Alarm berbunyi pukul tujuh pagi dengan semangat yang tidak proporsional dengan situasi.
Aku matikan. Tidur lagi. Alarm berbunyi lagi. Aku matikan. Tidur lagi.
Proses ini berulang empat kali sampai akhirnya HP-ku menampilkan notifikasi kalender yang tidak bisa aku abaikan seperti alarm:
**INTERVIEW — PT Kreasi Maju Digital — 10.00 WIB. Jangan telat. Jangan panik. Jangan keduanya sekaligus.**
Aku yang nulis pengingat itu. Minggu lalu, versi aku yang masih naif dan belum tahu bahwa hidupnya akan berubah menjadi episode serial misteri dalam semalam.
Aku duduk di kasur Bapak — karena kamar ini punya sinyal paling bagus dan entah kenapa rasanya lebih dekat — dan mulai menyusun pros-and-cons list di kepala, cara otakku berfungsi di situasi darurat.
*Pros pergi interview: punya penghasilan sendiri, tidak tergantung warisan yang masih misterius, membuktikan diri masih manusia produktif.*
*Cons pergi interview: sudah ada pertemuan resmi pukul dua belas, rambut belum dicuci dua hari, mental sudah habis sejak kemarin malam.*
*Pros skip interview: bisa fokus pertemuan, bisa cuci rambut dengan tenang, bisa duduk di sini sambil menangis sebentar.*
*Cons skip interview: jadi pengangguran dengan warisan tidak jelas yang mungkin tidak nyata.*
List-nya seimbang sempurna.
Tidak membantu sama sekali.
"Kak, sarapan dulu," Dito muncul di pintu kamar dengan mulut penuh nasi goreng. "Tadi Ibu masak banyak. Kayaknya trauma kalau kita kekurangan makan."
"Kamu nggak kuliah?"
"Kuliah jam sebelas. Masih lama." Ia bersandar di kusen pintu. "Kak mau ngapain pagi-pagi kelihatan stres gitu?"
"Interview jam sepuluh. Tapi jam dua belas ada pertemuan dengan pengacara Wirawan."
Dito mengunyah pelan. Berpikir. Ekspresi wajahnya seperti orang yang akan mengatakan sesuatu sangat bijaksana.
"Cancel aja, Kak. Toh warisan Bapak kan banyak."
Ada sesuatu yang meledak kecil di dalam dadaku.
Bukan marah. Lebih ke — resolusi.
"Aku pergi interview," kataku, berdiri dan mengambil baju dari koper yang belum sempat kubongkar.
"Lho, kok malah—"
"Justru karena itu."
Dito tidak mengerti. Aku juga tidak sepenuhnya mengerti. Tapi ada prinsip yang tidak mau aku korbankan: aku tidak mau jadi orang yang melepaskan hidupnya hanya karena tiba-tiba ada pilihan yang lebih mudah. Bapak tidak pernah mengajarkan itu.
---
Masalahnya, sinyal di kamar Bapak memang bagus — tapi privasi-nya tidak.
Video call interview dimulai pukul sepuluh tepat. Aku sudah duduk rapi, background diatur sedemikian rupa sehingga yang terlihat hanya tembok kosong berwarna krem, rambut disisir ke satu sisi untuk menutupi bagian yang belum sempat dikeramas.
Pewawancaranya, seorang pria berkacamata bernama Pak Hendro, membuka dengan pertanyaan standar. Aku menjawab dengan lancar. Tiga menit pertama berjalan sempurna.
Menit keempat, pintu terbuka.
Ibu masuk dengan nampan berisi dua cangkir teh.
"Nduk, ini tehnya—" Ibu berhenti. Melihat laptop. Melihat layar. Melambaikan tangan ke layar. "Oh, halo! Maaf ya, Pak, ganggu. Saya ibunya Nadia."
Pak Hendro, to his credit, merespons dengan sopan. "Oh, halo, Bu. Tidak apa-apa."
"Nadia dari kecil memang anaknya rajin, Pak. Waktu SD juara kelas terus. Sayang ya sekarang—"
"Ibu." Suaraku keluar dalam satu suku kata yang mengandung seluruh arsenal emosiku.
"Eh iya iya, Ibu pergi dulu." Ibu meletakkan teh di meja, lalu berbisik ke arahku — tapi bisikannya keras enough untuk ditangkap mikrofon laptop. "Tadi Ibu masukin dua sendok gula, kamu suka yang manis kan?"
Aku menunggu pintu tertutup sebelum kembali menatap layar.
Pak Hendro tertawa kecil.
"Ibunya ramah sekali."
"Beliau..." Aku menghela napas. "Ya."
Anehnya, setelah itu interview justru mengalir lebih natural. Entah karena Pak Hendro sudah melihat aspek *human* dariku yang tidak terencana, atau karena aku sudah tidak punya ruang untuk lebih gugup dari ini.
Dua puluh menit kemudian, Pak Hendro menutup dengan kalimat yang bisa berarti segalanya dan tidak berarti apa-apa sekaligus:
"Kami akan menghubungi kamu ya, Nadia."
Nada suaranya: netral.
Expresi wajahnya: tidak terbaca.
Aku tutup laptop dan menatap cangkir teh Ibu yang masih mengepul.
Dua sendok gula. Manis banget.
Aku minum juga.
---
Kantor Wirawan & Associates berada di gedung yang jenis lantainya saja sudah lebih mahal dari total kontrakan lamaku setahun.
Aku tiba tiga menit sebelum jadwal — pencapaian luar biasa mengingat aku sempat salah naik busway satu kali dan harus balik — dengan rambut yang sudah kurapikan ulang di toilet stasiun menggunakan sisir mini yang selalu kubawa sejak insiden presentasi di 2022 yang tidak perlu diceritakan sekarang.
Resepsionis memanduku ke ruang tunggu lantai dua belas.
Dan di sana, sudah ada seseorang.
Laki-laki. Kemeja putih lengan panjang yang digulung setengah. Duduk dengan punggung lurus seperti tidak mengenal kata santai. Menatap ponselnya dengan ekspresi orang yang sedang menghitung berapa menit dari hidupnya yang sudah terbuang untuk hari ini.
Lebih muda dari suaranya di telepon semalam.
Lebih dingin dari yang kubayangkan.
Ini pasti Aryo Wirawan.
Aku menghela napas kecil dan berjalan menuju kursi di seberangnya, mengambil gelas air minum yang sudah disiapkan di meja — dan entah karena kaget melihat ada orang di ruangan yang kukira kosong, atau karena tangan kiriku memang tidak bisa dipercaya di situasi bertekanan tinggi —
Gelas itu miring.
Air tumpah ke meja.
Bukan semua. Mungkin sepertiga. Tapi cukup untuk membuat suara yang tidak bisa diabaikan.
Aryo Wirawan mengangkat matanya dari ponsel.
Ia menatap tumpahan air.
Lalu menatapku.
Tidak marah. Tidak kaget. Hanya... menatap. Seperti seorang eksekutor yang baru saja mengkonfirmasi prasangkanya.
"Kamu ini yang mana dari tiga anaknya?"
Kalimatnya pendek. Administratif. Tapi cara ia mengucapkannya terasa seperti pertanyaan lain yang tidak ia ucapkan: *kamu ini siapa, dan kenapa aku harus berurusan denganmu?*
Biasanya di momen seperti ini aku freeze.
Berdiri diam sambil otak memproduksi respons-respons alternatif yang tidak satupun keluar dari mulut. Menunggu situasi berubah sendiri.
Tapi hari ini aku sudah habiskan energi freezing-ku untuk interview tadi.
Jadi yang keluar adalah ini:
"Yang paling tidak tahu apa-apa. Tapi paling ingin tahu."
Aryo menatapku satu detik lebih lama.
Tidak ada respons. Ia kembali ke ponselnya.
Aku ambil tisu dari meja dan membersihkan tumpahan air dengan gerakan yang kuharap terlihat lebih tenang dari perasaanku.
---
Pak Wibisono datang tepat pukul dua belas dengan tas kulit cokelat tua yang tampaknya lebih berpengalaman dari semua orang di ruangan ini. Ia menyalami kami berdua dengan jabatan tangan profesional, duduk, membuka tas-nya, dan mengeluarkan sebuah map tebal.
"Terima kasih sudah hadir," katanya. "Ini pertemuan pertama. Kami akan mulai dengan gambaran umum dokumen yang relevan."
Ia membuka map.
Mengeluarkan beberapa lembar kertas.
Dan mulai membacakan.
Tiga menit kemudian aku mengerti mengapa Pak Hendro semalam terdengar panik di telepon.
Bapak tidak hanya memegang 40% saham.
Ada rekening. Ada properti. Ada aset yang bahkan namanya baru pertama kali kudengar hari ini. Pak Wibisono membacanya dengan nada datar seorang profesional yang sudah melakukan ini ratusan kali, sementara di kepalaku angka-angka itu berjatuhan seperti bola salju yang tidak habis-habis.
Aku tidak bersuara.
Aryo tidak bersuara.
Delapan detik berlalu dalam senyap yang bisa diukur.
Kemudian pintu ruangan terbuka.
Ibu masuk.
Aku tidak tahu sejak kapan Ibu ada di gedung ini. Aku tidak ingat memberitahu Ibu alamatnya. Tapi Ibu ada di sana, dengan tas belanja bermotif bunga yang sama sekali tidak selaras dengan interior kantor pengacara senilai miliaran itu, menatap ke sekeliling ruangan dengan ekspresi takjub.
"Oh, ini kantornya. Bagus ya, lantainya mengkilap."
Pak Wibisono berdiri setengah. "Bu Soemarto? Kami belum—"
"Nadia bilang jam dua belas. Ibu naik ojol, macet dikit." Ibu duduk di kursi kosong di sebelahku sebelum ada yang sempat mencegah. Menatap map di meja Pak Wibisono. "Ini beneran, Pak? Bukan undian bodong?"
Pak Wibisono membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Aryo Wirawan, untuk pertama kali sejak kami bertemu, mengalihkan pandangan dari ponselnya sepenuhnya.
"Bukan, Bu," kata Pak Wibisono dengan kesabaran yang pasti sudah dilatih bertahun-tahun. "Ini dokumen resmi. Semua aset yang saya sebutkan adalah nyata dan sudah terverifikasi secara hukum."
Ibu mengangguk pelan.
Lalu diam sejenak.
"Bapak dulu bilang," kata Ibu akhirnya, dengan suara yang lebih tenang dari yang kuharapkan, "kalau urusan ini selesai, Ibu baru boleh tahu semuanya."
Ruangan itu kembali diam.
Pak Wibisono mengeluarkan satu lembar dari dalam map. Bukan dokumen hukum. Bukan daftar aset.
Sebuah foto.
Hitam putih. Dua pemuda tersenyum. Satu yang langsung kukenali dari foto-foto lama yang pernah Bapak tunjukkan padaku waktu kecil — hidungnya, cara ia berdiri sedikit condong ke kiri — tapi lebih muda, mungkin dua puluhan awal.
Yang satu lagi, aku tidak kenal.
Tapi di sebelahku, aku dengar sesuatu berubah dalam tarikan napas Aryo Wirawan.
Aku lirik ke arahnya.
Ia menatap foto itu dengan ekspresi yang baru pertama kali terlihat bukan *dingin*. Sesuatu yang lebih rumit dari itu.
Pak Wibisono membalik foto.
Tulisan tangan di belakangnya — aku kenal tulisan itu. Aku hafal. Tulisan yang sama yang ada di kartu ulang tahun yang selalu diselipkan Bapak di bawah pintu kamarku setiap tahun sampai aku SMA.
*Hutang yang tidak perlu dibayar dengan uang.*
Aku baca kalimat itu dua kali.
Lalu aku angkat pandanganku.
Dan bertemu dengan tatapan Aryo Wirawan yang untuk pertama kalinya hari ini tidak menatap melaluiku — tapi benar-benar melihatku.
Seperti ia baru saja menemukan pertanyaan yang tidak ia tahu harus ditanyakan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar