bentar lagi," kataku bersamaan.

Dito menatap kami bergantian. Lalu menatap amplop di tanganku.

"Oh, udah baca suratnya? Gila ya, empat puluh persen. Aku kemarin ngitung-ngitung, kalau valuasi WNG itu sekitar—"

"Dito."

"—dua ratus triliun, terus empat puluh persennya—"

"**Dito.**"

"Delapan puluh triliun, Kak." Ia mengucapkannya dengan nada yang sama dengan orang menyebutkan harga gorengan. "Kira-kira."

Hening.

Ibu membalik tempe.

Aku menaruh amplop di meja karena tanganku tiba-tiba tidak bisa dipercaya untuk memegang benda.

"Dito," kataku pelan, "dari mana kamu tahu angka itu?"

"Googling. Sambil nunggu nasi mateng tadi." Ia mengangkat bahu. "Tapi kayaknya valuasinya beda-beda tergantung sumber. Ada yang bilang seratus lima puluh triliun, ada yang bilang lebih. Tergantung asetnya dihitung semua atau nggak." Ia melirik ke arah Ibu. "Bu, kalau kita ini sekarang secara teknis orang kaya—"

"Belum makan dulu," kata Ibu.

"—berarti bisa beli kulkas baru kan? Yang ada dispenser-nya?"

---

Aku berhasil mengusir Dito dari dapur dengan janji nasi akan selesai dalam sepuluh menit.

Janji yang tidak ada hubungannya denganku karena aku tidak memasak, tapi ia pergi juga.

Lalu aku duduk di kursi kayu di sudut dapur — kursi yang sama yang selalu kududuki waktu kecil kalau mau cerita ke Ibu tentang masalah di sekolah — dan mencoba lagi.

"Bu. Bapak kenal Pak Wirawan dari mana?"

Ibu mematikan kompor. Mulai memindahkan tempe ke piring dengan gerakan yang sangat tenang, sangat metodis, sangat *tidak sesuai dengan skala informasi yang baru ia ungkapkan*.

"Dari dulu. Sebelum Bapak ketemu Ibu."

"Sebelum menikah?"

"Iya."

"Sebelum Pak Wirawan jadi... Pak Wirawan yang itu?"

"Ya iyalah." Ibu meletakkan piring tempe di meja. Duduk di kursi depanku. "Dulu mereka sama-sama susah. Seumuran, sekampung halaman. Pak Wirawan itu aslinya dari Magelang juga."

Ini informasi baru. Aku mendaftarnya di bagian otak yang sedang berjuang membangun ulang gambaran Bapak yang kupikir sudah kukenal.

"Terus?"

"Terus ya berteman. Bertahun-tahun." Ibu menyendok nasi ke piringnya sendiri. "Kamu makan dulu sana."

"Bu, aku lagi nanya—"

"Perut kosong bikin pikiran kalut." Ibu mendorong piring tempe ke arahku. "Makan dulu."

Aku menatap tempe itu.

Tempe itu menatap balik.

Aku menyerah dan mengambil sepotong.

"Jadi," kataku sambil mengunyah dengan tidak elegan, "Bapak dan Pak Wirawan berteman lama. Terus Bapak entah gimana punya saham di perusahaannya. Ada apa di tengah-tengahnya?"

Ibu mengunyah nasinya. Pelan.

"Ada sesuatu yang pernah Bapak lakukan."

"Apa?"

"Belum waktunya Ibu cerita."

Aku menurunkan tempe.

"Bu."

"Nanti."

"Kapan nanti?"

"Kalau sudah mandi dulu."

Aku membuka mulut. Menutup lagi. Membuka.

"Ibu minta aku mandi dulu sebelum minta penjelasan soal warisan misterius senilai puluhan triliun rupiah."

"Kamu dari tadi belum mandi. Dari kantor langsung ke sini, terus langsung..." Ibu menggantungkan kalimatnya, tapi maksudnya jelas — *langsung dengar kabar Bapak meninggal dan langsung chaos*. "Nanti kalau sudah segar, pikiran lebih jernih. Ibu cerita."

---

Aku tidak jadi mandi saat itu.

Karena tepat ketika aku berdiri dari kursi, suara notifikasi HP Shinta — yang volumenya selalu di angka seratus persen karena ia 'tidak mau ketinggalan engagement' — meledak dari arah ruang tengah.

Diikuti suara Shinta sendiri.

"YA ALLAH."

Aku dan Ibu saling pandang.

Berlari ke ruang tengah adalah keputusan yang kubuat sebelum otakku sempat menyusun pros-and-cons list.

Shinta duduk di sofa dengan HP di depan mukanya, ekspresi campuran antara panik dan tidak bisa menyembunyikan bahwa ia sedikit bangga.

"Apa?" tanyaku.

"Jadi," kata Shinta, memulai kalimatnya dengan nada orang yang sudah tahu ia salah tapi belum siap mengakuinya, "tadi siang aku posting foto amplopnya—"

"Kamu **apa**?"

"—ke Instagram Story. Tapi aku crop bagian isinya! Cuma amplopnya aja yang keliatan, sama logo Wirawan-nya, terus aku kasih caption—"

Aku merebut HP-nya.

*plot twist kehidupan nyata lebih seru dari drakor ✨ #family #plottwist #unexpectedinheritance*

Dua ratus tiga puluh viewer dalam empat jam.

Empat puluh tujuh DM.

Dan satu screenshot dari akun gosip yang sudah me-repost dengan caption: *KELUARGA SIAPA INI YG DAPET WARISAN WIRAWAN?? 👀*

"Shinta."

"Kak, aku nggak nyebut nama—"

"Shinta."

"—dan aku nggak bilang isinya—"

"**Shinta.**"

HP di tanganku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Aku angkat dengan refleks, sebelum sempat berpikir.

"Halo, dengan Nadia Soemarto?" Suara di seberang terdengar seperti orang yang hidupnya adalah spreadsheet dan jadwal rapat. Teratur, presisi, dan saat ini — sangat tipis sabarnya. "Ini Wibisono, pengacara keluarga Wirawan. Maaf menghubungi malam-malam."

Di latar belakang, aku bisa dengar suara orang lain. Satu kata, diucapkan dengan nada yang dingin dan datar seperti baca laporan keuangan.

*"Secepatnya, Pak Wibisono. Sebelum mereka melakukan lebih banyak kerusakan."*

---

Jam sebelas malam, aku duduk di lantai kamar Bapak.

Ibu sudah membiarkanku masuk — dengan syarat aku tidak memindahkan apa pun. Aku tidak berniat memindahkan apa pun. Aku hanya duduk, menghirup udara kamar yang masih terasa seperti Bapak: minyak kayu putih, kertas tua, sedikit parfum murah yang selalu ia pakai ke acara kondangan.

Pak Wibisono tadi minta kami tidak mempublikasikan apapun sebelum pertemuan resmi. Sopan, profesional, tapi dengan nada orang yang sedang menahan diri keras-keras.

Dan suara di latar belakang itu.

*Secepatnya. Sebelum mereka melakukan lebih banyak kerusakan.*

Aku tidak tahu wajahnya. Tapi kutebak ekspresinya persis seperti suaranya — dingin, rapi, dan sangat yakin keluarga Soemarto adalah masalah yang perlu dibereskan.

Aku menarik napas. Mulai melihat sekeliling kamar.

Meja tua di sudut. Rak buku tipis dengan buku-buku yang jarang diganti sejak aku SMP. Kalender lama yang tidak pernah ditukar karena Bapak suka fotonya — pemandangan Bromo di pagi hari.

Dan laci paling bawah meja.

Terkunci.

Aku mencoba menariknya — hanya untuk memastikan. Terkunci benar. Tidak goyang sedikitpun.

Kunci. Di mana kuncinya?

Aku berdiri, membuka laci atas, laci tengah. Tidak ada. Berdiri di atas kursi untuk lihat bagian atas lemari. Tidak ada. Meraba di bawah meja seperti orang yang yakin kunci rahasia selalu ditempel dengan lakban di bawah permukaan datar.

Tidak ada.

"Nggak akan ketemu di situ."

Aku hampir jatuh dari kursi.

Ibu berdiri di pintu. Tidak tahu sejak kapan. Memegang gelas teh yang sudah pasti sudah dingin karena ia lupa minum, sesuatu yang selalu ia lakukan kalau sedang memikirkan banyak hal sekaligus.

Ekspresinya berbeda dari tadi siang.

Tadi siang Ibu adalah orang yang membalik tempe sambil mengumumkan rahasia dua dekade dengan nada harga cabai naik.

Sekarang — untuk pertama kalinya hari ini — Ibu terlihat seperti orang yang menyimpan sesuatu sangat berat, sangat lama, dan belum tahu cara menurunkannya.

Ia melangkah masuk. Duduk di tepi ranjang Bapak.

Diam sebentar.

Lalu, pelan — pelan sekali, seperti kata-kata yang sudah disiapkan bertahun-tahun tapi tetap saja terasa belum cukup siap waktu waktunya tiba:

"Bapak bilang," kata Ibu, "kalau suatu hari kamu pegang surat itu — berarti Bapak tidak sempat cerita sendiri."